Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Angin malam menusuk tulang, namun rasa sakit di punggung Liang Shan jauh lebih mengerikan. Ia terus berlari, melompati atap demi atap, hingga mencapai sebuah kuil tua yang sudah runtuh di pinggiran kota.
Di sana, ia jatuh tersungkur di atas tumpukan jerami.
Tubuhnya gemetar hebat. Racun dalam nadinya mengamuk karena telah menggunakan tiga puluh jurus dengan intensitas tinggi.
"Guru ..., apakah aku ..., terlalu terburu-buru?" bisiknya pada kehampaan.
Ia membuka telapak tangannya. Permata Tiga Hati itu bersinar merah darah. Namun, saat Liang Shan menyentuhnya dengan tangan yang berlumuran darah hitamnya sendiri, sesuatu yang aneh terjadi.
Permata itu tidak hanya bercahaya, tapi seolah menyerap darah hitamnya.
Perlahan, cahaya merah tersebut meredup, digantikan oleh bayangan tulisan kecil yang muncul di permukaan batu jika dilihat di bawah sinar bulan.
Tulisan itu berbunyi: "Pengkhianat bukan mereka yang mati, tapi mereka yang menyisakan nama di atas takhta."
Liang Shan tertegun. Selama ini, alasan pembantaian keluarganya adalah karena ayahnya, Liang Qi, dituduh bekerja sama dengan bangsa asing dari utara untuk mengkhianati kekaisaran.
Namun, tulisan di permata ini menyiratkan hal lain.
Apakah ayahnya justru mengetahui siapa pengkhianat sebenarnya, sehingga ia harus dibungkam?
###
Kabar tentang peristiwa di Kota Heiyun meledak seperti guntur di siang bolong, merambat melalui debu-debu jalanan, hinggap di kedai-kedai teh remang-remang, hingga sampai ke telinga para pertapa di puncak gunung yang paling terasing.
Di sebuah kedai teh di perbatasan wilayah Utara, aroma daun teh yang diseduh bercampur dengan bau mesiu dan keringat para pengembara.
Di tengah ruangan, seorang pencerita tua memukul meja dengan kipasnya, wajahnya penuh semangat menceritakan ulang tragedi di aula Klan Zhao.
"Hanya tiga puluh jurus!" seru si pencerita. "Tiga tokoh muda paling berbakat—Murong Feilong, Xu Ruomei, dan Zhao Kun—dibuat kocar-kacir! Pemuda itu muncul seperti hantu dari lubang kubur dengan membawa golok yang warnanya lebih hitam daripada malam yang paling pekat!"
Di sudut kedai, seorang pria tua berpakaian kusam dengan sebuah kecapi tua di sampingnya, menghentikan gerakan tangannya yang hendak meminum arak.
Matanya yang sayu tiba-tiba berkilat. "Apakah itu Golok Sunyi Mengoyak Langit?" bisik pria tua itu. "Apakah langit akhirnya memberikan jawaban atas darah yang tumpah lima belas tahun lalu?"
Pria tua ini adalah Sima Bo, yang dulu dikenal sebagai Pendekar Kecapi Patah, salah satu sahabat karib Liang Qi yang memilih mengasingkan diri setelah pembantaian Keluarga Liang karena merasa gagal melindungi saudaranya.
Namun, bukan hanya sahabatnya saja yang mendengar berita tersebut.
Di sebuah benteng megah di ibu kota, seorang pejabat tinggi dengan jubah bordir naga—Menteri Wei Zong—meremas laporan rahasia yang diterimanya dari burung merpati.
Wajahnya yang dingin tampak mengeras. "Liang Qi sudah mati. Seluruh keluarganya sudah jadi abu. Siapa lagi yang masih menyimpan jurus terkutuk itu?" desisnya. "Cari pemuda itu. Jika dia benar-benar membawa Permata Tiga Hati, maka rahasia besar Kekaisaran dalam bahaya."
Menteri Wei adalah salah satu orang yang memimpin tuntutan pengkhianatan terhadap Liang Qi di pengadilan kekaisaran lima belas tahun lalu.
Baginya, munculnya Liang Shan bukan sekedar dendam pribadi, tapi ancaman bagi kursi kekuasaannya.
Sementara itu, dunia persilatan juga ikut gempar, nama Liang Shan beredar dari kedai arak ke aula sekte, dari bisikan para pengelana hingga pembicaraan tertutup para tetua.
Ada yang menyebutnya pendekar iblis, ada pula yang menganggapnya pewaris terkutuk dari sebuah kitab terlarang.
Namun tanpa diketahui oleh mereka, di lereng Gunung Angin Meratap, di sebuah gua sempit yang tersembunyi, Liang Shan justru sedang berjuang sendirian melawan maut.
Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang telah mencapai titik puncaknya.
Jika racun biasa menggerogoti tubuh perlahan, racun ini justru bekerja seperti badai di dalam nadi. Energi dalam tubuhnya saling bertabrakan dan merobek jalur meridian satu demi satu.
Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serpihan es bercampur api.
Liang Shan terbaring lemah, namun tangannya masih menggenggam erat Permata Tiga Hati.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar memasuki gua. Langkah itu ringan, hampir tak terdengar, namun setiap hentakannya membawa wibawa yang sangat besar.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian sastrawan namun membawa sebilah pedang kuno di pinggangnya muncul dari balik kegelapan. Ia menatap Liang Shan dengan tatapan yang sulit diartikan, antara iba, benci, dan rindu.
"Wajahmu sangat mirip dengannya," ucap pria itu.
Liang Shan mencoba meraih goloknya, namun tubuhnya tidak sanggup bergerak.
"Siapa kau?" tanyanya waspada.
"Orang-orang memanggilku Pedang Pengembara Langit, Han Muchen," pria itu mendekat, lalu dengan cepat menekan dua titik nadi di dada Liang Shan.
"Aku adalah orang yang seharusnya membunuh Ayahmu lima belas tahun lalu, namun aku justru berhutang nyawa padanya."
Han Muchen duduk bersila di depan Liang Shan. Ia menyalurkan tenaga dalam murninya yang hangat untuk membantu Liang Shan menekan gejolak racun.
"Dengarkan aku, bocah," kata Han Muchen dengan suara berat. "Dunia luar sedang memburumu. Tiga klan besar telah mengeluarkan Perintah Pengejaran Darah. Seratus pendekar bayaran sedang menyisir setiap jengkal tanah menuju utara. Tapi itu bukan masalah terbesarmu."
Liang Shan mengatur napasnya yang sesak. Lalu bicara, "Apa yang lebih besar dari itu?"
"Ayahmu, Liang Qi, tidak dituduh berkhianat karena dia bekerja sama dengan musuh," katanya, Han Muchen menatap Permata Tiga Hati.
Lalu pria itu melanjutkan, "Dia dituduh berkhianat karena memegang bukti bahwa Kaisar saat ini naik takhta dengan darah saudaranya sendiri, dan tiga klan besar itulah yang memalsukan surat wasiat Kaisar terdahulu. Permata yang kau pegang itu bukan kunci harta karun. Melainkan adalah segel yang berisi salinan asli surat wasiat tersebut."
Liang Shan tertegun. Jadi, pembantaian keluarganya bukan sekedar perebutan kitab silat atau dendam pribadi, melainkan konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan takhta tertinggi di negeri ini.
"Ayahmu memilih mati sebagai pengkhianat demi melindungimu dan menjaga rahasia ini tetap terkubur. Namun kau justru menggali kuburan itu kembali," lanjut Han Muchen.
Liang Shan bangkit perlahan dengan bantuan pedangnya. Meskipun tubuhnya masih lemah, api di matanya kini berkobar lebih besar.
"Jika aku harus menggali kuburan, maka aku akan memastikan semua penguasa busuk itu ikut masuk ke dalamnya," ucap Liang Shan tegas.
Han Muchen tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan.
"Bagus. Tapi ingat, di luar sana, ada Tiga Penjaga Gerbang Langit dari istana yang masing-masing memiliki kekuatan yang hampir setara dengan Datuk Dunia Persilatan. Mereka tidak akan memberimu kesempatan untuk menarik napas."
"Kalau begitu, kemana aku harus pergi?" tanya Liang Shan.
"Cari Si Buta Lu kembali. Dia punya bagian kedua dari permata ini. Tanpa bagian itu, tulisan di permatamu tidak akan pernah lengkap. Tapi berhati-hatilah, Klan Xu telah mengutus Xu Ruomei untuk menggunakan kecantikannya. Dia tidak akan menyerangmu dengan senjata, tapi dengan perasaan."