Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sinar matahari pagi menembus celah tirai jendela kamar kos Bima yang sempit.
Suara bising klakson kendaraan dari jalan utama kota mulai terdengar bersahutan.
Bima membuka matanya perlahan dan meregangkan kedua lengannya ke atas.
Dia menatap langit-langit kamarnya yang sedikit mengelupas di bagian sudut.
'Rasanya sungguh aneh bangun di kasur keras ini padahal saldoku ada lima puluh miliar,' batin Bima sambil tersenyum geli.
Dia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi kecil di ujung ruangan.
Air dingin langsung menyegarkan tubuh dan pikirannya untuk menghadapi hari kedua pekerjaannya.
Setelah selesai bersiap, Bima kembali mengenakan setelan andalannya.
Kaus oblong hitam polos yang dilapisi kemeja flanel pudar kesayangannya.
Drrrtt drrrtt.
Ponsel di atas meja kecilnya bergetar panjang menampilkan sebuah pesan masuk.
Bima mengambil ponsel itu dan melihat nama pengirimnya.
Pesan itu berasal dari Nadhira, mantan bosnya yang super dingin.
"Bima, mobil dinasku masih di bengkel dan aku ada pertemuan penting pagi ini."
"Jemput aku di Apartemen Nirvana jam delapan tepat, aku bayar argo seharian penuh."
Bima membaca pesan bernada perintah itu dengan alis terangkat satu.
"Dia pikir aku ini sopir pribadinya yang bisa disuruh-suruh sesuka hati," gumam Bima santai.
Namun Bima tidak menolak tawaran tersebut.
Mengantar Nadhira seharian pasti akan memberikan penyelesaian tugas yang lebih cepat dan aman dari orang-orang aneh.
Bima membalas pesan itu dengan singkat.
"Argonya pakai argo VIP, Bu. Saya meluncur sekarang."
Bima berjalan keluar dari gang kosannya menuju area parkir berbayar di ujung jalan.
Dia memang sengaja menyewa lahan parkir di sana karena jalanan kosannya terlalu sempit untuk dilewati mobil.
Sebuah Lamborghini Urus hitam pekat terparkir gagah di antara deretan mobil biasa lainnya.
Cklik cklik.
Bima membuka kunci otomatisnya dan masuk ke dalam kabin mewah tersebut.
Mesin menderu halus saat Bima memutar kemudinya membelah kemacetan pagi.
Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di kawasan Apartemen Nirvana.
Itu adalah salah satu apartemen paling elit dan mahal di pusat kota.
Bima menghentikan mobilnya tepat di depan lobi utama apartemen yang sangat megah.
Dia mematikan mesin sejenak dan bersandar di pintu mobil sambil menunggu Nadhira turun.
Tuk tuk tuk.
Suara ketukan keras di kaca jendela mengejutkan Bima.
Bima menurunkan kaca jendelanya dan melihat seorang pria berjas rapi berdiri dengan wajah angkuh.
Pria itu menatap Bima dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Hei, sopir."
"Pindahkan mobil bosmu ini sekarang juga, tempat ini khusus untuk penghuni VIP."
Pria berjas itu menunjuk ke arah belakang di mana sebuah mobil sedan Mercedes putih terparkir menunggu.
Bima melirik pria itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Lobi ini tempat turun naik penumpang, bukan tempat parkir pribadi."
"Lagipula saya sedang menunggu penumpang saya turun," jawab Bima tenang.
Wajah pria berjas itu langsung memerah karena merasa dilawan oleh seorang sopir.
"Kamu tidak tahu siapa saya?"
"Saya Kevin, manajer investasi di perusahaan sekuritas terbesar di kota ini."
"Mobil bosmu ini menghalangi jalan mobil saya, dasar sopir tidak tahu diri!"
Bima menghela napas panjang mendengar teriakan pria bernama Kevin itu.
'Kenapa orang-orang kaya di kota ini selalu suka pamer jabatan sebelum marah-marah?' batin Bima keheranan.
"Dengar, Pak Kevin yang terhormat."
Bima membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar, berdiri berhadapan langsung dengan pria itu.
"Satu, ini bukan mobil bos saya, ini mobil saya sendiri."
"Dua, kalau mobil Anda tidak bisa lewat, berarti Anda yang tidak bisa menyetir karena ruang di sebelah kanan masih sangat luas."
Kevin tertawa meremehkan mendengar jawaban Bima.
"Mobilmu sendiri?"
"Jangan bercanda, pakaianmu saja seperti gembel jalanan."
"Paling-paling kamu cuma sopir sewaan yang disuruh bosmu untuk menjemput wanita simpanannya di sini."
Ucapan Kevin terhenti saat suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar dari arah pintu lobi.
Nadhira berjalan keluar dengan anggun mengenakan setelan blazer biru dongker yang sangat elegan.
Wajah dinginnya langsung berubah sedikit terkejut melihat keributan kecil di dekat mobil Bima.
"Nadhira? Kebetulan sekali kita bertemu di sini pagi ini," sapa Kevin dengan nada yang mendadak berubah ramah.
Kevin rupanya mengenal Nadhira dan sudah lama berusaha mendekati wanita itu.
Nadhira hanya mengangguk pelan sebagai formalitas tanpa membalas sapaan Kevin.
Dia langsung berjalan melewati Kevin dan menghampiri Bima yang masih bersandar di pintu mobil.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Bima," ucap Nadhira dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Kevin mematung di tempatnya melihat pemandangan itu.
Matanya terbelalak menatap Nadhira yang bersikap ramah pada pemuda berpakaian lusuh di depannya.
"Nadhira, kamu kenal dengan sopir kurang ajar ini?" tanya Kevin tidak percaya.
Nadhira menoleh menatap Kevin dengan kening berkerut tidak suka.
"Jaga ucapanmu, Kevin."
"Bima bukan sopir kurang ajar, dia temanku."
Nadhira sengaja menggunakan kata teman untuk menaikkan harga diri Bima di depan pria sombong itu.
Bima hanya tersenyum tipis mendengar pembelaan Nadhira.
"Teman? Nadhira, kamu jangan bercanda."
Kevin masih tidak mau kalah dan menunjuk ke arah mobil Bima.
"Dia pasti cuma sopir taksi online yang menyewa mobil ini untuk pamer."
"Lihat saja caranya parkir, sangat amatiran."
"Kalau kamu mau berangkat kerja, lebih baik ikut mobilku saja yang lebih aman dan nyaman."
Kevin menunjuk ke arah sedan Mercedes putihnya dengan bangga.
"Sopir sewaan sepertinya pasti tidak punya kemampuan menyetir yang bagus untuk mengawal direktur sepertimu."
Bima yang sejak tadi diam akhirnya memajukan langkahnya satu tindak.
Dia menatap Kevin dengan tatapan tajam yang membuat pria itu tanpa sadar mundur selangkah.
"Bagaimana kamu tahu kemampuanku lebih buruk darimu?" tanya Bima dengan suara pelan namun menekan.
Kevin menelan ludah, tapi harga dirinya menolak untuk mundur di depan Nadhira.
"Tentu saja aku tahu."
"Aku pernah ikut pelatihan mengemudi di luar negeri."
"Sedangkan kamu? Kamu paling cuma terbiasa membawa angkot di pinggiran kota."
Bima tertawa pelan, tawa yang penuh dengan nuansa ejekan murni.
Dia berjalan memutari tubuh Kevin dan mendekati sedan Mercedes putih milik pria itu.
"Pelatihan luar negeri ya?"
Bima menendang ban depan mobil Mercedes itu dengan ujung sepatunya.
Brak.
"Ban mobilmu kurang angin di bagian kiri depan."
"Kampas remmu juga sudah tipis karena bau hangusnya tercium sampai ke sini."
Bima menatap tajam ke arah mata Kevin yang mulai panik.
"Kalau kamu memacu mobil ini lebih dari seratus kilometer per jam di jalan tol nanti, kamu akan kehilangan kendali di tikungan."
"Jadi sebelum kamu mengkritik kemampuanku, urus dulu mobil rongsokanmu ini."
Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan kembali berjalan menuju mobilnya.
Kevin terdiam seribu bahasa, wajahnya pucat pasi.
Dia baru ingat kalau mekanik bengkelnya memang menyarankan penggantian kampas rem minggu lalu tapi dia mengabaikannya.
Bagaimana pemuda lusuh ini bisa tahu hanya dengan sekali lihat?
Nadhira yang menyaksikan semua itu menahan senyum puas di bibirnya.
Dia selalu benci dengan sikap sombong Kevin, dan melihat pria itu dipermalukan oleh Bima terasa sangat memuaskan.
"Ayo kita berangkat, Bima," ucap Nadhira sambil membuka pintu mobil.
"Tujuan kita ke Gedung Bursa Efek."
Bima mengangguk dan masuk ke kursi pengemudi.
Vrooom.
Lamborghini Urus itu melesat meninggalkan lobi apartemen, meninggalkan Kevin yang masih mematung menatap ban mobilnya sendiri.