NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

Arvin terbangun saat sinar matahari menembus gorden kamar mewahnya. Pria itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi tepat.

Pandangannya langsung terarah ke sofa panjang tempat Nadia seharusnya tidur.

Kosong.

Selimut dan bantal tersusun rapi di atas sofa, tetapi Nadia tidak ada di sana. Pintu kamar mandi pun terbuka lebar dan sepi.

Arvin mengernyitkan dahi. Ke mana wanita itu jam enam pagi begini?

Ia bangkit, memakai sandal kamar, lalu melangkah menuju lantai bawah. Suasana rumah yang biasanya senyap di pagi hari terasa berbeda. Bau harum dari arah dapur menyeruak hingga ke lorong tangga.

Arvin melangkah perlahan menuju area dapur.

Di sana, Nadia sudah rapi mengenakan pakaian kasual dan celemek. Hijab instannya terpasang rapi. Nadia tampak lihai memotong sayuran dan memasak di atas kompor. Di sampingnya, seorang pelayan rumah tampak sigap membantu menyiapkan bahan masakan dan piring. Mereka bekerja cekatan tanpa ada obrolan satu kata pun.

Arvin menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu dapur, melipat kedua tangan di dada memperhatikan gerak-gerik istrinya.

"Saya pikir kamu kabur," suara berat Arvin mengalun datar, memecah keheningan dapur.

Nadia yang sedang mengaduk masakan di atas kompor terkejut kecil, lalu menoleh tanpa menghentikan tangannya. Pelayan di sampingnya langsung menunduk sopan dan perlahan mundur untuk membereskan meja lain, membiarkan majikannya berbicara.

Nadia melirik Arvin dari atas ke bawah. Pria itu masih berpenampilan khas bangun tidur dengan rambut yang agak acak-acakan, namun tetap memancarkan aura dominan.

"Ngapain saya kabur, Mas?" balas Nadia santai, lalu mematikan kompor. "Saya kan bukan buronan. Lagipula saya sudah janji mau buatkan sarapan enak pagi ini."

Arvin melangkah masuk ke area dapur, menatap deretan masakan yang sudah tersaji rapi di meja counter. Ada nasi goreng wangi, telur mata sapi, hidangan tumis sayur, dan ayam goreng krispi yang aromanya sangat menggugah selera.

"Kamu bangun jam berapa?" tanya Arvin datar.

"Jam lima. Setelah salat Subuh saya langsung ke bawah," jawab Nadia seraya melepaskan celemeknya dan menggantungnya di dinding.

"Pelayan di rumah Mas ini rajin banget, bahan-bahan sudah disiapkan semua. Saya cuma tinggal olah saja."

Arvin diam sejenak, mengamati ekspresi wajah Nadia yang sama sekali tidak menunjukkan rasa lelah, padahal semalam wanita itu tidur di sofa.

"Soal ucapan saya semalam..." Arvin menggantung kalimatnya, menatap lurus mata Nadia. "Saya berharap kamu benar-benar ingat dan tidak cuma pura-pura paham."

Nadia menyunggingkan senyum tipis, menyilangkan tangan di dada. "Tenang saja, Mas Arvin yang terhormat. Ingatan saya tajam kok. Saya tahu batasan saya sebagai istri pajangan di rumah ini. Mas tidak usah mengulanginya terus-terusan."

Nadia kemudian melirik jam dinding di atas kulkas yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Arvin dengan nada bicara yang sengaja ditekan.

"Ini sudah setengah tujuh. Apa anak-anakmu belum bangun, Mas?" tanya Nadia.

Arvin menyipitkan matanya tajam, menangkap dengan sangat jelas penekanan pada kata anak-anakmu yang diucapkan Nadia. Ada keheningan sepersekian detik sebelum Arvin merespons dengan raut wajah yang tetap dingin dan datar.

"Mereka biasanya bangun jam tujuh kalau hari libur begini," jawab Arvin singkat, berusaha bersikap tak terpengaruh oleh cara bicara istrinya.

Nadia manggut-manggut pelan. "Oh, begitu. Ya sudah, kalau begitu masakan ini saya tutup dulu biar tetap hangat. Mas Arvin mau saya ambilkan kopi hitam?"

Arvin menatap Nadia sebentar dengan pandangan menilai, lalu menggelengkan kepala.

"Tidak usah," tolak Arvin dingin tanpa beban. "Saya mau mandi."

Tanpa menunggu balasan dari Nadia atau menyentuh sedikit pun hidangan di meja dapur, Arvin langsung memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan area dapur menuju lantai atas.

Nadia menggeleng-gelengkan kepala melihat punggung Arvin yang menghilang di balik lorong tangga. Pria itu benar-benar kaku dan dingin, tetapi Nadia memilih untuk tidak ambil pusing.

Ia melepas celemeknya, lalu melangkah naik ke lantai dua menuju kamar Kenzo. Saat membuka pintu kamar bernuansa biru muda itu, Nadia melihat Kenzo masih menggeliat malas di balik selimut tebalnya.

"Kenzo sayang... ayo bangun, sudah pagi," bisik Nadia lembut seraya mengusap pelan kepala anak itu.

Kenzo mengerjapkan matanya yang masih sembab oleh kantuk. Begitu melihat sosok Nadia di samping tempat tidurnya, senyumnya seketika mengembang lebar.

"Mama!" pekik Kenzo gembira, langsung merentangkan kedua tangan mungilnya minta dipeluk.

Nadia tertawa kecil, memeluk tubuh hangat anak lima tahun itu. "Ayo mandi. Mama mandikan. Habis itu kita sarapan nasi goreng yang sudah Mama buatkan."

"Mama mau mandiin Kenzo?" tanya Kenzo dengan mata bulat yang berbinar kaget sekaligus gembira. "Beneran?!"

"Iya, dong. Ayo," jawab Nadia gemas seraya mengangkat tubuh Kenzo dan membawanya ke dalam kamar mandi.

Kenzo tampak senang sekali karena biasanya dia mandi sendiri. Ia terus berceloteh riang saat Nadia menyiramkan air hangat ke tubuhnya dan mengusapkan sabun wangi. Wajah anak itu dipenuhi tawa saat Nadia membuatkan busa di kepalanya.

Nadia memandangi tubuh kecil Kenzo yang sibuk bermain busa. Hatinya mendadak iba melihat bagian belakang telinga dan sikunya yang masih kurang bersih terkikis sabun.

Nadia lalu menatap Kenzo. "Kenzo... biasanya Kenzo mandi sama siapa? Apa Bibi di bawah, Papa, atau Abang-Abang kamu yang bantu kamu mandi?"

Kenzo menggeleng polos sambil mengusap matanya yang terkena cipratan air.

"Nggak ada, Ma. Biasanya Kenzo mandi sendiri," jawab Kenzo jujur dengan suara khas anak kecilnya. "Kata Papa, Kenzo cowok. Harus bisa apa-apa sendiri."

"Anak kecil seperti ini mandi sendiri apa bersih?" ucap Nadia pelan pada dirinya sendiri.

Nadia membilas tubuh Kenzo, mengeringkannya dengan handuk, lalu membantunya memakai baju. Proses itu memakan waktu sedikit lebih lama dari perkiraannya.

Saat mereka turun ke meja makan, Arvin, Damian, dan Jovan ternyata sudah sarapan duluan.

Nadia menuntun Kenzo duduk di sampingnya, lalu menduduki kursi di sebelah anak itu.

"Kenzo mau makan apa, sayang?" tanya Nadia lembut sambil mengambil piring.

Kenzo menunjuk piring di tengah meja. "Mau ayam gorengnya, Ma!"

"Jangan panggil dia mama," cetus Jovan tiba-tiba, menatap tajam ke arah mereka. "Mama kita cuma satu, dan dia bukan Mama kamu."

Arvin yang duduk di ujung meja hanya diam, tetap melanjutkan makannya tanpa bersuara.

Seketika raut gembira Kenzo sirna. Anak kecil itu menunduk dengan bibir melengkung sedih.

Nadia tetap tenang. Ia merengkuh tubuh Kenzo, lalu mencium pelan pelipisnya.

"Nggak apa-apa, sayang," bisik Nadia lembut, mengusap pipi Kenzo. "Kalau nggak dipanggil Mama, Kenzo bisa panggil Bunda, Ibu, atau Umi. Kenzo mau pilih yang mana?"

Kenzo mendongak pelan. Sisa-sisa rasa sedih di mata bulatnya perlahan memudar, tergantikan oleh binar penasaran. Anak kecil itu berpikir sejenak sambil menggoyangkan kakinya yang menggantung di bawah kursi.

"Bunda..." cicit Kenzo pelan. Panggilan itu terdengar begitu manis di bibirnya. "Kenzo mau panggil Bunda aja."

Nadia tersenyum hangat, mengelus lembut kepala Kenzo. "Pilihan bagus. Mulai sekarang Kenzo panggil Bunda, ya."

Nadia lalu mengambilkan sepotong ayam goreng renyah dan sesendok nasi hangat ke piring Kenzo. Tanpa membalas sedikit pun tatapan sinis dari Jovan maupun lirikan dingin Arvin yang sejak tadi mengamati dari balik cangkir kopinya, Nadia fokus menyuapi Kenzo dengan penuh kesabaran.

Jovan berdecih pelan melihat keakraban itu, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah makin tertekuk. Sementara Damian yang duduk di samping Jovan hanya menggelengkan kepala pelan, fokus menghabiskan makanannya tanpa mau ikut campur.

"Makan yang banyak, sayang," bisik Nadia lembut pada Kenzo, benar-benar mengabaikan aura tegang di meja makan itu.

1
Fitri Yah
alhamdulillah ... anak2 da care sama ibu sambung nya, tinggal pak arvin ni yg masih kaku kaya kanebo kering walau perhariannya sdh ada peningkatan si hehe
Sri Supriatin
Siiip ada perawatan khusus buat Nadia dr pd ibu Julid yg serakah 🙏🙏🙏🙏
merry
pengen arvin dgrinn rencananya mayang dan vanya,, syg x duit di porotin wlpun mm kndung klo baik gpp in mah jht🤭🤭🤭
Fitri Yah
mas arvin ... mode dingjn lg deh, gda manggil sayang2nya lg deh , kemaren wkt blm sadar nangis2 da sadar mode cuek lg deh tp masih kaku ke nadia nya
Sri Supriatin
Sedih banget thor n tks upnya lanjuuut 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
Ayunda
ini itu emak kandung emak angkat ap emak tiri kok segitunya sama Nadia
Sri Supriatin
eleuh2 aya emak kandung rada2 sugan🤭🤭
merry
arvin hrs tau klo mertua y mau porotin uangy lewat nadia,,, mulut manis tp hati busuk
Bunda HB
ada iya ibu biadan.kaya nya nadia bukan ank kandung ibu Maya.karena di perlakukan gk adil.
Sri Supriatin
Aduh airmataku g berhenti mengalir... Double upnya thor 🙏🙏🙏
utama
lanjut up
merry
hilng ingatan gk tu nadia ya,,, 🤔🤔🤔biar nyesel tu laki 😆😆😆
utama: jangan kak, kasian anak2 meraka kalau Nadia hilang ingatan
total 1 replies
Fitri Yah
double up thor , kan kemaren tdk up
English Lesson
lanjut kak 👍👍
Sri Supriatin
Mampir Thor..seruuu😍😍😍
English Lesson
lanjut kak 💪
Chenyu Wang
bagus banget awal ngeliat judul nya kaget waw Duda anak 3 tapi pas baca keseluruhan ternyata crita nya bagus banget seru rugi kalo ga baca..
Bunda HB
jgn kasih sadar dulu thor.suami kaya alvin hrs ksih pelajaran dulu. buat ibu mayang, ibu yg pilih kasih zholim sama ank sndri dan untk adik nya juga org tdk tau bertrima kasih pengorbanan kakak nya.😭😭😭
wida nur
lanjutttyy
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!