Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Dokumen Penting dan Orang Misterius
Pintu ruangan tertutup pelan di belakang punggung Dika. Map tebal berwarna cokelat itu dipeluk erat di dada, kayak lagi gendong bayi baru lahir — nggak boleh jatuh, nggak boleh goyang sedikit pun. Langkah kakinya melangkah di lorong kantor sambil dada dibusungkan kayak ayam jago yang baru menang adu, padahal jantungnya sebenernya udah deg-degan kayak lari keliling lapangan sepuluh kali.
"Ayo Dika, jangan gemetar kayak agar-agar!" bisiknya sambil meluruskan kerah baju yang nggak miring-miring itu. "Nggak boleh telat, nggak boleh hilang, nggak boleh dibuka — walaupun penasaran setengah mati isinya apa, tahan ya tangan!"
Dika berjalan keluar gedung. Matahari sore nyengat di muka, langsung bikin keringat nongol di dahi. Dia melirik jam — masih banyak waktu, tapi nggak ada salahnya waspada. Tiba-tiba ada motor berhenti tepat di depan, pengendaranya pakai helm penuh, gelap banget kelihatannya kayak penjahat di sinetron yang baru aja kabur dari penjara.
"Mau ke kantor cabang Sentra?" tanya orang itu, suaranya berat dan serak.
Dika langsung mundur selangkah, alisnya naik sebelah sambil menatap curiga. "Loh, bapak ini peramal ya? Baru niat aja udah ketahuan!" jawabnya sambil senyum lebar tapi kakinya siap lari kapan saja.
Orang itu tertawa kering. "Banyak orang lewat ke sana. Naik aja, cepat dan murah," ucapnya santai.
Hati Dika langsung bergetar — bukan karena jatuh cinta, tapi karena kata-kata Vanesha tadi langsung nyamber ke kepala: jangan percaya sembarangan orang! Dia langsung geleng-geleng kepala mantap.
"Terima kasih banyak ya! Tapi sedang menunggu teman yang badannya gede dan suka bawa belatin, sebentar lagi nyampe kok," jawab Dika santai sambil menatap orang itu berani-berani.
Si pengendara motor langsung berubah muka. Turun dari motor, berjalan mendekat — badannya besar, lebih tinggi dari Dika, kayak lemari berjalan.
"Serahin dokumennya. Kamu pulang aja," ucapnya dingin, matanya melotot ke arah map.
Dika mundur lagi, map dipeluk makin erat kayak nyawa sendiri. "Wah, bapak ini suka main-main ya! Dokumen ini bukan kacang rebus yang bisa dikasih ke sembarang orang! Mending bapak pulang, minum teh hangat, istirahat — muka udah kelihatan capek lho!" jawabnya sok asik padahal jantung udah mau copot.
Orang itu nggak sabar, langsung menyambar tangan ke arah map! Dika sigap — menyelip ke samping kayak kucing dikejar anjing, lalu berlari sekuat tenaga sambil berteriak:
"Tolong! Ada orang naksir dokumen ini lebih dari nyawanya sendiri!"
Lari terus, nggak menoleh ke belakang, menyelip di antara orang pulang kerja, belok kiri belok kanan sampai akhirnya nyasar ke warung kopi yang agak sepi. Langsung duduk di pojok, napas ngos-ngosan kayak kambing habis lari maraton. Cek map — masih utuh, nggak ada lipat, nggak robek.
"Syukurlah... kalau robek dikit pasti gajian bulan depan dipotong sampai kiamat," gumamnya sambil mengelap keringat di dahi pakai lengan baju.
Langsung ambil ponsel, ketik pesan ke Vanesha — ceritain semuanya, orangnya gede kayak lemari, mengejarnya kayak ngejar utang, sekarang udah aman di warung kopi, dokumennya utuh kayak baru beli.
Balasan masuk cepat banget:
Tetap di situ. Jangan kemana-mana. Saya jemput sekarang.
Singkat, tegas — persis kayak dia. Dika tersenyum sendiri sambil duduk tegak, pura-pura kelihatan keren padahal kaki masih gemetar dikit.
Sepuluh menit kemudian, mobil berwarna hitam berhenti perlahan di depan warung. Kaca jendela turun, dan wajah Vanesha terlihat dari dalam — cantik banget, tapi tatapannya campur aduk kayak bumbu rujak: khawatir, lega, dan sedikit marah.
Dika langsung berdiri, berjalan mendekat sambil senyum lebar. "Nona Bos! Lapor — dokumen aman, nyawa juga masih utuh, cuma keringat agak banyak dikit!" jawabnya sambil memberi hormat asal-asalan.
"Masuk," ucap Vanesha sambil membuka pintu sebelah dalam.
Dika naik ke dalam mobil yang sejuk dan wangi. Vanesha menatap map di tangannya, lalu menatap wajah Dika yang berkeringat.
"Masih utuh?" tanya Vanesha pelan.
"Utuh banget! Nggak dibuka, nggak dilipat, nggak dipakai kipas — dijaga kayak harta karun!" jawab Dika mantap sambil tersenyum bangga.
Vanesha tersenyum tipis dikit — senyum yang jarang banget kelihatan. "Terima kasih, Dika. Kamu berani," ucapnya lembut, tangannya tanpa sadar menempel sebentar di lengan Dika.
Wajah Dika langsung merah kayak cabai merah yang baru dipetik. Dada berdebar kencang — kali ini bukan karena takut, tapi karena Bos Cantik sendiri menempelkan tangan di lengan! Dia duduk tegak sekuat tenaga biar nggak kelihatan gemetar.
"Itu tugas! Dan janji itu hutang — nggak boleh diingkari!" jawabnya tegas sambil menatap mata Vanesha.
"Besok antar pakai mobil kantor. Hari ini cukup," ucap Vanesha pelan, lalu menambahkan dengan nada lembut, "Tapi satu hal..."
Dika langsung duduk tegak lagi, siap mendengar. "Iya, Nona Bos?" tanyanya.
"Lain kali kalau ada bahaya, kabari lebih cepat. Jangan lari sendirian. Saya khawatir," ucap Vanesha pelan, matanya menunduk ke pangkuan, pipinya merah tipis terlihat jelas.
Hati Dika berdebar — kali ini bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang hangat menyelimuti dada. Dia tersenyum tulus, lalu menjawab pelan:
"Siap, Nona Bos! Lain kali pasti kabari duluan, janji! Tapi selama berdiri di sini, nggak ada yang bisa menyentuh apa yang dititipkan — kecuali lewat badan ini dulu!" jawabnya mantap.
Vanesha menoleh perlahan, matanya berbinar lembut. Dia nggak berkata apa-apa lagi, cuma tersenyum tipis — senyum yang jarang ditunjukkan kepada siapa pun, dan sekarang ditujukan khusus untuk Dika.
Mobil mulai berjalan perlahan membelah kota yang mulai gelap. Di dalamnya, dua orang itu duduk berdampingan — bos cantik yang dingin dan penjaga sederhana yang sok keren tapi tulus — dan di antara mereka, ada sesuatu yang baru saja tumbuh pelan namun pasti.
Mobil mulai berjalan perlahan membelah kota yang mulai gelap. Di dalamnya, dua orang itu duduk berdampingan — bos cantik yang dingin dan penjaga sederhana yang sok keren tapi tulus — dan di antara mereka, ada sesuatu yang baru saja tumbuh pelan namun pasti.
Belum lama mobil berjalan, tiba-tiba dari persimpangan sepi di samping jalan, sebuah mobil hitam ngebut memotong jalan mereka sampai sopir harus mengerem mendadak! Ban berdecit keras di aspal, badan Dika dan Vanesha tersentak ke depan.
"Apa-apaan ini?" ucap Vanesha tegas, matanya menatap tajam ke arah mobil yang berhenti menghadang di depan.
Dari mobil hitam itu turun tiga orang — badannya gede, wajah tertutup, salah satu memegang tongkat besi di tangan. Mereka berjalan mendekat dengan langkah berat, tatapan tajam menembus kaca jendela.
"Kunci semua pintu! Jangan dibuka apa pun yang terjadi!" ucap Dika cepat sambil langsung melompat ke pintu sebelah Vanesha, map diselipkan aman di kursi belakang.
Orang bertubuh paling gede mengetuk kaca pakai ujung tongkat — krakk — kaca langsung retak sedikit!
"Turun! Serahin dokumen dan Vanesha! Kalian nggak apa-apa!" teriak orang itu, suaranya menggelegar.
"Jangan dengerin!" jawab Dika lantang balik, lalu menoleh ke sopir. "Pak, kalau bisa gas mundur sekarang!"
Tapi dua orang lain sudah berdiri di belakang mobil — jalan tertutup rapat. Pintu sopir ditarik paksa terbuka! Salah satu penjahat langsung narik sopir keluar sampai jatuh ke aspal!
"Jangan sakiti dia!" teriak Vanesha, wajahnya pucat tapi suaranya tegas.
Penjahat itu ketawa kasar. "Sekarang giliran kamu, Bos Cantik!" ucapnya sambil meraih pintu tempat Dika dan Vanesha duduk.
Cepat kilat Dika buka pintu dari dalam sampai penjahat itu ketabrak pintu dan mundur terhuyung! Dika melompat keluar, berdiri tegak di depan pintu — menghadang mereka dari mendekat ke Vanesha.
"Mundur! Sebelum saya marah!" teriak Dika sambil merentangkan kedua tangan, dada dibusungkan walau jantung udah mau copot.
Penjahat tertawa ketiga-tiganya. "Kamu? Penjaga kecil? Minggir!" sahut yang paling gede, lalu langsung maju dan mendorong bahu Dika keras sampai Dika mundur dua langkah.
Dika nggak jatuh. Dia mengusap bahu yang tadi didorong sambil senyum miring. "Wah, dorongannya lumayan kuat ya! Tapi sayang — saya nggak diajar minggir pas orang butuh dijaga!" jawabnya tegas.
Orang itu langsung mengayunkan tongkat besi ke arah kepala Dika! Dika sigap — menunduk cepat sampai tongkat melayang di atas kepala dan berbunyi nyaring — wusss! Dika langsung memukul perut orang itu pakai kedua tangan!
"Arrgh!" orang itu meringis, mundur selangkah sambil memegang perut.
Dua temannya langsung maju barengan! Dika nggak lari — dia berputar menghindari pukulan yang satu, lalu menendang lutut yang lain sampai orang itu jatuh berlutut di aspal!
"Berani ya! Ini jalan umum, bukan tempat berantem!" omel Dika sambil menghindari pukulan lagi, keringat mulai bercucuran di dahi.
Tapi mereka bertiga dan Dika sendirian. Lama-lama Dika mulai terdesak — pipinya kena pukul satu sampai dia mundur dan bibirnya berdarah dikit. Dia mengusap darah di bibir pakai punggung tangan, menatap mereka satu per satu sambil napas ngos-ngosan.
"Dika!" teriak Vanesha dari dalam mobil, suaranya panik.
Dika menoleh sebentar, senyum tipis muncul di bibirnya yang berdarah. "Nggak apa-apa, Nona Bos! Cuma latihan tinju sedikit!" jawabnya sambil berbalik menghadap mereka lagi.
Si penjahat paling gede maju lagi, mengangkat tongkat tinggi-tinggi. "Sudah cukup main-main!" bentaknya.
Saat tongkat itu turun ke arah Dika — Dika langsung melompat ke samping, meraih lengan orang itu, memutar punggungnya dan melemparnya ke bawah! Brakk! Orang gede itu jatuh keras ke aspal!
Dua orang lain kaget banget sampai diam di tempat. Dika berdiri tegak di atas mereka, napas berat tapi matanya nggak berkedip sedikit pun.
"Mundur! Atau yang ini ikut jatuh juga!" bentak Dika lantang, suaranya menggelegar kali ini.
Belum sempat mereka bangun, terdengar suara sirine mendekat — makin lama makin keras! Dua orang yang masih berdiri saling pandang, langsung narik temannya yang jatuh dan lari naik ke mobil hitam mereka. Mobil itu langsung ngebut pergi menghilang di kegelapan malam.
Dika berdiri sendirian di jalan sepi itu, napasnya masih berat, badan terasa pegal semua. Dia menatap mobil musuh yang udah hilang, baru perlahan berbalik kembali ke mobil mereka. Pintu terbuka, Vanesha keluar dan langsung berlari ke arahnya.
"Dika!" panggilnya lembut tapi panik, tangannya langsung menyentuh pipi dan bibir Dika yang memar dan berdarah. "Kamu berdarah..." ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca.
Dika tersenyum tipis, mencoba kelihatan biasa saja walau tiap gerakan terasa nyeri. "Nggak apa-apa, cuma lecet dikit. Yang penting — Nona Bos aman, dokumen aman, dan mereka udah kabur. Hitungannya menang, kan?" jawabnya sambil tersenyum kocak.
Vanesha menatapnya lama, lalu tanpa sadar memeluk lengan Dika erat-erat, membenamkan wajah sebentar di bahunya. "Kamu gila... tapi terima kasih. Kamu nyelamatin kami," ucapnya lembut dan bergetar.
Dika kaku sebentar, lalu perlahan tersenyum tulus. Dia membalas pelukan itu pelan — hati-hati biar nggak kena bagian yang sakit.
"Sudah bilang kan? Selama saya berdiri, nggak ada yang boleh nyentuh apa yang dijaga. Termasuk Nona Bos," jawabnya pelan di dekat telinga Vanesha.
Mereka berdiri begitu sebentar di jalan yang mulai sepi, sebelum akhirnya naik kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang — lebih hati-hati, dan dengan hati yang makin dekat satu sama lain.