Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
"Apa kau fikir aku mau berlama - lama tinggal di rumah ini, selama ini aku bertahan karena harta mu saja!" Pak Burhan berkata pada bu Meri dengan nada yang penuh dengan ejekan.
"Iya mbak, dan sekarang kami akan hidup bahagia. Kau akan kesepian tanpa ada yang merawat mu hingga akhir hayat mu!" Bu Situ ikut mengejek bu Meri.
"Ibu tidak akan kesepian, aku yang akan merawat nya!" Tiba - tiba Sarah muncul di depan pintu.
"Kau, kenapa kau masih berada di sini? Dasar wanita tidak tahu malu!" Gibran menghujat Sarah.
"Dia putri ku jadi bukan hal yang salah jika dia kembali ke sini!" Bu Meri membela Sarah.
"Kalian berdua memang cocok, sama - sama pantas untuk di tinggalkan!" Ujar Gibran.
"Gibran, jaga bicara mu. Kau lupa siapa yang merawat mu hingga bisa menjadi seperti sekarang!" Bu Meri sangat marah mendengar ucapan putra nya.
"Ibu, ayah memang benar. Aku akan hidup bersama ayah dan bu Siti mulai sekarang!" Gibran berkata pada ibu mu.
"Oh, jadi ini lah sosok sebenar nya putra yang aku besarkan dengan tangan ku sendiri. Kau lupa dengan pengorbanan ku dan memilih mendukung kelakuan bejat ayah mu. Sekarang aku tahu, sifat tidak bermoral itu rupa nya kau dapatkan dari ayah mu!" Bu Meri berkata sambil menunjuk wajah pak Burhan.
"Jaga ucapan mu, Meri!" Bentak pak Burhan dengan geram.
"Ibu, wajar saja ayah lebih memilih bu Siti di bandingkan dengan ibu. Ternyata sikap ibu sangat buruk, aku tidak mau punya ibu seperti mu!" Gibran pun ikut membentak ibu nya.
Hati bu Meri terluka dengan ucapan putra kandung nya, dia sendiri tidak menyangka bahwa anak yang dia lahirkan dan dia besarkan akan mendukung perbuatan tercela ayah nya.
"Kau memang wanita payah, suami dan anak mu sendiri lebih memilih aku dan meninggalkan diri mu sendiri. Kau memang pantas mendapatkan ini, kau pantas mati sendirian tanpa ada yang merawat mu!" Ejak bu Siti.
"Tidak perlu pusing memikirkan siapa yang akan menemani dan merawat ibu di masa tua nya nanti, aku ada di sini!" Dengan cepat Sarah menjawab ucapan bu Siti.
"Sarah benar, aku sendiri tidak butuh anak durhaka seperti mu. Silahkan kalian pergi dari rumah ku!" Bu Meri mengusir mereka dengan suara yang bergetar.
"Ibu, saat ibu sakit dan butuh sesuatu. Maka jangan pernah datang pada ku, aku tidak sudi merawat mu!" Gibran kembali berkata.
"Baik lah Gibran, ingat kata - kata ku. Jika kau memang sudah memutuskan demikian, maka aku akan menerima nya. Jangan menyesal dengan apa yang kau lakukan, dan jangan pernah sekalipun kau menginjak kan kaki di rumah ku ini lagi!" Bu Meri berkata dengan tegas.
"Aku tidak membutuhkan mu, dan aku bersumpah tidak akan pernah menginjak kan lagi kaki ku di rumah ini!" Gibran berkata dengan angkuh.
"Ayo Gibran, mas Burhan kita pergi dari sini!" Ajak Bu Siti.
"Iya ayo!" ketiga orang itu pergi dengan tawa menggema.
Setelah ketiga nya pergi, bu Meri tidak bisa menahan semua kesedihan nya. Dia menangis tergugu di ruang tamu rumah nya.
"Ibu, jangan bersedih bu. Aku ada di sini, dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan kan ibu!" Sarah berkata sambil memeluk tubuh bu Meri.
"Sarah, ibu tidak bersedih karena kepergian mereka nak. Tapi ibu sedih karena ibu gagal mendidik Gibran, dia tumbuh menjadi laki - laki licik dan serakah seperti ayah nya. Dan putra ku sendiri yang sudah melukai mu nak, menyakiti mu, maafkan ibu nak!" Bu Meri merasa bersalah dengan Sarah.
"Ibu, semua ini bukan lah salah ibu. Ibu adalah ibu terbaik yang pernah aku temui, aku akan selalu bersama ibu!" Sarah menghibur bu Meri.
"Terima kasih nak, ibu tidak akan menjadi lemah karena manusi seperti mereka!" Bu Meri berkata sambil menghapus sisa air mata yang mengalir di pipi nya.
"Iya bu, kita akan selalu bersama. Buktikan pada Gibran dan ayah nya, bahwa kita bahagia tanpa kehadiran mereka di dalam hidup kita!" Sarah berkata sambil menggenggam erat tangan bu Meri.
"Iya nak, ibu yakin dalam waktu dekat ini mereka akan datang lagi ke sini. Saat mereka menyadari uang itu tidak pernah ibu kirim kan ke rekening nya Gibran!" Bu Meri berkata sambil tersenyum.
"Ibu benar sekali, mereka mengingin kan uang itu. Tentu saja ibu tidak akan memberikan nya, mereka juga akan kehilangan rumah impian mereka!" Jawab Bu Meri sambil tersenyum.
Bu Meri tersenyum puas membayangkan kehancuran mereka, saat mereka menyadari bahwa mereka gagal mendapatkan uang dari bu Meri.
Sementara itu ketiga orang itu pergi dari rumah bu Meri dengan perasaan senang, mereka mereka mereka sudah berhasil mendapatkan apa yang mereka mau. Mereka belum menyadari bahwa kehancuran mereka tingga menunggu detik - detik terakhir nya.
"Mas, kita sudah membayar uang muka rumah itu. Lebih baik kita pindah sore ini juga!" Bu Siti mebri usul pada pak Burhan.
"Bagai mana menurut mu, Gibran?" Pak Burhan bertanya pada Gibran.
"Lebih baik jika kita pindah hari ini, toh setelah kita pindah ke rumah baru kita baru membagi uang itu!" Gibran setuju dengan usul bu Siti.
"Baiklah, kita akan merayakan kemenangan kita di rumah baru kita. Bukan kah itu lebih menyenangkan bukan?" Pak Burhan berkata dengan penuh semangat.
"Ayo lebih baik kita pulang dan mulai beres - beres, ibu sudah tidak sabar lagi malam ini menempati rumah baru kita!" Ajak bu Siti.
"Iya ayo!" Jawab pak Burhan.
Ketiga orang itu bergegas pulang ke kontrakan milik bu Siti, malam ini mereka berencana merayakan kemenangan mereka di rumah baru. Bu Siti sudah tidak sabar lagi, untuk pindah ke rumah impian mya selama ini.
"Gibran, pasti saat ini ibu mu sedang menangis meratapi nasib nya!" Bu Siti berkata sambil tersenyum.
"Biarkan saja bu, dia pantas mendapatkan semua itu. Siapa suruh dia mendukung Sarah, padahal aku adalah anak kandung nya!" Gibran berkata tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Jika tidak karena uang nya, sudah lama aku tinggalkan dia. Tapi sekarang kesabaran ku sudah membuahkan hasil, kita berhasil mendapatkan semua uang nya!" Ujar pak Burhan sambil tertawa.
"Sekarang kita akan hidup bahagia selamanya, aku yang akan merawat kalian tua nanti!" Ucap Gibran dengan bangga.
Ketiga nya tertawa bersama, menertawakan nasib buruk bu Meri. Padahal tanpa mereka sadari saat ini mereka tengah bersiap menyambut karma mereka yang akan datang tanpa ampun dalam waktu dekat ini.
klo g pngen hidup susah..... krja dunk santi....
wloupun g bikin kaya.... stidknya klo krja punya uang untuk mnyambung hidup.... bisa beli mkanan untuk ankmu...