Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - Menjelang Ujian di SMP Nusantara 2
Sebelum deretan angka itu dibacakan di depan gerobak, ada rentang masa yang perlu ditengok lebih dahulu: hari-hari terakhir Intan di SMP Nusantara 2, menuju ujian masuk SMA yang tinggal beberapa pekan lagi.
Minggu itu dihabiskan dengan belajar bersama Dimas. Kondisinya sedang terbaik: tenaganya habis untuk belajar, rumah mereka bersih setelah membereskannya semalaman, sehingga Intan tidak perlu lagi cemas dengan keadaan seperti ketika berada di sekolah.
Meja makan yang biasanya penuh bekas sayur dan piring kotor itu kini berkilau. Semuanya berawal ketika Intan melihat Dimas menekuk punggung di meja yang sama untuk mengerjakan tugas. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, rumah itu terasa benar-benar hidup, bukan sekadar tempat untuk kembali.
Keesokan harinya kembali hari Senin. Karena Dimas sedang ada di rumah dan keluarga tertata rapi, wajah Bapak dan Ibu jauh lebih ceria daripada biasanya. Dimas pagi itu mengemas barangnya untuk kembali ke asrama, sedangkan Bapak dan Ibu hanya mengantar Intan berangkat pagi.
Dua kakak beradik itu bersepeda bersama keluar halaman sebentar, lalu berpisah di tikungan jalan. Dimas menuju asrama, sedangkan Intan tetap mengarah ke SMP Nusantara 2. Bapak masih sempat berseru dari depan pintu supaya mereka hati-hati di jalan.
Di tengah jalan, Intan bertemu Bima dan beberapa orang lainnya yang sedang naik sepeda.
Mata Bima langsung berbinar. Dia mengerem, menunggu Intan, lalu melambai: "Intan! Ini uji coba kemarin, bagaimana rasanya?"
Intan menatapnya seperti melihat hantu. "Apa matahari keluar dari barat hari ini? Murid bodoh pun mulai peduli sama nilai?"
"Ya lumayan. Tapi belum tahu nilainya, soalnya tidak sempat cocokkan jawaban."
Intan menjawab dengan tenang, wajahnya tetap seperti biasa. Bima menyeringai nakal: "Orang tuaku menyuruhku ikut tes masuk SMA Mutiara. Kamu tidak mau ikut tes juga? Biar kita satu sekolah lagi, terus aku bisa nyontek PR-mu!"
Intan hampir terjatuh dari sepeda saking terkejutnya, lalu menatap Bima dengan penuh heran.
Bocah itu tidak kenal malu dan sesumbar seakan tidak ada orang lain yang bisa menandinginya.
Bocah yang bersepeda di sebelah Bima mengejek tanpa ampun: "Kamu mau diterima di SMA Mutiara? Kepala sekolahnya setuju? Kalau cari koneksi juga hanya diambil uangnya, nilaimu tetap rendah. Satu sekolah jadi seperti begini, sungguh mengerikan!"
Bima marah, lalu menendang roda orang itu tanpa ikut berhenti bersepeda. Gerakannya oleng-oleng dan berbahaya sekali.
Si bocah tadi menghindar dengan panik, sementara Bima tetap mengejar sambil berteriak-teriak. Papan nama toko di pinggir jalan ikut berguncang ketika mereka membelok, dan mereka berdua tak berhenti berputar di jalan.
Intan takut, buru-buru mengayuh sepedanya ke depan. Ketika keduanya sudah mendekat, mereka justru terus berlintas di samping Intan, seolah dia dan beberapa orang lain sudah resmi diterima di SMA Mutiara.
Di gerbang sekolah pun dia masih berhenti, mengusap keringat, dan berkata setengah melengking: "Intan, ingat janji kita, jangan mati-matian menolak pelajaranku, ya!"
Sekilas Intan mengira dia sudah benar-benar gila.
Intan masih bingung sampai masuk kelas. Ia dan Bima sudah satu kelas selama tiga tahun.
Dulu bocah itu tidak pernah seantusias itu setiap kali melihatnya; biasanya dia hanya melambaikan tangan seenaknya, atau bahkan berpura-pura tidak mengenal.
Apakah dia salah minum obat hari ini? Pertanyaan itu dipikirkannya sepanjang perjalanan mengayuh sepeda, tetapi tidak juga mendapat jawabannya.
Belum sempat diselidikinya, wali kelas sudah muncul di ambang pintu. Intan segera melepas masalah itu dari kepalanya.
Meskipun hasil uji coba sekota belum keluar, para guru tidak perlu menunggu. Mereka tetap membahas kunci jawaban agar para murid bisa mengestimasi nilai mereka sendiri.
Pagi itu setiap kelas terdengar suara gemerisik kertas dan desahan. Murid yang tadi yakin bisa memperoleh nilai penuh tiba-tiba menutup buku sambil menekan pelipisnya sendiri.
Dua hari kemudian, teman-teman sekelas yang semula tinggi hati itu mendadak layu, terutama Nadia dan Bima yang duduk di sekitar Intan.
Satu per satu mereka menghela napas, membuat Intan ikut tertekan. Bahkan duduknya pun berubah: punggung yang biasanya santai kini membungkuk di atas meja, dan terlihat jelas dua orang itu sedang menghitung berapa banyak poin yang masih bisa diselamatkan.
Intan meletakkan buku dengan pasrah, menatap mereka: "Kalian mau membuat semua orang ikut desah? Hari ini dari pagi sampai siang, besok tinggal satu mata pelajaran lalu sekolah bubar. Kalian masih mau meneruskan desahan ini?"
"Hei!" Sahut mereka berdua serentak.
"Aku menyerah!" Intan menebar kedua tangan dan tidak memedulikan mereka lagi.
Nadia memukul dadanya karena frustrasi: "Mengapa guru-guru itu suka begini! Menilai nilai kami sebelum hasil keluar. Sekarang jadinya aku tegang sendiri. Kemarin pulang sekolah, Bapakku tanya nilaiku berapa. Aku menjawab bahwa hasilnya sulit dijelaskan sebelum pembahasan selesai. Eh, sudah terlanjur. Sekarang kunci jawaban tiap mata pelajaran sudah keluar, dan taksiranku turun tiga puluh poin dari perkiraan sebelumnya. Pulang nanti wajah apa yang kupunya di hadapan Bapak dan Ibu? Huhu."
Nadia pura-pura menangis, tetapi akhirnya menangis benar-benar. Intan terkejut, cepat-cepat mengambil tisu untuknya.
Bima lesu di sebelahnya lalu melolong: "Aku sengsara! Orang tuaku berkata, kalau aku gagal satu mata pelajaran saja, uang saku untuk setahun penuh akan dipotong. Itu kan bukan hal kecil!"
Tangis Nadia berhenti mendadak. Dia menatap Bima lebar-lebar: "Sudah, jangan kebanyakan merengek. Dari dulu sampai kita sekelas, kapan kamu pernah gagal bahasa Inggris? Sejarah dan PPKn sudah tersedia di tanganmu, tinggal disalin. Menyalin saja pun bisa salah, kayaknya tuntutan orang tuamu itu terlalu muluk."
"Cis!" Intan tidak tahan, menundukkan kepala sampai menyentuh dadanya, bahunya bergetar.
Bima makin sedih dan marah: "Tertawa boleh! Didiamkan kuat-kuat begitu malah bikin malu!"
"Hahaha." Intan dan teman-teman yang mengelilinginya ikut tertawa. Suasana yang menekan tadi menjadi jauh lebih longgar gara-gara keributan Nadia dan Bima; wajah-wajah yang tadinya mengerut kini mulai cerah kembali.
Nadia sempat bercakap-cakap cukup lama dengan Bima, lalu mengabaikannya dan bertanya kepada Intan: "Intan, kalau kamu bagaimana? Aku belum dengar kamu berkata perkiraanmu berapa."
Intan berhenti sebentar, lalu menjawab dengan tenang: "Menurutku perkiraanku kurang akurat. Pertama, aku tidak yakin dengan sejarah, PPKn, dan karangan. Guru juga berkata yang diumumkan hanya kunci jawaban standar, dan setiap guru mengoreksi beda-beda, ada yang ketat ada yang longgar. Jadi aku tidak mau mengestimasi, hasilnya biar besok saja."
Melihat cara Intan yang tenang dan kalem itu, Nadia terus menggeleng-geleng: "Cis, cis, cis. Kalau aku separuh setenang seperti kamu, orang tuaku pasti tidak percaya."
Bima menyela di waktu yang tidak tepat: "Ah, kamu itu bukan tenang, tapi diam yang luar biasa berat!"
"Bima! Kamu mau bertengkar, ya!" Nadia marah, melempar buku, lalu bangkit dan menghampiri Bima dengan wajah mengancam.
Bima memang payah pelajarannya, tetapi kecepatan larinya siapa yang menandingi.
Mereka berkejar-kejaran di depan dan belakang pintu kelas. Hasilnya, begitu bel berbunyi, Nadia tidak berhasil menangkap Bima; malah dia sendiri yang sesak napas, kelelahan luar biasa.
Begitu mereka duduk, sorot mata mereka masih saling mengunyah, seperti menyimpan pisau di balik pandangan.
Karena pelajaran terakhir adalah jam pelajaran mandiri, mereka tidak bisa berbuat terlalu lancang. Hanya bisa saling melempar gulungan kertas, sampai beberapa kali Intan ikut kena.
Akhirnya sampai juga waktu pulang. Intan membereskan tas jauh-jauh sebelum bel berbunyi, dan begitu bel, ia langsung keluar kelas, sementara Nadia dan Bima berdiri berdua dengan tas masing-masing sudah di tangan; dari sikap mereka sudah jelas bahwa Nadia tidak akan menyerah sebelum bisa memukul Bima.
Sampai di halaman parkir pun suara kejar-kejaran mereka masih terdengar, bercampur deru sepeda yang berdesakan keluar gerbang.
Intan menggeleng, lalu memilih jalan pulang yang lebih tenang di tepi sungai kecil, berharap hari ini tidak ada lagi yang melempar sindiran ke arahnya.
Keesokan harinya, hasil uji coba sekota beserta peringkat sekolah dan peringkat sekota ditempel di papan pengumuman di luar gerbang sekolah.
Intan masuk sekolah dan mendapati gerbangnya dijejali murid-murid kelas tiga yang berdesakan, sampai sepedanya pun tidak bisa lewat.
Intan tertahan di situ: kedua tangannya memegang setang, sesekali berjinjit sambil menjulurkan kepala mencari celah.
Sayangnya, tidak ada yang terlihat.
Kebetulan ketua kelasnya barusan berhasil menerobos kerumunan dan keluar dari sana. Intan bersorak gembira dan berteriak cepat: "Ketua kelas, bagaimana kabarnya?"
Di belakang Yuda, beberapa murid lain yang baru saja bebas dari kerumunan ikut berdatangan; ada yang bersiul memuji, ada yang hanya mengangguk sambil menatap papan pengumuman dengan mata iri.
Suara riuh itu pasti terdengar sampai ke dalam gerbang, karena sebentar kemudian kepala sekolah keluar untuk melihat sendiri, lalu masuk lagi dengan senyum.
Ketua kelas Intan, Yuda Setiawan, adalah remaja jangkung yang menghuni tim basket sekolah, dan wajahnya hampir selalu cerah.
Begitu mendengar suara Intan, dia langsung berlari mendekat, sambil tersenyum lebar: "Intan, selamat ya. Kamu kali ini tampil bagus sekali. Kelas kita nomor satu, peringkat sekolah kedua, dan peringkatmu kedelapan puluh satu sekota. Kalau peringkatmu bisa dipertahankan saat ujian masuk nanti, kamu pasti masuk SMA Nusantara 1. Sekolah menengah atas mana pun di Cilacap akan memburu mengambilmu."
Di belakangnya, beberapa murid lain saling tukar pandang dan berbisik. Ada yang menunduk sambil menghitung peringkat dirinya sendiri dengan jari telunjuk.
Intan menarik napas. Di sekitarnya memang berhamburan kabar tentang siapa yang naik dan siapa yang turun. Kemarin mereka masih melontarkan ejekan atas nilai-nilainya; hari ini semuanya membisu di depan angka.
Intan tidak punya waktu ikut merasakannya seperti mereka.
"Terima kasih!" Intan mengucapkannya tulus, tetapi tetap berdiri kaku dengan senyum yang tertahan di wajahnya.
Begitu Nadia masuk kelas keesokan paginya, dia menyerbu ke arah Intan dengan dramatis, seakan ingin memeluk pahannya erat-erat: "Intan!" Suaranya penuh keluh dan manja, membuat bulu kuduk Intan berdiri.
"Bicara yang jelas kalau ada urusan. Mau terbang ke langit apa?"
Mendengar itu, Nadia langsung duduk tegak dengan punggung lurus. Setelah mengeluarkan buku, dia menoleh ke arah Intan dan menggerjap-ngerjap matanya dengan tidak percaya, seperti ada yang mengganjal di hatinya.
Intan menepuk buku ke keningnya: "Cepat, ada apa maumu, kalau masih mau cari ribut, aku cuekin!"
"Tidak! Intan! Aku mau minta tolong kamu naikin nilai aku! Kamu tadi baca hasil di papan pengumuman kan?"
Nadia menatap Intan dengan penuh harap, seperti anak kecil yang merengek minta mainan.
Intan menggeleng jujur: "Tadi tidak sempat lihat. Aku tidak bisa menerobos kerumunan, tapi peringkatku sudah kutahu."
Nadia iri setengah mati, hampir menangis mengingat nilainya: "Kamu tahu aku dapat peringkat berapa?"
Intan menggeleng jujur. Namun Bima di samping mengangkat tangan dengan sigap, menjawab: "Tahu, tahu! Peringkatnya di atas delapan ratus di sekotanya, kalau salah hitung barangkali seribuan!"
"Itu masih lebih baik daripada kamu, yang bahkan tidak tahu harus menghitung dari angka berapa!"
Nadia lalu melempar penghapus ke arah Bima, tetapi Bima menangkapnya, membuat Nadia menghentakkan kaki karena gusar.
"Masih saja begitu? Coba saja yang berani!"
Begitulah seterusnya; dua orang ini memang tidak pernah akur sejak kelas satu, tetapi entah mengapa selalu duduk berdekatan.
Intan yang sudah bertahun-tahun duduk satu barisan dengan mereka hanya bisa gelenge-geleng kepala.
Intan menghentikan pertarungan mereka tepat pada waktunya: "Cukup! Berhenti bertengkar! Kalau kalian mau lanjut, aku pindah duduk di antara kalian, biar bertengkar sepuasnya tanpa menggangguku."
Bima membayangkan suasana itu, lalu gemetar sampai ke ujung jari. Dia langsung menutup mulutnya dengan patuh; kalau disuruh duduk satu baris dengan Nadia, mana berani ia menolak.
Nadia juga langsung menghentikan tangannya dan menggeleng mati-matian: "Jangan, jangan, jangan! Aku masih berharap kamu bisa mengangkat nilaiku! Kamu juga tahu betulnya sulitnya mengikuti uji coba sekota itu. Kamu bisa pandai di kertas yang sesulit itu, berarti keberuntunganmu sedang bagus. Bolehkah aku meminjam catatanmu dua hari? Aku salin semua catatanmu. Mungkin dengan keberuntunganmu, aku bisa tembus ujian masuk SMA Mutiara. Kalau aku gagal masuk SMA Mutiara, orang tuaku bisa-bisa memotong kakiku!"
Dulu nilai Intan memang bagus, tetapi biasanya hanya peringkat ketiga atau keempat di kelas dan dua puluh besar sekota.
Kali ini bisa disebut lompatan besar: bukan hanya juara satu di kelas, tetapi juga masuk seratus besar dalam uji coba sekota.
Begitu Bima mendengar itu, dia juga menyatakan mau menyalin catatan Intan, tetapi di sekolah, sedangkan Nadia mau meminjamnya pulang.
Waktu itu Intan memang lebih banyak mengandalkan latihan soal untuk pendalaman, sehingga catatannya hanya jadi nomor dua.
Karena mereka mau maju bersama, mana mungkin Intan menolak. Murid-murid lain melihat betapa cepat Intan setuju, lalu berdatangan meminjam catatannya.
Bel kelas berbunyi. Begitu baru masuk pintu, rupanya wali kelas langsung menyebut-nyebut nilainya, memuji Intan belajar dengan sungguh-sungguh, dan meminta teman-teman sekelas untuk meniru jejaknya.
Ini membuat Intan sangat malu. Akibatnya, setiap pelajaran sesudah itu ia terus dipuji oleh para guru: guru matematika menanyakan pendapatnya tentang soal nomor lima, guru bahasa Indonesia memintanya membacakan karangan, bahkan guru olahraga sempat menyebut, "Peringkat delapan puluh satu yang kemarin itu siapa? Ah, memang anak ini."
Pujian yang berlebihan itu terasa seperti sorotan lampu panggung yang menyilaukan.
Sepanjang hari Intan berada di tengah-tengah tatapan teman-teman sekelasnya yang berganti-ganti, mulai dari iri, dengki, sampai benci. Ada yang datang memuji sungguh-sungguh, ada yang datang menyelidiki, ada pula yang hanya lewat dan mencibir.
Intan duduk bagai di atas paku, dan begitu sekolah usai langsung menghilang cepat-cepat.
Sebulan berikutnya Nadia dan Bima beraksi seperti orang mau bertarung sambil bertaruh nyawa.
Intan belum pernah melihat mereka seserius ini, sampai-sampai Intan yang tidak terbiasa.
Nadia yang biasanya tiba paling telat kini datang tepat pukul setengah tujuh, sambil membawa dua botol jamu buatan ibunya. Bima yang biasanya menjadikan meja sebagai bantal ternyata mulai benar-benar membaca catatan, dan beberapa kali Intan menyaksikan dia menghafal rumus di bawah lampu koridor sambil menunggu bel.
Kalau dilihat sepintas, dua bocah kelas itu sudah berubah menjadi dua orang yang isi kepalanya seluruhnya berisi pelajaran.
Pada hari tes masuk SMA Mutiara, Intan bangun pagi. Setelah membasuh muka sebentar, Bapak datang dan bertanya: "Nak, kalau memang tidak mau ikut tes SMA Mutiara, mengapa masih ikut ujiannya? Kalau memang belum yakin, ya sudah, ikut saja. Kalau Bapak lihat, kamu ini sebenarnya stres karena tidak bisa masuk; kalau kamu memang mau, sekalian saja katakan kepada Ibu, jangan pikirkan soal uang."
Rupanya dari sudut pandang Bapak, Intan masih ngotot ingin bersekolah di SMA Mutiara, apa pun kondisi keluarga mereka.
Intan menatap Bapak dengan heran, lalu berkata tenang: "Pak, terima kasih. Tapi Bapak tidak perlu ragu. Sungguh, aku memang mau masuk SMA Nusantara 1. Hanya saja aku sudah berjanji pada temanku sebelumnya untuk ikut tes ini, dan tidak enak rasanya kalau tidak ikut. Lagi pula mengerjakan satu kertas ujian akan menambah wawasan, sama saja dengan menabung pengalaman."
Melihat wajah Intan yang santai, Bapak akhirnya percaya. Karena Intan berkata hanya ikut meramaikan, Bapak pun tidak lagi cemas; dia kembali ke dapur untuk menyeduh teh, dan tetangga tua yang lewat di depan rumah sempat bertanya mau ke mana Bapak, dan dijawabnya dengan senyum: "Mengantar anak sekalian jaga-jaga, biar hatinya tenang."
Ayah dan anak itu makan pagi dengan tenang, lalu Bapak mengantar Intan ke SMA Mutiara dengan sepeda motor.
Waktu Intan tiba masih pagi. Gerbang SMA Mutiara sudah terbuka, dan semua orang boleh bergerak bebas kecuali gedung ruang ujian yang diberi pembatas.
Bapak menurunkannya, dan sebelum berangkat sempat berpesan agar Intan mengerjakan ujian dengan baik.
Intan hanya bisa tertawa kecil sambil menggeleng.
Saat itu Nadia dan Bima juga baru saja tiba. Mereka berdua ikut mendengar pesan Bapak, lalu berkata dengan gugup: "Intan, bagaimana ini? Jantungku berdebar-debar. Rasanya ingin ke toilet!"
Dengan nada merengek, Nadia menyandarkan kepala ke bahu Intan, matanya gelisah menatap Bima. Bima hanya mengatupkan bibir dan melirik dengan meremehkan, padahal kelihatan sekali jarinya sedang memilin tali tas, dan dia sendiri juga masih berdebar-debar.
Sekeliling mereka ramai oleh calon murid yang dibonceng orangtua masing-masing; ada yang masih menghafalkan rumus di buku kecil, ada yang melipat lembar contekan ke dalam saku, dan ada pula yang sepertinya baru pertama kali merasakan suasana ujian yang seberapi ini.
Intan sendiri merasa aneh: alih-alih gugup, dadanya justru tenang. Di kehidupan sebelumnya, dia adalah salah satu dari kerumunan yang sama, dengan wajah segencara; kini ia tahu persis bahwa ia hanya sedang menjadi penonton, bukan pemain yang bertanding hari itu.
Ketiganya lalu berkumpul dan masuk SMA Mutiara bersama-sama. Satpam yang sudah akrab, lorong gerbang yang tak berubah, dan jalur taman hijau yang selalu sama membuat Intan diliputi kenangan.
Inilah tempat ia menjalani tiga tahun bersekolah di kehidupan sebelumnya, tetapi tempat itu tidak membawa banyak memori indah, hanya penyesalan yang tak henti-hentinya.
Saat berdiri lagi di sini di kehidupan ini, Intan sudah bisa menatapnya dengan tenang. Di tempat itu ia memang tidak akan pernah menemukan rasa yang dulu ia cari.
Begitu masuk sekolah, Nadia melongok ke kiri dan ke kanan, lalu berbisik di telinga Intan: "Ayo ke toilet!"
Intan menoleh padanya, menunjuk satu arah dan menjawab dengan tenang: "Di setiap lantai gedung ruang ujian ada toiletnya. Toilet laki-laki di ujung koridor, toilet perempuan di tengah koridor. Kalau tidak buru-buru, boleh tunggu sampai masuk ruang ujian. Kalau sudah terdesak, boleh naik ke laboratorium di lantai atas; kelas-kelas laboratorium biasanya dikunci, tetapi kita masih bisa lewat toilet di sana."
Setelah selesai bicara, Intan menangkap pandangan Nadia yang penuh keheraan: "Mengapa kamu tahu sedetail ini?"
Intan berhenti sebentar, lalu bercanda: "Kebetulan aku sudah menyurvei gedung ujian."
Nadia mengangguk-angguk dan menyeret Intan untuk menemaninya ke toilet.
Saat mereka keluar dari toilet, Intan sedikit mengerutkan kening, dan Nadia menangkap keanehannya: "Bagaimana? Kamu tidak enak badan?"
Intan mengangguk dengan wajah bersalah, tangan menutupi perutnya: "Lagi haid, jadi agak tidak enak rasanya."
Memang benar sedang haid, tetapi rasa tidak enaknya hanya pura-pura. Nadia langsung panik mendengarnya: "Bagaimana ini? Aku tidak pernah dengar kamu bilang tidak enak badan waktu haid. Mengapa justru muncul di saat penting begini!"
"Santai, cari tempat duduk dulu, barangkali duduk sebentar langsung terasa lebih baik." Intan menenangkannya.
Nadia melihat Intan sudah kembali membaca dan merasa tidak perlu khawatir lagi. Tidak lama kemudian Bima datang menyusul.
Datangnya satu anak laki-laki tambahan membuat mereka canggung untuk berdiskusi; obrolan santai soal bocoran jawaban mendadak berubah menjadi pembicaraan yang kaku dan sopan.
Setelah saling bercanda sebentar, Nadia lupa tentang rasa tidak enak badan Intan, dan ketiganya tertawa sampai lambung sakit.
Setelah tiga hari ujian selesai, kegiatan sekolah kembali normal. Ujian penerimaan sekolah swasta seperti ini tidak seketat ujian kota.
Hasilnya keluar pada hari ketiga sesudah ujian, sementara hampir setiap sekolah baru menerima kabar pada hari kelima.
Tiga hari itu, kekhawatiran orang tua terasa sampai di tempat kerja masing-masing. Beberapa guru ikut menebak-nebak siapa saja yang lolos, sementara sebagian murid yang merasa gagal lebih memilih tidak membuka pembahasan sama sekali agar muka tidak tambah merah.
Saat pengumuman hasil penerimaan keluar, Nadia dan Bima sama-sama tercengang. Mereka berdua menatap Intan tanpa kata.
Intan ditatap sampai kulit kepalanya kesemutan, lalu menjelaskan dengan pasrah: "Tak perlu disangsingkan lagi. Kali ini aku memang tidak mengerjakan dengan baik. Hari itu aku tidak enak badan, karangan tidak kutulis dengan baik, dan perhitungannya juga tidak kuperiksa ulang."
"Ah, tidak percaya!" Bima berseru seketika. Nadia berkata dengan kesal: "Bima, mengapa kamu begitu semangat! Kalau memang mau semangat, aku ikut semangat!"
Setelah bicara itu, mata Nadia memerah: "Kurang beruntung sedikit saja, kamu. Nilaimu masih di bawah garis penerimaan mereka. Kalau nilaimu ditambah sedikit lagi, kamu sudah bisa masuk."
Intan menggeleng serius bersama Nadia lalu berkata: "Kamu juga tahu kondisi keluargaku. Kami tidak sanggup membayar biaya sekolah di sana. Mungkin memang aku bukan untuk SMA Mutiara. Karena tidak lulus, aku harus belajar lebih keras untuk ujian masuk SMA negeri nanti. Tapi selamat dulu ya, sungguh. Mulai sekarang kalian bebas, tidak perlu datang ke sekolah dulu."
Mendengar itu, Nadia mau menangis lagi. Sekalipun dia diterima di SMA Mutiara, dia tidak begitu senang.
Di baris belakang, dua tiga murid lain yang namanya juga masuk daftar saling menyikut, lalu bersegera menghubungi orang tua masing-masing lewat ponsel. Bahkan wali kelas sampai terangkat alisnya.
Intan cukup senang melihat reaksinya. Hubungan yang biasanya keras kini jauh lebih baik, dan hal itu membuatnya lega. Meskipun kelak mereka tidak bertemu lagi dan hubungan itu perlahan meredup, mereka tetap bisa mengingat betapa baiknya kebersamaan ini.
Berbeda dengan kehidupan sebelumnya, ketika hubungan mereka memudar tanpa sebab yang jelas, kali ini mereka masuk ke sekolah yang sama sehingga hubungan itu tetap terjaga. Pertemuan pertama mereka memang canggung, tetapi tidak bertahan lama.
Intan sedang menenangkan Nadia.
Yuda masuk membawa setumpuk kertas lalu membagikannya kepada setiap orang satu per satu.
Ketika sampai di hadapan Intan, dia bertanya serius: "Intan, dengan nilaimu, aku rasa tidak mungkin gagal diterima di SMA Mutiara, kan? Pasti ada kendala?"
Intan menatap Yuda dengan terkejut. Anak setenang itu pun ikut mencurigainya, padahal Intan merasa sudah berusaha tidak mencolok.
Dengan ragu-ragu ia menjawab berbisik: "Hari itu aku kurang sehat, penampilanku di luar kebiasaan."
Saat mendengar itu, sebuah kilatan kekecewaan lewat di mata Yuda. "Aku lulus."
Bima langsung menyambar pengumuman itu dengan gembira: "Hei! Ketua kelas, kita alumni lagi! Tolong jaga kami ya!"
Nadia kesal sampai melompat-lompat: "Cis! Berapa banyak orang yang mau kamu jadikan teman menyontek?"
Seisi kelompok tertawa; hanya wajah Yuda yang masih serius. Intan menghela napas pasrah. "Bagaimanapun, aku tetap memberi selamat. SMA Mutiara bagus. Sayang, aku tidak bisa bertanding denganmu lagi."
Setelah mendengarnya, Yuda berbalik dan pergi. Intan terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum.
Terkadang pilihan yang paling bodoh sekalipun datang dari orang yang paling baik.
Pada jam pelajaran mandiri terakhir, Bu Retno Wulan, wali kelas mereka, jarang sekali muncul.
Dia masuk, memandangi teman-teman sekelas dengan ekspresi puas, lalu berkata dengan sungguh-sungguh: "Hari ini Ibu juga menerima daftar penerimaan SMA Mutiara. Selamat kepada sepuluh orang di kelas kita. Mulai besok kalian tidak perlu datang ke sekolah lagi, dan bisa libur lebih awal. Tentu saja, Ibu tetap menyambut kalian kalau kembali ke sekolah."
Di baris paling belakang, beberapa murid yang namanya tidak disebut menggerutu pelan: "Yang antri-antri minta rekomendasi sejak lama malah tidak dibawa-bawa, mengapa yang mereka undang hanya begitu saja."
Intan menunduk, memilih untuk tidak ikut berkomentar.
Setelah mendengarnya, Bima menggeleng-geleng kuat; hanya orang tolol yang mau balik ke sekolah menderita!
Wali kelas tersenyum melihat reaksinya. Biasanya dia pasti memarahinya, tetapi hari ini dia tersenyum lebih ramah daripada biasanya.
Bima ketakutan sampai tidak berani menelan ludah; tiga tahun sudah membentuk rasa takutnya.
Intan hanya berpikir sejenak lalu memahaminya: dari sepuluh murid yang diterima SMA Mutiara, hanya tiga yang nilainya baik, sedangkan tujuh orang sisanya biasa saja.
Kalau mereka diizinkan mengikuti ujian masuk, kelas ini ikut terseret turun, dan mereka sendiri pun ikut tertinggal.
Lebih baik mereka masuk SMA Mutiara lebih awal! Setelah bicara lima belas menit, wali kelas menyemangati teman-teman sekelas sebelum memperbolehkan mereka belajar sendiri.
Intan hendak mengerjakan lembar soal, ketika pandangannya tertutup sebuah bayangan. Intan mengangkat kepala: "Bu Guru!"
Bu Retno Wulan menepuk pundak Intan, berjongkok di sampingnya, lalu bertanya dengan suara rendah: "Mengapa nilaimumu di SMA Mutiara kali ini rendah? Ibu memang tidak melihat kertasmu, tetapi angka-angka itu jelas bukan tingkatmu."
Intan menundukkan mata, memperkecil suaranya juga: "Kali ini aku kurang sehat, jadi hasilnya tidak bagus. Nanti tidak akan begini lagi."
Bu Retno menatap Intan sungguh-sungguh cukup lama, seolah sedang menimbang apakah harus menekan lebih dalam atau membiarkan.
Di deretan bangku paling depan, seseorang mengangkat tangan, tetapi Bu Retno mengabaikannya, lalu berdiri sambil menata pangkal meja.
Sebelum pergi, dia berpesan: "Ingat, pelajaran untuk hal seperti ini cukuplah sekali."
Intan buru-buru mengangguk, dan diam-diam menghormati ibu ini. Tetap saja, guru ini mengenal anak-anaknya lebih jauh daripada yang mereka kira.
Dua minggu berikutnya Intan menjalani hari-hari yang teramat tenang di sekolah.
Karena Nadia dan yang lain tidak ada lagi, ia jarang dilanda keramaian. Kadang ia membaca, kadang berlatih soal dengan nyaman, seperti sedang hidup tanpa beban.
Selama periode ini, ada yang datang bertanya-tanya soal pelajaran; dijawabnya satu per satu dengan sabar, dan seketika itu juga ia memenangkan hati seisi kelas.
Barulah mereka tahu Intan yang selama ini mereka anggap kutu buku yang tak terlihat itu ternyata mudah bergaul dan ramah.
Bicaranya nyambung untuk urusan musik, permainan, dan berbagai kesukaan yang di luar perkiraan mereka.
Bahkan ada dua anak perempuan yang semula paling jarang menyapa Intan minta ditemani mengerjakan soal sambil jajan, dan sore itu seisi kelas kompak membiarkan mereka.
Saat itu mereka menyesal mengapa tidak dulu-dulu mengambil inisiatif berkenalan dengan Intan.
Lagi pula, mereka akan menghadapi ujian masuk SMA. Ke depan tidak banyak kesempatan untuk "merajut hubungan" lagi.
Setelah menjelaskan soal kepada teman sekelas yang terakhir, Intan merasa lega.
Perlahan-lahan ia membereskan tas, lalu keluar dari sekolah sambil bersenandung kecil.
Di perjalanan pulang, beberapa daun kering di pinggir jalan ikut terbawa angin, dan langkah Intan terasa lebih ringan dari biasanya.
Mulai besok mereka libur seminggu. Minggu ini mereka akan belajar di rumah.
Ujian masuk SMA tinggal satu minggu lagi.
Namun, kehidupan tidak sedang baik-baik saja bagi semua orang yang Intan kenal.
Di rumah dan di tetangga-tetangga, ada saja mulut yang bergosip tanpa henti, menebak-nebak nasib keluarga mereka; ada yang berkata mereka makin tenggelam, ada yang berkata betapa bodohnya Bapak meninggalkan pekerjaan tetapnya.
Mereka tidak tahu bahwa ada yang sedang menghitung angka, alisnya terangkat, sambil mengawasi gerobak keluarga itu dari jauh.
Angka-angka itu belum dibacakan, dan belum ada yang tahu apa artinya. Yang perlu diketahui lebih dahulu adalah bagaimana keluarga ini menjalani hari-hari terakhirnya di SMP.