(Mengandung adegan 21+)
Sebuah kisah wanita bernama Asma Aqilatunnisa. Seorang wanita bercadar dengan manik mata biru indah. Membuat siapapun terpesona dengan matanya yang biru seperti lautan. Cantik dan misterius
Hanya sedikit yang tau kenyataan sebenarnya. Asma hanya menyembunyikan noda di balik khimarnya.
Selamat membaca ^_^
Harap apresiasi melalui like, komentar, dan votenya yaa ... Salam cinta dari Zaraa❤
Akun 👉
Ig: @zha_zaraa
Fb: Zaraa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
**LIKE DULU SEBELUM BACA, PLIS!
❤ Happy reading ❤
🌸🌸🌸
"Gak tidur?" Reno tersentak dan menatap Abinya. Lelaki paruh baya dengan wajah yang teduh dan selalu menenangkannya.
"Belum ngantuk," sahut Reno sembari tersenyum. Abi menatapnya dengan raut wajah ragu. Membuat Reno menautkan alis. Apa yang akan dikatakan Abinya?
"Tadi, Umi cerita. Ibu .... " wajah Reno berubah.
"Reno gak mau bahas wanita itu!" pungkas Reno dengan raut wajah tak nyaman.
"Bagaimanapun dia wanita yang melahirkan kamu Reno." Reno tersenyum kecut. Seandainya ia bisa memilih, ia tak ingin lahir dari rahim seorang wanita seperti Anita.
Hening.
Kedua lelaki dengan beda usia ini terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Abi mengerti, Reno akan sangat sulit menerima ibu kandungnya sendiri. Segala yang terjadi sudah diluar kendali Abi. Bagaimana pun ia mencoba membujuk putra sulungnya untuk menerima wanita yang melahirkannya. Ia tak akan bisa jika Reno sendiri yang terus menutup mata.
Awalnya Abi kira, bisa membicarakan hal ini karena tadi wajah Reno nampak bahagia entah karena apa. Tapi ternyata tetap sama saja. Ia begitu menjaga jarak dan tak suka pada Anita.
"Ya sudah, jangan begadang." Abi menepuk pundaknya pelan lalu berjalan ke arah kamarnya.
Reno kemudian berjalan ke teras rumah sederhana itu. Duduk di kursi rotan yang ada disana. Masih dengan raut wajah kesal karena Umi dan Abinya selalu berusaha agar ia menerima Anita. Bagaimana menjelaskan pada mereka? Bahwa teramat banyak sakit yang sudah ditorehkan oleh ibu kandungnya.
Beberapa orang acuh dan tak mengerti. Bahwa seorang anak yang tak mempunyai keluarga utuh akan sangat tertekan dan rendah diri. Begitu pula dengannya dulu. Bocah tertutup dan hanya meneteskan air mata saat di kamarnya seorang diri.
Kedatangan Ummi membuat dampak yang luar bisa dalam kehidupannya. Ia berubah dan menjadi lelaki terbuka pada orang tua. Ramah dan juga lebih sering senyum dan tertawa. Sangat bahagia.
Reno mengusap kasar wajahnya. Lalu kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Mengingat kembali pertemuan dengan Asma tadi
Saat itu ....
"Nama temen Antum siapa? Kok dari tadi nunduk terus?" tanya Reno sembari matanya terus menatap wanita di sebelah Ida. Terus menunduk dengan khimar yang ada di wajahnya.
Reno kemudian menatap tangan yang menarik lengannya "Kenapa Dhika?"
"Kakak kenapa si, kok segitunya nanya." Dahi Dhika berkerut dalam. Biasanya, Reno bersikap acuh pada sekitarnya. Sekarang, mengapa begitu tertarik pada Asma? Karena ia memakai khimar mungkin kurang tepat.
Karena ada banyak santriwati juga disini yang memakai khimar. Apa karena sudah melihat mata birunya? Meski Dhika tau, Asma selalu menunduk dan berusaha menyembunyikan mata biru itu tapi tetap saja, orang-orang bisa melihat matanya.
"Cuma nanya," sahut Reno dengan mata yang masih menatap lurus ke depan. Dua wanita yang tampak berjalan tergesa. Sudah agak lebih jauh dari mereka. Ia hanya ingin memastikan sesuatu.
"Matanya ...."
"Jadi Kakak udah tau matanya biru?" potong Dhika cepat. Reno membeku lalu menatap Dhika.
"Siapanya namanya?" Dhika menautkan alis. Reno kemudiam mencengkram bahu adiknya.
"Siapa namanya?" ia mengulang pertanyaan.
"Asma." mata Reno membulat sempurna.
"Asma Aqilatunnisa?" Dhika mengangguk dengan raut wajah bingung. Ada apa sebenarnya. Di tengah kebingungannya. Reno sudah tak ada di hadapannya. Ia menatap kakaknya yang berlari ke arah Asma dan Ida. Mata Dhika membulat sempurna melihat apa yang ada disana.
Reno menarik lengan Asma. Lalu menarik khimarnya hingga melorot kebawah. Menampilkan wajah Asma secara sempurna. Asma yang mendapat serangan spontan hanya terpaku. Mata Reno menatap Asma. Mengangkat dagu yang menunduk itu. Mata hitam Reno dan mata biru Asma beradu. Saling bertemu dalam satu titik dengan sorot mata rindu. Reno menangkup wajah itu. Mengusap pipi Asma dengan lembut.
"Aqila ...." gumamnya pelan dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Sedangkan Asma tersadar saat Reno memanggilnya Aqila. Panggilannya dulu sebagai wanita pemuas nafsu. Asma menghentakkan tangan Reno di pipinya. Sedikit menjauh dengan sorot mata tak suka atas perlakukan lelaki itu.
Tanpa di duga, Reno menarik Asma hingga menubruk tubuhnya. Membawa Asma ke pelukannya. Ia tak peduli dengan apa yang ia lakukan. Ia memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya. Kerinduan yang ada didada membuatnya lupa. Sebentar saja, ia hanya ingin memeluk wanita ini dan memastikan ia tak sedang berhalusinasi.
Dhika dan Ida menganga tak percaya. Tak seperti Dhika yang sangat tak suka atas sikap kakaknya. Ida justru menatap kedua orang itu dengan senyuman bahagia. Ia menatap kedua orang dihadapannya seolah mereka adalah pemain drama Korea kesukaanya. Tanpa sadar. Tangannya mengamit lengan Dhika.
"Romantis banget sii ...." gumamnya pelan. Dhika tersadar karena sentuhan Ida. Ia lalu mengedarkan pandangan. Takut jika ada yang melihat adegan ini. Untunglah mereka berada di jalan kecil tempat lewat orang-orang biasanya tapi cukup tersembunyi karena diapit dua bangunan. Sekolah dan perpustakaan.
"Kak, ini pesantren!!" Reno tersentak saat pelukannya terlepas. Dhika menatapnya dengan tajam. Reno menelan saliva dan mengedarkan pandangan juga. Ia lupa dan tak bisa mengendalikan kebahagiaanya saat bertemu dengan Aqila.
"Aqila, maaf a-aku ...." Reno terbata. Bibirnya masih bergetar karena informannya benar. Wanita yang dicarinya memang disini.
Asma lalu membenarkan khimarnya. Dengan langkah panjang dan tergesa ia pergi menuju asrama. Ida mengikutinya. Reno juga ingin ikut tapi Dhika menahannya.
"Kak!" Dhika kesal dan tak habis pikir. Bisa-bisanya kakaknya memeluk Asma dihadapan Ida. Calon istrinya.
"Setidaknya pikirin reputasi Abi!" Reno terdiam. Dhika benar. Jika salah satu Ustad atau Ustadzah melihat hal ini. Akan jadi gosip di pondok yang memuakkan. Seorang putra pimpinan pondok memeluk wanita pendatang. Lebih bahaya lagi, jika gosip itu sampai ketelinga ketua yayasan.
"Kak!" Reno tersentak. Lamunannya buyar. Ia menatap Dhika yang berdiri tak jauh dari hadapannya dengan sorot mata bertanya. Dhika memang tak tinggal bersama Abi dan Ummi mereka. Ia memilih tinggal di asrama khusus Ustad disana.
"Apa hubungan kakak sama Asma?" Reno tersenyum. Tak mungkin ia memberitahukan adiknya, bahwa ia pernah di atas ranjang bersama Asma. Berbagi kehangatan dan juga cerita.
"Apapun hubungan kalian. Aku harap kakak menjauhinya dan cepat menikah dengan Ida." alis Reno tertaut. Bukankah Dhika sudah tau bahwa Ia tak ingin menikah dengan Ida? Lagi pula apa hak Dhika memintanya menjauh dari Asma.
"Kakak harus menikah sama Ida." tegas dan raut wajah tak suka. Sorot mata kesal juga ada di mata Dhika. Menatap kakaknya.
"Kenapa?" Reno akhirnya bersuara. Tak kuasa menahan diri untuk tak bertanya. Apa alasan Dhika sebenarnya.
"Karena aku yang akan nikah sama Asma." mata Reno membesar. Dahinya berkerut dalam. Kesal, marah dan berbagai perasaan tiba-tiba menyerangnya. Dhika lalu turun dari teras itu. Memasang sendal dan melangkah pergi.
"Tunggu!" Dhika terhenti. Sama sekali tak membalikkan tubuhnya.
"Dulu, mungkin gue akan mengalah kalau lo merebut mainan gue atau apapun itu. Tapi sekarang berbeda. Asma adalah wanita. Bukan mainan yang suatu hari akan rusak dan gue buang gitu aja. Dia akan segera menjadi istri Reno Dwija Sanjaya."
Tangan Dhika terkepal dan ia memejamkan mata "Lebih tepatnya. Istri dari Dhika Dwija Sanjaya."
Bersambung
Tap jempolnya uwuuu ❤❤
INTINYA, BGITU MNYADARI DOSA2 YG PRNH DILAKUKAN, DN SEGERA TAUBAT NASUHA, DN MMOHON AMPUN, DGN ISTIGHFAR, SHOLAWAT, DZIKIR, BCA AL QUR'AN, DN SNANTIASA ISTIQOMAH, SERTA BRJANJI TDK MLAKUKANNYA LGI, INSHA ALLAH, ALLAH MNGAMPUNI, DN PRBANYAKLH AMAL JARIYAH. DN SERING2 BRBUAT BAIK.. SERTA IHKLAS DGN TAKDIR ALLAH, YG TRCATAT DI LAUHUL MAHFUDZ..
KLAKUAN WARGA NEGARA +62..