Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan macam apa ini?
"Baik Nona, Bibi permisi dulu."
**
Merenggangkan badan "Ahhh badanku pegal, dan juga lapar" berjalan ke sofa "Terlihat enak, Callista aku bisa menebak kalau Bibimu koki hebat disini. Ayo makan" katanya dengan mata berbinar-binar.
"Dasar kau ini, makanlah duluan. Aku akan melanjutkan ini sebentar lagi. Referensi kita mengenai bisnis ini pun masih mengambang, dan belum terlalu mengerucut. Sepertinya.."
Memicingkan matanya tajam kearah Callista dan menjawab cepat" Apa? Jangan bilang.."
Memandang Stella dalam-dalam "Yes, kau pintar. Sepertinya pertemuan kita dengan mereka akan lebih cepat dari yang ku dibayangkan."
"Tunggu dulu tunggu" Stella berdiri kaget "Kita tunjukkan ini dulu pada Golden, minta pendapatnya mengenai ide yang ada dikepalamu itu. Aku tidak setuju, bukan maksudku apa ini tidak terlalu terburu-buru hah?" lanjutnya setengah berteriak.
"Berhentilah berteriak, kau pikir aku tidak dengar hah? Aku hanya mengusulkannya kenapa kau sekaget itu? Atau jangan-jangan.." ucapannya tidak melanjutkan, menyatukan alisnya dan memandang nya penuh kecurigaan seperti polisi yang sedang menghadapi penjahat berbohong.
"Kenapa menatapku begitu? Apa lagi yang kau pikirkan hah? OMG Callista, jangan pikirkan hal-hal bodoh lagi oke? Kita bahas ini nanti dirumah dengan Golden. Kita makan dulu, aku lapar sekali nih." kembali duduk di sofa dengan canggung dan mulai mengambil piring dari nampan yang dibawakan Bibi tadi.
Memperhatikan temannya ini dengan tatapan menyidik dan tidak percaya lalu bertanya "Kita baru 2 hari mengenal Golden, Stella. Tapi kau sudah mempercayainya begitu mudah? Tidak kah kau menaruh rasa curiga padanya sedikit saja? hah?"
Stella yang sedang sibuk menyendokkan kuah sup ke piringnya mendadak diam sesaat lalu mendongak memandang Callista yang masih duduk di kursi kerjanya. "Ayolah Callista, kenapa kau harus berpikir sejauh itu? Jika kau tidak suka ya kita tidak perlu bertanya padanya."
Callista berdiri dan menghampirinya di sofa, mengambil piringnya "Tidak usah dibahas lagi, kita makan saja. Sudah sore kita harus ke mall sebentar nanti." balasnya lalu menyendokkan mulai makan.
Langit sudah mulai gelap saat mereka akan pergi dari rumah.
"Nona? Nona mau kemana? Kenapa membawa barang-barang begitu banyak?" tanya Bibi Asri bingung melihat semua barang ditangannya.
"Bibi, aku pamit. Aku ga bisa tinggal disini. Jaga rumah ini untukku. Aku akan kembali sesekali kesini." jawab Callista keluar menuju mobilnya.
"Nona mau kemana?" tanya Pak Imam menghalangi
"Tolong masukkan ini ke mobil Pak" "Baik Non" setelah selesai, Callista berjalan ke arah mobil. "Callista pamit." lalu masuk meninggalkan mereka yang masih terdiam.
~
Golden pulang lebih malam hari ini, kira-kira pukul 7 malam sudah sampai dirumah.
"Malam Tuan" sapa Pak Amir pada Will saat melihat jendela depan terbuka.
"Apakah mereka sudah pulang?" tanya Golden pada Pak Amir. "Belum Tuan" balasnya.
Berjalan masuk kerumah, "Malam Tuan, saya sudah siapkan makan malam dimeja."
"Ya, oke." balasnya berjalan duduk di sofa. "Kalau tidak ada yang Tuan butuhkan lagi, saya permisi Tuan." "Oke, beristirahatlah"
Menyenderkan diri di sofa beberapa saat lalu berjalan ke arah meja makan untuk makan malam.
'Ceklek' pintu rumah terbuka. Mereka memandang Golden sesaat dan Goldenpun memandang Callista sesaat. Stella melihat ini. Sedikit tersenyum namun langsung kembali seperti biasa. Golden tersadar melihat Pak Imam berdiri dibelakang mereka dengan beberapa koper ditangannya.
Berjalan masuk menghampiri Golden "Hai, kau baru pulang? tanya Callista. "Ya, belum lama. Sudah makan?", "Sudah tadi, mau kita temani?", "Tidak lelah?", "Tidak juga", "Boleh kalau begitu.", "Okey"
'Percakapan macam apa ini? heh.. benar-benar' 'Sepertinya aku harus keatas duluan' batin Stella.