NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Setelah mobil Arlan menghilang di balik gerbang besar kediaman Dirgantara, Karin finally bisa menghela napas lega. Bahunya yang tegang turun, dan ia melakukan peregangan ringan di tengah ruang tamu yang megah.

"Akhirnya sendirian," gumamnya, merenggangkan lengan. "Berpura-pura jadi idiot ternyata lebih melelahkan daripada skripsi tingkat akhir."

Namun, ia segera ingat bahwa ada beberapa pelayan yang lalu-lalang. Dengan cepat, Karin mengambil sebuah penyiram tanaman dari sudut ruangan dan berjalan menuju taman indoor di samping ruang keluarga. Ia mulai menyiram anggrek mahal milik Arlan, tapi bukannya menyiram tanah, ia justru menyemprotkan air ke daun-daunnya sambil berbisik.

"Makan yang banyak ya, Daun. Nanti kalau Kak Arlan pulang, aku bilang kalian ini pohon uang. Biar kita kaya raya dan bisa beli bakso satu gerobak."

Bu Marta yang sedang membersihkan meja di dekat sana hanya bisa tersenyum tipis. Nyonya kecil ini memang aneh, tapi setidaknya pagi ini ia tidak memecahkan vas bunga.

Keheningan pagi itu tiba-tiba pecah oleh suara derit pintu depan yang terbuka, diikuti oleh suara langkah kaki hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer.

"Karin! Kamu di mana?"

Karin menoleh. Berdiri di sana adalah Citra, adik perempuan Arlan yang selalu bermakeup tebal dan berbau parfum menyengat. Di sebelahnya, berdiri Vanessa dengan gaun pastel yang terlihat sangat rapuh dan lembut. Kombinasi maut: adik ipar yang benci padanya dan pelakor yang ingin mengambil alih posisinya. Dalam novel, mereka berdua sering datang untuk membully tokoh asli Karin.

Oke, Karin. Fokus. Ingat aturan nomor dua.. Jika diserang, jangan membalas dengan kemarahan. Balas dengan kebingungan, batin Karin, segera memasang wajah polos dan melebarkan senyumnya.

"Mbak Citra! Mbak Vanessa!" sapa Karin riang, meninggalkan penyiram tanamannya dan berlari kecil menghampiri mereka. "Kalian mau main? Aku lagi ajarin pohon anggrek ini cara bernapas lho."

Citra memutar matanya, ekspresi jijik jelas terpancar di wajahnya. "Ya ampun, Karin. Kamu ini benar-benar tidak punya otak, ya? Arlan pasti stres berat punya istri seperti kamu. Lihat dirimu, bajunya berantakan, basah pula."

Vanessa segera memegang lengan Citra, memainkan peran pendamai yang sempurna. "Citra, jangan begitu. Mungkin Kak Karin hanya sedang... berekspresi. Kak Karin, kamu baik-baik saja kan? Kak Arlan tidak marah kan semalam?"

Pertanyaan Vanessa terdengar manis, tapi Karin tahu itu adalah jebakan. Vanessa ingin memastikan apakah Arlan sudah mulai muak padanya, atau mungkin mencari celah untuk melaporkan "kegilaan" Karin pada Arlan.

Karin memiringkan kepalanya, menatap Vanessa dengan tatapan polos. "Marah? Kak Arlan nggak marah kok, Mbak Vanessa. Tadi malam Kak Arlan malah senyum."

Citra tertawa meremehkan. "Senyum? Arlan? Kamu pasti berhalusinasi. Kakakku itu bukan manusia, dia robot es batu!"

"Tapi beneran, Mbak Citra!" protes Karin, wajahnya terlihat sangat serius. "Tapi senyumnya tipis banget, cuma naik sedikit di ujung bibir. Persis kayak silet. Mbak Vanessa, silet itu buat apa sih? Kalau buat senyum, nggak sakit apa? Nanti kalau bibir Kak Arlan luka, aku mau plester pakai permen karet aja."

Wajah Vanessa yang biasanya tenang mendadak berkedut. Ia teringat panggilan telepon pagi ini di mana Karin secara tidak "sengaja" menyinggung soal ojek online yang belum dibayar. Apakah wanita gila di depannya ini sedang menyindirnya?

"Tentu saja sakit, Kak Karin," jawab Vanessa dengan gigi terkatup rapat. "Tapi... Arlan kan orang kuat. Dia tidak akan terluka oleh hal-hal kecil."

"Oh, kalau Kak Arlan kuat, berarti Kak Arlan bisa makan silet dong?" tanya Karin dengan mata berbinar, benar-benar terlihat seperti anak kecil yang sedang bertanya tentang hal ajaib. "Wah, hebat banget! Nanti malam aku mau masak silet buat makan malam Kak Arlan. Mbak Vanessa mau ikut makan nggak?"

Citra tidak bisa lagi menahan diri. Ia melangkah maju, menatap Karin dengan tatapan penuh kebencian. "Kamu ini dengar baik-baik, Karin! Arlan itu pria paling sukses, dan kamu itu beban! Kamu itu bodoh, tidak berguna, dan hanya tahu merepotkan! Kamu mengerti? Bodoh!"

Ruangan menjadi hening. Bu Marta di kejauhan menahan napas, bersiap untuk melihat Karin menangis histeris seperti biasanya.

Namun, Karin hanya berkedip. Ia menatap Citra, lalu menatap gaun Citra yang berwarna merah mencolok, dan kembali menatap Citra.

"Wah..." gumam Karin kagum.

Citra mengerutkan kening. "Wah apa?"

"Mbak Citra pintar sekali!" puji Karin tulus. "Mbak Citra tahu nggak, aku tadi mikir, kenapa ya Mbak Citra ini kalau ngomong cepat banget dan suaranya nyaring? Terus aku baru sadar, Mbak Citra itu mirip banget sama burung beo! Cantik, warna bajunya cerah, tapi sayangnya... cuma bisa ngulang omongan orang dan berisik. Itu pujian lho, Mbak Citra! Jarang lho ada orang yang mirip burung peliharaan!"

Citra terdiam, otaknya mencoba memproses apakah ia baru saja dipuji atau dihina. Sebelum ia bisa merespons, Karin sudah menepuk pundaknya.

"Tenang aja, Mbak Citra. Nanti aku minta Kak Arlan beliin sangkar emas buat Mbak Citra, biar makin mirip beo!"

"Mbak Vanessa, ayo kita pulang!" Citra berteriak frustrasi, berbalik badan dan berjalan cepat menuju pintu depan. Ia tidak bisa memukul orang gila, dan ia tidak bisa berdebat dengan orang yang logikanya berada di dimensi lain.

Vanessa menatap Karin dengan tatapan dingin yang sekilas luput dari ekspresi manisnya, lalu mengikuti langkah Citra. "Jaga kesehatan, Kak Karin," ucapnya singkat sebelum pergi.

Setelah mobil mereka pergi, Karin menghela napas panjang, menyeka keringat dingin di dahinya. Fiuuh. Hampir saja. Kalau aku marah, mereka pasti lapor ke Arlan kalau aku mulai sadar dan jadi ancaman. Dengan begini, Arlan pasti dengar laporan bahwa aku masih sama idiotnya.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!