NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Berlari Ketakutan

"Kalau kamu sudah berhasil menemukannya nanti, jangan pernah lupa untuk segera memberitahu aku. Dan yang paling penting... jangan pernah sekali-kali melepaskannya jika kamu sudah menemukannya."

Ethan seketika terdiam membisu mendengar petuah serius itu. Sisa suara tawanya mendadak tertahan dan tercekat di kerongkongan. Ia menatap lekat-lekat telapak tangan Alan yang masih bertengger di bahunya, lalu beralih menatap wajah kaku sahabatnya. Ingin rasanya ia kembali tertawa terbahak-bahak untuk merusak suasana serius ini.

Namun, di dalam hati ia merasa tidak tega untuk menghancurkan momen penuh ketulusan yang baru saja diciptakan oleh Alan. Alhasil, ia hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah dan menganggukkan kepalanya dengan kaku. Pria berambut biru itu mencoba menyembunyikan rasa canggung yang mendadak menyerang di balik kegelapan malam hutan.

"Membicarakan soal pasangan... jujur saja aku juga sudah sangat merindukan anak dan istriku di rumah," gumam Alan tiba-tiba. Nada suaranya mendadak lesu.

Sudah genap lima bulan lamanya ia terpaksa meninggalkan dimensi kediaman mereka di Alfheim demi menjalankan misi suci mencari keberadaan anak dari Edmond dan Lucia—sahabat karib mendiang ayahnya.

Ethan sontak menolehkan wajahnya. Ekspresi jenaka di paras tampannya kini kembali mendatar sempurna, berganti menjadi sorot menilai.

"Kalau begitu, sebaiknya kamu segera pulang saja besok pagi, Alan. Apa kamu tidak memiliki rasa kasihan sedikit pun karena telah meninggalkan Stefany dan Scarlett terlalu lama sendirian di sana? Kalau posisi hukumnya aku menjadi dirimu, aku bersumpah tidak akan pernah tega meninggalkan istri secantik dan seanggun Stefany sendirian tanpa perlindungan dari suaminya."

"Aku sama sekali tidak berniat untuk menelantarkan mereka, Ethan. Besok hari Rabu, aku akan mulai mempertimbangkan dengan serius untuk menghentikan pencarian ini sementara waktu dan segera pulang," sahut Alan membela diri.

Ethan tersentak, lalu sebuah seringai menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Hari Rabu? Hanya hari itu saja yang berhasil diingat oleh otak tuamu? Ck, ck, ck. Sampai tanggal hari ulang tahun anak perempuanmu sendiri saja kamu bisa lupa seperti ini. Padahal aku yang statusnya bukan ayah kandungnya saja masih mengingatnya dengan sangat jelas di luar kepala," cibir Ethan.

Alan membulatkan sepasang matanya sempurna akibat terkejut yang luar biasa. Ia langsung dengan cepat menepuk keningnya sendiri dengan sangat keras.

"Sialan! Kenapa aku bisa sampai melupakan hari sepenting itu?!" rutuk Alan pada dirinya sendiri.

"Itulah alasan utama kenapa kamu harus segera angkat kaki dari dunia manusia ini dan pulang besok pagi," potong Ethan cepat, menutup perdebatan mereka.

Ia kemudian menjulurkan jari tangannya yang panjang, menunjuk ke arah hamparan ladang gandum yang sangat luas yang membentang di sisi kanan jalur mereka.

"Sebaiknya sekarang kita mulai mencari tempat persinggahan terdekat di desa ini. Hari sudah teramat sangat gelap dan kita sama sekali tidak mengetahui seluk-beluk geografis tempat ini. Hutan liar di seberang sungai itu bisa saja dihuni oleh makhluk supernatural asing yang tidak ramah pada presensi kita."

Alan menganggukkan kepala tanda setuju. Meskipun memiliki kekuatan fisik yang luar biasa besar, ia tidak ingin membuang energinya untuk terlibat dalam bentrokan yang tidak perlu dengan kawanan Pemburu Roh atau penyihir jahat pada malam hari ini.

"Baiklah, aku akan menghentikan proses pencarian anak sahabat ayahku untuk sementara waktu malam ini. Besok pagi-pagi sekali, aku akan langsung bertolak pulang ke Alfheim. Aku sudah benar-benar tidak sabar untuk—"

BRUKK!

Suara hantaman keras yang berasal dari area tengah hamparan ladang jagung mendadak memotong kalimat Alan. Suara debuman itu terdengar cukup solid, merefleksikan sebuah objek berukuran besar yang baru saja jatuh terjerembap menghantam permukaan tanah gembur.

Atensi kedua pemuda itu secara instan langsung teralih sepenuhnya ke arah barisan batang jagung yang menjulang tinggi. Batang-batang tersebut kini tampak bergoyang tidak beraturan akibat adanya gesekan fisik.

Ethan secara refleks langsung memasang posisi kuda-kuda bertarung yang kokoh. Sepasang manik matanya mendadak berkilat memancarkan warna merah darah yang mengerikan di balik kegelapan malam.

"Suara apa itu?" bisiknya penuh kewaspadaan.

Ethan menajamkan seluruh indra pendengaran supernaturalnya. Pandangan matanya tertuju lurus tanpa berkedip ke arah rimbunnya barisan batang jagung yang membatasi jalan setapak mereka. Daun-daun jagung yang kering terdengar saling bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara kresek-kresek yang teramat janggal di tengah kesunyian malam yang pekat.

Dari posisi berdiri saat ini, baik Alan maupun Ethan sama sekali tidak bisa melihat dengan jelas sosok gerangan makhluk apa yang baru saja terjatuh di dalam sana. Apakah objek tersebut merupakan manusia biasa yang tersesat, atau sekadar hewan liar hutan yang sedang mencari makan?

"Mungkin suara itu hanya berasal dari seekor hewan liar yang suka merusak tanaman sayuran warga," cetus Alan tenang.

Tidak ada sedikit pun gurat ketakutan ataupun kecurigaan yang berlebih di wajah rupawannya. Ia berasumsi bahwa suara debuman berat tadi kemungkinan besar hanyalah berasal dari musang pohon berukuran besar atau babi hutan yang terpeleset saat berebut makanan.

Ethan menyipitkan sepasang matanya tajam. Insting wolf dominan di dalam jiwanya merespons fenomena ini dengan cara berbeda. Ada sinyal bahaya yang samar berkecamuk di indranya.

"Kita masuk dan buktikan saja secara langsung dengan mata kita sendiri. Mari kita lihat apakah benar objek yang barusan terjatuh itu hanyalah seekor hewan liar biasa," tantangnya berani.

Tanpa perlu menunggu kalimat persetujuan dari Alan, Ethan secara instan langsung melesat maju. Ia membelah barisan rapat batang jagung yang menjulang tinggi dengan gerakan yang teramat gesit.

Alan memilih diam bergeming di tempatnya berdiri semula. Ia berdiri kokoh dengan kedua tangan bersedekap di depan dada sambil memandangi siluet punggung Ethan yang perlahan-lahan mulai tertelan sepenuhnya oleh kegelapan ladang.

Alan memutuskan untuk menunggu di luar. Ia tidak merasa perlu ada hal yang dikhawatirkan secara berlebih. Ia memiliki keyakinan mutlak bahwa Ethan memiliki kemampuan bertarung yang lebih dari cukup untuk menghadapi ancaman apa pun.

Namun, di area tengah ladang jagung yang terasa pengap oleh aroma tanah basah, langkah kaki Ethan secara mendadak terkunci mati. Seluruh pasokan napas di dalam tenggorokannya seolah tertahan paksa ketika sepasang netra merahnya menangkap siluet sesosok pria yang saat ini sedang terduduk lemas tak berdaya di atas tanah gembur.

Meskipun malam telah larut dan kegelapan pekat menyelimuti seluruh area ladang terpencil tersebut, kemampuan adaptasi penglihatan malam (night vision) super yang dimiliki oleh ras Werewolf membuat Ethan bisa melihat detail wujud pria di depannya dengan sangat jelas.

Pria asing itu tampak berada dalam kondisi yang sangat berantakan dan mengenaskan. Pakaian beludru mewahnya yang bertakhtakan benang perak kini telah dipenuhi oleh noda tanah hitam, rambut cokelat gelapnya acak-acakan, dan rona wajahnya tampak putih pucat pasi seolah kehabisan darah.

Namun, sialnya bagi Ethan, ia mengenali dengan sangat baik struktur wajah tersebut. Sebuah pengenalan identitas yang secara instan mengirimkan gelombang rasa dingin menusuk yang dahsyat ke sekujur tulang belakang dan sumsum jiwanya. Pria itu...

Ethan perlahan-lahan mengambil langkah mundur dengan gerakan teramat pelan. Kedua kakinya bahkan terasa bergetar hebat saat tak sengaja menginjak dedaunan jagung yang kering di bawahnya.

Ia tahu betul bahwa pria yang saat ini sedang terduduk lemas di hadapannya merupakan sosok entitas yang amat sangat berbahaya di dunia supernatural. Seorang penguasa absolut yang namanya selalu diasosiasikan dengan kekejaman tanpa ampun dan kekuatan penghancur massal.

Sebelum situasi berubah menjadi terlambat dan sebelum pria berbahaya itu menyadari eksistensi dirinya di tempat ini, Ethan mengambil keputusan mutlak untuk menghindar. Ia harus segera melarikan diri menjauh sejauh mungkin dari ladang ini sebelum nyawanya terancam.

Namun, reaksi spontan yang ditunjukkan oleh pria misterius yang baru bangkit dari es itu justru di luar dugaan Ethan. Begitu sepasang manik mata hitam pekatnya menangkap kehadiran sosok pemuda berambut biru di hadapannya, gurat wajah pucat pria misterius itu justru mendadak berbinar cerah.

Sepasang manik matanya yang beberapa detik lalu tampak redup, kini memancarkan secercah harapan besar. Ia seolah-olah baru saja melihat sesosok malaikat penyelamat yang turun dari langit di tengah-tengah kebingungan dan kelemasan jiwanya yang mendalam.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada di depan mata, pria itu mengerahkan seluruh sisa tenaga fisik yang tersisa di dalam tubuhnya untuk bangkit. Ia mulai merangkak bangun dengan payah dan mencoba mendekati posisi Ethan.

Namun, gerakan maju yang ditunjukkan oleh pria berbahaya itu justru membuat tingkat kepanikan di dalam dada Ethan melonjak drastis hingga ke titik maksimal. Jantung werewolf-nya berdegup dengan ritme yang teramat kencang menabrak dinding rongga dadanya.

Tanpa memikirkan harga diri atau reputasinya lagi sebagai seorang calon Alpha dominan yang terhormat, Ethan secara instan langsung membalikkan tubuhnya. Ia mengambil langkah seribu, berlari melesat sekencang-kencangnya membelah ladang jagung, meninggalkan area tersebut secepat mungkin. Yang ada di dalam benaknya saat ini hanyalah satu hal mutlak: ia harus selamat dan lari sejauh mungkin dari jangkauan pria mengerikan itu.

Pria misterius yang ditinggalkan pergi begitu saja hanya bisa tertegun membisu di tempatnya. Ia menatap lurus ke arah siluet punggung Ethan yang kian menjauh dengan pancaran tatapan mata bingung yang terkesan teramat menyedihkan dan rapuh.

'Kenapa... kenapa pemuda berambut biru itu mendadak berlari ketakutan seperti itu saat melihatku? Apakah auraku begitu mengerikan, ataukah dia mengira jika aku ini adalah sesosok hantu malam?'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!