Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Hujan Darah di Lorong Buta
Di dalam lorong Tambang Besi Darah yang menelan segala bentuk cahaya, kematian memiliki baunya sendiri. Ia berbau seperti karat besi yang dicampur dengan daging yang dibiarkan membusuk di bawah terik matahari.
Iblis Darah Mutasi itu berdiri menjulang setinggi hampir tiga meter. Napasnya terdengar seperti embusan angin dari tungku pembakaran yang rusak, mengembuskan kabut merah tipis dari sela-sela taringnya. Sepasang matanya yang tidak memiliki pupil menatap Shen Yuan dengan rasa lapar yang murni dan purba.
Bagi makhluk ini, manusia di depannya bukanlah ancaman; ia hanyalah sekantong darah segar yang berjalan menyusuri lorong gelapnya.
"Darah... wangi..."
Suara parau Iblis itu bergema, menggetarkan debu di dinding-dinding batu. Tanpa peringatan apa pun, makhluk raksasa itu mengayunkan lengan kanannya yang kekar, melemparkan separuh mayat murid pengawas yang sedari tadi diseretnya lurus ke arah Shen Yuan.
Mayat itu melesat membelah udara layaknya proyektil batu seberat puluhan kati, meneteskan sisa darah hitam di sepanjang lintasannya.
Shen Yuan tidak bergeser satu inci pun dari tempatnya berpijak. Mata obsidiannya menatap mayat yang terbang ke arahnya dengan ketenangan yang membekukan.
Tepat ketika mayat itu berjarak sejengkal dari wajahnya, Shen Yuan mengangkat tangan kirinya dengan gerakan yang terlihat sangat lambat namun anehnya tiba lebih dulu. Ia tidak memukul, melainkan menempelkan telapak tangannya ke dada mayat tersebut.
Wush!
Energi emas gelap yang kini telah berwujud cairan padat di dalam Dantian-nya mengalir ke telapak tangan. Momentum lemparan monster yang mengerikan itu diserap, dialihkan, dan dinetralkan hanya dengan satu putaran pergelangan tangan. Mayat murid malang itu mendarat di atas tanah dengan sangat lembut, tanpa menimbulkan suara berdebum.
"Beristirahatlah," gumam Shen Yuan pelan pada sisa tubuh yang mengenakan seragam sektenya itu.
Mata Iblis Darah itu sedikit melebar. Otak primitifnya tidak bisa memproses bagaimana lemparan mautnya bisa dihentikan semudah menangkap daun gugur. Namun, insting membunuhnya jauh lebih cepat daripada akalnya.
BUM! BUM! BUM!
Lantai tambang bergetar hebat. Iblis Darah itu menerjang maju seperti gunung daging yang longsor. Jarak tiga puluh tombak dihabiskan hanya dalam tiga lompatan raksasa. Cakar tangan kanannya yang hitam dan melengkung tajam menyayat udara, mengarah lurus untuk membelah tubuh Shen Yuan menjadi dua bagian.
Langkah Penghancur Bayangan.
Shen Yuan tidak berniat menguji kekuatan fisik murni Iblis itu dengan menangkis. Ia menekan kaki kanannya ke tanah. Berbeda dengan saat ia masih di Lapisan Keenam di mana pijakannya selalu menghancurkan lantai, kali ini gerakannya tidak bersuara.
Qi cair di Lapisan Ketujuh memberinya kendali absolut. Energi itu tidak lagi meledak keluar secara liar, melainkan meresap ke dalam ototnya layaknya air raksa, memberikan dorongan hidrolik yang seketika melontarkan tubuhnya.
Tubuh Shen Yuan memudar, menyisakan bayangan ilusi tepat sebelum cakar Iblis itu merobek udara kosong.
Sraaaakkk! Cakar monster itu menghantam dinding batu tambang, merobek batuan keras seolah itu hanyalah tahu sutra. Bunga api memercik, menerangi kegelapan lorong selama sepersekian detik.
Dalam sekejap cahaya itu, Iblis Darah menyadari bahwa mangsanya telah menghilang dari pandangan.
"Mencariku?"
Suara dingin itu terdengar tepat dari atas kepala sang Iblis.
Makhluk itu mendongak secara refleks. Shen Yuan sedang melayang dalam posisi terbalik, kedua kakinya menjejak pada langit-langit lorong tambang. Ia meminjam gaya gravitasi dan daya tolak dari kakinya, meluncur turun seperti anak panah hitam yang dilepaskan dari busur raksasa.
Satu tendangan lurus yang sangat sederhana, difokuskan pada tumit kanannya, menghantam tepat di pangkal leher monster merah tersebut.
BRAAAKKK!
Sebuah dentuman tumpul bergema. Leher Iblis Darah yang setebal batang pohon itu bengkok dengan sudut yang tidak wajar. Tubuh raksasanya terpelanting ke depan, menghantam lantai batu dan terseret sejauh dua tombak, menciptakan parit dangkal di tanah.
Namun, Iblis Darah Mutasi bukanlah binatang buas biasa. Saraf rasa sakit mereka telah lama mati digantikan oleh rasa lapar.
Sebelum tubuhnya berhenti terseret, Iblis itu memutar tangannya secara abnormal dan memukul lantai, melentingkan tubuhnya kembali berdiri. Kepalanya yang bengkok tiba-tiba berderak keras, otot-otot tebal di lehernya bergerak liar, dan secara ajaib... leher itu kembali lurus.
"Regenerasi fisik tingkat tinggi," Shen Yuan mendarat dengan anggun, matanya menyipit menilai musuhnya. "Dagingmu digerakkan oleh Qi berdarah yang membusuk. Selama inti darahmu tidak hancur, kau hanyalah samsak daging yang menolak mati."
"Mati... KAU MATI!"
Iblis Darah itu meraung histeris. Kulit merahnya tiba-tiba menggelembung di beberapa bagian. Pori-porinya terbuka, menyemburkan kabut berwarna merah pekat yang sangat korosif ke seluruh lorong tambang.
Ssshhhh! Dinding batu yang terkena kabut itu langsung mendesis, meleleh dan berubah warna menjadi kehitaman.
Ini adalah racun darah mutasi. Jika terhirup oleh kultivator Lapisan Keenam, paru-paru mereka akan mencair dalam tiga tarikan napas. Kabut merah itu bergerak cepat, menelan siluet Shen Yuan sepenuhnya dalam kegelapan yang berdarah.
Iblis itu menyeringai lebar, memamerkan taring-taringnya. Ia bersiap berjalan mendekat untuk meminum darah mangsanya yang telah mencair.
Namun, dari dalam pusaran kabut merah korosif itu, terdengar langkah kaki yang teratur.
Tap... Tap... Tap...
Iblis itu menghentikan langkahnya. Senyumnya membeku.
Kabut merah tebal itu perlahan tersibak, seolah takut menyentuh entitas yang sedang berjalan di dalamnya. Shen Yuan melangkah keluar tanpa ada satu pun goresan luka atau tanda-tanda keracunan. Di sekeliling tubuhnya, berjarak setengah inci dari kulitnya, terdapat lapisan tipis berwarna emas gelap yang mengalir seperti air.
Itu adalah Selubung Qi Cair. Sebuah perlindungan absolut yang hanya bisa dibentuk oleh kultivator Lapisan Ketujuh ke atas. Racun korosif monster itu seketika ditelan dan dihancurkan oleh energi purba dari Benih Hitam begitu menyentuh selubung tersebut.
"Hanya ini yang kau miliki?" tanya Shen Yuan, suaranya mengalun pelan membelah suara desisan racun. "Seekor anjing penjaga gerbang neraka masih memiliki gigitan yang lebih baik daripadamu."
Amarah murni menguasai Iblis Darah itu. Ia tidak peduli lagi pada taktik. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, merendahkan bahunya, dan menyeruduk ke arah Shen Yuan layaknya banteng gila yang siap meremukkan gunung. Seluruh Qi darahnya dipusatkan di depan tubuhnya, membentuk perisai daging yang mustahil ditembus pedang.
Shen Yuan berhenti melangkah. Wajahnya datar, tidak ada emosi, tidak ada amarah. Logikanya berbisik bahwa waktu bermain-main telah usai. Pertarungan yang terlalu lama akan mengundang risiko lorong ini runtuh dan menguburnya hidup-hidup.
Ia menarik tangan kanannya ke belakang pinggang.
Lautan Qi cair di dalam perutnya bergolak ganas. Ia tidak hanya menarik sebagian, melainkan meraup setengah dari total energi Lapisan Ketujuhnya, mengompresnya secara paksa langsung ke dalam sumsum tulang lengannya.
Lengan sutra jubahnya berkibar hebat meski tidak ada angin. Udara di sekitarnya melengkung karena panas yang dihasilkan oleh kompresi energi ekstrem. Di Lapisan Ketujuh, meridian lengannya tidak lagi robek. Mereka menahan tekanan itu dengan kokoh layaknya baja yang telah ditempa ribuan kali.
"Terimalah kematianmu dengan tenang," bisik Shen Yuan.
Tepat ketika bahu raksasa monster itu berjarak satu lengan darinya, Shen Yuan melepaskan pukulannya. Lurus. Sederhana. Absolut.
Seni Tinju Runtuh Gunung: Penembus Inti!
Kepalan tangan Shen Yuan yang ukurannya hanya sebesar bola kapas jika dibandingkan dengan tubuh sang Iblis, menghantam tepat di tengah dada makhluk merah tersebut.
Tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga. Tidak ada gelombang kejut yang meledakkan debu.
Untuk sesaat, waktu benar-benar berhenti. Iblis Darah itu mematung, cakar-cakarnya menggantung di udara. Matanya yang merah menatap wajah Shen Yuan dengan kebingungan. Kulit dadanya sama sekali tidak robek, bahkan tulang rusuk luarnya tampak utuh.
Namun, sedetik kemudian, sang Iblis menunduk menatap dadanya sendiri.
Dari titik di mana kepalan Shen Yuan bersentuhan dengan kulitnya, muncul sebuah riak. Bukan riak air, melainkan getaran maut yang merambat sangat cepat ke dalam tubuhnya.
KRAAAAK... BZZZZZTTT!
Suara gilingan daging dan tulang yang dihancurkan secara bersamaan terdengar menggema dari dalam perut sang Iblis. Seluruh organ vitalnya—jantung, paru-paru, hingga tulang belakangnya—berubah menjadi bubur berdarah yang hancur berkeping-keping akibat gelombang kejut Tinju Runtuh Gunung yang meledak di dalam tubuhnya.
Energi emas gelap itu merusak setiap inci sel reproduksi monster tersebut, memastikan bahwa kemampuan regenerasinya mati tercekik dari akarnya.
Mulut sang Iblis terbuka lebar, memuntahkan air terjun darah hitam yang bercampur dengan serpihan organ dalamnya. Cahaya merah di matanya meredup dengan sangat cepat, digantikan oleh kekosongan abu-abu kematian.
Tubuh raksasa seberat ratusan kati itu perlahan roboh ke belakang, menghantam lantai tambang dengan suara debuman mati.
Shen Yuan perlahan menarik tangannya. Ada sedikit uap panas yang keluar dari buku-buku jarinya. Ia tidak membuang waktu. Ia segera melangkah maju, meletakkan telapak tangannya di atas kepala mayat monster yang masih berkedut itu.
Kitab Penelan Surga: Telan.
Pusaran hisap dari Benih Hitam meledak. Ini adalah pertama kalinya Shen Yuan menelan makhluk mutasi tingkat tinggi. Energi yang ditarik masuk bukanlah Qi murni, melainkan campuran antara esensi darah, vitalitas binatang buas, dan Qi Yin yang sangat dingin.
Tubuh raksasa Iblis itu menyusut dengan kecepatan yang mengerikan, layu layaknya daun kering yang dipanggang api unggun, hingga akhirnya hancur menjadi debu merah yang terbawa angin lorong.
Hanya dalam sepuluh tarikan napas, sisa pertarungan yang brutal itu dihapus bersih dari sejarah.
Shen Yuan memejamkan matanya, membiarkan Benih Hitam menggiling energi liar tersebut. Racun dan kotoran dibuang melalui keringat hitam di pori-porinya, sementara esensi murni jatuh ke dalam lautan Dantian-nya, memadatkan fondasi Lapisan Ketujuhnya hingga kokoh bagaikan fondasi benteng kerajaan.
Setelah energinya kembali tenang, Shen Yuan membuka matanya. Indra penciumannya yang tajam kini tidak lagi terhalang oleh bau anyir sang Iblis. Ia bisa mencium sesuatu yang lain dari ujung lorong buta di depannya.
Bukan bau kematian, melainkan aroma manis yang memiliki daya pikat spiritual yang sangat kental.
Shen Yuan melangkah melewati abu merah musuhnya, berjalan semakin dalam ke jantung Lorong Nomor Empat. Setelah berbelok di sudut batu terakhir, sebuah ruang gua melingkar yang cukup luas terbuka di depannya.
Di tengah gua tersebut, terdapat sebuah kolam kecil alami. Namun air di kolam itu tidak bening; ia berwarna merah rubi yang menyala, memancarkan cahaya redup yang menerangi seluruh ruangan.
Di dasar kolam tersebut, tumbuh selusin kristal merah yang berbentuk seperti stalagmit kecil.
Napas Shen Yuan sedikit tertahan. Matanya, yang biasanya selalu menutupi emosi, kini memancarkan kilatan ketakutan yang bercampur dengan euforia.
"Sumsum Darah Bumi," gumam Shen Yuan tak percaya, menyebutkan nama dari literatur kuno yang pernah ia baca di pojok Paviliun Kitab.
Ini bukanlah sekadar tambang besi biasa. Entah sejak kapan, urat nadi pegunungan ini telah melahirkan kolam spiritual yang memadatkan energi bumi menjadi kristal darah. Inilah alasan mengapa binatang buas tadi bermutasi dan menjaga tempat ini dengan nyawanya.
Lima Batu Roh Tingkat Menengah yang dijanjikan sekte sebagai imbalan misi ini hanyalah recehan dibandingkan dengan nilai satu batang kristal di dasar kolam tersebut. Jika satu kristal ini dibawa ke Paviliun Bulan Sabit, harganya bisa membeli sebuah kota kecil.
Shen Yuan perlahan berjalan mendekati tepi kolam. Ia tersenyum, sebuah senyum predator yang telah menemukan sarang emasnya.
Dunia mengira ia dibuang ke tempat penuh maut, namun takdir baru saja menyajikan hidangan utama di atas piring perak khusus untuknya.