NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 8

Tujuh musim dingin telah berlalu, menyapu dedaunan mawar putih di halaman kediaman Eldersheath dan menggantinya dengan lapisan salju yang membeku, sebelum akhirnya mencair kembali menjadi musim semi yang hambar.

Sejak kereta kuda yang membawa Elara menghilang di balik kabut menuju Veldora, sunyi telah menjadi penghuni tetap di sayap bangunan yang terisolasi ini.

Tak ada surat.

Tak ada kurir yang datang membawa kabar. Nama Elara seolah-olah telah dihapus dari silsilah keluarga oleh tangan dingin Elisa dan Robert,

meninggalkan seorang bocah laki-laki sebagai satu-satunya bukti hidup dari eksistensinya yang dianggap noda.

Di dalam ruang makan kecil yang terpisah dari aula utama, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun duduk dengan punggung tegak di kursi kayu ek yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.

Rambutnya seputih salju—ciri khas yang mulai muncul seiring dengan dewasanya kesadaran Albus di dalam raga tersebut. Matanya, yang berwarna abu-abu jernih, menatap kosong ke arah jendela yang berembun.

Itu adalah Ilwa.

Pintu kayu berderit pelan.

Martha, yang kini garis-garis keriput di wajahnya semakin dalam, masuk membawa nampan perak.

Aroma bubur gandum hangat dan rebusan daging ringan memenuhi ruangan.

"Tuan Muda Ilwa," suara Martha melembut saat ia meletakkan mangkuk di depan bocah itu. "Sarapan Anda sudah siap. Mohon habiskan selagi hangat, udara pagi ini cukup menusuk tulang."

Ilwa menoleh perlahan, memberikan anggukan kecil yang terlalu sopan dan tenang untuk anak seusianya. "Terima kasih, Martha. Kau selalu tepat waktu."

Ia mulai menyantap makanannya dalam diam. Selama tujuh tahun, Martha adalah satu-satunya jembatan emosionalnya dengan dunia luar.

Bagi pelayan tua itu, Ilwa adalah anak malang yang ditinggalkan ibunya; namun bagi Ilwa, Martha adalah tirai pelindung yang sempurna untuk menutupi transformasinya yang mengerikan.

Setelah suapan terakhir, Martha meletakkan sebuah gelas kristal berisi cairan hijau pekat yang aromanya sangat menyengat—obat dari Saint Benedictus yang telah ia minum selama tujuh tahun tanpa putus.

"Dan ini... obat Anda, Tuan Muda. Seperti biasa," ucap Martha dengan nada membujuk.

Ilwa menatap cairan itu dengan tatapan dingin.

Di dalam benaknya, Albus mencibir. Selama bertahun-tahun, ramuan ini memang membantunya melunakkan dinding *Aura-Lock*.

Tanpa nutrisi dari tumbuhan langka itu, mungkin fisiknya sudah lumpuh sejak umur empat tahun.

Namun, ia tahu batasnya. Tubuhnya telah mencapai titik jenuh. Reseptor mananya sudah kebal terhadap rangsangan herbal tersebut.

Jika ia terus meminumnya, zat sisa obat itu justru akan mengendap menjadi racun yang menyumbat sirkuit sihirnya.

"Aku tidak akan meminumnya lagi, Martha," ucap Ilwa datar, mendorong gelas itu menjauh.

Martha tersentak, wajahnya seketika dipenuhi kecemasan. "Tuan Muda? Apa maksud Anda? Anda tahu perintah Matriark dan instruksi dari Yang Mulia Saint. Tanpa obat ini, penyakit *Aura-Lock* itu akan meremukkan tubuh Anda! Tolong, jangan keras kepala, ini demi kebaikan Anda sendiri."

Beberapa pelayan lain yang sedang merapikan ruangan ikut berhenti dan menatap dengan cemas.

Mereka mulai berbisik, takut jika kesehatan Ilwa menurun, mereka yang akan disalahkan oleh Elisa.

"Tuan Muda, mohon... hanya satu tegukan," bujuk pelayan lain dengan suara gemetar. "Jika Anda sakit, kami tidak tahu harus menjelaskan apa pada Patriak."

Ilwa menghela napas panjang.

Ia sudah muak dengan sandiwara medis ini. Ia bangkit dari kursinya, berdiri dengan tenang meski tinggi tubuhnya hanya mencapai pinggang Martha.

Ia menatap para pelayan itu satu per satu dengan wibawa yang membuat mereka tanpa sadar melangkah mundur.

"Kalian pikir aku bisa bertahan hidup selama tujuh tahun ini hanya karena air pahit itu?" tanya Ilwa, suaranya terdengar jauh lebih dewasa dari rupanya.

"Tapi... tapi penyakit itu tidak ada obatnya, Tuan Muda!" seru Martha dengan air mata yang mulai menggenang. "Saint Benedictus mengatakan hanya keajaiban Dewa yang bisa—"

"Dewa?" Ilwa menyela dengan senyum tipis yang tampak sinis. "Dewa tidak memberikan keajaiban pada mereka yang hanya menunggu. Dewa hanya memberikan jalan bagi mereka yang berani mendobrak pintu penjaranya sendiri."

Ilwa mengangkat tangan kanannya yang kecil ke udara.

Ia memejamkan mata sesaat, memanggil inti *Mana Crystal* yang telah ia tempa dalam kesakitan setiap malam selama tujuh tahun terakhir.

Secara perlahan, udara di sekitar tangannya mulai berpendar.

Butiran-butiran cahaya biru safir muncul dari pori-pori kulitnya, menari-nari dan membentuk pusaran kecil yang jernih.

Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Martha menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak hingga nyaris keluar. Para pelayan lain menjatuhkan kain lap mereka ke lantai.

"Ini... mana?" bisik Martha tidak percaya. "Cahaya ini... murni sekali. Tuan Muda... Anda bisa menggunakan sihir? Bagaimana mungkin?"

"Dinding itu tidak lagi mengunciku, Martha," dusta Ilwa dengan lancar.

Padahal, penyakit itu masih ada, hanya saja ia telah menemukan cara untuk "menyelundupkan" mana melalui retakan mikro yang ia buat dengan teknik meditasi tingkat tinggi. "Obat itu sudah menyelesaikan tugasnya. Tubuhku sudah beradaptasi. Jadi, simpanlah ramuan itu. Aku tidak memerlukannya lagi."

Martha langsung jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu sambil menjalin tangannya dalam posisi berdoa. "Keajaiban... ini benar-benar keajaiban! Doa-doa kita selama ini didengar oleh Dewa Ares! Saya harus segera ke kuil kota, saya harus bersyukur dan memberikan persembahan atas kesembuhan Anda!"

Ilwa hanya menggelengkan kepala melihat reaksi histeris itu.

*Bersyukur pada dewa? Lucu sekali,* batinnya. *Kau harus bersyukur pada rasa sakit yang kutahan setiap malam saat aku memaksakan mana menembus sarafku hingga hampir meledak.*

"Lakukan sesukamu, Martha," ucap Ilwa sambil melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap.

Meskipun fisiknya belum sekuat anak seusianya yang berlatih pedang, keberhasilan memperlihatkan manifestasi mana secara terbuka adalah langkah politis pertamanya. Sekarang, kabar tentang "kesembuhannya" akan sampai ke telinga Elisa dan Robert.

Tujuh tahun persembunyian telah usai. Sang jenius yang dianggap cacat itu kini telah memiliki taring,

dan ia siap untuk mulai mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya di Veldora, serta bagaimana ia akan meruntuhkan dominasi Eldersheath dari dalam fondasinya sendiri.

"Waktu bermain sebagai bayi yang malang sudah berakhir," gumam Ilwa saat ia memasuki perpustakaan pribadi, matanya berkilat dengan ambisi Albus yang tak pernah padam. "Sekarang, mari kita lihat seberapa kuat sebenarnya para bangsawan di zaman baru ini."

-----

Langkah kaki Ilwa yang kecil namun mantap bergema di sepanjang koridor sunyi menuju sayap timur kediaman Duke Eldersheath.

Di sana, sebuah pintu ganda berbahan kayu ek hitam yang menjulang tinggi berdiri dengan angkuh, dihiasi ukiran naga yang melilit pedang—lambang pengetahuan dan kekuatan keluarga.

Ilwa mendorong pintu itu dengan sisa tenaga fisiknya yang belum sepenuhnya pulih.

Begitu pintu terbuka, aroma khas kertas tua, kulit penjilid buku yang mulai mengelupas, dan debu yang menari di bawah sinar matahari sore menyambut indra penciumannya.

Perpustakaan ini lebih menyerupai sebuah katedral pengetahuan.

Rak-rak buku setinggi sepuluh meter menjajar rapi, menutupi dinding marmer hingga ke langit-langit yang dihiasi lukisan rasi bintang.

Tangga-tangga kayu geser bersandar di sisi rak, dan di tengah ruangan terdapat meja-meja jati panjang tempat para sarjana keluarga biasanya berkumpul.

Namun sekarang, ruangan itu kosong.

Hanya Ilwa yang berdiri di sana, sosok mungil di tengah samudera informasi yang membentang luas.

"Elara pernah membawaku ke sini saat aku masih bayi..."Ilwa membatin,

matanya menyapu barisan punggung buku yang berlapis emas.

"Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Apakah dia berharap bayinya yang dianggap cacat ini akan menjadi seorang cendekiawan jika dia tidak bisa menjadi ksatria? Lucu sekali".

Ilwa tidak membuang waktu.

Ia memanjat salah satu tangga kecil untuk mencapai bagian **Sejarah Kontemporer Benua Vera**.

Jemarinya yang ramping menelusuri judul-judul buku: *Kejayaan Kerajaan Dorn, Silsilah Darah Suci,* hingga akhirnya ia menemukan sebuah buku tebal dengan sampul kulit berwarna merah darah berjudul: **"Kronik Kegelapan: Akhir dari Sang Pembawa Kehancuran."**

Ia mengambil buku itu, lalu duduk bersila di lantai kayu yang dingin.

Di sekelilingnya, ia juga mengumpulkan beberapa buku pendukung tentang penanggalan kerajaan dan peta wilayah terbaru. Dengan napas yang tertahan, Ilwa membuka halaman pertama.

---

Mata Ilwa bergerak cepat, melahap setiap kata dengan ketelitian seorang predator. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin kencang denyut nadi di pelipisnya.

Giginya bergeletuk, dan aura mana di sekitarnya mulai berfluktuasi secara tidak stabil, merespons amarah yang membara di dalam jiwanya.

"Apa-apaan ini?!" desis Ilwa, suaranya yang cempreng khas anak kecil bergetar karena geram. "Berani-beraninya mereka menulis sampah seperti ini!"

Di halaman buku itu tertulis dengan jelas:

> *"...Pada tahun **1450 Kalender Suci**, dunia akhirnya terbebas dari bayang-bayang Albus, Sang Pembawa Kehancuran, setelah pengepungan besar oleh Aliansi Tiga Kerajaan. Kematian sang tiran menandai dimulainya Era Restorasi."*

Ilwa terpaku pada angka tersebut. Ia menghitung mundur dengan cepat dalam kepalanya. "Tahun 1450... dan sekarang, menurut kalender di meja itu, adalah tahun **1500 Kalender Suci**."

"Lima puluh tahun..." bisik Ilwa dengan tatapan kosong. "Aku sudah mati selama lima puluh tahun. Pantas saja Elisa terlihat seperti wanita yang sudah hampir menyentuh liang lahat. Waktu telah berjalan setengah abad tanpa kehadiranku."

Namun, yang membuat amarahnya meledak bukanlah fakta bahwa ia telah tertinggal zaman, melainkan bagaimana sejarah menggambarkan sosok **Albus**.

Buku itu menjelaskan bahwa lima puluh tahun lalu, benua ini nyaris hancur karena ambisi gila seorang manusia bernama Albus.

Dikatakan bahwa Albus adalah penyihir sesat yang membenci para Dewa dan ingin menghapus semua penganut iman dari muka bumi.

"Perbedaan keimanan?" Ilwa tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan keluar dari mulut bocah tujuh tahun. "Aku hanya menolak berlutut pada patung batu yang tak bernyawa! Aku hanya ingin manusia berdiri dengan kakinya sendiri tanpa harus mengemis pada Dewa yang hanya memeras mana kita! Dan mereka menyebut itu sebagai 'keinginan menghancurkan dunia'?"

Halaman berikutnya bahkan lebih parah. Penulis buku itu menyatakan bahwa Albus memperbudak ribuan manusia untuk dijadikan subjek eksperimen sihir hitam yang keji.

*Brak!* Ilwa memukul lantai dengan tangan kecilnya.

"Kebohongan yang menjijikkan!" umpatnya. "Eksperimen itu... itu terjadi di **Kerajaan Arcania**, kerajaan yang dipimpin oleh **Raja Sihir Magnus**! Aku yang menyerbu laboratorium bawah tanah mereka dan membebaskan para tawanan itu! Akulah yang menghentikan kekejian tersebut, dan sekarang mereka memutarbalikkan fakta seolah-olah aku pelakunya?"

Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ketiga raja yang dulu bersekutu melawannya. Terutama **Raja Julius Valiurs**, Sang Raja Pedang dari Kerajaan Dorn.

"Julius... kau bajingan licik," desis Ilwa. "Dorn adalah pusat penerbitan literatur terbesar di benua ini. Kau menggunakan pena untuk membunuh namaku setelah kau gagal membunuhku dengan pedangmu selama bertahun-tahun. Kau mencuri kemenanganku, kau mencuri jasaku, dan kau menjadikanku monster dalam dongeng pengantar tidur anak-anak agar rakyatmu tetap tunduk pada gereja."

Ilwa menutup buku itu dengan kasar. Ruangan perpustakaan yang megah itu tiba-tiba terasa menyesakkan. Sejarah telah mengkhianatinya. Dunia yang ia coba "selamatkan" dari tirani agama kini memandangnya sebagai iblis yang paling ditakuti.

"Lima puluh tahun telah berlalu, Julius. Kau mungkin sudah tua atau bahkan sudah mati, tapi warisan kebohonganmu masih bernapas di sini,* pikir Ilwa sambil berdiri.

Ia menatap telapak tangannya sendiri yang kecil.

"Jika dunia menginginkan monster, maka aku akan memberikan mereka monster yang sebenarnya," gumam Ilwa dengan mata yang berkilat kedinginan. "Aku tidak hanya akan menghancurkan gembok *Aura-Lock* ini, tapi aku akan menghancurkan setiap lembar buku sejarah palsu yang kalian tulis dengan darahku."

Di tengah kesunyian perpustakaan Eldersheath, sang legenda yang bangkit kembali itu bersumpah.

Ia akan merebut kembali kebenaran, bahkan jika ia harus membakar seluruh kerajaan ini untuk menemukannya.

Hari itu, perpustakaan tidak hanya memberikan Ilwa informasi tentang masa lalu, tapi juga memberinya alasan baru untuk membenci dunia yang telah melupakannya.

Bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!