NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 19

Pintu apartemen tertutup perlahan.

Klik.

Suara kunci otomatis berbunyi pelan, memutus dunia luar dari ruangan itu.

Anna masih berdiri di dekat pintu. Tangannya mencengkeram ujung jas yang tadi Jay selimutkan di bahunya. Matanya kosong. Napasnya belum stabil.

Di luar, lorong apartemen dijaga ketat.

Drew berdiri tegak bersama beberapa pengawal berpakaian hitam. Tatapannya waspada, telinganya siaga terhadap setiap bunyi lift yang bergerak naik.

“Tuan Muda tidak boleh diganggu,” ucap Drew pelan namun tegas kepada semua pengawal.

Di dalam—

Jay melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja marmer dapur. Apartemen itu luas, elegan, dominasi warna gelap dan kaca tinggi yang memperlihatkan gemerlap kota.

Pria itu berjalan ke dapur tanpa berkata apa pun.

Anna memperhatikan setiap langkahnya.

Pria itu tinggi. Jauh lebih tinggi darinya. Mungkin sekitar 188 cm. Tubuhnya tegap, bahunya lebar. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan otot yang terbentuk jelas—bukan tubuh yang dibangun untuk pamer, melainkan tubuh yang terbiasa bertarung.

Anna menelan ludah pelan.

“Kenapa pria seperti ini… menyelamatkanku?” Batin Anna.

Jay menyalakan kompor listrik. Suara air mendidih pelan, mendominasi ruangan apartmen yang sunyi. Ia mengambil daun teh dari wadah kaca kecil.

Aroma hangat mulai menyebar.

Wangi teh melati bercampur sedikit aroma kayu manis.

Anna tanpa sadar menarik napas lebih dalam.

Jay menuangkan air panas perlahan. Uap tipis naik, membawa kehangatan ke ruangan yang tadi terasa dingin.

Ia membawa cangkir itu ke arah Anna.

“Duduk dan minum.” Suaranya tetap rendah. Tenang. Namun penuh dengan otoritasnya. Seolah Anna tidak boleh membantah.

Anna menatap cangkir itu, lalu menatap wajahnya.

Wajah tampan itu terlalu… mengganggu.

Rahang tegas. Hidung lurus. Bibir yang jarang tersenyum. Dan mata itu—mata yang terlihat dingin, namun tadi di ruangan club malam, mata itu menyala. Seolah, ia tidak akan menyerahkan Anna pada siapapun. Seolah pria itu sang predator yang menggenggam erat buruannya.

Anna menerima cangkir itu dengan kedua tangan dan duduk di sofa.

“T-terima kasih…”

Jay berdiri beberapa langkah darinya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Memberi jarak.

Anna menghangatkan jemarinya di sisi cangkir. Teh itu menenangkan. Perlahan gemetarnya berkurang.

“Kenapa… Anda menolong saya?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.

Jay terdiam.

Ia bisa saja mengatakan namanya. Mengatakan siapa dirinya. Mengatakan bahwa dunia yang tadi hampir menelannya adalah dunia yang sudah lama ia kuasai.

Namun ia hanya berkata—

“Kebetulan lewat.”

Anna mengerutkan kening.

“Kebetulan lewat dan langsung bertarung seperti itu?”

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Jay sedikit terangkat. Sangat tipis. Jay mengakui keberanian Anna. Jika orang lain, mereka tidak akan berani berkata apapun pada Jay.

“Kamu banyak bertanya. Cukup ucapan terimakasih.”

Anna spontan menunduk.

“Maaf…”

Hening beberapa detik.

Jay memperhatikan gadis itu. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya pucat. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang bersih. Tidak dibuat-buat. Tidak penuh kepentingan. Anna tetap terlihat menawan.

Berbeda dari wanita-wanita yang biasa mendekatinya.

“Nama mu?” tanya Jay.

“Anna.”

Ia mengangguk pelan.

“Anna apa?”

Anna ragu sesaat. Entah kenapa ia takut menjawab.

“Anna… saja.”

Jay tidak memaksa. Seolah-olah Jay ingin mempertegas pada Anna bahwa dirinya benar-benar sedang lewat saja.

Di luar jendela, lampu kota berkelip.

Sementara itu.

Anna tanpa sadar kembali mencuri pandang. Jay berdiri membelakanginya, menatap kota melalui jendela tinggi yang memantulkan bayangan samar dirinya. Siluet pria itu terlihat begitu kokoh, tegap, dan dominan, seolah badai terhebat pun tak akan mampu menggoyahkannya.

Namun Anna tidak tahu, bahwa kehadirannya di ruangan itu adalah satu-satunya hal yang mampu membuat pertahanan pria itu retak.

“Apakah… saya merepotkan Anda?” tanya Anna pelan, suaranya nyaris berbisik.

Jay tidak berbalik, namun rahangnya mengeras.

“Ya.”

Anna menegang, napasnya tertahan di tenggorokan.

“Tapi aku tidak keberatan direpotkan olehmu,” sambung Jay. Suaranya rendah, berat, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke tulang belakang Anna. Hangat, namun terasa berbahaya.

Anna tidak tahu siapa sebenarnya pria ini. Dan Jay pun tidak menyadari bahwa dengan membawa Anna masuk, ia baru saja mengundang badai paling destruktif ke dalam hidupnya.

Belum lagi Jackman—pria itu pasti akan menuntut pertanggungjawaban. Jika bukan nyawa, maka Jay hanya sedang meminjam waktu.

“Malam ini kau tidur di sini. Di luar terlalu berbahaya, mungkin saja para pria itu masih mencarimu.” ujar Jay seraya berbalik, menyedekapkan tangan di depan dada bidangnya. Matanya mengunci tatapan Anna.

“Kau pakai kamarku. Aku akan tidur di sofa.”

“Apa tidak apa-apa?” tanya Anna ragu.

Jay melangkah mendekat, memangkas jarak, ia membungkuk ke arah Anna yang duduk memegang cangkirnya, hingga Anna bisa mencium aroma maskulin yang memabukkan dari tubuh pria itu.

“Tenang saja. Aku tidak akan memakanmu… kecuali kau yang memulainya lebih dulu.”

Sudut bibir Jay terangkat tipis sebelum ia berbalik menuju kamar untuk mengambil bantal. “Aku atau kau dulu yang mandi?”

“Tapi aku tidak punya pakaian ganti…”

“Pakai saja bajuku. Ada banyak kaus dan celana di lemari. Aku akan siapkan kamar utama.” Kata Jay.

“Baiklah… aku duluan.”

Sekitar 40 menit berlalu. Anna selesai mandi lebih dulu. Namun, celana panjang milik Jay ternyata terlalu besar hingga melorot dari pinggang rampingnya.

Akhirnya, ia hanya mengenakan kaus putih polos milik Jay. Kaus itu sangat besar di tubuh kecilnya, jatuh hingga menutupi pertengahan paha, namun justru mengekspos tungkai kakinya yang jenjang dan mulus.

Anna kemudian keluar dan memberitahu Jay, ia sudah selesai mamdi.

Saat Jay yang belum sadar masuk ke kamar untuk bergantian mandi, langkahnya terhenti seketika.

Matanya berubah gelap, tajam seperti pemburu yang baru saja menemukan mangsa paling menggiurkan. Ia menelan ludah dengan susah payah, berjuang mati-matian menjaga sisa-kewarasannya.

“Kenapa tidak pakai celanamu?” tanya Jay, suaranya serak saat ia memalingkan wajah dengan paksa.

“Celananya kedodoran. Terus melorot,” jawab Anna lugu, tidak menyadari betapa provokatif penampilannya saat ini.

“Sial… akan kusuruh Drew membelikanmu pakaian sekarang juga,” geram Jay hendak berbalik keluar.

“Tidak!” Anna refleks menahan lengan Jay. Kulit mereka bersentuhan—hangat dan keras.

Jay tersentak dan segera menarik tangannya, menjaga jarak seolah Anna adalah api yang bisa menghanguskannya. Bukannya ia tak suka, justru ia sangat menginginkannya hingga dadanya terasa sesak. Ia takut akan kehilangan kendali dan menerkam tubuh yang terlihat menggiurkan dan rapuh itu.

“Begini saja sudah cukup. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Silakan mandi… jika boleh, aku mau ke dapur, aku haus.”

“Lakukan sesukamu. Anggap rumahmu sendiri,” sahut Jay cepat, hampir melarikan diri ke kamar mandi sebelum pertahanannya benar-benar runtuh.

Bersambung

1
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
eva nindia
haduhh mreka berhasil ngadu domba jack am jay....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
eva nindia
yahhh gagal 🤣🤣
udh masuk part dar der dorrr
eva nindia
astagaaa 🤣🤣🤣 untung baca.a skrg 😄
eva nindia
astagaa langsung nyosor z jayy🤣🤣😍
eva nindia
bnerkan c anna gak inget am jay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!