NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Nabila Putri

Yuda menatap Anto dengan wajah datar, menatap layar ponsel, lalu menatap Anto lagi. “Itu emang aku."

Jawaban santainya membuat mereka terdiam, lalu mereka tertawa.

Teman-temannya hanya berpikir kalau Yuda cuman bercanda.

Rendi langsung menyemburkan tertawa lepas. "Bisa aja lu, Yud! Muka lu datar banget pas ngomong gitu, asli."

Sisi Anto, ia belum menyerah.

Ia memutar ulang video itu untuk kelima kalinya.

Cahaya sore dan pendar neon SPBU memang membuat wajah pria di layar hanya tampak sebagai bayangan samar.

Tapi postur tubuh dan gaya jalannya...

"Tapi sumpah, mirip banget, njir," Anto, makin penasaran. "Seriusan, Yud. Kalo diliat-liat dari gaya jalan lu pas pegang botol air mineral... kok mirip banget?"

"Ya kan itu memang aku," balas Yuda lagi dengan nada polos tanpa beban. "Kemarin habis tes mesin di jalan tol, terus mampir beli minum."

"Anjir," Jaka ikut menepuk paha sambil tertawa lebar. "Kalo beneran lu yang punya itu mobil, berarti selama ini kita salah pergaulan, bro!"

"Kenapa?" Tanya Yuda santai.

"Harusnya dari dulu aku sering-sering nempel sama lu! Biar kecipratan duit!" Jaka menggeleng-gelengkan kepala. "Biar ditraktir makan sate juga tiap hari!"

"Telat. Lagian kalian gak pernah nanya," jawab Yuda datar.

Seisi bangku warung Bu Ning makin heboh.

Rendi sampai menepuk meja kayu di depannya. "Gila! lu makin menjadi-jadi, Yud! Menjawab dengan muka polos tanpa dosa gini yang bikin orang gampang percaya."

"Kalo lu beneran punya Jesko 130 miliar..." Anto menatap Yuda dengan raut muka sok serius, "...berarti lu selama ini nyimpan duit di mana, hah?"

Yuda mengangkat bahunya tipis. "Di bank. Sebagian di rekening, sebagian lagi di perusahaan."

"Hahaha! Di perusahaan apaan? Perusahaan jaringan MLM?!" Rendi makin ngakak sampai memegangi perutnya. "Aduh, kapok aku! Lu responnya makin ngaco tapi tampangnya tetep lempeng gitu! Aku salut sama lu Yud."

"Kalo dia beneran punya mobil 130 miliar," timpal Jaka sambil menyendok sisa kuahnya,

"ngapain tadi pagi dia masih dateng ke gudang pake Beat mber? Ngapain juga sekarang duduk di bangku kayu Bu Ning sambil makan tempe goreng tiga ribuan?"

Sebelum Yuda sempat menjawab, raungan keras dari depan menyelanya.

"Hush! Mulutmu ya, Jaka! Enak aja kamu ngina bangku kayu sama tempe buatanku!" Bu Ning berkata dengan nada galak.

"Tempe gorengku ini pakai kedelai pilihan, renyah gurih! Mau mobilnya harga 100 miliar atau seharga planet bumi sekalipun, pasti ketagihan makan di sini!"

"Aduuuh, ampun, Bu Ning! Maksudnya bukan gitu, Bu!" Jaka merapatkan kedua tangannya di dada, membuat tawa teman-temannya makin pecah.

Rendi menunjuk-nunjuk Jaka sambil tertawa terbahak-bahak. "Lagian lu, Jak! Kena semprot kan lu sama Kanjeng Ratu Warung!"

Yuda menyandarkan punggungnya di dinding kayu warung, memperhatikan satu per satu wajah teman-temannya yang tertawa lepas.

Sebuah senyuman hangat dan tulus perlahan mengembang di bibirnya.

Di balik kekayaan ratusan miliar di rekeningnya, keberadaan Sistem canggih, hingga hypercar yang terparkir di garasi vila mewahnya, momen-momen seperti inilah yang terasa begitu berharga.

Suasana riuh yang jujur, candaan konyol tanpa sekat gengsi, serta kehangatan pertemanan di antara para pekerja keras ini memberi rasa tenang yang tak bisa dibeli dengan nominal uang berapa pun.

Bagi Yuda, lingkungan sederhana dan unik inilah yang membuat dirinya tetap merasa membumi.

Bu Ning yang sedang menggoreng adonan tempe di pojokan warung ikut terkekeh menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anak kurir itu.

Anto akhirnya menghela napas panjang, mematikan layar ponselnya dan menyerah total.

Rasa curiga dan keraguan yang sempat muncul di kepalanya menguap tanpa sisa.

Makin Yuda menjawab dengan kejujuran mutlak tanpa rasa ragu, makin dianggap sebagai candaan tingkat tinggi oleh teman-temannya.

Mana mungkin seorang kaya raya, pemilik hypercar paling langka di RI mau kepanasan narik paket dan nongkrong di warung kumuh bersamanya.

"Sudahlah," Anto sambil tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Kalau memang beneran lu, berarti aku baru aja duduk satu meja sama pemilik mobil termahal di RI."

"Iya," jawab Yuda santai.

"Dan dia masih nambah es teh manis segelas lagi."

"Iya, aku haus."

Rendi menepuk bahu Yuda cukup keras sambil tertawa pasrah. "Udah, berhenti ngaku-ngaku, Yud! Makin lu iyain pake muka polos gitu, makin gak ada yang percaya!"

Yuda hanya menyunggingkan senyum tipis, menyuapkan sisa nasi terakhir ke dalam mulutnya.

Ia sudah memberikan jawaban yang 100% jujur sejak awal, tapi fakta dunia nyata kadang memang terlalu aneh untuk dipercayai orang awam.

Namun ini juga hal baik baginya.

Kemudian ia sepertinya teringat sesuatu lalu membuka panel statusnya.

[System Tycoon Lv2]

[Pendapatan 10 juta/hari]

Nama: Yuda Kusuma

Umur: 21 Tahun

Tinggi: 1.82M

Penampilan: 90

Fisik: 20 (rata-rata orang dewasa 10, puncak dunia 20)

Saldo: Rp25.297.269.000

Aset:

• Botanic Villa NavaPark Unit No. 1

• 25% Saham Wirasakti Grup

Inventory:

• Kartu Cashback 100x (Limit 100 Miliar)

• Voucher Diskon 99% (1x)

• Kartu Izin Akses Pembelian Produk Spesial (1x)

Skill Pasif:

• Skill Mengemudi Tingkat Dewa

• Insting Traksi Tingkat Dewa

Menatap panel mewahnya, Yuda merasa sangat puas.

Ia juga melirik saldonya bertambah 200 juta dari hasil manuvernya kemarin, lalu 10 juta lagi yang masuk tengah malam tadi hasil pendapatan harian dari sistem tycoon lv2.

...----------------...

Setelah pamit dari warung Bu Ning, Yuda menyalakan mesin Honda Beat-nya dan mengaktifkan fitur kurir instan serta ojek Penumpang di aplikasi.

​Baru beberapa menit melintasi jalanan Tangerang Selatan, bunyi notifikasi pesanan masuk terdengar.

Yuda menepi sebentar untuk mengecek lokasi penjemputan ada di pelataran minimarket dekat salah satu mal kawasan BSD, dengan tujuan ke arah area kampus Prasmul.

Yuda langsung memutar kemudi dan merapat ke lokasi.

Honda Beat lamanya melaju santai menyusuri jalanan BSD.

Beberapa menit kemudian.

Sementara itu di teras minimarket, seorang gadis berdiri sendirian sambil memegang hpnya.

Dia Kemeja flanel kotak-kotak gelapnya terbuka, dipadukan tank top hitam dan celana pendek denim biru.

Rambutnya diikat ekor kuda tinggi, kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, dan kedua tangannya terlipat di depan dadanya yang besar.

Pakaian yang dikenakannya memperlihatkan siluet tubuh berliku dan dada berisi dipadukan dengan kaki putih panjangnya yang langsung mencuri perhatian beberapa pria di sekitar.

Dari wajahnya, dia tampaknya berusia sekitar 19 sampai 20 tahun dan terlihat seperti gadis kampus menawan yang lincah.

Matanya sesekali melirik layar ponsel, memastikan pengemudi yang dipesannya segera tiba.

Tak lama kemudian, suara mesin Honda Beat terdengar mendekat.

Gadis itu mengangkat kepalanya.

Sebuah motor beat berhenti di depannya.

Seorang pemuda mengenakan seragam ojek melepas helmnya.

Begitu melihat wajah pengemudi tersebut, gadis itu sempat terdiam sesaat.

Tampan.

Bahkan jauh lebih tampan dari yang ia bayangkan.

Yuda disisi lain juga mengamati wajah gadis itu dari atas hingga bawah.

Cantik.

Penampilannya juga cukup menarik perhatian.

Yuda tanpa sadar mengaktifkan panel status gadis tersebut.

[Informasi Target]

Nama: Nabila Putri

Umur: 19 Tahun

Penampilan: 94

Isi Daya: 0

Favorability: 35

[Status Emosi: Terkejut, penasaran]

Yuda menatap panel transparan tersebut selama beberapa detik. 'Penampilan 94? Dan Favorability nya... 35?'

Dalam hatinya ia sedikit bingung, biasanya orang asing akan dinilai 0-29, 30 keatas bisa dikatakan memiliki kesan baik.

Inilah yang membuatnya bingung, karena dia baru pertama kali bertemu dengannya.

Kemudian ia memikirkan wajahnya yang tampan, 'Apa mungkin karena ketampanan ku? Hmm sepertinya masuk akal.'

Jika gadis itu bisa mendengar kata hatinya, dia mungkin akan membantahnya dan bilang kamu terlalu narsis.

Kembali ke tkp.

Yuda menatap gadis bernama Nabila di depannya, "Kak Nabila kan?"

Nabila tersadar ketika dipanggil, ia sempat terpaku beberapa detik.

Pemuda tampan di atas motor matic sederhana ini sama sekali tidak terlihat seperti tukang ojek.

"Eh, iya... Kak Yuda?" Nabila tersenyum manis dan bertanya.

"Iya, silahkan kenakan helmnya kak."

Nabila tersenyum kecil sambil menerima helm. "Ku kira yang datang bakal bapak-bapak."

Yuda terkekeh pelan. "Kamu berharap begitu?"

"Enggak," Nabila terkikik sambil naik ke jok belakang.

Selama perjalanan menuju kawasan Prasmul, Nabila diam-diam memperhatikan cara mengemudi Yuda.

Berbeda dari kebanyakan pria yang pernah memboncengnya atau mencoba mendekatinya.

Tatapan pemuda itu lurus dan penuh ketenangan.

​Rasa risih yang biasa Nabila rasakan dibawah tatapan hasrat laki-laki sekitar perlahan meluruh, berganti rasa penasaran.

Di tengah keheningan Nabila membuka percakapan.

"Kakaknya masih kuliah?"

"Enggak."

"Oh?" Nabila tertegun sejenak.

Karena dari penampilan pemuda ini, tampak seperti awal 20an, makanya dia nanya.

"Saya kerja."

Nabila sedikit terkejut. "Kirain mahasiswa."

"Kenapa?"

"Masih muda."

"Kerja juga boleh muda," jawaban Yuda santai.

Nabila tertawa kecil. "Benar juga."

Hembusan angin jalanan menemani laju motor matic itu.

Sikap Yuda yang biasa saja—tidak lirak-lirik lewat spion, tidak sok akrab, dan tidak melontarkan pujian berlebihan—membuat ketegangan yang biasa dirasakan Nabila saat di dekat pria asing mencair sepenuhnya.

"Kakak sering narik di daerah BSD?" tanya Nabila lagi.

"Lumayan sering." Yuda berpikir sejenak lalu mengangguk.

"Berarti kakak tahu tempat tinggal yang bagus di sekitar sini?"

"Kenapa?"

"Aku lagi cari kos," Nabila menghela nafas berat ketika memikirkan sulitnya cari kos yang cocok untuk seleranya.

Sekalinya ada yang cocok, kosannya sudah penuh.

Seperti kosan yang ditinggali teman gengnya, sudah full hanya dalam waktu 1 hari pendaftaran.

Karena itu, ia menjadi terpisah dengan mereka.

Yuda mengangguk. "Kamu baru pindah?"

"Iya. Aku mahasiswa baru di Prasmul."

"Dari luar kota?"

"Semarang."

"Jauh juga." Yuda mengangguk.

'Satu provinsi ternyata denganku.' tapi ia tidak terlalu memikirkannya.

"Iya," Nabila tertawa kecil. "Tapi sejauh ini aku betah. Teman-teman kampus juga lumayan banyak."

Nabila kembali diam beberapa detik lalu melirik ke arah punggung Yuda, merasa nyaman ngobrol dengannya. "Kak Yuda."

"Hm?"

"Kalau boleh tahu, kenapa kakak enggak kuliah?"

Yuda diam sebentar sebelum menjawab santai. "Dulu kepikiran."

"Terus?"

"Keadaan keluarga pas-pasan. Kalau aku kuliah, orang tua harus keluar biaya lagi. Aku enggak mau terlalu membebani mereka."

Nabila terdiam sejenak.

Nada suara Yuda tidak mengeluh atau minder, justru terdengar sangat dewasa dan menerima keadaannya.

"Jadi langsung kerja?"

"Iya."

"Padahal kalau kakak mau, mungkin bisa kuliah."

"Mungkin," jawab Yuda singkat.

Nabila mengamati profil samping wajah Yuda dari belakang. "Kalau aku malah kebalikannya."

"Kenapa?"

"Aku malah disuruh kuliah jauh-jauh dari Semarang ke sini," Nabila terkekeh pelan. "Alasannya, orang tuaku pengen aku belajar mandiri dan enggak bergantung terus sama mereka."

Yuda mengangguk paham. "Bagus dong, melatih mental."

"Bagus sih, cuma ya pusing pas nyari kosan yang sesuai seleraku,"

"Yah memang sih. Tapi... Kamu bisa masuk jadi mahasiswi Prasmul termasuk hebat loh, disana banyak mahasiswa berprestasi." Yuda memujinya dengan tulus.

Nabila menyunggingkan senyum tipis saat di puji. "Nggaklah, Aku bukan anak yang prestasinya gimana-gimana banget, kok. Nilai lumayan, tapi ya biasa saja. Cuma kebetulan aja bisa masuk Prasmul."

Padahal kenyataannya, Nabila adalah murid langganan juara umum di sekolah asalnya yang kerap menyabet berbagai penghargaan akademik.

Hanya saja, ia memang tipe gadis rendah hati yang paling tidak suka memamerkan atau mengumbar pencapaiannya di depan orang lain.

"Berarti tetap pintar," kata Yuda santai.

"Jangan dipuji gitu."

"Kenapa?"

"Nanti aku besar kepala."

Yuda tertawa pelan dari balik helmnya dan merasa gadis ini sangat menarik.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!