Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Nama yang Tertinggal di Antara Kita
Alya tidak langsung pulang.
Kakinya membawanya menyusuri jalan setapak menuju pantai kecil di ujung kota—tempat yang dulu terlalu sering ia datangi bersama Arka. Tempat yang selalu ia hindari setiap kali pulang sebentar untuk libur Lebaran, seolah-olah pasirnya masih menyimpan jejak langkah mereka yang belum sempat terhapus.
Pagi sudah beranjak siang. Matahari memantul di permukaan laut seperti serpihan kaca yang berkilau. Angin membawa aroma asin yang akrab.
Alya berdiri di sana, menatap ombak yang datang dan pergi tanpa ragu.
Kenapa hidup tidak sesederhana itu?
Datang dan pergi. Tanpa sisa.
Tapi nyatanya, selalu ada sisa.
Nama yang tertinggal di hati.
Kenangan yang tidak sepenuhnya bisa dibuang.
Dira.
Nama itu terus bergema di kepalanya.
Nada suara perempuan tadi tidak terdengar posesif. Tidak juga canggung. Justru… terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah nyaman.
Dan yang paling mengganggu adalah kalimatnya—
“Oh, jadi ini Alya?”
Jadi?
Seberapa sering namanya disebut di antara mereka?
Alya menarik napas panjang. Ia membenci sisi dirinya yang mulai berandai-andai. Ia sudah dewasa. Seharusnya ia tidak kembali menjadi gadis tujuh belas tahun yang cemburu pada hal-hal yang belum jelas.
Tapi hati tidak pernah peduli pada usia.
Siang itu, Arka berdiri di depan kantor kecilnya dengan pikiran yang tidak sepenuhnya berada di sana.
Dira menyandarkan punggung di meja resepsionis, memperhatikannya diam-diam.
“Kamu kelihatan kayak orang habis dikejar utang,” katanya santai.
Arka tersenyum tipis. “Lebih rumit dari itu.”
“Alya?” tebak Dira tanpa ragu.
Arka menoleh. “Kamu ini cenayang ya?”
“Bukan. Tapi setiap kali kamu nyebut namanya, ekspresi kamu beda.”
Hening sebentar.
Dira bukan orang baru dalam hidup Arka. Ia sudah dua tahun bekerja bersamanya membangun usaha konsultan arsitektur kecil itu. Mereka sering lembur bersama. Sering makan malam bersama. Sering terlihat bersama.
Dan orang-orang mulai berasumsi.
Tapi asumsi bukanlah kenyataan.
“Dia salah paham tadi,” Arka berkata pelan.
“Karena aku?” Dira mengangkat alis.
Arka mengangguk.
Dira tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena sudah menduga. “Arka, kamu tahu kan dari awal aku cuma partner kerja?”
“Aku tahu.”
“Dan kamu juga tahu aku nggak pernah berharap lebih.”
Arka menatapnya penuh terima kasih. “Aku nggak pernah mau nyakitin siapa pun.”
Dira tersenyum lembut. “Kadang bukan soal mau atau nggak. Tapi soal kamu belum selesai sama masa lalu.”
Kalimat itu tepat sasaran.
Arka terdiam.
Belum selesai.
Ya, mungkin itu kata yang paling jujur.
Sore menjelang ketika Alya kembali ke rumah. Ibunya sudah tertidur di ruang tengah dengan televisi menyala pelan.
Alya mematikan TV itu perlahan dan menyelimuti ibunya. Ia menatap wajah yang semakin menua itu dengan perasaan campur aduk.
Waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun.
Termasuk cinta.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Dari Arka.
Boleh kita ngobrol sebentar malam ini? Aku nggak mau kamu salah paham.
Alya menatap layar itu cukup lama.
Hatinya ingin membalas cepat.
Egonnya ingin mengabaikan.
Ia akhirnya mengetik satu kalimat sederhana.
Di pantai.
Balasan datang hampir seketika.
Jam tujuh.
Langit malam di kota kecil itu selalu dipenuhi bintang lebih banyak daripada di kota besar tempat Alya tinggal lima tahun terakhir. Ia duduk di bangku kayu tua, mendengar suara ombak yang konsisten seperti detak jantung yang stabil.
Arka datang tepat waktu.
Ia tidak langsung duduk. Berdiri beberapa langkah dari Alya, seolah memberi ruang.
“Aku sama Dira nggak punya hubungan apa-apa selain kerja,” katanya tanpa basa-basi.
Alya tidak menoleh. “Aku nggak nanya.”
“Tapi kamu mikir.”
Hening.
Angin meniup rambut Alya hingga menutup sebagian wajahnya. Arka menahan diri untuk tidak merapikannya seperti dulu.
“Dia tahu tentang kamu,” lanjut Arka. “Karena kamu bagian dari hidupku yang nggak pernah hilang.”
Kalimat itu membuat dada Alya bergetar pelan.
“Aku nggak pernah cerita detail. Tapi namamu selalu ada di setiap keputusan besar yang aku ambil.”
Alya akhirnya menoleh. “Kenapa?”
“Karena kamu alasan aku belajar jadi lebih baik.”
Sunyi menggantung di antara mereka.
Bukan sunyi yang canggung.
Tapi sunyi yang penuh hal-hal tak terucap.
“Alya,” suara Arka lebih lembut sekarang, “aku nggak minta kamu percaya aku sekarang juga. Aku cuma mau jujur. Dira cuma rekan kerja. Nggak lebih.”
Alya menatap laut lagi.
“Aku cemburu tadi,” katanya pelan.
Arka tersenyum kecil. “Itu berarti masih ada rasa.”
“Jangan geer.”
“Aku nggak geer. Aku cuma berharap.”
Alya menghela napas panjang. “Aku butuh waktu.”
“Aku punya.”
Jawaban itu datang tanpa ragu.
Alya menoleh lagi, kali ini lebih lama. Ia mencoba membaca wajah Arka—mencari celah kebohongan, mencari tanda-tanda keraguan.
Tidak ada.
Yang ada hanya seseorang yang terlihat lelah… tapi tetap bertahan.
“Aku nggak janji apa-apa,” kata Alya.
“Aku juga nggak minta janji.”
Mereka duduk berdampingan. Jarak di antara mereka tidak lagi sejauh tadi pagi. Tapi belum juga sedekat dulu.
Dan mungkin, itu cukup untuk malam ini.
Sebelum pulang, Arka berkata pelan,
“Besok aku anter kamu sama Ibu kontrol.”
Alya hampir menolak.
Tapi kali ini, ia tidak ingin selalu jadi orang yang menjauh lebih dulu.
“Jam delapan,” jawabnya singkat.
Arka tersenyum. Bukan senyum kemenangan.
Tapi senyum seseorang yang akhirnya diberi kesempatan kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke kota ini—
Alya tidak merasa sedang berlari dari sesuatu.
Ia hanya… berjalan pelan ke arah yang mungkin belum pasti.
Namun di dalam hatinya, satu pertanyaan masih tersisa, lebih sunyi dari sebelumnya:
Jika cinta diberi kesempatan kedua,
apakah ia akan tumbuh lebih kuat—
atau justru lebih rapuh karena tahu rasanya kehilangan?
Malam itu, tidak ada jawaban.
Hanya dua hati yang memilih untuk tidak lagi pergi tanpa bicara.
Dan mungkin, itu sudah awal yang berbeda.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣