NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:792.2k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Karma kecil di rumah tangga baru

Dua bulan telah berlalu sejak pesta pernikahan megah yang menghebohkan kalangan sosialita ibu kota itu digelar. Di jagat maya, akun media sosial Vera masih menjadi kiblat kemewahan yang dipuja banyak orang.

Unggahan foto-foto makan malam romantis di restoran privat, buket bunga mawar merah raksasa, hingga pemandangan kamar tidur utama yang telah direnovasi total menjadi saksi bisu kebahagiaan yang sengaja dia pamerkan ke seluruh dunia.

Vera merasa telah memenangkan segalanya; dia berhasil menyingkirkan Larissa, merebut posisi Nyonya Besar Baskoro, dan menikmati harta yang melimpah.

Tapi di balik dinding-dinding kokoh rumah mewah Baskoro, kenyataan yang berjalan di dunia nyata sama sekali tidak seindah apa yang terpampang di layar digital.

Pernikahan yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan dan kelicikan itu mulai menunjukkan retakan-retakan kecil pertamanya. Masalahnya bersumber dari sosok yang dulu paling gencar mendukung perselingkuhan mereka: Ibu Maya.

Obsesi Ibu Maya terhadap hadirnya seorang cucu laki-laki sebagai penerus darah dan kekayaan Baskoro ternyata jauh lebih mengerikan dari apa yang Vera bayangkan saat masih menjadi asisten dulu.

Jika dulu Ibu Maya menumpahkan seluruh tuntutan dan makian itu kepada Larissa, kini setelah Larissa pergi, giliran Vera yang harus berdiri di garis depan untuk menerima seluruh tekanan tersebut.

Pagi itu di meja makan, suasana sarapan terasa begitu menekan. Ibu Maya meletakkan cangkir teh porselennya dengan ketukan yang agak keras ke atas tatakan, membuat Vera yang sedang mengoles selai di rotinya terperanjat samar.

"Vera," panggil Ibu Maya, suaranya terdengar menuntut tanpa ada basa-basi. "Ini sudah jalan bulan ketiga pernikahan kalian. Tapi sampai sekarang Ibu belum melihat ada tanda-tanda kamu terlambat datang bulan atau mual-mual. Perutmu masih kelihatan rata begitu."

Vera memaksakan sebuah senyuman manis, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang. "Ibu... ini kan baru dua bulan lebih sedikit. Mungkin kami berdua masih butuh waktu untuk melepas stres setelah rangkaian acara pernikahan kemarin. Mas Bram juga sedang sangat sibuk di kantor."

"Tidak ada alasan stres-stresan!" potong Ibu Maya dengan nada ketus. "Kamu ingat kan alasan kenapa Ibu merestui Bram mendepak si mandul Larissa itu? Itu karena kamu menjanjikan rahim yang subur dan sehat! Ibu tidak mau tahu, usia Ibu sudah semakin tua. Teman-teman arisan Ibu semuanya sudah menimang cucu dari anak laki-laki mereka. Ibu tidak mau menanggung malu lebih lama lagi."

Ibu Maya membuka tas tangannya, mengeluarkan selembar kartu nama berwarna emas dari dalam sana, lalu menggesernya di atas meja ke hadapan Vera.

"Hari Kamis besok, Ibu sudah membuat janji temu dengan Profesor Subroto di Rumah Sakit Internasional Kencana. Beliau adalah ahli nomor satu untuk urusan fertilitas dan program hamil cepat. Kita tidak usah ke dokter Hendra lagi, Ibu mau opini dari Profesor yang jauh lebih senior agar kamu bisa langsung hamil kembar kalau perlu. Kamu harus kosongkan jadwalmu hari itu, kita pergi bersama," perintah Ibu Maya mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.

Mendengar nama Profesor Subroto dan Rumah Sakit Kencana disebut, darah di sekujur tubuh Vera seketika terasa mandek. Jantungnya berdegup kencang dibayangi oleh gelombang kepanikan yang luar biasa dahsyat.

Vera tahu betul bahwa dr. Hendra di RS Medika Kirana adalah dokter yang berhasil mereka suap dengan uang ratusan juta untuk memalsukan rekam medis Larissa. Di RS Kencana, yang merupakan rumah sakit internasional dengan kredibilitas ketat, mereka tidak akan bisa melakukan manipulasi kotor seperti itu lagi.

Lebih dari itu, ketakutan terbesar Vera yang sesungguhnya bukanlah tentang kesuburan rahimnya sendiri. Vera tahu dia sehat. Yang membuat malam-malam Vera kini tidak bisa tidur dengan tenang adalah sebuah rahasia kotor yang selama ini dia simpan rapat-rapat.

Bahwa sebenarnya Bram-lah yang mengalami kemandulan total.

Selama ini, Vera sengaja menutup mata dan pura-pura tidak tahu demi kelancaran rencananya untuk naik takhta. Dia berniat menunda-nunda pemeriksaan intensif untuk Bram dengan berbagai alasan, karena dia tahu jika rahasia kemandulan Bram terbongkar di saat dia belum sepenuhnya menguasai seluruh aset, saham, dan harta gono-gini atas namanya, maka posisinya di keluarga ini akan berada dalam bahaya besar. Dia bisa saja didepak oleh Ibu Maya jika skenario kehamilan yang dia janjikan gagal total.

"Baik, Ibu...besok kamis Vera akan pergi bersama Ibu," jawab Vera dengan suara yang sedikit bergetar.

Malam harinya, Bram sedang duduk di tepi ranjang mengenakan jubah tidur satin hitam sembari sibuk memeriksa laporan keuangan kuartal pertama Baskoro Konstruksi di tabletnya.

Wajahnya tampak lelah dan sedikit tegang karena beberapa proyek besar belakangan ini mengalami kendala teknis di lapangan.

Vera melangkah perlahan dari arah meja rias setelah menyelesaikan ritual perawatan wajah malamnya. Dia mengenakan gaun tidur satin tipis, mencoba memasang wajah paling manis dan manja yang dia miliki untuk melunakkan hati suaminya.

Vera duduk di samping Bram, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh pria itu, sembari jemari lentiknya membelai dada Bram dengan lembut.

"Mas..." panggil Vera dengan nada suara yang mendayu-dayu, mencoba mencari perhatian.

Bram hanya bergumam pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. "Hm? Ada apa, Vera? Aku sedang fokus memeriksa laporan dari tim auditor ini. Ada selisih angka yang belum beres."

Vera menghela napas pendek, lalu dengan perlahan mengambil tablet dari tangan Bram dan meletakkannya di atas meja nakas, memaksa suaminya untuk menatapnya. "Mas, ini tentang ucapan Ibu, dia mendesakku lagi soal anak, bahkan Kamis besok Ibu mau mengajakku ke Profesor Subroto di RS Kencana untuk mulai program hamil cepat."

Bram mengernyitkan dahi, merasa sedikit terusik mendengar kata "program hamil". Pria itu bersandar di kepala ranjang dengan angkuh. "Ya bagus, kan? Memangnya kenapa? Bukankah itu memang tujuan kita dari awal? Aku ingin secepatnya punya anak laki-laki untuk membungkam mulut orang-orang di luar sana yang sempat bergosip."

Vera menelan ludah, mencoba menyusun kalimat yang paling aman. "Aku tahu, Mas... Tapi menurutku, bukankah ini terlalu cepat? Pernikahan kita baru berjalan dua bulan. Ditambah lagi, kondisi perusahaanmu sekarang sedang sangat sibuk dan butuh fokus penuh darimu."

"Kalau kita langsung program hamil sekarang, aku takut fokusmu akan terpecah antara mengurus perusahaan dan menjagaku yang mungkin akan mengalami morning sickness. Bagaimana kalau kita tunda dulu beberapa bulan? Fokus saja dulu pada karier dan proyek besarmu sampai akhir tahun ini, setelah itu baru kita fokus ke urusan anak."

Vera berharap alasan itu bisa membuat Bram setuju untuk mengulur waktu dari kejaran mertuanya, memberikan dirinya ruang untuk mengamankan beberapa aset perusahaan atas namanya terlebih dahulu.

Tapi Vera telah salah menilai watak asli dari pria yang berada di hadapannya.

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut istri barunya, ekspresi wajah Bram seketika berubah drastis. Warna hangat di wajahnya lenyap, digantikan oleh gumpalan amarah yang mendadak meluap ke permukaan.

Bram menyentak tangan Vera dari dadanya dengan kasar, lalu berdiri dari atas kasur dengan gerakan yang sangat berangasan. Pria itu menatap Vera dari atas dengan sepasang mata yang memerah.

"Apa kamu bilang?! Menunda?!" bentak Bram, suaranya menggelegar memenuhi kamar tidur memecah keheningan malam dengan sangat mengerikan.

Vera tersentak kaget, tubuhnya refleks mundur beberapa senti di atas kasur. Dia belum pernah melihat Bram semarah ini selama mereka berhubungan rahasia dulu. "Mas... aku hanya berpikir tentang kesehatanmu dan perusahaan—"

"Diam kamu, Vera!" potong Bram dengan raungan yang penuh dengan nada intimidasi yang kasar.

Pria itu melangkah maju, menunjuk tepat di depan wajah Vera dengan telunjuknya yang bergetar penuh murka. "Jangan coba-coba memanipulasiku dengan alasan perusahaan! Aku ini laki-laki, aku tahu apa yang terbaik untuk perusahaanku!"

Bram menarik napas pendek dengan dada yang naik turun, menatap Vera dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak yang mendalam.

"Dengar baik-baik, Vera! Aku menceraikan Larissa, mengusir wanita itu dari rumah ini, dan menanggung risiko nama baikku sedikit terganggu di awal, itu semua murni demi bisa mendapatkan anak dengan cepat darimu!" teriak Bram tanpa memedulikan perasaan wanita di hadapannya.

"Ibuku menuntut cucu setiap hari! Kalau sekarang kamu juga bertingkah gila dengan meminta menunda-nunda kehamilan dengan alasan bodoh seperti itu... lalu apa bedanya kamu dengan wanita mandul sialan itu, hah?!"

Deg.

Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Bram terasa bagaikan tamparan keras yang menghantam wajah Vera dengan sangat telak.

Tubuh Vera seketika membeku di atas ranjang, jantungnya mencelos jatuh ke dasar perut, dan napasnya mendadak terasa sesak menahan rasa syok yang luar biasa besar.

Vera menatap sosok suaminya dengan sepasang mata yang membelalak lebar penuh kengerian.

Detik itu juga, sebuah kesadaran yang sangat pahit dan mengerikan mendadak menghujam benaknya, Bram tidak pernah benar-benar mencintainya sebagai seorang manusia.

Pria ini hanya menganggapnya sebagai mesin pencetak anak, sebuah alat reproduksi berwujud wanita cantik yang bertugas untuk menyelamatkan reputasi dan egonya yang cacat di mata dunia.

Kini topeng pangeran tampan yang penuh pesona manis milik Bram telah tanggal sepenuhnya di depan matanya, menampakkan sosok monster yang sesungguhnya, sosok pria kasar, egois, dan kejam yang sama dengan pria yang dulu mengusir mantan istrinya.

Karma kecil itu kini mulai mengetuk pintu kehidupan baru Vera, dan sang ular mulai menyadari bahwa takhta yang dia curi dengan kelicikan ternyata dikelilingi oleh bara api yang siap membakar dirinya hidup-hidup kapan saja.

Bersambung

1
Maria Goretti Ponto
Sungguh kejam sekali yg dialami Bram
Sebegitunya smpi diusir dr Jkt kota kelahiran nya
Apa tdk ada maaf baginya
Walaupun dia bersalah ttp cukup sdh penderitaan yg dialami dgn disita seluruh hartanya
Smg Bram dpt bangkit kembali utk. meraih kejayaannya lg
Desi Linda Saputri
betul harusnya dimiskinkan saja udah cukup
lahhh ini mah dosanya bu Maya sama bram diampuni
malah si Bayu sama larisa yang nanggung dosa mereka
walaupun cuma fiktif tapi menurut aku ini terlalu kejam
dini handayani
dri semua novel yg saya baca ini yg paling kejam
Husnita Lala
ada ngga yg tau novel yg menceritakan pernikahan kontrak tapi pemeran cowonya ini blm bisa mufoon sama cinta pertamanya yg hilang di lautan, mereka kaya nikah terpaksa begitu klau ada yg tau bisa spill judul dong🙏
Ken L
larisa jadi manusia jahat ya. Tuhan aja Maha pengampun
Ken L
Bayu sombong amat sih. besok juga bisa miskin jika Tuhan berkehendak
Pujierde
simpan tuh pesan bisa jadi suatu saat bisa dipake itu chat
Evy
Hasil dari merebut hanya bisa dinikmati sebentar saja..
Jeon Kookie
lagi promo novel baru ya thor😁
Jeon Kookie
eeeeeaaaa....😆
Pujierde
berarti mita bukan seorang sahabat donk, klo sahabat yg baik tentu akan menolong temannya yg sedang tidak baik
Jeon Kookie
sabun mandi murah nggk tu 😆
Pujierde
mw ikutan komen ah kak authot soalnya kezel liat larissa seharusnya sebagai seorang wanita ngapain hasil itu ditunjukan ke si kupret itu lebih baik dijadikan senjata buat kepengadilan biar dapet harta gono gini hasil dari pernikahan 5 tahun jadilah wanita yang cerdas jangan mw dibego"in sama tuh kupret kamu didorong ke rs minta visum, foto yg dikirim temen kamu jadi bukti klo si kupret selingkuh
Jeon Kookie
lana siapa si thor 😆
Evy
Mendiang istri telah tiada... harusnya istri yang telah tiada karena kata mendiang itu pasti seseorang yang telah tiada,.tidak perlu mendiang dan tiada itu didalam satu kalimat..tapi mantap Thor.. ceritanya bagus kok...
Zeylina Alzia A.E.
💪
Win Ning
sampai segitunya ya....
Win Ning
kasihan juga... sampai segitunya penderitaan Bram... maafkan dan biarkan saja takdir yg bicara
atulyaas
thorr ini beneran karakter Bayu sama Larissa dibuat sejahat ini??😭 udaaa thor kasian udahh itu bram😭
Win Ning
kasihan juga ya
atulyaas: sebenernya iya tapi salah sendiri udh enak dapet kerja malah berani²nya nemuin larissa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!