Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Mengerjai Arthur
Thomas langsung menemui sang atasan, setelah sang adik menghubunginya dan mengatakan jika gadis itu di mendapat panggilan wawancara dari The Royal Dinata Hotel.
Pria tiga puluh tahun itu yakin, jika Arthur ada di balik semua ini. Karena, Andrea mengatakan beberapa waktu lalu, ia telah mengabaikan panggilan wawancara dari hotel tersebut.
“Bos.”
Arthur yang tengah fokus dengan komputer lipatnya pun melihat sejenak ke arah sumber suara.
“Ada apa?” Tanya pria itu, sembari kembali fokus pada pekerjaannya.
Tanpa di persilahkan, Thomas duduk di kursi seberang meja kerja Arthur.
“Apa bos yang meminta pihak hotel untuk menghubungi adikku lagi?” Tanya Thomas pada intinya. Pria itu memang tak suka berbelit.
Arthur menautkan kedua alis. Ia pun menghentikan aktivitasnya.
“Maksudmu? Rea mendapat panggilan pekerjaan dari Hotel kita?” Pria itu berpura-pura tidak tau. Padahal ia memang dalang di balik pemanggilan itu.
Thomas memicingkan mata. Ia tidak yakin dengan ucapan Arthur. Sudah lima tahun mengenal pria itu. Sedikit banyak, kakak sepupu Andrea itu tau bagaimana sifat atasannya.
“Kenapa kamu tidak menghubungi pihak hotel untuk menanyakan langsung. Jika kamu tidak percaya padaku?” Tantang Arthur saat melihat asistennya menatap tak percaya padanya.
Tanpa bicara, Thomas kemudian merogoh saku. Mengeluarkan ponsel untuk menghubungi pihak hotel.
“Selamat siang pak Thomas. Ada yang bisa saya bantu?” Jawab seorang yang di hubungi Thomas. Ia langsung menghubungi General Manager Hotel Dinata, agar semuanya jelas.
“Bukannya posisi koki pembantu di dapur hotel sudah terisi? Kenapa menghubungi pelamar lagi?” Tanya Thomas tanpa basa-basi. Ia juga menyalakan pengeras suara, agar Arthur mendengarkannya.
Sang atasan yang duduk di hadapan Thomas, tak menanggapi. Ia sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
“Ah, iya pak Thomas. Kebetulan, asisten koki di dapur Restoran kita, beberapa waktu lalu mengundurkan diri karena sedang hamil. Dan dari semua pelamar, nona Andrea Cecilia masuk kedalam kriteria yang kita cari, dari banyaknya sertifikat menang lomba yang ia lampirkan.” Jelas General Manager itu panjang lebar.
“Baiklah. Aku hanya ingin menanyakan hal itu saja.” Thomas pun memutus sambungan telepon.
“Apa kamu sudah puas?” Tanya Arthur kemudian.
“Belum. Aku yakin, bos pasti memiliki andil di balik semua ini. Katakan padaku, apa yang sebenarnya bos inginkan?”
Meski telah mendengar jawaban yang masuk akal dari General Manager itu, tak membuat Thomas serta merta percaya.
Arthur membuang nafasnya kasar. Ia kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi, sembari menekuk siku di kedua sisi.
“Aku hanya ingin Rea bekerja sesuai bidangnya.” Ucap pria itu.
“Jadi, bos memang di balik semua ini?”
“Aku harap kamu diam, Thom. Rea sedang marah padaku. Jangan membuat gadis itu membenciku.” Arthur mengusap wajahnya frustrasi setiap mengingat tindakan bodoh yang ia lakukan pada Andrea.
“Apa yang bos lakukan pada adikku?”
“Tidak ada. Hanya salah paham.” Arthur kemudian memutar kursi kerjanya, dan membelakangi Thomas. Ia tidak mau, pria itu semakin banyak bertanya.
‘Kenapa gadis itu malah memberitahu Thomas? Kenapa dia tidak berinisiatif menghubungi ku? Apa dia tidak merasa jika aku ada di balik semua ini? Dasar gadis tidak peka.’
🍃🍃🍃
Keesokan harinya. Andrea sedang bersiap untuk pergi ke The Royal Dinata Hotel. Kemarin ia telah meminta ijin kepada nyonya Dinata, dan wanita paruh baya itu telah memberikan ijinnya.
“Apa kamu sudah memberitahu Arthur?”
Begitulah pertanyaan yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu.
“Aku akan memberitahu tuan nanti, nyonya.”
Dan itulah jawaban Andrea agar nyonya Dinata tidak terlalu banyak bicara.
“Apa kamu sudah memberitahu tuan Arthur?” Pertanyaan yang sama terlontar dari sang bibi, saat Andrea kini meminta ijin untuk pergi.
Gadis itu pun menghela nafas pelan.
“Aku belum bertemu dengannya, bi. Aku akan memberitahunya nanti.” Andrea kemudian meraih tangan sang bibi, untuk di ciumnya.
“Hati-hati dijalan.”
Berkendara selama tiga puluh menit, akhirnya Andrea tiba di pelataran parkir Hotel bintang lima, milik keluarga Dinata.
Sebelum keluar dari dalam mobil, ia menghela nafasnya berulang kali, demi menghalau rasa gugup yang tiba-tiba datang melanda.
Setelah ia merasa perasaannya lebih baik, Andrea pun keluar dari mobil milik ayah Thomas, yang ia pinjam.
“Ada yang bisa saya bantu, nona?” Tanya seorang pria, yang bertugas sebagai penjaga keamanan.
“Iya, pak. Saya datang untuk melakukan tes wawancara, di bagian F & B Production.”
Petugas keamanan itu mengangguk paham. Sebelumnya, ia telah di beritahu, jika akan ada seorang gadis yang akan datang untuk mengikuti wawancara.
Pria berbadan tegap itu mengantar Andrea ke tempat wawancara.
Dalam perjalanan, Andrea berdecak kagum melihat betapa megah dan mewahnya hotel milik keluarga majikannya itu.
Dituntun masuk kedalam sebuah ruangan, sudah ada tiga orang dewasa menunggu Andrea disana.
Dua orang pria, dan seorang wanita.
Jantung Andrea tiba-tiba berdegup kencang. Ia seperti di hadapkan dengan para malaikat.
‘Ayah, ibu. Bantu aku.’
Duduk berhadapan dengan tiga orang itu, dimana dua di antara mereka, —seorang pria dan wanita, menggunakan Chef jacket. Yang dapat Andrea tebak, mereka pasti para koki andalan hotel ini.
Wawancara pun di mulai, tak hanya lisan dan tulisan, Andrea juga di minta membuat salah satu hidangan, yang di pilih dari daftar menu restoran Hotel itu.
Dan, setelah hampir dua jam, wawancara pun selesai. Namun, Andrea belum bisa bernafas lega. Karena, seorang pria yang menggunakan pakaian formal, —General Manager Dinata Hotel, mengatakan jika akan menghubungi gadis itu kembali untuk memberitahu hasil wawancara.
“Kenapa tidak memberitahu hasilnya sekarang saja? Apa mereka tidak tau aku cemas?” Gadis itu menggerutu menuju mobilnya.
Waktu menunjukkan pukul dua siang, saat Andrea keluar dari pelataran hotel bintang lima itu. Dua jam berlalu begitu lama bagi Andrea, mungkin karena suasana tegang yang ia rasakan.
Kini, rasa gugup pun telah menguap, tergantikan dengan rasa lapar yang tiba-tiba menyerang dengan kuat. Andrea pun memutuskan mampir ke salah satu restoran untuk mengisi perut.
Ketika makanan yang ia santap tinggal sedikit, pandangan Andrea tanpa sengaja menangkap sesosok makhluk kasat mata yang sangat ia kenali. Dua hari berusaha menghindari Arthur, ia justru melihat pria itu di restoran ini.
Untung saja, Arthur duduk membelakangi Andrea. Sehingga ia tak melihat gadis itu.
“Ternyata dunia tak sesempit daun kelor. Eh? Tau ah.” Gadis itu melanjutkan makan hingga tak bersisa. Namun, saat ia tengah meneguk sisa air, sosok wanita dewasa yang juga ia kenali, datang menghampiri Arthur.
“Audrey, lihatlah. Papa jadi-jadian mu sekarang sedang bersama kekasihnya.”
Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak gadis dua puluh dua tahun itu.
Ia pun bangkit menuju kasir.
“Mbak, tagihan ku di meja nomor 8 tolong masukkan pada tagihan pria itu.” Tunjuk Andrea ke arah Arthur.
“Pak Arthur?” Tanya wanita di balik meja kasir.
“Wah, rupanya dia terkenal juga ya?” Andrea melontarkan pertanyaan balik.
“Beliau langganan di restoran ini, mbak.” Jelas petugas kasir itu.
Andrea pun hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
“Jadi—
“Jadi lah, mbak.”
“Tapi—
“Nanti jika dia marah, katakan saja aku Andrea Cecilia. Pengasuh putrinya, tadi makan disini.” Ucap Andrea santai.
Petugas kasir itu sedikit ragu. Membuat Andrea berdecak kesal.
“Percaya padaku, mbak. Lagi pula, makanan yang aku pesan hanya seratus ribuan. Dia pasti akan membayarnya.”
Petugas kasir itu pun melakukan yang Andrea katakan.
“Ingat mbak, namaku Andrea Cecilia. Pengasuh putri tuan Arthur.”
Gadis itu kemudian pergi dari restoran itu.
.
.
.
Bersambung.
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an