seorang gadis belia yang harus menjalani kehidupan dengan berbagai ujian yang berat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia Putry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 28
"
"Nyonya Masayu urung masuk dalam kamar si kembar.
Takut mengganggu Ardhana dan juga Nadila.
" hmmmm, sepertinya bagus juga mereka mulai dekat. Tidak sia sia rupanya usaha saya." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Tak lama kemudian Ardhana keluar dari kamar si kembar.
Ardhana pun kaget melihat mami Masayu ada di ruang tamu sambil menikmati teh hijau yang merupakan salah satu favorit keluarga mereka.
," sejak kapan mami ada disini,?" Tanya Ardhana lalu duduk di samping maminya . .
" hmmm belum lama,, bagaimana Nadila,,? Apa dia betah tinggal disini?" Tanyanya
" iya mami. " Ardhana pun menarik nafas dalam-dalam lalu menatap mata maminya dalam dalam.
Mami Masayu melihat itu pun mengelus tangan putra si mata wayang nya.
" ada apa? Sepertinya anak kesayangan mami ini memiliki banyak masalah" ucap lembut
" ini tentang Nadila mami, Ardhana ingin secepatnya menikah dengan Nadila,, tapi wali nikah Nadila tidak berada di kota ini." Ucap sambil terus menatap mami Masayu.
" Serahkan semua pada mami dan papi. Lakukan saja tugasmu yang lain. " ucapnya lalu menikmati makanan ringan yang tersaji
" ehhk. Mami ini aneh. Disaat anaknya butuh dukungan malah di berikan banya tugass. Huh" Ucap Ardhana merajuk.
" oh ayolah Ar, kamu bukan lagi seorang bocah yang masih TK pakai merajuk segala ,," ucapnya sambil terkekeh geli melihat tingkah anaknya itu.
" tapi mami tega padaku " ucapnya masih dengan Nada ketus
" ooo, anak mami sekarang sudah mulai bandel yahhh,, dengan nada seperti ini bicara pada mami yang telah melahirkan dan membesarkan nya. " ucap mami Masayu pura-pura sedih.
" maaf mi,, tapi Ar ingin mendekati Nadila pelan pelan. Bagaimana Ar bisa meluluhkan hati Nadila nanti jika Ar diberi tugas melimpah itu " ucapnya sambil menunduk seperti anak kecil yang sedang mengharapkan di belikan permen.
Hahahaha
Mami Masayu pun tertawa terbahak-bahak
Melihat anak kesayangan bertingkah seperti itu.
Ardhana yang di kenal dengan sosok yang dingin dan arogan,kini seperti seorang anak kecil yang sedang merengek..
Ardhana pun langsung menatap mami Masayu dengan tatapan bingung.
" kenapa mami tertawa begitu, apa ada yang lucu?" Tanya Ardhana Heran
" anak ini,,, makanya biarkan mami selesai kan ucapan mami dulu baru menyela. Dasar anak bodoh. " ucap mami Masayu sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
" habis mami mengatakan itu sepotong sepotong" ucapnya ketus
" heiii tadikan mami bilang, biarkan papi mengurus segala nya. Ar memiliki banyak tugas.. dan tugas itu Ar sendiri yang harus melakukan nya. Bukan mami atau papi. " ucapnya sambil tersenyum.
" itukan,, mami masih saja membuat Ar mengerjakan banyak tugas, ahkkk mami tidak seru. " ucapnya frustasi..
.
" ayolah boy,,. Putra mami ini, mami rasa sangat cerdas,, tapi kenapa sekarang jadi bodoh begini,, ahkkk mami tidak bisa berbuat apa-apa kalau begitu " ucapnya
," ayolah mami, jangan buat Ar makin pusing. Mami tidak mau kehilanganmu Nadila dan juga cucu cucu mami kan,?" Tanyanya penuh selidik. .
" dasar anak ini,, enak saja bicara begitu." Ucapnya lalu memukul pundak Ardhana sedikit keras.
" aduhhh, kenapa dipukul mami. ?" Ucap Ardhana sambil meringis menahan sakit.
Walau bagaimanapun tenaga mami Masayu tidak bisa diremehkan.
Jhon melihat tingkah ibu dan anak itu hanya menggeleng saja tanpa ikut menimpali.
Sedangkan Nadila memperhatikan mereka dari jauh. Nadila ingin kedapur karena haus. Tapi tidak sengaja mendengar obrolan Ardhana dan mami Masayu
Nadila urung kedapur tetap berdiri di tempat nya sambil terus memandang keduanya
" Jadi bagaimana mami,,? Ar harus bagaimana?" Tanyanya dengan nada frustasi.
" tenang boy. Untuk sementara kamu tinggal dirumah utama. Biarkan Nadila disini,, jika kamu terus mendekat, Nadila akan merasa kurang nyaman. Namun sesekali datang jenguk dia beri dia perhatian yang lebih. Agar Nadila bisa merasakan bagaimana tulus nya kamu pada Nadila. Dan itu tugas yang harus Ar lakukan,paham ?" Ucapnya sambil tersenyum manis
" jadi ,, maksud mami tugas itu ?" Ardhana menggantung pertanyaan nya. Seakan sudah tau jawabannya.
" dasar bocah " kata mami Masayu lalu berdiri, " jangan banyak ulah. Dekati Nadila pelan pelan. Buat dia nyaman dan merasa di lindungi. Oh iya berikan nama kepada kedua cucu cucu mami. Itu tugas tambahan dari papi dan mami" lalu mami Masayu keluar.
Mendengar itu Ardhana melompat kegirangan..
"Yesss yes akhirnya" karena asyiknya, Ardhana sampai tidak sengaja matanya menangkap sosok Nadila di depan kamar.
Ardhana jadi salah tingkah ketahuan berkelakuan seperti itu.
" ahh Hay" Ucap Ardhana dengan pipi memerah seperti kepiting rebus karena malu
Sedangkan Nadila hanya tersenyum dan berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arah Ardhana. Nadila pun mengalami hal yang sama.
Jhon dan bibi pengasuh saling pandang dan senyum senyum sendiri.
Ketika bibi akan bicara Jhon memberi isyarat agar bibi diam saja. Takut mengganggu Ardhana dan Nadila nantinya.
"""""
.
Di kantor Inggrid
Brakkkkk
Inggrid yang di ruangan itu kaget dengan apa yang terjadi.
Inggrid tau siapa yang datang itu.
" ada apa ,,? Tanyanya
" apa maksud mu melakukan semua itu Inggrid?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Inggrid lebih dulu.
" Yang mana maksud pertanyaan mu itu?" Tanyanya dengan nada santai.
" Kenapa kamu membuat keputusan tanpa menanyakan kepada mu lebih dulu?" Hartawan tetal bertanya kepada Inggrid. Dia bersikeras untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya.
" jelaskan saja maksudmu tidak usah bertele-tele." Ucap Inggrid tegas. Kali ini dia menatap mata suaminya itu dengan penuh kekesalan.
" saya tidak terima dengan keputusan mu tentang membawa Nadila kemari sebagai pemilik sah perusahaan ini.,x" ucapnya lantang.
" Lho kenapa,, ini kan keputusan ibu selaku pemimpin tertinggi di perusahaan ini. Ingat saya hanya sebagai pelaksana bukan pemimpin. Dan itu kamu tau. Dan juga posisi kamu juga di bawah ku. ", Ucapnya dengan nada di buat setenang mungkin. Agar Hartawan tidak curiga padanya.
" tapi Biar bagaimana pun kita ikut andil dalam mengembangkan potensi perusahaan ini. Bukan Nadila atau ibu ,"; jawabnya masih tidak terima.
" ayolah hartawan.. ingat satu hal, perusahaan ini itu milik keluarga al-Fatih.. ayah Zahra dan Nadila cucu kandung dari ayah ku. Jadi kita tidak berhak melakukan protes.. " ucapnya lalu Inggrid mengambil beberapa map dari dalam laci meja kerja nya.dan memberi kan kepada Hartawan suaminya
Dengan tatapan bingung Hartawan menerima map itu.
" apa ini,,,? Kenapa kamu memberikan ini padaku?" Tanyanya
," baca saja. Dan itu adalah kopian dari file yang asli. Dan alasan ibu mengambil keputusan seperti itu " ucapnya lalu Inggrid melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena perdebatan dengan suaminya
" apa isi dalam berkas ini Inggrid,?" Tanyanya tanpa membukanya.
" sebaiknya kamu baca dulu ,lalu temui ibu dan tanyakan padanya. Saya pun tidak mengerti akan hal itu " ucap Inggrid tetap pada posisinya tanpa menoleh kearah Hartawan
" baiklah,,, coba kita lihat file apa gerangan" dengan perlahan Hartawan membuka file tersebut.
Dengan mata melotot Hartawan meremas file tersebut..
" Apa apaan ini.. ? Kenapa ibu bisa memiliki file ini.. ?"