Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahaya
Mansion megah keluarga Shiva kini bagaikan raksasa yang tertidur dalam kesunyian yang mencekam, kontras dengan kemeriahan pesta pernikahan yang tengah berlangsung di ballroom hotel.
Di bawah naungan langit malam yang legam, koridor-koridor marmer yang biasanya ramai kini hanya dihuni oleh bayang-bayang panjang dan hening yang menusuk tulang.
Di luar, penjagaan ketat para bodyguard terlihat seperti benteng yang tak tertembus, namun bagi seorang penyusup terlatih suruhan Rodrigo, celah sekecil apa pun adalah pintu masuk.
Dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, ia menyusup ke jantung mekanis bangunan, mengeluarkan tabung kecil berisi Neuro-Toxin X-9—racun saraf mematikan yang tak kasat mata namun mampu mengunci kesadaran dalam raga yang lumpuh total.
Saat ia melepaskan gas tersebut ke dalam sistem ventilasi udara dengan seringai kemenangan, ia tidak menyadari bahwa di sudut tergelap ruangan, sepasang mata tajam milik Kenzie tengah mengawasi setiap gerak-geriknya. Atas instruksi strategis dari Arthur yang telah memprediksi langkah kotor musuh, Kenzie berdiri layaknya hantu di balik kegelapan, menjaga kediaman Shiva dari ancaman yang tak terlihat.
Melihat targetnya terjebak dalam rasa percaya diri yang semu, Kenzie hanya menyunggingkan senyum sinis yang mendinginkan suasana--- ia membiarkan sang penyusup merasa menang sejenak, sebelum badai pembalasan yang sesungguhnya menghantam tanpa ampun.
Tanpa membuang waktu, Kenzie merangsek masuk ke dalam jantung mansion dan mengeluarkan sebuah tabung vakum mutakhir, mahakarya Elvira yang jenius, yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyedot partikel mikroskopis bahkan sekelas virus atau racun sekalipun.
Dengan satu klik mekanis yang halus, tabung itu mulai menelan habis setiap molekul beracun yang sempat mencemari udara, memastikan bahwa kehormatan dan keselamatan keluarga Shiva tetap tak tersentuh oleh dendam Rodrigo yang licin.
Kenzie tersenyum sinis di balik helm. "Neuro-Toxin X-9... senjata yang cukup mahal untuk berakhir di dalam botol sampah. Putri Mahkota Elvira memang jenius, dia selalu tahu kapan mainan barunya akan berguna."
Hanya dalam hitungan menit, sensor pada alat Kenzie berubah warna dari merah menjadi hijau, menandakan udara di dalam Mansion kembali murni. Ia menatap ke arah gerbang Mansion, tempat para bodyguard masih berjaga tanpa tahu bahwa bahaya hampir saja merenggut nyawa majikan mereka.
"Permainan dimulai, Rodrigo. Dan kau baru saja kehilangan bidak pertamamu."
Setelah tugas selesai, Kenzie pun menghilang dengan gerakan cepat, menembus angin malam menuju tempat persembunyian--- apartemen.
Kenzie masuk dengan langkah waspada, sisa adrenalin masih memompa jantungnya. Namun, suasana tegang itu pecah seketika saat lampu remang ruang tamu menangkap siluet mungil.
Elmira mendongak dengan wajah polos, suara cadel khas balita. "Om Kenjie... kok pulangna lama banget? Milla nungguin dali tadi tau... Om bawa cemilan ndak?"
Kenzie tertegun, ekspresi dinginnya runtuh. "Nona? Kenapa belum tidur, Nona Kecil? Ini sudah lewat tengah malam."
Elmira mengerucutkan bibirnya lucu. "Ndak bica bobo. Tadi ada cualla 'wush wush' di lual. Milla takut, jadi Milla nunggu Om Kenjie pulang bial dijagain. Om habis main ya?"
Kenzie berlutut agar sejajar dengan Elmira, tersenyum tipis. "Iya, Om habis membereskan 'debu' nakal di rumah besar. Sekarang Nona Kecil harus tidur ya?"
" Nda mau.. Kak Althul, Kak Elvi cama Kak Vans mana, kok nda ada?" Tanya Elmira, sebenarnya saat Kenzie meninggalkan Elmira. Elmira dalam posisi tidur karena pengaruh sihir Arthur. Jadi mereka tenang meninggalkan Elmira. Namun saat Elmira terbangun, dia tidak melihat siapapun. Bahkan dia tidak bisa keluar seolah ada dinding yang mencegah nya. Jadi yang bisa bocah itu lakukan hanyalah menunggu.
Kenzie menggaruk tengkuk nya, bingung menjelaskan. " Itu... Putra Mahkota sama Putri Mahkota ada tugas negara.. jadinya mereka harus pergi... sebentar lagi pasti pulang kok, mendingan Nona kecil tidur lagi yuk.. kalo Putra Mahkota Arthur lihat Nona kecil belum tidur, nanti di hukum loh."
" Nda mau.. ya cudah, ayo.. kita tidul!" Kenzie bernafas dengan lega.
•
•
Pintu kamar luxury suite itu tertutup dengan bantingan pelan, seolah mengunci seluruh hingar-bingar pesta di luar sana dan menyisakan kesunyian yang intim bagi mereka berdua.
Sky dan Evelyn masih saling bertautan jemari, berjalan perlahan melintasi karpet tebal yang berujung pada balkon dengan pemandangan kerlip lampu kota yang tampak seperti hamparan berlian.
Di bawah pendar lampu temaram yang hangat, Sky menatap Evelyn dengan binar mata yang tidak hanya menyiratkan kekaguman, tetapi juga sebuah janji suci yang kini telah terpatri.
Baginya, malam ini bukan sekadar perayaan penyatuan dua hati, melainkan awal dari keajaiban yang lebih besar--- dalam balutan gaun pengantin yang anggun itu, Evelyn tidak hanya berdiri sebagai istrinya, tetapi juga sebagai ibu yang tengah menjaga napas tiga nyawa kecil di dalam rahimnya.
Suasana kamar itu dipenuhi aroma mawar segar dan vanila yang menenangkan, menciptakan atmosfer yang begitu kental dengan rasa syukur.
Evelyn menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Sky, merasakan detak jantung suaminya yang berirama sama dengan kebahagiaannya. Di tengah keheningan yang nyaman itu, Sky berlutut perlahan, mendaratkan kecupan lembut pada perut Evelyn yang mulai membuncit, membisikkan doa untuk ketiga buah hati kembar mereka yang akan segera melengkapi dunia mereka.
Pada detik itu, dunia seolah benar-benar berhenti berputar hanya untuk mereka--- sebuah potret sempurna tentang cinta yang tuntas, tentang perjuangan yang berakhir manis, dan tentang masa depan yang kini terasa begitu nyata dan indah di depan mata.
Sky menatap Evelyn dengan binar pemujaan--- baginya, malam ini bukan sekadar hari pernikahan, tapi awal dari babak baru yang luar biasa. Meski insiden memalukan di pesta tadi—di mana enam orang terjatuh secara dramatis—sempat mencuri perhatian, Sky telah mengunci rapat ingatan buruk itu di luar pintu. Biarlah itu menjadi urusan Shyla dan orang tuanya--- malam ini hanya ada mereka.
Suasana balkon kamar yang menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti hamparan permata. Udara malam yang sejuk menyapa kulit, namun mereka tetap hangat dalam dekapan satu sama lain.
Di bawah langit malam yang bertabur bintang, suasana terasa begitu sempurna dan magis. Sky mengusap lembut jemari Evelyn, lalu beralih menyentuh perut istrinya dengan penuh kasih sayang, seolah sedang menyapa ketiga bayi mereka dalam diam.
Dalam keheningan yang romantis itu, dunia terasa berhenti berputar--- hanya ada detak jantung yang seirama dan janji setia yang terpatri tanpa perlu banyak kata, mengukuhkan bahwa kebahagiaan mereka kini telah genap dan sempurna.
Evelyn tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu Sky. "Kau melakukannya dengan hebat, Sayang. Aku sempat khawatir suasana akan rusak, tapi caramu mengendalikan keadaan membuatku sadar kalau aku memang memilih pria yang tepat untuk melindungiku. Lihatlah... kita di sini sekarang. Semuanya terasa begitu sempurna."
Sky berlutut perlahan di hadapan Evelyn, menyejajarkan wajahnya dengan perut Evelyn yang mulai membuncit. "Bukan hanya sempurna bagimu, tapi bagiku. Di dalam sini... ada tiga alasan lagi kenapa aku harus menjadi pria terkuat di dunia. Kalian dengar itu, jagoan-jagoan Papa? Malam ini, Papa hanya ingin menghabiskan waktu bersama Mama kalian. Terima kasih, Evelyn, karena telah membawa mereka ke dalam hidup kita. "
Evelyn membelai lembut rambut Sky dengan tatapan haru. "Mereka pasti mendengarmu, Sky. Mereka bisa merasakan betapa bahagianya detak jantung papanya saat ini. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan seindah ini—menjadi istrimu, dan sebentar lagi menjadi ibu dari tiga bayi kembar kita. Kau adalah pelengkap yang selama ini aku cari."
Sky berdiri kembali, mengecup kening Evelyn dengan sangat lama dan lembut. "Malam ini milik kita, Sayang. Lupakan kekacauan di pesta, lupakan dunia di luar sana. Hanya ada aku, kau, dan keajaiban kecil di dalam perutmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari kemarin, dan memastikan malam ini menjadi awal dari selamanya yang paling indah."
•
•
•
BERSAMBUNG