Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bencana di Tengah Pesta
Pesta yang semula dihias oleh melodi indah ballroom Hotel kini hanya menyisakan gema jeritan yang memekakkan telinga.
Sky menatap dingin, suara rendah. "Hanya enam? Sepertinya daftar tamu kita perlu disaring lebih ketat lagi, Evelyn."
Evelyn memperbaiki gaun putihnya tanpa ekspresi. "Terlalu berisik untuk sebuah pesta pernikahan. Harusnya mereka jatuh dengan lebih sopan."
Langit berbisik pada Angel. "Kau merasakan sesuatu? Getaran sihir? Frekuensi sihir?"
Angel suaranya datar. "Nihil. Atmosfer ini terlalu bersih dari jejak sihir. Ini bukan serangan sihir, Langit."
Shyla mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Siapa pun pelakunya, mereka punya nyali besar mengacau di sini."
Paman Zack menyapu pandangan dengan curiga. "Lihat posisi jatuhnya. Mereka tidak terlempar, mereka tumbang dari dalam. Shakila, jangan melihat kalau kau tak kuat."
Shakila menutup mulut dengan gemetar. "Ini... ini tidak masuk akal. Mereka tampak sehat beberapa menit yang lalu!"
Leta berbisik ngeri pada Rion. "Kak, lihat mata mereka. Kenapa tampak seperti... serangan jantung massal?"
"Diamlah, Leta. Ada yang sedang bermain-main di tengah kerumunan ini."
Kevin mengangkat alis, berbisik pada Tiffani. "Kau pikir ini kutukan? Atau mungkin mereka cuma terlalu lelah berdansa?"
Tiffani mendengus kesal. "Jangan konyol, Kak Kev. Enam orang di waktu yang bersamaan? Itu statistik yang mustahil."
Steven yang juga berada disana ikut menimpali dengan mata yang penuh selidik." Sepertinya pelakunya sangat ahli.. mungkin, sangat berbahaya... harus ku akui, dia memiliki nyali yang besar."
Tiba-tiba--- jiwa protektif Kevin dan Steven muncul, mereka langsung menggenggam tangan Tiffany dengan erat.
Tiffany mendengus. "Lepaskan tangan ku.. aku bukan anak kecil lagi."
Kevin melirik sekilas." Diamlah Tiffany.. bagaimana kalo kau menjadi salah satu korban."
" Jika kau mati.. Bunda yang akan sedih karena kehilangan satu anak lagi." sambung Steven--- Tiffany hanya mendesah pasrah menghadapi kedua Kakaknya yang sangat overprotektif.
Langit menyentuh intercom di telinganya, tatapannya datar seolah pemandangan di depannya hanyalah rutinitas. "Tutup semua akses keluar. Jangan biarkan siapapun keluar, bahkan seekor lalat pun harus tetap di dalam gedung ini."
Angel berdiri tenang di samping suaminya. "Sangat tidak rapi. Mengotori lantai dansa anakku dengan kekacauan seperti ini benar-benar tindakan yang amatir."
Sementara itu, Keano Alexander gemetar hebat. Salah satu korban jatuh tepat di ujung sepatunya. "Natalie... Samantha... kita harus pergi," rintihnya dengan suara parau. Namun, Evelyn yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyum tipis yang mengerikan.
"Jangan terburu-buru, Tuan Alexander," suara Evelyn menggelegar, dingin dan menusuk. "Pestanya baru saja dimulai."
Di sudut ruangan, Elvira melangkah dengan keanggunan yang mematikan. Jemarinya yang tadi sempat bersentuhan halus dengan kulit para korban kini tersimpan rapi di balik gaunnya. Tanpa setetes pun sihir, ia baru saja membuktikan bahwa sains dan racun ciptaannya jauh lebih sunyi daripada mantra apa pun.
Rion akhirnya menghela nafas, dia berlari maju. "Minggir! Aku dokter! Biar ku periksa!" dia berlutut di samping salah satu korban, jarinya menekan nadi leher dengan cepat. "Pupil melebar, sesak napas akut... gejalanya seperti sindrom koroner akut atau serangan jantung. Tapi bagaimana bisa enam orang sekaligus?!"
Viona berbisik tajam, penuh kedengkian. "Lagi-lagi kau, Elvira... Kau selalu punya cara untuk mencuri panggung ku dengan mainan konyol mu itu."
Leta yang kebetulan berdiri di dekat Viona, menoleh dengan alis terangkat. "Kau bilang apa, Viona? Kau tahu sesuatu?"
Viona tersentak, kembali memasang wajah datar. "Bukan apa-apa. Aku hanya bilang... pesta ini benar-benar hancur."
Arthur melalui atap gedung seberang, tersenyum tipis. "Tepat sepuluh menit. Presisi yang luar biasa, Elvira."
Vans menyesuaikan letak dasi palsunya di tengah kerumunan, bergumam ke perangkat komunikasi. "Lihat wajah bingung mereka. Mereka mencari sihir, padahal yang menyerang mereka adalah sains murni. Kerja bagus, Adik Kecil... tapi, kapan kau melakukan nya?"
Suara sirine mulai melolong di luar gedung. Saat petugas medis berhamburan masuk ke ballroom dengan tandu, Elvira berbalik dengan tenang, menghilang di balik kerumunan seiring dengan tibanya bantuan yang sebenarnya sudah terlambat.
Sky kembali berbicara di depan mic, memutus segala spekulasi dengan wibawa yang tak terbantahkan "Mohon maaf atas gangguannya. Biarkan para tenaga medis yang memeriksa mereka. Kita ada di sini untuk merayakan, bukan untuk berduka. Musik belum berakhir, dan malam ini masih milik kita. Lanjutkan pestanya."
Di balik kemeriahan yang dipaksakan itu, mata elang milik Langit, Sky, Angel, dan Shyla mulai bekerja—tajam, waspada, dan mematikan—menyapu setiap jengkal ruangan dan menguliti setiap gerak-gerik tamu yang hadir, mencari satu retakan kecil yang akan mengungkap siapa penjahat yang berani bermain api di hari istimewa mereka.
Suasana semakin mistis ketika Shyla, yang sedetik lalu masih berdiri di samping Kevin dan Leta, tiba-tiba menghilang tanpa jejak seolah tertelan bayangan.
Kevin melihat ke samping tempat Shyla berdiri sedetik lalu. "Dan... dia hilang lagi. Leta, sepertinya sepupumu sudah mulai berburu."
Leta menghela napas panjang. "Biarkan saja, Kevin. Siapa pun yang bersembunyi di balik tirai ballroom ini, mereka baru saja melakukan kesalahan fatal dengan memicu sihir Shyla."
Kevin dan Leta hanya bisa menghela napas panjang dan saling melempar pandang-- mereka sudah terlalu paham bahwa di balik kemewahan ini, kekuatan sihir sang sepupu telah mulai bekerja, berburu di balik tirai malam yang semakin pekat.
Kini, dari titik tertinggi hotel, Shyla berdiri menantang angin malam. Matanya memancarkan cahaya kebiruan yang mistis, menyapu setiap sudut dengan radar sihirnya. "Tunjukkan dirimu, tikus kecil," bisiknya tajam.
Namun, di seberang sana, di atas gedung yang terbalut kegelapan, Arthur menyesap minumannya sambil memperhatikan siluet bibinya.
Arthur tersenyum lebar, berbicara pada kegelapan di belakangnya. "Kau lihat itu, Elvira? Bibi Shyla sedang mencoba merasakan aliran sihir. Dia mencari sesuatu yang tidak ada."
Suara Elvira dari balik bayangan. "Biarkan dia mencari. Dia tidak akan menemukan jejak aura sihir di sana."
Vans, yang masih bersembunyi di balik topeng penyamarannya di tengah kerumunan, menyentuh earpiece kecilnya. "Bibi Shyla memang lebih ganas dari Kakek Langit atau Ayah... tapi malam ini, kitalah yang memegang kendali papan permainannya."
Berdiri di titik tertinggi, tepat di atas hotel mewah yang menembus awan, Shyla membiarkan angin malam yang dingin mencambuk helai rambutnya yang gelap.
Matanya yang setajam elang mengedarkan pandangan ke segala penjuru, menyisir setiap sudut cakrawala yang gemerlap demi menemukan setitik saja jejak aura sihir yang tertinggal, namun ia hanya menemukan kehampaan yang mencekam—sebuah kekosongan mutlak yang seolah mengejek usahanya.
Di balik dadanya, sebuah gejolak dahsyat mulai membara-- sihir murni yang liar merembes keluar dari pori-pori kulitnya, berpendar ungu keperakan saat amarah yang terpendam mulai mendidih karena bayang-bayang pelaku pembunuhan misterius itu masih saja tersembunyi di balik tabir kegelapan.
Shyla bersumpah akan menghancurkan siapa pun yang telah bermain - main dengan nya, tanpa sedikit pun ia menyadari sebuah ironi yang memilukan--- bahwa sosok yang ia buru dengan penuh dendam sebenarnya adalah darah daging keluarga nya sendiri—keponakannya yang rela melintasi jurang waktu dari masa depan yang telah hancur lebur demi memperbaiki takdir kelam yang belum terjadi di masa sekarang.
•
•
•
BERSAMBUNG