NovelToon NovelToon
NATIONAL PROTECTION

NATIONAL PROTECTION

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:411
Nilai: 5
Nama Author: Zapdos

seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMA PERANG SUCI

​Jauh di atas awan, tersembunyi dari pandangan manusia biasa oleh tirai sihir pembias cahaya, mengambanglah sebuah keajaiban arsitektur yang diklaim sebagai surga terakhir umat manusia. Eden. Ibu kota melayang Benua Tengah, pusat komando Asosiasi Pemburu Dunia, dan takhta mutlak bagi Sang Hakim Suci, Arthur.

​Berbeda dengan Sektor Pusat yang diselimuti asap pabrik dan debu jalanan, Eden memancarkan cahaya putih keemasan yang abadi. Bangunan-bangunannya terbuat dari pualam suci, jalanannya dialiri oleh air mana murni yang menyembuhkan segala penyakit, dan langitnya selalu biru tanpa awan gelap. Namun, di balik keindahan artifisial tersebut, tercium bau kemunafikan yang sangat pekat.

​Di tengah kota melayang itu, menjulang Istana Hukum. Di ruang takhta raksasa yang dihiasi jendela kaca patri bergambar malaikat bersayap enam, Arthur duduk dalam diam. Pria berusia pertengahan empat puluhan itu mengenakan jubah putih bertahtakan berlian. Wajahnya tampan, tanpa cela, seolah menolak untuk menua berkat radiasi sihir suci tingkat tinggi. Levelnya berada di angka 198, menjadikannya eksistensi terkuat secara resmi dalam hierarki manusia.

​Namun pagi ini, wajah sempurna itu berkerut menahan amarah yang meledak-ledak.

​Di hadapannya, sebuah proyeksi hologram komunikasi berkedip-kedip. Proyeksi itu menampilkan wajah Lord Vane yang babak belur, hidungnya patah, dan wajahnya dipenuhi memar ungu. Politisi kotor dari Sektor Pusat itu menangis tersedu-sedu saat melaporkan kejadian di Rumah Pelelangan Bawah Tanah semalam.

​"Dia merampas semuanya, Yang Mulia!" ratap Vane, air matanya bercampur dengan darah kering. "Seluruh dana taktis Phoenix dan Titan, artefak relik suci Anda... semuanya dihancurkan! Pemuda itu... dia menggunakan petir berwarna hitam! Dia bilang... dia bilang Kaisar telah kembali untuk menagih takhtanya!"

​Mendengar kalimat terakhir itu, Arthur mencengkeram tangan singgasananya. Batu pualam sekeras berlian itu retak di bawah jari-jarinya.

​"Tutup mulutmu, babi gemuk," desis Arthur, suaranya yang merdu berubah menjadi racun. "Kau membiarkan seorang pemuda rendahan menghancurkan operasi sepuluh tahunku, dan kau berani mengulang nama itu di hadapanku?"

​Arthur menjentikkan jarinya, dan sebuah panah cahaya menembus proyeksi hologram tersebut, memutus komunikasi dari Sektor Pusat secara paksa. Ruang takhta kembali sunyi, menyisakan napas Arthur yang memburu.

​Sang Hakim Suci bangkit dari takhtanya. Ia berjalan mondar-mandir dengan langkah gelisah. Petir hitam. Kaisar telah kembali. Kata-kata itu terus berputar di dalam tengkoraknya seperti kaset rusak.

​"Tidak mungkin. Mustahil," gumam Arthur, matanya membelalak dipenuhi paranoia. "Aku melihatnya mati! Aku sendiri yang mematikan formasi penyembuhannya! Tubuhnya dihancurkan oleh tombak Calamity, jiwanya dikutuk oleh Astaroth, dan abunya disapu bersih oleh api Seraphim! Tidak ada mantra kebangkitan yang bisa mengembalikan jiwa yang telah terkoyak!"

​Namun, fakta bahwa Astaroth mati di Gurun Kematian kemarin... dan kini, kemunculan pemuda pengguna petir hitam di Sektor Pusat. Terlalu banyak kebetulan. Arthur adalah pria yang cerdas; ia tidak pernah percaya pada kebetulan.

​"Jika dia benar-benar bereinkarnasi... jika monster itu hidup kembali dengan ingatan masa lalunya..." Arthur menelan ludah, membayangkan kengerian mutlak saat sang Kaisar Kilat menatapnya. Di masa lalu, bahkan ketika Arthur berada di Peringkat Kedua, ia selalu merasa seperti serangga di hadapan sang Peringkat Pertama.

​Arthur berhenti mondar-mandir. Wajahnya kembali mengeras, menutupi terornya dengan arogansi seorang diktator.

​"Tidak. Aku tidak akan membiarkan hantu masa lalu menghancurkan utopiaku," desis Arthur. Ia mengangkat tangan kanannya, mengalirkan mana sucinya ke dalam cincin komunikasi global di jarinya.

​"Kaelen," panggil Arthur, suaranya menggema melalui frekuensi rahasia. "Datang ke ruang takhta. Sekarang."

​Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, pintu raksasa ruang takhta terbuka. Sesosok pria tegap dengan rambut emas panjang melangkah masuk. Ia mengenakan zirah perak yang terbakar oleh api suci tanpa henti. Di punggungnya, tersarung dua bilah pedang raksasa bersinar terang.

​Ini adalah Kaelen, The Sun Blade. Pahlawan Nasional Peringkat Ketujuh. Level 165. Salah satu anjing penjaga paling setia milik Arthur, seorang fanatik doktrin cahaya yang percaya bahwa Arthur adalah mesias umat manusia.

​"Anda memanggil hamba, Sang Hakim?" Kaelen menunduk hormat, berlutut dengan satu kaki.

​"Ada wabah bidaah yang menyebar di Sektor Pusat," ucap Arthur, memutar balikkan fakta dengan mudahnya. "Sebuah kelompok teroris bernama Rishing Guild telah merampok rumah pelelangan, menyandera para donatur Asosiasi, dan menghancurkan artefak suci kita. Mereka adalah agen penyembah iblis yang menggunakan sihir gelap untuk memanipulasi pikiran."

​Mata Kaelen menyipit, dipenuhi kemarahan yang suci. "Agen iblis? Di dalam perbatasan kota manusia? Asosiasi Sektor Pusat pasti sudah buta. Apa perintah Anda, Yang Mulia?"

​"Bawa Resimen Inkuisitor Pertama," perintah Arthur tanpa ragu. Resimen itu adalah pasukan kematian elit yang terdiri dari lima ribu petarung Third Job garis keras. "Berangkat ke Sektor Pusat. Aktifkan Protokol Pemurnian. Aku ingin kau menghancurkan Rishing Guild, membumihanguskan setiap orang yang pernah berhubungan dengan mereka, dan membawa kepala pemimpin mereka—pemuda pengguna petir hitam—ke hadapanku. Jangan biarkan dia hidup cukup lama untuk berbicara."

​"Kehendak Anda adalah hukum, Yang Mulia. Mereka akan terbakar menjadi abu sebelum matahari terbenam." Kaelen menunduk sekali lagi, lalu berbalik pergi untuk memanggil pasukannya.

​Arthur kembali duduk di takhtanya, menatap keluar jendela ke arah awan putih di bawah Eden. Tangannya masih sedikit gemetar. "Siapa pun dirimu, Nak... kau akan mati untuk yang kedua kalinya."

​Sementara itu, di lantai dasar penthouse Keluarga Valerius, Sektor Pusat.

​Gunung harta karun menggunung di tengah ruang tamu yang luas. Kantong magis Bastian ternyata menyimpan kekayaan yang melampaui imajinasi terliar mereka. Tumpukan batangan emas murni, kristal mana berwarna-warni tingkat tinggi, buku sihir langka, sertifikat tanah, hingga ramuan alkimia berusia ratusan tahun berserakan di atas karpet Persia mahal.

​Bastian berbaring di atas tumpukan emas itu, tertawa kegirangan seperti naga yang baru saja menemukan sarangnya.

​"Andre, kau benar-benar tahu cara berbelanja!" seru Bastian, melempar sekeping koin emas ke udara dan menangkapnya. "Kekayaan di ruangan ini cukup untuk membeli Sektor Pusat dua kali lipat! Phoenix dan Titan pasti sedang menangis darah di markas mereka sekarang."

​Di sudut ruangan, Marvin sedang duduk bersila, mengabaikan emas dan perhiasan, matanya sepenuhnya terfokus pada setumpuk kristal mana berwarna ungu pekat yang merupakan bahan dasar untuk sihir racun mematikan. "Kak, dengan kristal-kristal ini, aku bisa meningkatkan radius Plague Domain-ku hingga lima ratus meter tanpa harus menguras mana intiku. Aku bahkan bisa membuat benteng racun permanen di sekitar penthouse ini."

​Andre duduk santai di sofa, menyesap kopi panas yang baru saja dibuatkan oleh sistem otomatis ruangan. Ia tidak peduli pada emas atau perhiasan. Uang hanyalah alat; tujuannya telah tercapai. Dengan dihancurkannya pasar gelap itu, aliran dana kampanye dan logistik rahasia Arthur di Sektor Pusat telah terputus total.

​Tiba-tiba, suara alarm darurat berbunyi nyaring di seluruh ruangan. Layar interkom di dinding menyala secara otomatis, menampilkan wajah Marcus yang pucat pasi dan berkeringat dingin. Sang Direktur Eksekutif tampak sangat panik, latar belakangnya menunjukkan ruang komando Asosiasi yang sedang dalam kekacauan total.

​"Andre! Valerius! Apa yang kalian lakukan semalam?!" teriak Marcus, bahkan lupa menggunakan formalitas. "Sistem radar satelit mendeteksi pergerakan masif dari Benua Tengah! Resimen Inkuisitor Pertama dari Eden sedang bergerak menuju Sektor Pusat dengan Armada Kapal Perang Suci!"

​Bastian langsung terduduk dari tumpukan emasnya. "Resimen Inkuisitor? Pasukan algojo pribadi Arthur?"

​"Bukan hanya mereka!" Marcus menelan ludah, suaranya bergetar. "Pasukan itu dipimpin langsung oleh Pahlawan Nasional Peringkat Ketujuh, Kaelen sang Pedang Matahari! Mereka membawa mandat 'Protokol Pemurnian'. Mereka berencana meratakan seluruh Sektor 1 hanya untuk membunuh kalian!"

​Mendengar nama Protokol Pemurnian, wajah Bastian berubah pucat. Protokol itu adalah hukum absolut Asosiasi Dunia yang mengizinkan pembantaian warga sipil tanpa pandang bulu di wilayah yang dianggap telah 'terinfeksi'. Arthur tidak peduli berapa banyak orang tak bersalah yang mati di Sektor 1, selama Andre hancur.

​"Direktur," suara Andre terdengar tenang, sangat kontras dengan kepanikan di ruangan itu. Ia meletakkan cangkir kopinya. "Berapa lama sampai mereka tiba di batas wilayah udara Sektor Pusat?"

​"Kurang dari dua jam! Kecepatan armada mereka melampaui batas normal," jawab Marcus panik. "Andre, kalian harus mengungsi! Kaelen berada di Level 165! Dia adalah pengguna elemen cahaya destruktif yang bisa melelehkan kota. Asosiasi Sektor Pusat tidak memiliki otoritas maupun kekuatan untuk menghentikan Pahlawan Nasional!"

​"Aku tidak menyuruhmu menghentikan mereka, Marcus," ucap Andre datar. Ia berdiri dari sofa, matanya memancarkan kegelapan yang membuat layar interkom itu sedikit mengalami gangguan statis. "Evakuasi seluruh warga sipil di Sektor 1 dan Sektor 2. Tarik semua pasukanmu ke barisan belakang. Kosongkan langit Sektor Pusat."

​"K-kau mau menghadapi mereka? Satu resimen penuh dan Pahlawan Peringkat Ketujuh?!"

​"Mereka datang mencari monster, Marcus," bisik Andre, ujung bibirnya melengkung membentuk senyuman yang sangat mengerikan, memancarkan niat membunuh yang melampaui logika manusia. "Dan sangat tidak sopan jika aku tidak menyambut mereka di pintu depan."

​Andre memutuskan komunikasi tersebut. Ia menoleh ke arah Bastian dan Marvin yang sudah berdiri tegap, meninggalkan harta rampasan mereka. Tidak ada lagi rasa panik di mata kedua pemuda itu. Tempaan darah di Gurun Kematian telah mengubah mental mereka menjadi pejuang mutlak.

​"Arthur sudah kehilangan kesabarannya. Ia mengirim anjing pesuruhnya untuk menggonggong di halaman kita," ucap Andre, mencabut Nocturne sejengkal dari sarungnya. Bunyi gesekan logam itu berdesing memekakkan telinga. "Ayo, Rishing Guild. Kita ajari pahlawan palsu itu bahwa cahaya tidak akan pernah bisa menembus bayangan absolut."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!