Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.PDKT
Mobil sedan hitam yang dikendarai Pak Mamat berhenti tepat di depan lobby berdesain tropical modern milik Diksara Wellness & Spa. Bangunan megah yang dikelilingi taman hijau asri dan gemericik air mancur itu merupakan pusat relaksasi paling eksklusif di pusat kota.
Naya turun dari mobil dengan gaya santai, membetulkan kacamata hitamnya, lalu menggenggam kartu anggota VIP berlogo emas yang tadi pagi diberikan oleh Damar. Begitu ia melangkahkan kaki masuk ke dalam lobby beraroma terapi lavender dan sandalwood, para staf spa langsung menyambutnya dengan bungkukan hormat yang sangat dalam.
"Selamat pagi, Ibu Naya Diksara. Selamat datang di Diksara Wellness & Spa," sapa Manajer Spa dengan senyuman paling ramah. "Bapak Damar sudah menghubungi kami secara pribadi pagi tadi untuk menyiapkan Royal Suite Room dan terapis terbaik untuk Ibu."
Naya membelalakkan matanya tipis di balik kacamata hitam. Wah, si Mas Kulkas bener-bener niat ya? Sampe nelpon langsung segala buat booking kamar terbaik! batin Naya takjub.
"Terima kasih ya, Mbak. Saya mau paket paling komplit dan paling mahal ya. Dari pijat aromaterapi, facial emas, sampai body scrub," ujar Naya riang tanpa ragu.
"Baik, Bu Naya. Mari saya antarkan ke ruangan khusus Ibu."
Selama tiga jam berikutnya, Naya benar-benar memanjakan seluruh tubuhnya bagai seorang ratu. Ia berendam di dalam bathtub marmer bertabur kelopak bunga mawar segar, menikmati pijatan lembut yang melemaskan seluruh otot tubuhnya yang tegang gara-gara melayani drama Mamah Ratna, hingga perawatan wajah yang membuat kulitnya makin bersinar halus bagai porselen.
Sembari wajahnya diurut secara perlahan oleh terapis, Naya menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam dan senyum mengembang. "Ah... nikmat mana lagi yang kau dustakan, Naya? Dapet suami dingin kaya raya, dapet fasilitas VIP gratis, tinggal nunggu waktu empat bulan lagi buat kantongin dua miliar! Hidup begini mah kagak usah pake drama cinta-cintaan segala!"
Namun, tanpa Naya ketahui, di lantai paling atas Diksara Tower, seseorang sedang sibuk memikirkan cara untuk menggagalkan rencana empat bulannya itu.
Damar Diksara sedang duduk di balik meja kerjanya yang luas. Di depannya, Andre—sekretaris pribadinya sekaligus sahabat kepercayaan Damar sejak masa kuliah—sedang berdiri memegang beberapa berkas laporan keuangan. Namun, mata Damar sama sekali tidak tertuju pada kertas-kertas di mejanya. Pria itu tampak melamun, sesekali memutar-mutar pena mewahnya dengan pandangan kosong.
Andre yang sudah mengenal tabiat bosnya selama bertahun-tahun langsung menyadari ada hal yang tidak beres pada sang CEO.
"Pak Damar," panggil Andre pelan. "Laporan keuangan kuartal ketiga sudah selesai. Ada yang perlu direvisi?"
Damar tersentak kecil, menghentikan gerakan penanya, lalu berdeham menutupi rasa canggung. "Ehem. Tidak, letakkan saja di meja."
Andre tidak langsung pergi. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan godaan. "Bapak sepertinya sedang banyak pikiran. Bukan soal saham kan, Pak? Apa ini ada hubungannya sama Bu Naya?"
Damar menatap Andre tajam. "Jaga bicaramu, Andre."
"Aduh Pak, saya kan sekretaris Bapak. Dari kemarin rekap transaksi Black Card Bapak masuk beruntun ratusan juta, tapi Bapak malah senyum-senyum sendiri pas lihat pemberitahuannya. Trus tadi pagi Bapak minta saya booking kamar spa terbaik buat Bu Naya. Ini mah jelas banget tanda-tandanya," goda Andre tanpa rasa takut.
Damar mengembuskan napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Gengsi tingginya bertarung hebat dengan kebingungan di dalam dadanya.
"Andre," panggil Damar dengan suara pelan. "Bagaimana caranya... membuat seorang cewek membatalkan niatnya untuk pergi?"
Mata Andre langsung membelalak kaget, lalu berubah menjadi binar-binar kegirangan. "Wah! Pak Damar beneran udah kena pelet Bu Naya nih! Jadi Bapak mau nahan Bu Naya biar gak cerai setelah enam bulan?"
"Saya tidak bilang begitu," desis Damar menahan malu. "Saya cuma... tidak mau ada perceraian di keluarga Diksara. Itu bisa mempengaruhi saham perusahaan."
Andre tertawa kecil mendengar alasan klasik bosnya. "Alasan saham padahal hatinya yang takut kehilangan! Oke Pak, kalau Bapak mau naklukin cewek modelan Bu Naya yang sekarang—yang cuek, pemberani, dan savage—Bapak gak bisa pake cara kaku kayak es batu lagi. Bapak harus mulai PDKT!"
"PDKT?" kening Damar bertaut rumit. "Pendekatan?"
"Iya, Pak! Mulai dari hal-hal kecil tapi perhatian. Misalnya, jemput dia selesai acara spa. Cewek se-pemberani apa pun pasti bakal tersentuh kalau dijemput langsung sama suaminya!" terang Andre bersemangat.
Damar diam sejenak, mencerna setiap saran dari sekretarisnya. Pikiran tentang Naya yang selalu tersenyum manis saat menerima barang mewah dan kata-katanya yang memanggilnya "Mas Damar ganteng" tadi pagi kembali terbayang di kepalanya.
"Jemput dia di tempat spa sekarang," perintah Damar tiba-tiba sambil berdiri dari kursinya dan menyambar jas hitamnya.
Andre tersenyum puas. "Siap, Pak Boss! Jangan lupa senyum ya Pak, jangan pasang muka tembok terus!"
Pukul tiga sore, Naya keluar dari gedung Diksara Wellness & Spa dengan wajah yang sangat segar, tubuh yang wangi, dan kulit yang berkilau. Tubuhnya melangkah anggun menuju area penjemputan, berniat memanggil Pak Mamat untuk membawakan mobil.
Namun, alih-alih melihat sedan hitam yang biasa dikendarai Pak Mamat, sebuah mobil sport mewah berwarna hitam mengkilat sudah terparkir manis di depan pintu masuk. Kaca mobil diturunkan perlahan, memperlihatkan sosok Damar Diksara yang sedang duduk di kursi kemudi tanpa mengenakan jas, hanya dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku.
Naya tertegun di tempat. "Loh? Mas Kulkas?"
Damar menoleh, menatap Naya dari atas sampai bawah. Penampilan istrinya yang makin memesona dengan rambut harum terurai dan kulit yang bersinar membuat dada Damar kembali berdegup kencang secara tidak wajar.
"Masuk," ujar Damar singkat namun bernada jauh lebih lembut dari biasanya.
Naya melangkah mendekat, menyandarkan sikunya di pintu mobil dengan alis terangkat. "Pak Mamat ke mana? Kok Mas Damar yang nyetir sendiri? Mas enggak lagi salah urat kan?"
Damar berdeham pelan, mencoba menutupi rasa gugupnya di depan sang istri. "Saya yang minta Pak Mamat pulang duluan. Cepat masuk, Naya. Banyak orang yang melihat."
Naya mengangkat bahunya santai, lalu membuka pintu dan duduk di kursi samping pengemudi. Begitu pintu tertutup, aroma harum dari dalam mobil langsung menyapa inderanya. Di atas kursi belakang, terdapat sebuah buket bunga mawar merah muda yang sangat besar dan indah.
Mata Naya melirik ke belakang. "Wah, ada bunga! Mas Damar mau ngelamar cewek lain ya? Atau ini bunga buat Mbak Pancong yang kemarin nangis-nangis?"
Damar yang baru saja hendak menjalankan mobil mendadak menginjak rem pelan. Ia menoleh ke arah Naya dengan tatapan jengkel bercampur gemas. "Itu buat kamu, Naya."
"Hah? Buat saya?" Naya menunjuk dirinya sendiri dengan muka polos tanpa dosa. "Dalam rangka apa nih? Mas Damar enggak lagi syok atau kesurupan gara-gara tagihan spa saya kan?"
"Bukan," sahut Damar cepat. Tangan tegapnya meraih buket bunga itu dari kursi belakang, lalu meletakkannya tepat di pangkuan Naya. "Itu... ucapan terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istri saya selama dua bulan ini."
Naya mematung memandangi buket bunga mewah di pangkuannya. Di balik sikap savage-nya, jujur saja Naya sedikit kaget setengah mati. Seorang Damar Diksara yang terkenal dingin bagaikan gunung es Antartika, mendadak memberikan buket bunga romantis di dalam mobil sport-nya?
Anjir, si Mas Kulkas kerasukan setan dari mana nih? Tiba-tiba sok romantis gini! batin Naya tertawa geli sekaligus heran.
Naya menghirup aroma wangi bunga mawar itu, lalu menatap Damar dengan senyuman jenaka khasnya. "Hmm... bunganya wangi banget, Mas. Tapi sory ya, gombalan dan bunga indah ini enggak bakal bisa mengurangi nominal uang kompensasi dua miliar saya empat bulan lagi loh!"
Mendengar ucapan Naya, Damar menghela napas pasrah. Rupanya benteng pertahanan istrinya ini jauh lebih tebal dari yang ia bayangkan. Uang dua miliar itu benar-benar sudah melekat erat di otak Naya!
"Saya tidak minta kamu mengurangi nominalnya," balas Damar seraya menatap lurus ke jalan raya, mencoba menutupi gengsinya yang terkoyak.
"Yaudah deh, makasih bunganya ya Mas Kulkas!" Naya mengelus kelopak bunga mawar itu seraya bersandar nyaman. "Sekarang kita mau langsung pulang ke rumah, kan?"
Damar menggeleng pelan. "Tidak. Saya sudah menyiapkan tempat untuk kita malam ini."
Naya menaikkan sebelah alisnya, penasaran dengan rencana kejutan berikutnya dari sang suami yang mendadak berubah mode menjadi pria romantis ini.
_Bersambung