NovelToon NovelToon
Bulan Di Langit

Bulan Di Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Nikahmuda / Duda
Popularitas:208.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Heni Heni

Menjadi kaya sejak lahir, tak lantas membuat hidup seorang Langit Biru begitu sempurna. Nyatanya di usia yang ketiga puluh lima tahun, pria itu sudah harus merasakan menjadi orangtua tunggal bagi putrinya.

Apapun akan Langit lakukan demi kebahagiaan juga keselamatan sang putri. Termasuk di dalamnya ketika Langit harus memaksa seorang gadis ambisius juga keras kepala agar mau menjadi istrinya. Siapa lagi jika bukan Bulan Purnama. Wanita yang memang memiliki ambisi demi kemajuan bisnisnya.

Sebuah kisah kehebatan seorang Ayah tunggal yang mencintai putrinya dengan cara yang luar biasa.

Juga bagaimana seorang wanita tangguh dan mandiri yang harus terpaksa hidup bersama seorang duda dengan putrinya.

Ikuti kisah selengkapnya hanya di story Bulan di Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heni Heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Satu

Untuk kedua kalinya dalam satu hari ini Bulan menginjakkan kakinya di gedung perkantoran Mars Property. Enggan sebenarnya, akan tetapi tarikan tangan yang Cahaya lakukan, memaksa Bulan melangkahkan kakinya kembali pada lobi kantor. Bahkan, dapat Bulan lihat jika seorang petugas resepsionis yang mengangguk hormat pada Cahaya, terkejut kala bersitatap dengannya. Mungkin, dalam hati perempuan itu bertanya-tanya, untuk apa dirinya kembali datang. Namun, Bulan tak ada waktu untuk sekedar berbasa basi atau pun menyapa karyawan Langit yang bekerja di balik meja front office tersebut. Cahaya dengan berlari kecil masih menyeretnya menuju lift berada.

"Ayo, Kak. Buruan. Pasti Mama akan menyusul ke mari."

"Iya, Aya. Tapi pelan-pelan. Jangan lari-lari begini. Kakak capek."

Gadis kecil itu hanya nyengir. Melepas tangan Bulan ketika pintu lift terbuka gegas merangsek masuk ke dalamnya.

Bulan mengikuti. Begitu keduanya masuk ke dalam, lalu lift pun dengan perlahan mulai berjalan naik menuju di mana lantai yang mereka berdua tuju. Saat itulah Bulan yang masih terengah-engah mulai mencoba mengatur napasnya.

"Bulan ... kenapa kamu harus melarikan diri dari mamamu segala?" Pada akhirnya Bulan berhasil juga bertanya.

"Aku tidak suka terus dimanfaatkan oleh mama. Dan hanya papa yang bisa aku andalkan untuk menjauhkan mama dariku, karena aku sudah mulai tidak nyaman dengannya."

Kepala Bulan mengangguk-angguk. Tepat di saat pintu lift terbuka.

"Ayo, Kak. Ruangan papa ada di sana?"

Bulan sudah tahu. Meski demikian wanita itu masih pura-pura tidak pernah datang ke tempat ini.

Sekretaris Langit Biru beranjak berdiri ketika mendapati kedatangan anak dari sang atasan. "Selamat siang Nona?"

"Siang. Papa ada?" tanya Cahaya. Namun, wanita dengan dandanan tebal dan tampak sangat cantik itu justru mengalihkan pandangan pada Bulan dengan kening mengernyit.

"Ada tidak?" Tak kunjung mendapat jawaban membuat Cahaya tidak sabaran dan kembali melempar pertanyaan.

"Oh, ada, Nona. Silahkan masuk."

"Terima kasih. Ayo, Kak!"

Lagi-lagi Bulan pasrah saja ketika Cahaya menarik lengannya. Tidak ingin sebenarnya Bulan bertemu dengan Langit Biru karena pertemuan yang sebelumnya telah membuat Bulan kecewa perihal penolakan penjualan lahan. Namun, bagaimana caranya agar Bulan dapat memberikan pengertian pada Cahaya jika dia tidak ingin bertemu dengan papa gadis kecil itu.

Terlambat bagi Bulan untuk melarikan diri dari hadapan Langit karena Cahaya sudah membuka pintu ruang kerja papanya. "Papa!"

Langit Biru mendongak mendapati pintu ruang kerjanya terbuka dengan cukup kencang. Makin melotot ketika pelakunya adalah Cahaya dan juga seorang wanita yang berada di belakang tubuh putrinya itu.

"Ayo, Kak ... kita masuk."

"Aya, kakak harus pergi sekarang."

"Kakak harus masuk. Agar Papa tahu jika Kak Bulan yang telah membantuku."

"Tapi, Aya!"

Ehem

Suara deheman Langit, menghentikan perdebatan keduanya. Pandangan mata tajam milik Langit terarah pada Bulan lalu bergantian pada Cahaya.

"Aya! Kenapa bisa ada di sini?"

Bulan terseok-seok mengikuti langkah Cahaya yang masuk ke dalam ruangan. Bahkan gadis itu berdiri dalam kecanggungan.

"Dan kenapa kamu bisa bersama dia?" Lanjut Langit bertanya akan keberadaan Bulan.

"Papa. Kak Bulan yang telah menolongku."

Kening Langit mengernyit. "Maksudnya?"

"Jadi begini Papa ...." Meluncurlah cerita dari mulut Cahaya seputar apa yang terjadi padanya terkait paksaan sang Mama yang telah memanfaatkannya.

Langit Biru mendengarkan dengan seksama. Pria itu menggeram marah. Rahangnya mengeras. Semua karena Vivian. Tak bisakah wanita itu banyak menuntut ataupun menekan putrinya. Jika dibiarkan maka Vivian semakin sesuka hati saja memperlakukan Cahaya hanya demi sebuah ambisi dan juga keegoisan dan kepentingan sendiri.

Meraup wajahnya kasar begitu Cahaya menyelesaikan sesi ceritanya.

"Untung saja aku berjumpa dengan Kak Bulan. Jadi ... Kak Bulan lah yang telah membantuku hingga bisa sampai di sini, Papa."

Langit Biru mengalihkan perhatian dari sang putri pada Bulan Purnama. Tidak menyangka jika wanita itu telah menolong putrinya. Entah apa yang akan dilakukan Vivian andai Bulan tidak ada.

"Nona Bulan. Terima kasih karena telah membantu putri saya."

Bulan memaksakan senyuman. "Sama-sama, Pak Langit."

Bahkan mereka bertiga masih saling berdiri dan belum duduk di sofa ketika suara ribut-ribut dari luar ruang kerja terdengar, dan berakhir dengan terbukanya pintu tersebut. Mata Langit melotot. Tampak kemarahan dari wajah pria tampan itu.

"Pak Elang, maaf. Bu Vivian memaksa masuk. Padahal saya sudah melarangnya." Sekretaris Langit berbicara dengan takut-takut.

"Tidak apa. Kamu boleh keluar."

Vivian terkejut karena masih ada Bulan bersama Cahaya. Matanya memicing dengan jari telunjuk menuding Bulan. "Kamu ... kenapa ada di sini?"

Langit tidak suka Vivian membuat keributan di kantornya. "Vivian! Seharusnya aku yang bertanya padamu. Untuk apa kamu ada di sini!"

"Mas!"

"Cukup, Vivian! Aku tidak suka kamu selalu menganggu hidup Cahaya."

"Cahaya anakku, Mas!"

"Tapi tidak untuk kamu manfaatkan."

Mendengar perdebatan Langit dengan mantan istrinya, kepala Bulan berdenyut nyeri. Terlebih keduanya saling berteriak begitu. Cahaya yang mengeratkan pelukan pada pinggangnya, memaksa Bulan untuk menengahi perdebatan sepasang mantan suami istri di hadapannya. Rasanya tidak etis jika mereka bertengkar di depan Cahaya. Psikologis Cahaya bisa terganggu jika mereka tak mampu mengendalikan diri masing-masing.

"Cukup!" Teriak Bulan dengan memejamkan mata.

Sukses. Langit dan Vivian membungkam mulut mereka. Tapi hanya sesaat, karena Vivian tidak terima dengan Bulan yang ikut campur urusannya dengan Langit. Memangnya gadis itu siapa? Hanya karena Cahaya mengenalnya lalu gadis itu bisa membentak dan mengaturnya. Tidak.

"Siapa kamu berani-beraninya ikut campur urusanku!" protes Vivian.

Belum sempat Bulan menjawab, Langit yang menyela. "Dia calon mama barunya Cahaya jika kamu ingin tahu. Jadi, lebih baik kamu pergi dari sini dan jangan lagi membuat keributan di kantorku."

"Apa? Calon mama barunya Cahaya? Tidak. Itu tidak benar. Kamu pasti bohong, kan, Mas?"

Entah kenapa sekarang Bulan yang dibuat panik sendiri. Apa-apaan Langit berkata begitu? Calon Mama barunya Cahaya? Hei, ini tidak bisa dibiarkan. Bulan ingin protes tapi Cahaya yang bergelayut manja padanya, menundukkan kepala Bulan. "Kak Bulan beneran mau jadi mamaku, kan?"

"Hah? Apa?"

Bulan ingin memberikan jawaban tidak, hanya saja dia tidak tega memudarkan senyum di bibir Cahaya.

Dan lagi, Vivian merasa kesal menghentakkan kakinya keluar dari dalam ruangan Langit.

Blam

Pintu ditutup sedemikian kencang oleh Vivian. Jika Bulan hanya mampu mendesah dan mengembuskan napas panjang melihat kelakuan mamanya Cahaya, lain halnya dengan Langit yang sudah sangat malu akan kelakuan sang mantan istri. Pria itu meraup wajahnya kasar. Melirik takut-takut pada Bulan yang tengah melotot padanya meminta pertanggung jawaban. Langit meringis, berbalik badan dan menjatuhkan dirinya di atas kursi kerja.

1
Trisni Trisni
suka bangat
Kh2103💙
Lanjut lg dong thor...🙏🙏
penasaran sm kehidupan rumah tangga bulan langit...
Kh2103💙
Ya ampun...aku baru baca lg, setelah sekian lama menunggu, sampe bolak-Balik ngintipin udah ada lanjutannya apa blm... akhirnya nongol jg.....
terimaksih kak, lanjut terus donk....🙏🙏
Nunung Sutiah
Thor, are you ok?
RAGIL RUKIATI
thor jangan lama2 dong up datex
Leeonyy Dewa
iseng2 buka ini kok ya d up akhirnya... semoga bisa benar2 tamat ya kak😍
Sumi Nar
Alhamdulillah Stlh sekian abad hehehe akhirnya up juga ... Terimakasih otor ku yg baik.semoga ada up slnjtnya ya
Sri Komalasari
Y ampun author kemana aja, aq sampe bulak balik liat lapak ini karna ingin trus baca lanjutan kisahnya, ka author semangat nulos trjs y ka, jangan PHP lagi soalnya serrruuuuu 🥰🥰sehat trus k author
Siti Rahmadhani
lanjut
Heni Heni
dilanjut sampai tamat setelah Bertahun-tahun bertapa cari inspirasi. do'akan ya saya betah balik ke sini. Terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita ini
Yayoek Rahayu: harus tetap semangat...
total 3 replies
Reni Otta
ya ampun Thor,setelah sekian purnama diriku menanti dirimu baru muncul lagi.
petaba dimana thor?😁✌️
terima kasih ya Thor🙏
Anindita Azzahra
setelah skian lma crita ini gantung,,skrng ada notif..smngat kak lnjtkn critanya smpai slsai
Nunung Sutiah
Stlh vacum bbrp thn, akhirnya muncul lg.
Kirain g d lanjut...
Luna30
oh MG apakah aq mimpi,,, bulan kau kembali 😍😍
Luna30
berharap banget bulan ini up lagi,,, masih blm move on. author semoga semangat lagi nerusin bulan-nya,,😍
Reni Otta
aku sampe sekarang masih nunggu thor,up lagi donk 🙏
Reni Otta
kenapa nggak update lagi ce thor
Nurul Qomariyah
lho.....kok brenti ....tanggung lah....
Hanny Ticaya
ceritanya gimana nie,,,lanjut dong thour,
Sumar Sutinah
duh kasian ucle jupi, kalah cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!