NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mesra Palsu, Salah Paham Nyata

Nara Amelinda selalu yakin bahwa hidupnya sudah cukup kacau tanpa perlu tambahan drama dari masa lalu orang lain.

Sayangnya, keyakinan itu runtuh pagi itu, ketika ia duduk berhadapan dengan Arga Wiratama di ruang tamu rumah keluarga, ditemani sebuah map cokelat tebal yang terlihat lebih mengancam daripada soal ujian hidup mana pun.

Map itu berisi perjanjian lama dua keluarga. Perjanjian yang dibuat puluhan tahun lalu, ketika orang dewasa merasa punya hak penuh atas masa depan anak-anak mereka. Isinya sederhana, tapi dampaknya luar biasa: Nara dan Arga diharapkan melanjutkan hubungan menuju pernikahan.

Masalahnya, mereka bahkan belum menikah.

"Kita luruskan dulu," kata Nara sambil menyilangkan tangan di dada.

Wajahnya serius, tapi nada suaranya tetap menyimpan sisa-sisa kelelahan bercampur sarkas.

"Kita belum menikah. Tidak ada akad. Tidak ada status resmi. Yang ada cuma tekanan keluarga dan janji lama yang dibuat tanpa persetujuan kita."

Arga mengangguk pelan. Ia duduk tegak, rapi seperti biasa, seolah bahkan dalam situasi genting pun hidupnya menolak untuk terlihat berantakan.

"Aku paham, tapi keluarga hanya ingin satu hal sekarang."

"Bukti," sambung Nara cepat.

"Bahwa kita setuju untuk ke arah sana. Setidaknya kelihatan begitu."

Arga menatap map di atas meja cukup lama sebelum akhirnya berkata,

"Artinya kita harus tampil seperti pasangan yang serius."

Nara menghela napas panjang.

"Pacaran pura-pura di depan keluarga bahkan di depan umum. Dengan senyum palsu dan kemesraan instan."

Ia mengatakannya seolah sedang menjelaskan menu makanan yang tidak ingin ia pesan.

Arga tidak langsung menjawab, ia berpikir dan selalu berpikir karena Arga tidak ingin salah menilai atau mengambil langkah.

Itu salah satu hal yang membuat Nara kadang ingin menggeleng sekaligus merasa sedikit aman.

"Ini sementara," kata Arga akhirnya.

"Sampai tekanan mereda."

"Dan selama itu," tambah Nara cepat,

"tidak ada perasaan. Tidak ada baper. Tidak ada drama personal."

Arga menatapnya.

"Perasaan tidak selalu bisa dikendalikan."

Nara tertawa pendek.

"Bisa... Aku sudah latihan denial bertahun-tahun."

Jika Arga tersenyum tipis saat itu, Nara memilih untuk tidak mempermasalahkannya.

" Tapi bagaimana kalau mereka menilai sikap kita dengan lanjut ke pernikahan??"

Nara terdiam dengan jari telunjuk menempel di tengah jari.

" Hmmmtttt bayangan masa depan tak terlihat oleh ku, seperti nya tertutup sama kepanikan sementara."

 

Acara keluarga digelar di sebuah kafe besar yang terlalu ramai untuk ukuran tempat netral. Begitu Nara dan Arga melangkah masuk, perhatian langsung tertuju pada mereka. Senyum, tatapan menilai, dan bisikan berantai menyebar cepat.

Tanpa banyak bicara, Arga meraih tangan Nara.

Gerakannya tenang tidak tergesa, seolah itu hal yang sudah biasa dilakukan.

Nara sedikit terkejut, tapi tidak menarik tangannya. Ia hanya menegakkan bahu dan memasang senyum yang ia yakini cukup meyakinkan.

"Tenang," kata Arga pelan.

"Ikuti saja."

Dan Nara pun mengikuti karena untuk pertama kalinya, ia tidak punya pilihan lain.

Dalam hitungan menit, mereka sudah dikelilingi keluarga besar. Pertanyaan datang bertubi-tubi.

"Kalian kelihatan makin dekat."

"Nara jadi lebih cerah ya sekarang."

"Arga perhatian banget sama Nara."

Setiap komentar disambut tawa kecil, anggukan, dan bahasa tubuh yang semakin memperkuat salah paham massal.

Ketika seorang tante meminta Arga menyuapi Nara, Nara hampir tersedak air minumnya sendiri.

"Tidak perlu," ujarnya cepat.

Namun Arga sudah lebih dulu mengambil sendok. Dengan senyum tipis, ia menyodorkan makanan ke arah Nara.

Nara terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya membuka mulut.

Adegan itu disambut sorakan kecil.

"Waaaaaaahhhhhh so sweet banget sih pasangan ini, belum nikah aja udah begini apalagi udah nikah ni?"

"Bikin iri yang tua-tua nih, seperti melihat masa muda kita ya." Sahut anggota keluarga lain yang mulai menggoda.

Yang tidak diketahui siapa pun adalah bagaimana jantung Nara berdetak terlalu cepat untuk sebuah sandiwara.

 

Masalah berikutnya datang tanpa aba-aba.

Seorang perempuan mendekati Arga. Cantik, percaya diri, dan jelas mengenalnya dengan baik. Mereka berbincang dan tertawa bersama terlihat sangat akrab.

Nara berdiri di samping, berusaha terlihat santai.

Ia tidak cemburu, ia hanya tidak suka dan merasa tersisih.

Tanpa banyak berpikir, Nara melangkah mendekat, meraih lengan Arga, dan menyandarkan kepala ke bahunya.

"Aku capek," katanya lembut.

Sunyi sejenak.

Perempuan itu tersenyum kaku sebelum akhirnya pamit.

"Aku pergi duluan ya Ga, kita bicarakan lain kali saja."

Nara tersenyum paksa menatap perempuan tersebut yang berjalan menjauh.

Arga menatap Nara setelahnya.

"Kamu baik-baik saja?"

"Tentu," jawab Nara cepat.

"Itu cuma akting."

Arga tidak membantah tapi sorot matanya berubah, seolah menyimpan pertanyaan yang tidak ia ucapkan.

 

Di perjalanan pulang, mobil terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara mesin dan lampu jalan yang sesekali menyelinap masuk lewat kaca jendela.

Nara menatap ke luar, dagunya bertumpu pada sandaran kursi. Wajahnya terlihat tenang, tapi kepalanya penuh. Ia merasa lelah bukan secara fisik, melainkan emosional. Terlalu banyak ekspresi palsu hari ini, terlalu banyak senyum yang dipasang seperti aksesori wajib.

Arga melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. Keheningan itu bertahan cukup lama sampai akhirnya ia membuka suara.

"Kalau ini terlalu berat," kata Arga hati-hati, "kita bisa cari cara lain. Kita tidak harus memaksakan semuanya."

Nara tertawa kecil, tanpa benar-benar menoleh.

"Cara lain itu maksudnya apa? Kabur ke negara yang tidak mengenal konsep arisan keluarga?"

Arga tidak ikut tertawa.

"Aku serius."

Nara menghela napas panjang.

"Aku juga serius," katanya kemudian.

"Cuma… kita sudah terlanjur jalan sejauh ini. Rasanya tanggung kalau sekarang putar arah sambil tetap pakai muka keras. Kayak sudah terjun ke kolam, terus baru sadar lupa ganti baju."

Arga meliriknya lagi, kali ini lebih lama.

"Itu analogi yang aneh."

"Aku memang hidup dari analogi aneh," sahut Nara ringan.

"Intinya, aku tidak apa-apa. Aku cuma capek pura-pura kuat."

Ia akhirnya menoleh ke arah Arga, lalu cepat-cepat kembali menatap jendela.

"Dan jangan salah paham," tambahnya cepat. "Capek bukan berarti menyesal. Ini cuma… lelah versi dewasa."

Arga mengangguk pelan, meski ekspresinya masih menyimpan kekhawatiran. Mobil kembali melaju dalam diam dan diam yang kali ini terasa sedikit lebih jujur.

Ia tidak tahu apakah ia sedang meyakinkan Arga, atau justru berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Malam itu, di kamar masing-masing, mereka sama-sama terjaga.

Nara menatap layar ponselnya lama setelah percakapan singkat dengan Arga berakhir. Ia menolak menyebut perasaan yang mulai muncul dengan nama yang sebenarnya.

Karena mengakuinya berarti mengakui satu hal yang paling ia takuti,

Bahwa sandiwara ini perlahan menjadi terlalu nyata.

Dan mungkin, tanpa disadari, ia tidak lagi sepenuhnya ingin menghentikannya.

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!