NovelToon NovelToon
HI PAPA, AKU ANAKMU!

HI PAPA, AKU ANAKMU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Anak Genius / Nikahmuda
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.

Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.

Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?

Ayo temukan kisah mereka di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasihat

**

​"Harus yah, kita pisah gini mejanya?"

​Felisa mendengus, berada disituasi keluarga ini entah kenapa merasa tidak nyaman. Bagaimanapun hubungan dia dan Rafa hanya sebatas menjadi orangtua untuk Elvan, tanpa ada ikatan apapun diantara mereka.

​"Cakapar, dua saudara itu butuh waktu pribadi untuk ngomong berdua. Kalau kita ikut gabung, nanti kita kenal semprot ... gak baik," balas Alex yang sepertinya sedang sibuk bermain game di ponsel.

​Felisa melirik sinis, ini juga satu makhluk sedari tadi terus mengatakan dia 'cakapar' yang katanya artinya calon kakak ipar. Berapa kalipun Felisa membantah jika dia tidak ada hubungan apapun dengan Rafa, tapi sebatu ini dia tidak mau mendengar.

​Sepertinya, kali ini Felisa paham kenapa dua saudara itu suka sekali menghujat makhluk yang di depannya ini.

​Felisa melirik dua bocah yang masih asyik bermain di arena game yang ada di sudut restauran, sedang dua bersaudara itu duduk di kursi depan, terhalang dua meja dari tempatnya.

​Harusnya saat ini dia sedang rebahan di kasur, tapi kenapa harus ikut terseret di restauran dengan keluarga aneh ini?

​"Cakapar, sayang Karaf enggak?"

​Felisa balik mendelik lagi. "Sudah berapa kali saya bilang, jika saya dan orang itu tidak ada hubungan apapun. Jangan lagi kamu panggil saya kaya gitu. Ngerti kamu?"

​Sayangnya, Alex dengan cepat malah menggeleng. "Enggak. Gak ada rencana mau nikah dekat, gitu?"

​"Saya gak mau nikah," jawab Felisa malas, tuh kan makhluk ini batu sama sekali tidak mau mendengar.

​"Oh, bukan Minggu ini, yah? Apa Minggu depan apa bulan depan?"

​Felisa melirik gelas jus di depannya, terus melirik makhluk itu yang sedang aktif dengan ponsel. Jika makhluk ini disiram air, resikonya apa saja yah, kira-kira? Selain basah, mungkin ponsel mahalnya juga akan mati. Jika lelaki itu menuntut ganti rugi, sayang Felisa sekarang sedang miskin karena semua ATM-nya masih dibekukan. Meminta kepada Rafa, sudah untung dia tidak diusir dan menjadi gelandangan.

​"Sabar ... Fel ... sabar, orang sabar makin cantik," gumam Felisa lebih memilih diam daripada meladeni, nanti resikonya menjadi gelandangan.

​"Saya dan Alexa juga sama seperti Cakapar waktu itu. Kehadiran Cio juga sama seperti Elvan," ujar Alex tiba-tiba, tapi fokusnya masih ke ponsel.

​Felisa memilih diam, tapi diam-diam menunggu lanjutan ucapan lelaki itu.

​"Kita juga menikah karena MBA, bukan karena cinta. Bahkan, saya waktu itu sempat membawa Alexa ke tempat aborsi, tidak mau bertanggungjawab. Tapi jika waktu itu saya berhasil membuat Alexa aborsi, mungkin sekarang saya akan menyesali hidup saya dan terus menyalahkan diri. Gak kebayang, hidup saya tanpa Cio dan Cia."

​"Tapi, saya tidak pernah sekalipun untuk berniat mengaborsi Elvan. Sejak hamil, saya langsung memutuskan untuk melahirkannya," sanggah Felisa, berharap lelaki itu tahu jika dia tidak pernah seperti dia waktu itu.

​Alex malah tersenyum. "Kenapa Cakapar, gak minta tanggung jawab sama Karaf waktu itu?"

​Felisa balik tersenyum, lebih ke tersenyum masam. "Buat apa? Kita menikah iya, tapi apa kita bisa jamin pernikahan kita bisa langgeng tanpa cinta? Ujung-ujungnya nanti kita pisah, yang jadi korban siapa lagi? Tentu Elvan, saat anak itu sudah terbiasa dengan kehadiran orang tuanya lengkap, terus tiba-tiba dipaksa terbiasa hidup dengan orangtuanya yang berpisah."

​"Kenapa menyerah sebelum mencoba? Tidak ada yang tahu bukan, kedepannya seperti apa?"

​Alex sekarang telah menyimpan ponsel di atas meja, pertanda jika cowok itu mungkin memulai untuk serius.

​"Buat apa mencoba sesuatu yang hasilnya bahkan masih abu-abu, saya juga sudah tahu hasilnya bakal seperti apa. Kasus perceraian sekarang semakin banyak, kebanyakan alasannya sudah tidak ada cocok dan sudah gak saling cinta. Yang saling jatuh cinta aja bisa cerai, apalagi yang awalnya berlandaskan tanpa cinta. Sudah jelas bukan, hasilnya kaya apa?"

​Alex terkekeh. "Kalau begitu, buat apa kita makan? Sudah jelas bukan, akhir hidup manusia yah, mati! Mau mati sekarang atau nanti yah sama aja bukan, tetap aja mati. Lebih baik daripada kita cape-cape berjuang terus ujungnya juga mati, lebih baik kita berhenti makan dan memilih mati sekarang."

​Felisa terdiam, pikirannya seolah menerobos jauh. "Kamu gak akan ngerti," lirih Felisa akhirnya.

​"Ngerti banget gue, kalau kalian ini egois," cibir Alex sinis. "Cakaper pikir, kaya gini itu solusi terbaik untuk Elvan? Pada pernah mikir gak sih, hidup Elvan kedepannya bakal butuh surat-surat resmi orangtua yang udah menikah? Kita hidup di negara yang punya aturan, bukan hutan yang bebas. Sekarang, mungkin Elvan belum ngerti apa yang terjadi, tapi semakin besar dia juga akan tahu, hubungan gak jelas apa yang orangtuanya miliki."

​"Saya terlalu banyak melihat kegagalan pernikahan di lingkungan dekat saya. Jadi, kamu gak akan pernah mengerti."

​"Apapun trauma Cakaper dengan kejadian kehidupan sebelumnya tentang pernikahan, jangan biarkan Elvan juga mempunyai trauma yang sama tentang keluarga dengan cara yang berbeda."

​Felisa terdiam, memikirkan semua itu. Pemikiran itu juga sering terlewat belakangan ini, tapi untuk langsung menikah rasanya dia sungguh belum siap. Tinggal beberapa bulan dengan Rafa, tidak sepenuhnya Felisa bisa mengenal sosok seperti apa lelaki itu. Cinta? Sepertinya dirinya memang sudah mati rasa untuk perasaan yang sentimentil seperti itu.

​"Sorry ... Cakaper, saya lancang ngomongin kaya tadi padahal kita baru pertama ngobrol. Tapi setiap lihat Elvan, saya selalu teringat sosok Cio. Dulu jika saya beneran aborsi dan bahkan tidak bertanggungjawab, mungkin jika itu terjadi, saya tidak akan pernah bisa melihat anak itu tertawa sekarang."

​Felisa mengikuti arah pandangan Alex, yaitu ke arah dua bocah itu yang masih asyik dengan perosotan.

​Apakah benar, jika kedepannya akan sulit untuk Elvan jika mereka benar-benar tidak menikah?

​"Sejak kapan?"

​Setelah minum, Alexa membuka obrolan yang sempat hening di antara dua bersaudara itu.

​"Kamu ingat gak Dek, waktu itu Kakak pernah cerita kalau pernah nidurin cewek karena mabuk waktu ada acara kantor?" tanya Rafa yang masih ingat, jika dia pernah cerita masalah ini.

​Alexa terlihat berpikir, setelah akhirnya mengangguk. "Jadi dia wanita itu? Wanita yang menghilang dan Kakak cari?"

​Rafa mengangguk. "Iya, Dek. Kita juga baru bertemu beberapa bulan ini."

​"Terus gimana ceritanya, sekarang kalian bisa bersama kaya gini?"

​"Jadi gini, Dek ...."

​Rafa mulai menceritakan semua kejadian semenjak kedatangan Elvan, tes DNA sampai kedatangan Felisa dan alasan mereka tinggal bersama.

​Setelah cerita itu mengalir dari mulut Rafa, keduanya sekarang sama-sama terdiam seolah berkelana dengan pikiran mereka yang entah kemana.

​"Kenapa yah Kak, keluarga kita harus kaya gini? Aku gak bisa bayangkan perasaan Papa sama Mami, jika tahu hal yang sama terjadi ke Kakak kaya aku dulu?"

​"Kakak juga gak tahu, Dek," lirih Rafa lemah, pikirannya terasa pecah jika memikirkan itu semua.

​"Selama ini, mereka sudah sangat kuat dalam mendapatkan hakim masyarakat karena aku. Sekarang, mereka harus kembali mendapatkan penghakiman itu lagi."

​"Maafin Kakak, Dek," lirih Rafa, kemudian menggenggam kedua tangan Alexa yang ada di atas meja. "Seharusnya Kakak bisa jaga diri waktu itu, seharusnya Kakak bisa mencegah. Seharusnya, Kakak gak mabuk. Kakak menyesal, Dek."

​"Kak ...." Alexa balik menggenggam tangan Rafa. "Kakak nyesel gak, ada Elvan?"

​Rafa melirik Elvan sekilas di belakang sana. "Walau awalnya Kakak sempat terkejut tentang Elvan, tapi anehnya Kakak sekarang gak menyesal Elvan hadir di hidup Kakak."

​Alexa tersenyum. "Syukurlah, karena bagaimanapun Elvan tidak pernah meminta lahir dalam keadaan seperti ini. Terus, sekarang Kakak bakal gimana?"

​Rafa menatap Alexa tidak mengerti, entah tindakan apa yang sedang dibahas Alexa.

​"Hubungan kalian? Apa Kakak bakal hidup tanpa status terus sama dia, dalam membesarkan Elvan?"

​Rafa tersenyum tipis. "Dia cuman setahun hidup sama Kakak. Setelah itu, kita akan kembali ke hidup masing-masing. Mungkin bedanya, pada waktu itu kita sama-sama bisa membesarkan Elvan dalam keadaan yang terpisah."

​"Terus, Kakak bakal terima aja gitu situasi ini? Kakak gak pernah berpikir buat nikahin dia dan hidup bersama untuk membesarkan Elvan?" Alexa tidak habis pikir dengan pemikiran dangkal Rafa yang seperti ini.

​"Menikah?" Rafa malah tertawa, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kamu tahu sendiri Dek, waktu itu Kakak mau nikahin tapi dia menolak dan malah pergi. Sekarang, dia tiba-tiba datang dan bawa Elvan yang sudah segede itu. Apa menurut kamu, pernikahan tidak terlambat buat kita, Dek?"

​"Gak ada yang terlambat buat Elvan, Kak. Buktinya, saat sekarang saja Kakak baru dateng ke kehidupan dia, tapi anak itu menerima kehadiran Kakak. Artinya apa, bagaimanapun Elvan sangat membutuhkan peran kalian berdua sebagai orangtua."

​"Kita tetap bakal jalankan peran kita sebagai orang tua Dek, walaupun kita hidup terpisah," bela Rafa.

​"Apa itu baik buat Elvan? Apa Elvan, gak akan mempertanyakan masalah ini suatu hari nanti? Pernah mikir gak, kedepannya Elvan bakal butuh dokumen-dokumen di mana diharuskan kedua orangtuanya menikah. Akta kelahiran Elvan aja, pasti bakal perlu dokumen pernikahan kalian!"

​Rafa terdiam, apa yang Alexa katakan barusan dirinya juga sering memikirkannya. Tapi untuk pernikahan?

​Rafa melihat ke arah Felisa sekilas, bertepatan dengan wanita itu juga melihat ke arahnya. Rafa lebih dulu memutus kontrak tatapan di antara mereka.

​"Kita gak saling cinta. Pernikahan ini gak bakal bertahan, ujung-ujungnya kita akan cerai dan tetap nyakitin Elvan." Rafa memang sekarang sudah sepesimis ini tentang pernikahan.

​"Kakak lupa, aku sama Alex dulu kaya apa? Saling cinta, mana ada! Yang ada dulu, aku menderita menikah sama Alex. Tapi sekarang, seiring berjalannya waktu, cinta hadir karena terbiasa, Kak."

​"Kakak gak tahu, Dek."

​"Aku harap kalian gak sama-sama egois dan tanpa kalian sadari perlahan menghancurkan Elvan."

​Rafa tidak tahu, benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Semuanya seolah berkecamuk di pikirannya.

​

*

​"Kita mampir ke supermarket dulu, saya ada yang mau dibeli," ujar Felisa saat mereka sudah siap pulang di dalam mobil.

​Sama-sama memikirkan semua nasihat tak tersirat yang seolah mencambuk mereka. Tapi, semuanya butuh waktu.

​Saat melihat ke belakang, mereka sama-sama tersenyum tipis saat melihat Elvan yang sedang tertidur.

​"Elvan harus bahagia," ucap mereka bersamaan. Mereka saling pandang sesaat, lalu sama-sama berpaling ke arah lain. Setelahnya mobil melaju dalam keheningan.

​Felisa masih memilih-milih bumbu dapur yang sudah habis. Mereka berhenti di supermarket yang dekat dengan apartment.

​"Nona Felisa," panggil seseorang yang langsung menghentikan aktifitas Felisa.

​Saat Felisa berbalik, seketika wanita itu langsung terdiam mematung. Dia menggeleng kuat, ketakutan langsung menghampiri dirinya.

​"Akhirnya, saya bisa menemukan jejak Nona."

​Felisa melirik sekitar, secepat kilat wanita itu langsung berlari ke arah luar, setelah sebelumnya menendang kaki orang itu.

​Felisa melihat mobil Rafa, seketika buru-buru menggeleng. Felisa memilih berlari ke pinggir jalan untuk menghentikan sebuah taxi. Rafa yang tengah memejamkan mata, tidak melihat Felisa yang sudah pergi dengan sebuah taxi.

​Di dalam taxi, Felisa gemetar hebat. Ia mencoba untuk mengirim pesan singkat kepada Rafa.

To Rafa.

Saya ketemu teman lama, kita memutuskan untuk berbicara sebentar di restauran. Kamu pulang duluan saja, saya juga tidak akan lama. Titip Elvan.

​Felisa menyandarkan badannya lelah ke kursi. "Pokoknya jangan sampai ketahuan. Kehadiran Elvan sama Rafa sebisa mungkin, jangan sampai tercium oleh mereka."

##

1
Siti Musyarofah
masih bingung sih sama keluarga feli
Siti Musyarofah
masih teka teki
Siti Musyarofah
temen laknat
Siti Musyarofah
seru
Siti Musyarofah
lanjut
Siti Musyarofah
bagus kok sepi
uriarmy16: makasih yah, aku masih baru di novel toon, mungkin sekitar 2 minggu☺
total 1 replies
Siti Musyarofah
seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!