NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Terpaksa Menikahi Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeprism4n Laia

Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.

Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.

Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.

Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Rencana Jahat Teman Rido

Rido mengepalkan tinjunya ketika dia mendengar pernyataan sang ibu, matanya memerah rahangnya mengeras pertanda dia sangat sangat marah dengan kondisinya saat ini.

“Apakah saya sudah bisa keluar dari rumah sakit?” Tanya Rido kepada Berys sang sekretaris.

“Ehh,, itu, itu,, saya tanyakan dulu sama dokternya Tuan Muda” Jawab Berys dengan terbata bata.

Rido menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Berys, kemudian dia menatap sang bundanya dengan sangat sedih, dia tidak pernah melihat ibunya terlarut dalam kesedihan seperti sekarang ini.

“Sudahlah! Ibu jangan terlalu sedih, kan aku masih baik baik saja kan? Nanti Rido pasti berusaha untuk terapi, agar bisa cepat sembuh seperti dulu lagi” Hibur Rido memegang kedua tangan sang ibu.

Tiaras memaksakans senyumannya ketika dia mendengar pernyataand dari sang anak, dia mengangguk “iya ibu tidak akan bersedih lagi, karena anak ibu kan pria kuat, jadi anak ibu pastilah sembuh”.

Rido hanya bisa tersenyum getir ketika dia melihat sang ibu masih dalam keadaan sedih, namun tiba tiba Berys datang dari arah pintu.

“Tuan Muda, kata dokter tuan muda bisa pulang kerumah hari ini” ucap Berys dengan pelan.

“lalu ada lagi” sahut Rido dengan tatapannya tetap kearah jendela kaca.

“kata Dokter, untuk kakinya tuan muda, setiap 2 hari akan diutus Suster untuk melakukan pengecekan berkala” sambut Berys lagi.

“Hemm.. ya sudah, sekarang kita langsung pulang kerumah, saya sudah tidak bisa tahan lagi berada ditempat ini, siapkan Kursi Roda” tegas Rido.

Rido bersama Ibunya langsung meninggalkan ruangan rumah sakit Adam Malik, dengan Rido diatas Kursi Roda. Tanpa mengharapkan bantuan orang lain, dengan kekuatannya sendiri Rido naik dan turun diatas kursi dengan kemampuannya sendiri.

Sementara ditempat lain, Anton Baene bersama dengan Satrio sedang duduk ditepi pantai.

“hahaha… ternyata Jatuh juga si Bocil itu, kupikir dia hebat, eh ternyata bisa masuk perangkap juga dia, tapi aku pengen langsung dia ko’it” Ucap Satrio dengan senyuman mengembang dibibirnya.

“hahahaa… iya benar bro, selama ini Rido itu memang sok hebat mentang mentang dia pewaris seenaknya dia bentak bentak kita, tapi Lipus jadi korban juga” Ucap Anton Baene merasa sedih melihat Lipus juga ikut terseret dalam kecelakaan tersebut.

“Aku kan sengaja memancingnya untuk balapan, karena aku tau dia kak sudah mabuk” Sahut Satrio lagi dia meneguk minuman birnya di dalam botol M-150.

“Haha! Itulah b’dohnya dia, bisa saja ditipu tipu” jawab Anton dengan penuh kemenangan.

Kejadian kecelakaan itu merupakan bagian rencana yang tidak terduga, karena itu adalah kebetulan dan merupakan kesempatan kepada Satrio dan Anton Baene untuk memprovokasi Rido dan membuat Rido mengalami kecelakaan dan bahkan kalau bisa langsung hilang untuk selamanya dari dunia ini.

“Lain kalau ada kesempatan, kita langsung eksekusi dia ditempat, jangan macam kemarin itu kita malah memberikan bantuan” Ucap Anton Baene.

“Pletak” Satrio menjitak kepala Anton Baene. “kau juga ada rasa rasa B’dohnya ya! Apakah kau tau kalau kita gak nolongin, pastilah ada rasa curiga sama kita berdua, nanti masalahnya bisa saja berabeh, apakah kau lupa kalau kekuasaan Prasetio di Kota Medan ini bukan main main” Jelas Satrio lagi.

“ya sudah, sudah, ayo kita minum lagi, kita puaskan minum hari ini, karena kita sudah berhasil memberikan pelajaran kepada sis ok hebat itu” sarkas Anto Baene dengan mengangkat gelasnya dengan menggunakan botol kecil M-150.

“Gimana kalau kita main ke Club saja, kita goyang bersama para lady ladys disana” saran Satrio dengan masih memegang botolnya dan rokok sampoerna berada di jari telunjuknya.

Satrio dan Anton Baene langsung OTW ke Club, setelah mereka merasa puas berada di tepi pantai itu.

Dikediaman Prasetio, Rido dan ibunya sudah sampai di depan rumah besarnya, dengan santai Rido mengangkat tubuhnya sendiri di atas Kursi Roda, kemudian dia menekan tombol On untuk jalan. Tiaras hanya bisa mengikuti Rido dari belakang, dengan dia masih memegang kursi roda Rido yang sedang berjalan dengan pelan masuk kedalam rumahnya.

Setelah masuk kedalam ruang tamu, Tiaras menyuruh bu Farel untuk membersihkan kamar dilantai bawah, berhubung kamar Rido selama ini berada di lantai 3, maka sudah tentu dia wajib dipindahkan kelantai satu untuk lebih cepat memantau kondisinya.

Sembari menunggu kamarnya dibersihkan oleh Pembantu itu, Rido memilih untuk duduk diruang tamu dengan memainkan Ponselnya untuk memeriksa keadaan Perusahaannya saat ini.

Rido mengecek kondisi perusahaanya melalui notebooknya, perusahaannya masih dalam keadaan aman aman saja, ternayata dibawah pengaturan Berys perusahaan baik baik saja.

“Nyonya, kamarnya sudah siap, apalagi yang bisa saya lakukan?” Tanya Ibu Farel sebagai ART.

Tiaras langsung pergi memeriksa kamar itu, dia harus mempersiapkan segala sesuatu di dalam kamar itu, karena kamar itu merupakan kamar baru untuk Rido untuk semasa pemulihan.

“Bu Farel, tolong disuruh ART yang lain, biar barang barang Rido dari kamar atas dipindahkan disini, karena mulai sekarang dia akan tinggal dikamar ini” perintah Tiaras dengan menyuruh ARTnya.

“Baik Nyonya” sambut bu Farel yang langsung pergi kebelakang untuk meminta beberapa ART membantu memindahkan barang barang Tuan Muda mereka ke kamar barunya.

Tidak menunggu lama, bu Farel bersama dengan ibu Wina dan beberapa ART yang lain termasuk Embun yang baru saja datang hari ini.

Melihat Tiaras sedang berdiri didepan pintu kamar itu, Wina langsung menghampirinya dengan menundukkan kepala da dia juga menarik Embun untuk bersamanya.

“maaf nyonya, saya sudah mencari kepala pelayan tapi dia tidak ada, ini nyonya! Saya sudah membawa keponakan saya dari Desa, karena kebetulan dibutuhkan satu orang lagi ART, makanya saya membawanya kesini” ucap bu Wina dengan sedikit menunduk.

Tiaras memasang senyuman manisnya ketika melihat kearah Embu, kemudia dia berkata “Nama Kamu siapa Nak? Dan sekarang kamu umurnya berapa, apakah kamu sudah sekolah?”.

“Eemm… sa, nama saya Embun Solai nyonya besar, umur saya saat ini 18 tahun nyonya, dan saya baru saja tamat sekolah menengah kejuruan” jawab Embun apa adanya dengan kepalanya menunduk.

“Emm.. baiklah! Nanti bu Wina mengajarkan kamu tata aturan di rumah ini” sahut Tiaras menjawab perkataan Embun barusan, kemudian beralih melihat bu Wina.

“Bu Wina tolong kamu ajari dia dengan aturan rumah, yang paling saya tidak suka adalah ketika ART mencuri barang barang, itu sangat tidak saya suka!” jelas Tiaras dengan sangat tegas menatap bu Wina.

“Iya Nyonya! Saya pastikan ajari dia dengan benar, saya jamin dia tidak akan melanggar aturan yang ada dirumah ini” sambut bu Wina dengan sopan.

“oh iya! Sekalian suruh koki untuk membuat makanan lezat untuk tuan muda, karena dia dari kemarin belum makan, karena makanan rumah sakit gak enak katanya” perintah Tiaras kepada bu Wina lagi.

“baik nyonya, akan saya beritahukan kepada koki sekarang” jawab bu wina yang langsung berbalik meninggalkan Tiaras sendirian, sedang embun membantu membersihkan kamar baru Rido Prasetio.

Embun sangat terkejut ketika melihat barang barang milik Rido yang terlihat sangat mahal, dia sedikit gugup untuk menyentuh barang barang itu, karena seumur hidup dia tidak pernah melihat barang barang mahal.

“huus,, kau jangan melamun disitu, ayu kau pel lantai itu, biar kami taruh barang tuan muda disitu” tegur salah seorang pelayan yang lain.

“iya, iya bu” jawab Embun dengan langsung mengangkat Pel, dan dia langsung mengerjakannya.

Sementara diruang tamu, Rido melihat sang Ayah sedang berjalan masuk kedalam, namun Rido tetap menatap sang Ayah dengan tatapan biasa saja.

“Sudah lama kau sampai” Tanya Giancarlo setelah dia sampai di dekat Rido.

“Emmm” hanya deheman jawaban dari Rido, dia tidak banyak bicara ketika sedang berada di depan orang, bahkan didepan ayahnya sendiri.

Melihat sikap dingin anaknya, Giancarlo hanya bisa mendengus kesal, dia tidak bisa banyak berbuat apa apa dan tidak mungkin juga dia memaksa Rido untuk berbicara dengannya.

Tiaras datang dan duduk disamping sang suami, kemudian Embun datang dengan membawakan nampan yang berada cangkir teh diatasnya.

Bu Farel langsung menyuruh Embun untuk mengantarkan Teh, ketika Embun sudah selesai mengerjakan tugasnya mengepel lantai kamar Rido.

“Nak, kau pelan pelan saja tuang tehnya” saran Tiaras melihat Embun yang duduk berjongkok dihadapannya sedang menuangkan teh.

“Iya Nyonya” jawab Embun singkat sambil dia mengangguk pelan.

Rido hanya melirik Embun ketika dia mendengar jawaban embun, namun dalam sekejab dia kembali menatap luruh kedepan lagi.

“Nak Embun, ini adalah suami saya, dan ini adalah anak saya namanya Rido Prasetio, tuangkanlah teh untuk tuan besar dan tuan muda” perintah Tiaras mengajari Embun Solai.

“iya nyonya” jawab embun manggut-manggut sambil dia menyodorkan teh kepada kedua orang itu.

“ini tuan, teh anda” ucap Embun menyerahkan cangkir teh kepada Rido.

“Emmm.. taruh disitu saja” jawab Rido singkat.

Embun hanya mengangguk dan mengikuti perintah dari tuannya itu. Setelah itu langsung berbalik dan kembali ke dapur. Namun sebelum dia melangkahkan kakinya, tiba tiba Tiaras berkata. “Nak Embun, mulai sekarang kamu yang menjadi perawat Tuan Muda ya, kamu yang mengurus semua kebutuhannya”.

Rido tidak terlalu memikirkan perkataan dari sang bundanya, dia hanya terus menatap kembali jendela ruangan itu, sambil dia meraih teh miliknya, dan langsung menyesap secara perlahan.

“Baik nyo, saya permisi” sahut Embun dengan singkat.

Embun langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur, dengan dia memegangi nampan yang kosong, disana sudah ada bu wina yang sedang duduk meja.

“Apakah kamu sudah mengantarkan teh untuk tuan muda dan tuan besar?” Tanya bu Farel keada Embun Solai.

“Sudah bu, bahkan tuan besar dan nyonya sudah meminumnya, kecuali tuan muda itu, kayaknya dia itu pendiam ya bu? Dia gak ada berkata hanya hem hem saja” sahut Embun berkata, dia berkata tanpa filter sehingga membuat beberapa orang orang yang berada didapur meras pucat.

“Huuuss,,, nak! Kamu jangan sekali sekali berkata seperti itu lagi, nanti Nyonya besar dengar, maka matilah kita” tegur bu wina dengan gemetar ketakutan.

Sontak saja Embun langsung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya sendiri, dia ternyata sudah berucap kata kata yang sudah membawanya kedalam jurang kematian. Kemudian dia langsung mengangguk “iya Bu,, saya janji tidak akan lagi berkata seperti itu”.

Bu Farel dan Bu Wina hanya bisa mengangguk sambil mengelus dada mereka masing masing, karena mereka sangat terkejut dengan gibahan embun yang membuat mereka dalam masalah besar.

“Sudah sudah, ayu kita minum kopi susu buatan bi Mirna” Bu Farel berkata memecahkan suasana tegang itu.

Rido memasuki kamar barunya, dia melihat nuansa kamar itu tidak berbeda dengan kamar sebelumnya, dia merasa legah dan tenang.

1
Tiary91 gaho
Waahh.. ceritanya mantap jiwa
Tiary91 gaho
Mantap Aku Suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!