"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti
DUA HARI KEMUDIAN
Seperti biasa, Rama dan Aya sudah di kantor lebih awal. Septi yang selalu hadir setelah mereka merasa bingung, tapi belum punya kesempatan bertanya langsung dengan Aya.
Hingga akhirnya, di hari terakhir Aya berada di PT UTAMA JAYA sebelum pindah ke kantor anak perusahaan CV BERKAH RAYA Septi memantapkan hati bertanya pada Aya.
"Assalamu'alaikum, Cahaya Insaniah. Bikin kopi lagi buat pak Rama? " tanya Septi menghampiri Aya di pantry.
Aya tersenyum. " Cuma nggak tega bos bikin minum sendiri."
"Kan ada mas Agus, biasanya mas Agus juga yang buatkan tehnya pak Budi setiap pagi."
"Kebetulan mas Agus di suruh pak Rama beli sarapan, makanya aku yang buatkan. "
"Ooh gituuuu."
Aya mendelik, melihat reaksi Septi yang tak biasa.
"Kayaknya kamu masih nggak percaya ya? "
"Aya, aku tuh sebenarnya bertanya-tanya sejak kemarin. Setiap aku sampai kantor, selalu kalian berdua yang sudah ada di sini. Apa kalian pergi bareng?"
Aya menoleh cepat, "Hah?? aneh-aneh aja pikiranmu ih. Awas loh, kalau ada yang dengar gimana?" ancam Aya cepat.
"Ya, aku sih nggak bermaksud bikin rumor, tapii gelagat kalian memang mencurigakan tau. Kayak kalian itu punya hubungan rahasia."
DEG
Aya menelan saliva berat. 'Jangan ada lagi yang sadar, pliiiss, ' batinnya.
"Kebetulan aja sep, kebetulan."
"Oh ya, aku juga lama nggak lihat motormu di parkiran. Kamu ke sini nggak naik motor?"
"Aku naik angkot makanya aku berangkat pagi-pagi.. tahu kan rute ke kantor dari rumahku dua kali angkot."
"Ooh gitu, kenapa memangnya motor mu? "
"Kopinya sudah? " tanya Rama berdiri di pintu pantry.
"Oh ini, Pak baru selesai dibuat, saya antar ke ruangan, " sahut Septi cepat.
Aya mengangkat sendok yang ia pakai untuk mengaduk dan membiarkan Septi membawanya ke ruangan Rama dengan nampan.
Rama mengangguk, "Terima kasih ya."
Ia melirik dan tersenyum ke arah Aya yang menatap lelah, dan berlalu kembali ke ruangan menyusul Septi yang sudah lebih dulu berjalan ke ruangannya.
Aya berjalan kembali ke mejanya.
Suara notif pesan masuk ke ponsel. Ia memeriksanya, ternyata dari Rama.
[Sabar ya, hari ini terakhir. ]
^^^[Ya]^^^
[Siang nanti, ajak saja Karin sekalian. Kalian akan sulit bertemu lagi nantinya]
^^^Tak perlu, nanti aku makan berdua dengannya biar lebih leluasa.]^^^
Aya meletakkan kembali ponselnya di meja, menyalakan komputer dan merapikan data terakhir pekerjaannya dan menyelesaikan pengarsipan yang tersisa sedikit lagi.
Rencananya, siang ini akan ada makan bersama departemen di resto dekat kantor dalam rangka perpisahan Aya.
Sebagai manajer, Rama ingin memberikan apresiasi pada karyawan yang sudah bekerja keras dengan baik. Untung saja usulannya tak menimbulkan kecurigaan karena ia meminta di masukkan dalam biaya departemen.
Pekerjaan berjalan seperti biasa. Mereka menggunakan dua mobil menuju lokasi restoran. Satu mobil manajer umum yang menganggur karena Rama memilih memakai fortuner nya untuk ke kantor. Dan satu lagi, mobil fortuner Rama sendiri.
Rudi staf umum di minta mengendarai mobil manajer untuk mengangkut staf wanita yang berjumlah enam orang.
Sedangkan Kepala seksi umum, keuangan, dan legal beserta asisten mereka ikut mobil Fortuner Rama berjumlah lima orang tidak termasuk Rama sendiri.
"Pak Rama, saya sungkan ini. Masa bos yang jadi supir, " canda Elang.
"Hahaha, Nggak apa mas Elang. Kapan lagi kan, momen sekali seumur hidup."
Yang lain ikut tertawa mendengar respon Rama.
"Ini nggak seperti biasanya loh, Pak. Tapi, karena kami juga lupa siapkan souvenir kepindahan Aya jadi kami pikir ini juga bisa jadi solusi."
"Mohon maaf kalau membuat kebijakan yang tidak biasa, saya berpikir apapun levelnya tetap perlu dihargai usaha kerja kerasnya. "
"Eh, Pak. Ini ada sepatu perempuan di belakang. Punya calon istrinya ya? " tanya Melda asisten seksi legal yang duduk di bagian belakang.
" Oh iya, sepatu kerjanya lupa saya keluarkan. Kadang bawa cadangan di mobil untuk ganti-ganti."
"Jadi, pak Rama pergi kerja bareng ya?" tanya Clara.
"Iya, karena searah jadi sekalian."
"Wah belum jadi istri saja sudah di servis banget calonnya. Gimana nanti kalau sudah jadi istri itu, Pak? " goda Elang.
"Harus ekstra lagi servisnya, kalau perlu diantar sampai ruang kerjanya. Hahahaha, " sahut Rama.
Yang lain ikut tertawa, karena komentar Rama diluar prediksi mereka. Rama selalu bisa membuat suasana terasa tak canggung, tapi usahanya ini tak selalu berhasil dengan Aya.
Anggun menatap lama sepatu itu, ia merasa sangat familiar tapi masih belum ingat siapa pemiliknya.
Tak lama, mereka sampai di restoran yang dimaksud.
Mobil yang di kemudikan Rudi juga baru sampai beberapa menit kemudian.
Mereka turun perlahan, dan berjalan bersama-sama memasuki restoran.
Sebagian besar belum pernah ke restoran ini, sedangkan Aya dan Rama sudah beberapa kali ke sini saat makan siang berdua dari rumah sakit dan kantor WO lalu.
Mereka menuju ruang VIP, yang sudah di reservasi Anggun kemarin.
"Wah, bagus ya lokasinya. Aku baru kali ini, " ujar Widya.
"Aku juga," timpal Mira.
"Beruntung ya kita bisa makan di tempat begini. Jaman pak Budi kita nggak pernah di ajak makan diluar, " tambah Septi.
Yang lain mengangguk setuju.
Menu juga sudah di pesan langsung atas saran Rama, karena ia beralasan sering makan di restoran ini.
Seperti biasa ada ceremony kecil sebelum memulai makan bersama. Elang membuka acara seperti biasa.
"Rekan-rekan sekalian, sebelum kita memulai makan bersama, mari kita dengarkan sambutan singkat dari Pak Rama, " ujar Elang
Rama berdiri bersiap menyampaikan sambutan.
"Selamat siang, Terima kasih mas Elang untuk kesempatannya. Saya belum lama bekerja bersama Cahaya, tapi kalau mendengar hasil evaluasi beberapa waktu lalu dari Bu Clara langsung, saya sangat mengapresiasi sekali atas kerja kerasnya dua bulan ini. Terima kasih sudah bekerja dengan baik dan meninggalkan kesan yang baik. Harapannya tetap menjaga komitmen, semangat dan profesionalitas kerjanya lagi saat bekerja di kantor baru nanti. Terima kasih."
Riuh suara tepuk tangan, menutup sambutan Rama saat ia kembali duduk di kursinya.
"Kita lanjutkan dengan sambutan perpisahan dari Aya. Silahkan, " ujar Elang.
Aya berdiri sungkan.
"Terima kasih, Mas Elang dan juga pak Rama untuk kesempatannya. Sebenarnya saya malu diadakan acara seperti ini, karena saya baru bekerja beberapa bulan. Tapi saya sangat berterima kasih sekali kinerja saya dinilai baik. Mohon maaf kalau banyak yang tidak berkenan dari perkataan atau sikap saya selama bekerja sama atau interaksi keseharian kita. Terima kasih juga dukungannya pak Rama, saya akan berusaha bekerja dengan baik di tempat baru nanti. Terima kasih."
Aya duduk kembali ke kursinya di iringi tepuk tangan rekan-rekannya.
"Terima kasih pak Rama.. Aya untuk sambitan perpisahan nya. Saya baru perhatikan. Pakaian pak Rama sama ya dengan Aya. Janjian ya sebelumnya? " canda Elang.
"Oh, nggak mas Elang kebetulan saja, " jawab Aya cepat, ekspresi nya terlihat kikuk.
"Hahaha.. Saya cuma bercanda Aya, " sahut Elang.
Rama hanya tersenyum, karena dia yang mencoba menyamakan kostum mereka hari itu tanpa di sadari Aya.
Makan siang berlangsung akrab. Denting sendok, obrolan ringan disela menyantap, tawa di sudut meja dan diakhiri foto bersama sebelum pulang. Suasana yang membuat Aya merasa kehilangan berpisah dari rekan-rekannya di kantor itu. Tapi ia tak punya pilihan lain, jika ingin masih bekerja.
Rombongan staf sudah lebih dulu pulang. Anggun pergi menuju kasir mengurus pembayaran.
"Oh ya, Mbak saya titip sapu tangan Bapak yang baju marun ya, sama ini kabel charger ponsel mba yang pakai baju marun juga. Mereka sempat makan berdua disini, dan terlihat pergi terburu-buru. Untung terlihat di CCTV resto jadi kami amankan kalau sewaktu-waktu kembali ke sini. "
Anggun tertegun melihat kedua barang itu, entah kenapa kecurigaannya waktu itu jadi makin jelas termasuk soal sepatu itu. Ia baru ingat, sepatu dimobil itu seperti milik Aya.
"Baik, mba nanti saya serahkan. Terima kasih bantuannya, " ujar Anggun sambil mengambil kedua barang itu dan kembali ke mobil Fortuner.
Obrolan hangat tak ada habisnya menemani perjalanan mereka kembali ke kantor, hingga terasa lebih cepat. Sesampainya di parkiran kantor, semua turun dari mobil kecuali Rama.
Ia menerima telpon saat diperjalanan tadi dan harus keluar kantor lagi.
"Mas Elang, saya ke rumah sakit dulu."
"Baik, Pak Rama. Terima kasih sudah diantar."
Rama mengangguk lalu kembali memutar stir mobil dan menginjak gas meninggalkan kantor.
"Aya, ke pantry sebentar, " panggil Anggun.
"Iya, Kak."
Aya berjalan menyusul Anggun yang lebih dulu ke pantry.
"Ada apa kak? " tanya Aya heran.
Anggun menyodorkan sebuah tas kecil berlogo resto.
"Tadi kasirnya titip ini, katanya ini milikmu."
Aya mengambil tas itu lalu mengintip isinya.
'Ini charger ku yang hilang? ' tanya Aya dalam hati.
"Sapu tangannya punya pak Rama. Kembalikan sekalian ya."
DEG
"Kata mbak kasirnya tadi, kalian sempat makan disana berdua, dan buru-buru pergi sampai meninggalkan kedua barang itu, untung terlihat di CCTV jadi mereka amankan barangnya"
Aya terpaku, kepalanya sedikit menunduk.
"Aku juga lihat sepatu hitammu di mobilnya tadi. Kamu....calon istri pak Rama? "