NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Tubuhku terasa seperti baru saja dihantam oleh ribuan gunung yang runtuh secara bersamaan. Kesadaranku timbul tenggelam di antara rasa sakit yang luar biasa dan kekosongan yang hampa. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berada di dalam pusaran energi ini, namun setiap sel di tubuhku terus berteriak karena dipaksa untuk bertahan hidup dalam tekanan yang tidak masuk akal.

Aku mencoba membuka mata. Ruangan ini tidak memiliki dinding atau langit-langit yang jelas. Semuanya tampak berwarna abu-abu kusam, tanpa ada satu pun benda yang bisa kujadikan patokan arah. Di depanku, pria misterius dengan pedang berkarat itu masih berdiri tegak, seolah-olah ledakan energi tadi sama sekali tidak memengaruhi keberadaannya.

"Kenapa kau menyebut dirimu sebagai aku yang dulu?" tanyaku seraya berusaha bangkit berdiri.

Kaki kiri saya terasa sangat berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang menempel di sana. Sisik emas di lenganku bergetar hebat, mengeluarkan suara berdenting yang sangat halus namun konstan.

"Karena ingatanmu hanyalah serpihan yang dikumpulkan oleh sistem itu," sahut pria itu sembari menurunkan pedang berkaratnya.

"Sistem?" panyaku dengan dahi yang berkerut.

Pria itu melangkah maju. Setiap langkahnya tidak menghasilkan suara sama sekali di lantai abu-abu ini. "Sekte Awan Azure, Aliansi Murim, bahkan He Ran. Mereka semua hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar untuk membangkitkan entitas yang sekarang sedang merasuki tubuhmu."

Aku menatap tanganku sendiri. Cakar-cakar hitam itu kini tampak lebih panjang dari biasanya, dengan urat-urat emas yang berdenyut searah dengan detak jantungku.

"Kau berbohong," tandasku sembari mengepalkan tangan.

"Jika aku berbohong, kenapa detak jantungmu justru melambat saat kau mendengar kebenaran ini?" timpal pria itu dengan senyum yang terlihat sangat sedih.

Aku terdiam. Apa yang dikatakannya memang benar. Aliran energi Vanguard di dalam tubuhku yang biasanya liar kini justru terasa sangat tenang, seolah-olah ia sedang bertemu dengan tuannya yang sah.

"Lalu di mana He Ran dan yang lainnya?" selidiku sembari mengedarkan pandangan.

"Mereka masih berada di gerbang makam, terjebak dalam ruang waktu yang membeku," jelas pria itu sembari menunjuk ke arah belakangku.

Aku menoleh dan tidak menemukan apa pun kecuali kegelapan yang semakin pekat. Ketakutan mulai merayap di ulu hatiku, sebuah perasaan manusiawi yang seharusnya sudah hilang sejak aku berevolusi menjadi Asura.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar.

"Aku ingin kau membunuhku," jawabnya singkat.

Aku tersentak mendengar permintaan yang sangat tidak masuk akal itu. "Kenapa aku harus melakukan itu?"

"Karena selama aku masih ada, kau tidak akan pernah bisa menguasai kekuatan Vanguard secara utuh. Aku adalah sisa kemanusiaanmu yang menjadi penghalang bagi evolusi terakhir," pungkasnya sembari kembali mengangkat pedangnya.

Ujung pedang berkarat itu kini mengarah tepat ke leherku. Aku bisa merasakan niat membunuh yang sangat murni keluar dari senjata tersebut. Ini bukan niat membunuh yang penuh amarah seperti milik Jang Mu-deok, melainkan niat membunuh yang terasa sangat damai, seolah-olah kematian adalah sebuah hadiah yang paling berharga.

"Aku tidak bisa membunuh diriku sendiri," sahutku sembari melangkah mundur.

"Kau bukan lagi dirimu, Han Wol. Kau adalah monster yang memakai kulit manusia," tegas pria itu sembari menerjang maju.

Kecepatannya jauh melampaui segala sesuatu yang pernah kulihat sebelumnya. Bahkan dengan penglihatan Vanguard yang bisa memperlambat waktu, gerakannya hanya terlihat seperti bayangan tipis yang bergerak di antara celah udara.

Denting!

Aku menangkis serangan pedangnya menggunakan cakar kananku. Benturan itu menghasilkan gelombang kejut yang membuat lantai abu-abu di bawah kakiku retak seribu. Rasa sakit yang sangat tajam menjalar dari ujung cakarku hingga ke tulang bahu.

"Kenapa kau menahan diri?" tanya pria itu di tengah benturan senjata kami.

"Karena aku masih ingin menjadi manusia!" raungku sembari mendorongnya sekuat tenaga.

Aku melayangkan pukulan lurus ke arah dadanya. Tangan kiriku berubah secara instan menjadi cakar besar yang dialiri energi hitam pekat. Namun, pria itu hanya memiringkan tubuhnya sedikit saja untuk menghindar, seolah-olah ia sudah tahu ke mana arah seranganku bahkan sebelum aku memikirkannya.

"Keinginanmu untuk menjadi manusia adalah kelemahan terbesarmu," ucap pria itu sembari memutar pedangnya dan menyabet pinggangku.

Srak!

Kain jubah baruku robek, dan aku merasakan sensasi panas di kulit perutku. Darah berwarna kehitaman mulai merembes keluar, menetes ke lantai abu-abu dan langsung menghilang seolah-olah lantai itu adalah makhluk hidup yang sedang haus.

[Peringatan: Kerusakan fisik pada area vital terdeteksi.] [Saran: Lepaskan seluruh kendali kesadaran untuk sinkronisasi 120%.]

"Jangan ikuti saran benda sialan itu!" teriak pria misterius tersebut sembari kembali mengayunkan pedangnya.

Aku terengah-engah, memegangi perutku yang terus mengeluarkan darah. Kepalaku terasa sangat pening, dan suara ribuan jiwa yang tadi sempat mereda kini kembali berteriak di dalam pikiranku, menuntut agar aku menyerahkan seluruh tubuhku pada insting monster.

"Kau tahu segalanya tentang sistem ini," ujarku sembari menatapnya tajam.

"Tentu saja. Karena akulah yang pertama kali mencoba menggunakannya untuk menyelamatkan orang-orang yang kusayangi, sebelum akhirnya aku sadar bahwa aku justru menjadi penyebab kehancuran mereka," sahutnya dengan nada suara yang penuh dengan penyesalan.

Ia kembali melesat maju, namun kali ini pedangnya memancarkan cahaya putih yang sangat menyilaukan. Tekanan energinya membuatku sulit untuk sekadar berdiri tegak. Aku merasa seperti sedang berhadapan dengan seluruh sejarah bela diri manusia yang pernah ada.

"Jika kau tidak membunuhku sekarang, maka aku yang akan menghapus keberadaanmu dan membiarkan dunia ini hancur tanpa sang penjaga," ancamnya sembari mengayunkan pedangnya secara vertikal.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku menutup mataku sejenak, membiarkan energi Vanguard meledak dari dalam jantungku. Seluruh tubuhku kini sepenuhnya tertutup oleh sisik emas, dan sepasang sayap hitam yang menyerupai sayap kelelawar raksasa robek keluar dari punggungku.

"Ini yang kau inginkan?" tanyaku dengan suara yang bukan lagi milik manusia.

Aku menangkap bilah pedang putih itu dengan tangan kosong. Cahaya dari pedang tersebut membakar telapak tanganku, namun aku tidak merasakan sakit sedikit pun. Rasa lapar yang luar biasa kini mengambil alih seluruh sarafku.

Pria itu justru tersenyum saat melihat transformasiku yang sekarang. "Ya, itulah wujud yang seharusnya kau miliki."

Tepat saat aku hendak mencabik lehernya, sebuah suara wanita bergema di ruangan abu-abu ini, menghentikan seluruh gerakanku dalam sekejap.

"Berhenti, Han Wol! Jangan biarkan dia memancingmu untuk membunuh kemanusiaanmu sendiri!"

Aku menoleh dan melihat sosok He Ran berdiri tidak jauh dari kami. Namun, penampilannya sangat mengerikan. Tubuhnya transparan, dan ada rantai-rantai cahaya yang melilit leher serta pergelangan tangannya.

"He Ran?" gumamku dengan suara yang berat.

"Dia adalah bagian dari jebakan makam ini, Han! Jangan dengarkan dia!" teriak He Ran sembari berusaha melepaskan diri dari rantai tersebut.

Aku menatap pria di depanku, lalu menatap He Ran secara bergantian. Kepalaku terasa ingin pecah karena harus memproses dua informasi yang saling bertolak belakang ini. Siapa yang harus kupercayai?

Pria misterius itu tiba-tiba menarik pedangnya dan menusukkannya langsung ke arah He Ran yang terikat.

"Tidak!" teriakku sembari melesat untuk menghalanginya.

Aku berhasil berdiri di depan He Ran tepat sebelum ujung pedang itu menyentuhnya. Pedang putih itu menembus bahu kiriku, membuatku berlutut secara paksa di depan wanita yang kini menatapku dengan tatapan yang sangat asing.

"Kenapa kau menolongnya, Han?" tanya pria itu sembari menarik pedangnya dari bahuku.

Aku terbatuk darah, merasakan energiku mulai merosot drastis. Saat aku menengadah untuk menatap He Ran, wanita itu justru menyeringai lebar. Wajah cantiknya perlahan mulai meleleh, memperlihatkan wajah monster lain yang selama ini bersembunyi di balik penyamarannya.

"Terima kasih atas perlindungannya, Vanguard," ucap 'He Ran' sembari mencengkeram kepalaku dengan jarinya yang panjang dan tajam.

Sistem di kepalaku tiba-tiba berteriak dengan peringatan berwarna hitam pekat yang belum pernah kulihat sebelumnya.

[Kesalahan Fatal: Inti Asura telah disentuh oleh 'The Mimic Eater'.] [Memulai prosedur penghancuran diri dalam 60 detik.]

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!