Season 2
Hanin akhirnya meninggalkan Satya, pemuda yang telah menolak dijodohkan dengan dirinya dan meninggalkan keluarga angkatnya untuk pergi ke Kairo mencari ayah kandungnya.
Aariz Zayan Malik, ayah kandungnya ternyata telah menikah lagi dan mempunyai anak.
Kehidupan Hanin bersama keluarga barunya mulai berubah setelah ayahnya sakit dan harus dioperasi. Sebagai anak tertua Hanin dituntut memikul tanggung jawab semuanya dari biaya hidup, biaya kuliah dan pengobatan ayahnya.
Di tengah-tengah masalahnya, ayahnya meminta Hanin menikah dengan CEO baru di perusahaannya.
Apakah Hanin menyetujuinya?
Bagaimana perjalanan cintanya dengan Satya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Asti A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Biaya Operasi
Hanin kembali menuju ruang ICU untuk melihat kondisi ayahnya. Keadaannya kritis tak bisa untuk diajak berbicara. Dokter pun belum bisa menjanjikan kapan Aariz akan sadar.
Hanin hanya bisa memandangi ayahnya dengan hati sedih. Menggenggam tangan kokoh itu berharap bisa menguatkannya.
‘Ayah tunggu Hani mendapatkan uang untuk operasi. Ayah yang kuat di sana. Hani juga minta izin ayah untuk membuka brangkas, Hani khawatir tidak akan sempat setelah meninggalkan rumah itu.’
Hanin masih harus menunggu Amaan kembali. Saat pergi ke rumah nanti hanya Amaan yang bisa menggantikannya menjaga ayahnya.
Sepuluh menit Aman akhirnya kembali dengan membawa makanan. Hanin langsung menghampirinya dan berbicara beberapa saat dengannya.
“Aku pulang dulu, ada hal penting yang harus aku lakukan di rumah, kau jaga ayah baik-baik.”
“Hal penting apa, Nona?”
“Nanti saja aku beritahu setelah mendapatkannya.”
Hanin buru-buru pergi, sampai tak sempat untuk makan makanan yang dibawa Amaan. Pria itu masih bertanya-tanya hal penting apa yang akan dilakukan Hanin kali ini.
“Aku harap dia tidak mendapatkan masalah di rumah dan berurusan lagi dengan Sabrina dan Luna.”
Karena tak ada sopir, Hanin terpaksa pulang naik taksi. Butuh tiga puluh menit untuk tiba di rumahnya, tapi jalanan siang menjelang sore itu sangat padat bahkan macet di beberapa titik lampu merah. Menghabiskan waktu yang tinggal beberapa jam lagi dengan sia-sia.
Pukul lima sore Hanin akhirnya tiba di rumah. Begitu masuk dia langsung menuju ruang kerja ayahnya. Bibi Zaenab melihat ketika Hanin masuk, tapi Hanin tak mengatakan apa pun apa lagi menyapanya.
Hanin keluar dari ruang kerja sekitar sepuluh menit. Dia langsung berlari menuju kamar utama, kali ini Zaenab mengikutinya. Hanin tampak sedang mencari-cari sesuatu.
“Non Hanin pulang buru-buru sedang mencari apa?” tanya Bibi Zaenab.
“Brangkas, Bik,” jawab Hanin sembari membuka seluruh lemari di kamar itu.
“Milik Tuan?” tanya wanita itu.
“Ya, waktu itu ayah bilang ada di sini.”
“Mungkin di kamar Tuan yang di ruang tamu.”
Hanin menghentikan pencariannya di kamar itu. Dia memikirkan kata-kata Bibi Zaenab mungkin ada benarnya. Semenjak tadi dia tak menemukan di kamar itu.
Setelah memastikan tidak menemukannya di kamar utama, Hanin baru berpindah ke kamar tamu. Di saat itu dia berpapasan dengan Luna, baru keluar dari kamar ayahnya, dengan tas di bahu yang biasa Luna bawa.
Hanin bergegas menghampirinya. Luna buru-buru pergi ke arah lain bermaksud menghindari Hanin, tapi Hanin dengan cepat menghadangnya.
“Dari mana kamu? Kenapa keluar dari kamar ayah?” tanya Hanin dengan tatapan curiga.
“Bukan apa-apa, hanya menutup pintu kamar yang terbuka.” Jawaban Luna sungguh pintar.
Pandangan Hanin jatuh pada tas di bahu Luna yang terlihat begitu berat, Hanin ingin mengeceknya, tapi Luna menghindar tak memberinya kesempatan.
“Apa yang kau bawa di tas itu?” tanya Hanin memastikan.”
“Kenapa dari tadi kau terus saja bertanya, memang apa yang kamu pikirkan?” balas Luna reaksinya begitu kesal.
“Hanya bertanya, kau tidak perlu semarah itu.”
Hanin berpikir tidak ada alasan mencurigai Luna, mungkin yang dibawanya hanya pakaian atau barang-barang lain, karena tidak mungkin juga Luna mengetahui tentang brangkas itu. Ayahnya bilang cuma dia yang bisa membuka brangkas itu, dan dirinya yang pernah diberitahu sandinya.
Hanin akhirnya mengabaikan Luna dan melanjutkan masuk kamar. Sebelum masuk dia bertanya pada Bibi Zaenab. “Bibi sudah merapikan barang-barang penting milik ayah?”
“Sudah, Non, milik Non Hanin juga. Terlalu banyak barang-barang berharga bibi jadi bingung merapikannya.”
“Bibi pilih yang berharga saja yang kita butuh kan, untuk saat ini aku masih memikirkan kondisi ayah, dia harus dioperasi dan membutuhkan banyak biaya. Saat ini aku belum memikirkan di mana kita akan tinggal nanti.”
“Untuk sementara barang-barang dibawa saja ke tempat bibi, nanti biar bibi dan Paman Umar yang mengurus semuanya, Non Hanin fokus jaga Tuan.”
“Terima kasih, Bik.”
“Bibi lanjutkan beres-beres, Non, kalau Non Hanin butuh sesuatu panggil saja Bibi.”
Wanita itu berlalu, Hanin masuk ke dalam kamar itu.
Di luar ruangan, Luna diam-diam masih berada di sana, dia sempat mendengarkan pembicaraan Hanin dan Bibi Zaenab tentang kondisi Aariz. Namun, Luna juga masih penasaran sebenarnya apa yang dicari Hanin di kamar ayahnya. Luna ikut menyelinap masuk dan mengintip dari balik sofa.
Setelah mencari beberapa waktu, Hanin akhirnya menemukan brangkas itu, yang tersembunyi di lemari khusus yang menempel di dinding, tertutup gorden. Hanin menekan beberapa nomor yang pernah diberikan ayahnya. Sebelum itu dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul enam, hari sudah petang. Hanin merasa begitu gugup dan gemetar, membuatnya salah menekan nomor hingga dia harus mengulangnya kembali.
“Fokus Hani, kalau salah lagi kau bisa gagal,” ucapnya pada diri sendiri.
Hanin melanjutkan menekan beberapa digit nomor dalam pintu brangkas, dan akhirnya pintu berhasil dibuka.
Hanin tertegun beberapa saat melihat isi brangkas. Di dalam brangkas itu ada setumpuk uang tunai, kotak perhiasan, dokumen dan beberapa kartu atm. Hanin merasa ada harapan untuk biaya operasi ayahnya meskipun belum tahu apakah uang itu cukup atau justru lebih. Hanin bergegas mengambil tas dan menyimpan barang-barang itu di sana.
Setelah Hanin memasukkan semua benda berharga itu, Hanin bergegas meninggalkan kamar. Namun, sebelum dia melangkah keluar, sesuatu menekan di pinggangnya, seperti benda tajam.
“Diam! Dan jangan bergerak, atau benda ini akan menusuk tubuhmu.”
Hanin tak bisa melihat orang di belakangnya, tapi dia tahu suara itu adalah suara Luna.
“Apa yang kamu lakukan, Luna?” bertanya Hanin dengan tubuh kaku tak berani banyak bergerak.
“Mengambil yang ada padamu, terutama tas yang kau pegang itu dan semua isinya.”
“Itu mana mungkin, ini semua barang berharga untuk biaya operasi ayah.”
“Kau pikir aku peduli. Lagi pula ayah sudah sakit-sakitan untuk apa diobati.”
“Kau sama saja dengan ibumu yang tidak punya perasaan.”
Luna tersenyum licik.
“Cepat!” bentak Luna yang semakin menekan pisau itu di pinggang Hanin. Hanin tak punya pilihan lain, jika dirinya terluka atau mati, siapa yang akan merawat ayahnya. Hanin terpaksa menyerahkan tas itu. Tidak hanya tas, Luna juga merebut ponselnya.
“Jangan berusaha melapor, kalau nekat kau tanggung akibatnya nanti!” ancam Luna.
Luna pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Hanin berteriak minta bantuan, tapi tidak ada siapa pun di rumah itu selain Bibi Zaenab dan Paman Umar. Mereka baru muncul setelah Luna berhasil kabur. Sepertinya Luna pun tak sendirian, ada seseorang di dalam mobil di luar sana yang sudah menunggunya.
“Ada apa, Non? Kenapa teriak-teriak?” tanya Zaenab.
“Luna, dia merampok. Barang-barang berharga yang aku ambil dari brangkas dia ambil.”
“Kok bisa? Bibi tidak tahu anak itu bisa bertindak senekat itu,” kata Bibi Zaenab.
“Saya juga baru kembali dari mengambil kendaraan untuk membawa barang-barang, tadi saya sempat lihat dia masuk mobil, tapi tidak tahu ada kejadian seperti ini.”
“Cepat lapor polisi, Non!”
“Tidak bisa, lagi pula ponselku juga dia ambil.”
Hanin jatuh terduduk di sofa. Dia tidak bisa menyelamatkan uang tunai dan perhiasan.
Hanin baru ingat saat meraba perutnya, dia berhasil menyimpan dokumen dibalik pakaiannya dan juga kartu ATM, mungkin itu masih belum cukup untuk biaya operasi. Belum untuk biaya lainnya dan kebutuhan hidup dirinya.
Dua jam kemudian mereka bertiga bersiap meninggalkan rumah itu. Gamal dan anak buahnya telah kembali dan mengunci rumah itu, memberikan tanda bahwa rumah itu telah disita.
Pada saat mereka memasuki mobil, Daniyal tiba di tempat itu. Dia terkejut melihat mobil yang membawa koper-koper besar dan kardus. Bertambah terkejut saat melihat rumah sudah disita.
“Hanin, kau baik-baik saja?” Daniyal menghampiri Hanin yang wajahnya pucat dan tampak letih, dan tiba-tiba Hanin jatuh lemas, Daniyal sigap menyangga tubuhnya. Daniyal merasakan tangannya basah, begitu dilihat berwarna merah.
“Apa ini? Apa dia terluka?”
Perkataan Daniyal mengejutkan Zaenab dan Umar. Mereka bahkan tidak menyadarinya. Buru-buru Daniyal mengangkat tubuh Hanin dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
“Kalian antarkan barang-barang itu, aku akan membawa Nona ke rumah sakit.”
“Iya Nak Daniyal, hati-hati!”