NovelToon NovelToon
Takhta Kaisar Langit

Takhta Kaisar Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ahli Bela Diri Kuno
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.

Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.

Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Ledakan kedua menggelegar. Ye Chan mempercepat langkahnya tanpa ragu. Tanah bergetar pelan di bawah telapak sepatu botnya.

Pepohonan di kiri dan kanan melesat menjadi garis-garis kabur. Napasnya terjaga teratur, tetapi aliran Qi di dalam tubuhnya bergolak semakin liar.

Ia sudah tahu apa yang sedang terjadi. Pecahan giok komunikasi Zhan Ya tidak mungkin hancur tanpa alasan mutlak.

Benda itu ditempa dengan jejak Qi milik mereka berdua. Jika benda itu rusak—artinya sesuatu telah memutus ikatan tersebut secara paksa.

Ye Chan menghentikan lajunya di tepi tebing rendah. Di bawah sana, lembah kecil terhampar suram.

Asap putih mengepul pekat dari tengah hutan. Di antara sela pepohonan, kilatan pedang memantulkan cahaya pucat.

Ye Chan membuang jauh-jauh keraguannya. Tubuhnya melompat tanpa berpikir dua kali.

***

Zhan Ya jatuh berlutut di atas tanah berbatu. Pedangnya tertancap dalam untuk menopang berat tubuhnya.

Darah segar mengalir deras dari bahunya yang robek. Di hadapannya, pria berjubah hitam berdiri tegak tanpa goresan.

Tingkat Pembentukan Inti Menengah. Selisih satu tahap yang terpaut jauh.

Namun celah itu cukup membuat setiap tebasan Zhan Ya dipatahkan dengan mudah. Yuen Fang merangkak naik dengan susah payah.

"Master ..." panggil gadis itu lirih.

Zhan Ya mengangkat sebelah tangan tanpa menoleh sedikit pun.

"Tetap di situ. Jangan bergerak."

Pria berjubah hitam memutar bilah pedang di genggamannya.

"Terakhir kali."

Ia mengarahkan ujung logam tajam itu lurus ke arah Yuen Fang.

"Serahkan pria itu."

Zhan Ya memaksakan kakinya berdiri perlahan. Bahunya berdenyut nyeri.

"Tidak."

"Kalau begitu—"

BOOM!

Sebuah batu besar meluncur deras dari arah hutan lebat. Pria berjubah hitam mengangkat tangan kirinya untuk menangkis.

Batu itu berkeping-keping menjadi serpihan debu. Kepulan abu tebal memenuhi jalan setapak.

Zhan Ya mematung seketika. Matanya melebar menangkap sosok yang keluar dari tirai debu.

Jubah hitam sederhana. Rambutnya basah oleh keringat dan debu. Tatapannya sedingin es abadi.

Ye Chan.

"Ye... Chan?" bisik Zhan Ya hampir tak bersuara.

Ye Chan berdiri kokoh beberapa langkah di hadapan mereka. Matanya menyapu medan perang dalam sekejap.

Yuen Fang terluka parah. Zhan Ya berdarah. Tujuh kultivator mengepung mereka rapat.

Dan seorang kultivator Pembentukan Inti Menengah berdiri paling depan. Tatapan Ye Chan berhenti pada luka robek di bahu Zhan Ya.

Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Siapa yang melukaimu?"

Zhan Ya menggertakkan gigi menahan perih.

"Kenapa kau kembali?"

"Aku bertanya."

"Ye Chan, pergi dari sini."

"Tidak."

"Lawanmu berada di tahap Pembentukan Inti Menengah."

"Aku tahu."

"Dan kau hanya—" Zhan Ya terdiam. Tatapannya berubah curiga.

Ada gelombang aneh yang terpancar dari tubuh Ye Chan. Jauh lebih padat. Jauh lebih berat.

Namun itu masih belum cukup untuk menutupi selisih alam. Ye Chan merogoh cincin penyimpanannya.

Sebuah kotak kayu kecil berpindah ke telapak tangannya. Kotak pemberian Zhan Ya.

Ia membuka tutupnya perlahan. Pill Penerobosan Inti bersinar redup di dalam sana.

Zhan Ya langsung mengenali benda itu. Wajahnya pucat pasi. "Jangan lakukan itu."

Ye Chan menoleh menatap wanita di depannya. "Kenapa?"

"Pil itu untuk kau gunakan saat fondasimu benar-benar siap."

"Aku sudah siap."

"Kau baru mencapai puncak Pengumpulan Qi."

"Benar." Ye Chan menjepit pil tersebut di antara jarinya. "Tapi aku tidak punya waktu untuk menunggu."

Zhan Ya melangkah maju, berniat merebut benda itu. "Ye Chan—"

"Aku berjanji akan kembali," potong Ye Chan dingin. Ia memasukkan pil ke dalam mulutnya. "Dan aku baru saja kembali."

Seketika itu juga, Qi di dalam tubuhnya meledak dahsyat.

BOOM!

Gelombang tekanan udara menyapu seluruh hutan. Debu dan dedaunan beterbangan liar.

Yuen Fang mengangkat lengan menutupi wajahnya dari terpaan angin. Pria berjubah hitam terpaksa mundur setengah langkah.

"Apa yang—"

Ye Chan berdiri kaku. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Pil itu tidak bekerja sebagai jalan pintas instan. Benda itu mendobrak paksa pintu gerbang yang selama ini menahan kultivasinya.

Qi berputar liar di dalam dantian. Meridian yang tertutup menanggung beban luar biasa.

Simpul demi simpul Qi pecah berurutan. Batas Pengumpulan Qi Atas terlampaui.

Krak! Suara retakan terdengar dari dalam tulang-tulangnya.

Ye Chan mengernyitkan dahi. Rasa sakit menusuk langsung dari pusat perut hingga ke ujung kepala.

Fondasinya yang pernah runtuh hampir tidak sanggup menanggung tekanan masif ini. Giok Kehampaan bergetar keras di dalam jiwanya.

Alat batin itu tidak memberikan tambahan tenaga, melainkan meredam amukan Qi agar tidak mencabik nadinya.

Ye Chan menggertakkan gigi hingga berdarah.

"Belum cukup."

Ia memaksa aliran Qi berputar lebih cepat. Satu putaran. Dua putaran. Tiga.

BOOM!

Ledakan kedua menghantam dari dalam tubuhnya. Dantiannya kini membentuk inti padat yang nyata.

Meskipun masih kecil, inti itu telah terbentuk. Ye Chan membuka matanya perlahan.

Tatapan matanya berubah tajam bagai belati. Tahap Pembentukan Inti Awal.

Yuen Fang terpaku di tempatnya. Zhan Ya menatap pria itu dengan rasa tidak percaya.

"Baru beberapa detik lalu..." gumam Zhan Ya lirih.

Ye Chan mengusap sisa darah di sudut bibirnya. "Fondasinya sudah lama tertanam."

Ia mengepalkan telapak tangannya sendiri. "Yang kubutuhkan hanya dorongan terakhir."

Pria berjubah hitam mencengkeram gagang pedangnya lebih kuat. "Mustahil."

Ye Chan menatap lurus ke arah musuhnya.

"Banyak hal tampak mustahil bagi mereka yang buta."

Pria itu menerjang maju. Bilah pedang melesat secepat kilat.

Ye Chan tidak menghindar. Ia memiringkan kepalanya tipis.

Ujung pedang musuh menyambar pipinya, meninggalkan sehelai rambut yang gugur.

Ye Chan langsung mencengkeram pergelangan tangan lawan tanpa ampun. Pria berjubah hitam terkesiap.

Buk!

Lutut Ye Chan menghantam telak ke arah perut musuhnya. Tubuh lawan terdorong mundur beberapa langkah.

"Pembentukan Inti Awal," desis pria itu, menatap Ye Chan dengan saksama. "Kau pikir itu sudah cukup?"

Ye Chan tidak membuang waktu menjawab. Ia melirik sekilas ke belakang.

"Zhan Ya."

"Ada apa?"

"Bawa Yuen Fang pergi dari sini."

Zhan Ya menggeleng tegas. "Aku tidak akan—"

"Pergi."

Nada bicara Ye Chan datar. Namun ketegasannya tidak menyisakan ruang debat.

Itu adalah intonasi yang sama ketika ia memimpin sekte melewati masa krisis. Zhan Ya menggigit bibirnya erat-erat.

"Yuen Fang, ikuti aku."

Murid muda itu mengangguk patuh. Mereka berdua mulai mundur perlahan.

Pria berjubah hitam mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Mau lari ke mana kalian?"

Ye Chan bergerak secepat kilat. Sret! Pedang musuh menebas udara kosong.

Ye Chan melompat menghindari sabetan. Ia membalas dengan hantaman telapak tangan bertenaga inti.

BAM!

Keduanya terpental ke arah berlawanan. Ye Chan mundur tiga langkah dengan lengan bergetar hebat.

Selisih tingkat kultivasi masih menjadi batu sandungan besar. Pembentukan Inti Menengah tidak bisa ditaklukkan hanya dengan kekuatan mentah.

Ye Chan mengamati sekeliling medan. Pohon pinus, batu karang, tanah basah berlumpur.

Dan sebuah lereng curam di belakang posisi musuh. Sudut bibirnya terangkat tipis.

Ia tidak perlu menang adu kekuatan. Ia hanya butuh celah pelarian.

Ye Chan memungut sebuah batu kerikil kecil. Pria berjubah hitam tertawa meremehkan.

"Hanya batu?"

Ye Chan melemparkannya lurus. Musuh menebas batu itu berkeping-keping.

Namun saat pecahan batu beterbangan, bayangan Ye Chan sudah melesat pergi.

Pria itu berbalik cepat. Terlambat.

Ye Chan menghantamkan kakinya ke batang pohon besar yang telah retak sebelumnya.

KRAK!

Pohon itu tumbang menimpa tebing. Longsoran tanah dan batu langsung meluncur turun ke bawah.

Pria berjubah hitam terpaksa melompat mundur menghindari timbunan lumpur.

Ye Chan memanfaatkan detik krusial itu. Ia berlari menyusul Zhan Ya dan Yuen Fang.

"Ke arah sungai!" serunya.

Mereka berlari kencang membelah semak. Namun suara ledakan Qi kembali menghantam dari belakang.

BOOM!

Tanah terbelah dua. Pria berjubah hitam menerobos longsoran dengan kemurkaan membara di matanya.

"Kalian tidak bisa lolos!" teriaknya nyaring.

Ye Chan menoleh sekilas. Jarak mereka semakin menipis.

Di hadapan mereka, aliran sungai deras mengamuk di antara dua dinding tebing batu.

Zhan Ya melihat jurang air itu. "Ye Chan, jalan buntu!"

Ye Chan mengamati sisi tebing dengan teliti.

Sebuah celah sempit tersembunyi di balik lumut tebal. Cukup untuk satu orang menyelinap.

"Masuk ke sana," perintahnya tegas.

Yuen Fang menatap ngeri. "Di tempat sempit itu?"

"Cepat." Zhan Ya langsung menarik tangan muridnya masuk ke dalam celah batu.

Ye Chan berdiri tegak di ambang tebing. Pria berjubah hitam tiba dengan bilah pedang bernoda darah.

"Sekarang, kau tidak punya tempat lari."

Ye Chan melirik derasnya arus sungai di bawah sana. Ia menatap lawannya tanpa rasa gentar.

"Siapa bilang aku ingin lari?" tanyanya tenang.

Pria itu mengayunkan pedang. Ye Chan menyambut serangan itu secara langsung.

CLANG!

Bilah logam beradu keras. Tebasan kedua menyayat bahu Ye Chan hingga darah memuncrat.

Ia tidak mundur selangkah pun. Tangan kirinya mencengkeram erat lengan musuh.

Pria berjubah hitam menyadari perangkap itu terlambat. "Jangan—"

Ye Chan menarik tubuh lawan bersamanya. Keduanya terjun bebas dari atas tebing.

Zhan Ya melompat keluar dari celah sempit. "YE CHAN!"

Tubuh Ye Chan menubruk air sungai yang bergejolak. Pria berjubah hitam terseret ke dalam pusaran arus.

Arus deras langsung menelan keduanya dalam kepekatan air. Zhan Ya terpaku di tepi tebing dengan wajah sepucat mayat.

"Ye Chan!" teriaknya memecah sunyi.

Tidak ada balasan. Hanya deru air yang menghantam batu.

Yuen Fang menarik ujung jubah gurunya. "Master ..."

Zhan Ya bergeming di tempatnya. Lalu suara hantaman keras menggema dari dasar jurang.

BOOM!

Percikan air raksasa meledak ke udara. Sebuah tangan mencuat keluar dari permukaan sungai.

Zhan Ya langsung mengenali tangan itu.

"Ye Chan!"

Namun sosok yang muncul bukanlah Ye Chan. Pria berjubah hitam terbatuk darah dengan wajah hancur.

Dan di balik bayangannya—sepasang mata Ye Chan terbuka lebar di dalam air yang gelap gulita.

Tangannya masih mencengkeram kuat leher musuh tersebut. Qi Pembentukan Inti Awal membara hebat dari tubuhnya.

Tetapi ada hal lain yang bergerak di dasar air. Sesuatu yang sama sekali tidak memiliki aura kultivator manusia.

Zhan Ya membeku total. Dari dalam kedalaman sungai yang hitam, dua mata keemasan perlahan terbuka.

1
Gunadi Hudaya
gaya penulisannya enak
Gunadi Hudaya: hahahaha.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!