NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: CIUMAN YANG SALAH

Fajar menyingsing pelan di ufuk timur.

Ardi tidak tahu persis kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanyalah Maya bersandar di dadanya, rambutnya menyebar di lengan Ardi, napasnya perlahan teratur. Mereka tidak berbicara lagi setelah itu. Hanya diam. Diam yang terasa seperti bahasa baru—bahasa yang tidak butuh kata, hanya kehadiran.

Sekarang, dengan cahaya pagi yang masuk lewat celah tirai, Ardi bisa melihat wajah Maya dengan jelas. Matanya tertutup, bulu matanya panjang dan sedikit basah, pipinya masih menyisakan jejak air mata semalam. Bibirnya terbuka sedikit, napasnya pelan.

Ardi tidak bergerak. Dia takut membangunkan Maya. Tapi lebih dari itu, dia takut kehilangan momen ini—ketika dunia masih tidur, ketika tidak ada yang menuntut mereka menjadi siapa-siapa, ketika mereka hanya dua manusia yang lelah dan saling menemukan.

Tapi Maya bergerak. Matanya terbuka perlahan, sayu, masih setengah sadar. Dia menatap Ardi dengan tatapan kosong selama beberapa detik, seperti lupa di mana dia berada.

Lalu ingatan itu datang.

Mata Maya melebar. Dia mendorong tubuhnya sedikit, menciptakan jarak yang tidak terlalu jauh tapi cukup untuk membuat Ardi merasakan kehilangan.

“Kau masih di sini,” bisiknya.

“Kau yang minta aku di sini.”

Maya tersenyum kecil. Senyum pagi yang masih mentah, belum sempat dipoles oleh kesadaran penuh. “Aku pikir kau akan pergi sebelum aku bangun.”

“Kenapa aku harus pergi?”

Maya tidak menjawab. Dia menunduk, memperhatikan posisi mereka—Ardi setengah duduk bersandar di kepala ranjang, Maya masih berbaring dengan kepala di dadanya. Tangannya masih menggenggam kemeja Ardi, seolah takut melepaskan.

“Ini tidak seharusnya terjadi,” kata Maya pelan.

“Sudah terjadi.”

Maya mendongak. Matanya mencari sesuatu di wajah Ardi—mungkin penyesalan, mungkin keraguan. Tapi Ardi sudah lelah berpura-pura. Dia tidak menyesal. Dia tidak ragu.

“Apa yang kita lakukan?” bisik Maya.

Ardi mengangkat tangan, menyentuh pipi Maya. Kulitnya hangat, masih mengantuk, sedikit bengkak karena semalam menangis. “Kita menemukan sesuatu yang tidak bisa kita dapatkan di tempat lain.”

Maya menutup mata, bersandar di telapak tangan Ardi. “Kau membuatku takut.”

“Kenapa?”

“Karena kau membuatku percaya bahwa ini mungkin.”

Ardi ingin mengatakan bahwa ini mungkin. Bahwa mereka bisa menemukan jalan. Tapi kata-kata itu terasa terlalu besar untuk pagi yang masih dingin, untuk rumah yang akan segera hidup, untuk dunia yang menunggu di luar pintu itu.

Dari bawah, terdengar suara.

Ardi menegang. Maya membuka mata. Mereka berdua diam, mendengarkan.

Suara pintu dapur terbuka. Langkah kaki. Suara panci diletakkan di atas kompor.

Maya duduk cepat, matanya penuh kepanikan. “ART.”

Ardi melihat jam di meja samping ranjang: setengah tujuh. Yuni, ART baru yang kemarin diwawancara, pasti sudah datang.

“Kau harus keluar dari sini,” bisik Maya, suaranya parau karena panik. “Cepat.”

Ardi bangkit dari ranjang, merapikan kemejanya yang kusut. Maya ikut berdiri, tangannya gemetar saat menarik ujung seprai yang kusut.

“Dia tidak akan naik ke lantai dua,” kata Ardi pelan, mencoba menenangkan. “Biasanya ART langsung ke dapur.”

“Tapi kalau dia naik? Kalau dia melihat kau keluar dari kamarku?”

Ardi tidak menjawab. Maya benar. Yuni belum tahu kebiasaan rumah ini. Dia bisa saja naik ke lantai dua untuk membersihkan kamar.

“Aku bisa bilang aku minta tolong kau ambilkan sesuatu,” kata Maya, otaknya bekerja cepat. “Atau—kau harus pergi lewat pintu belakang.”

“Pintu belakang lewat dapur.”

Maya memejamkan mata, tangannya menekan kening. “Aku bodoh. Aku seharusnya tidak—”

“Maya.” Ardi meraih lengannya, memaksanya menatap. “Tenang. Aku akan keluar lewat pintu lorong. Kalau dia lihat, aku bilang aku baru bangun dan mau sarapan. Normal.”

Maya menatapnya dengan mata basah. “Kita bilang akan lebih pintar. Tapi semalam kita—”

“Aku tahu.” Ardi menekan lengannya pelan. “Tapi sekarang kita harus fokus.”

Ardi berjalan ke pintu, membukanya pelan. Lorong masih gelap, hanya diterangi cahaya pagi dari jendela ujung. Dari bawah, terdengar suara Yuni yang sedang mencuci beras. Dia belum naik.

Ardi melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan suara sekecil mungkin. Di lorong, dia berhenti sebentar, mendengarkan. Tidak ada suara langkah di tangga.

Dia berjalan cepat ke kamarnya, masuk, dan menutup pintu.

Di dalam kamar, Ardi bersandar di pintu, menghela napas panjang. Jantungnya berdebar terlalu cepat. Tangannya masih gemetar—bukan karena takut ketahuan, tapi karena beberapa menit lalu, dia masih berbaring di ranjang yang sama dengan Maya, merasakan napasnya yang hangat di lehernya.

Dia berjalan ke kamar mandi, membuka keran, membiarkan air dingin membasahi wajahnya. Di cermin, dia melihat wajahnya sendiri—mata sayu, rambut kusut, bekas lipatan bantal di pipi. Tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Di luar, terdengar suara Yuni memanggil dari bawah: “Ibu Maya, sarapan sudah siap!”

Ardi mematikan keran, mengeringkan wajah, berganti pakaian. Ketika dia turun, Maya sudah duduk di meja dapur, berpakaian rapi, rambut disisir, wajah tenang. Tidak ada bekas tangis semalam. Tidak ada kepanikan tadi pagi.

Yuni, ART baru yang kemarin diwawancara, berdiri di depan kompor, membalik telur dengan gerakan terampil. Dia wanita paruh baya dengan rambut pendek dan senyum ramah.

“Pagi, Pak Ardi,” sapanya.

“Pagi.”

Ardi duduk di seberang Maya. Maya menatapnya sekilas, lalu menunduk, fokus pada piring di depannya. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Hanya diam yang dipaksakan.

Ardi mengambil nasi, mulai makan. Yuni sibuk di dapur, mencuci peralatan masak. Suasana terasa normal—terlalu normal.

Setelah beberapa menit, Maya berdiri. “Aku ke kamar dulu.”

Ardi mengangguk. Maya berjalan ke lorong, langkahnya cepat, tidak menoleh.

Yuni menatap kepergian Maya, lalu ke Ardi. “Ibu Maya baik-baik saja, Pak?”

“Iya. Mungkin masih mengantuk.”

Yuni mengangguk, kembali ke wastafel. Tapi Ardi bisa merasakan tatapannya yang sesaat terlalu lama.

 

Di kantor, Ardi tidak bisa konsentrasi.

Dia duduk di ruang kerjanya, menghadap tumpukan laporan yang tidak dibacanya. Pikirannya masih di kamar Maya. Di tangannya yang menyentuh pipinya. Di bisikannya yang membuat Ardi percaya bahwa ini mungkin.

Ponselnya berdering. Sari.

Ardi mengangkat dengan perasaan bersalah yang sudah menjadi langganan. “Ya, Sayang?”

“Di, kamu makan siang sama aku? Aku di daerah Senayan.”

Ardi melihat jam. Pukul dua belas. “Aku ada rapat.”

“Rapat lagi? Kamu terus bilang rapat.”

Ada nada kesal di suara Sari yang tidak biasa. Ardi mengusap wajahnya. “Maaf. Nanti malam aku ke apartemenmu, janji.”

Sari diam sebentar. “Kamu baik-baik saja? Suaramu aneh.”

“Aku hanya kurang tidur.”

“Kenapa kurang tidur? Ada masalah di kantor?”

“Tidak. Aku hanya—” Ardi berhenti. Hampir saja dia mengatakan aku di rumah Menteng semalaman. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. “Aku banyak pikiran.”

Sari tidak bertanya lebih lanjut. Tapi keheningannya terasa berat. “Baik. Nanti malam kamu ke sini. Aku masak.”

“Kamu masak?”

Sari tertawa kecil. “Aku belajar. Meskipun mungkin gosong.”

“Tidak masalah.”

Mereka menutup telepon. Ardi meletakkan ponsel di meja, menatapnya lama. Sari. Wanita yang selalu ada di sisinya sejak kuliah. Wanita yang sabar menunggunya menyelesaikan urusan perusahaan, urusan keluarga, urusan apapun yang selalu lebih penting darinya.

Ardi membuka jurnal di laci meja.

Sari menelpon. Aku berbohong lagi. Sejak kapan berbohong menjadi semudah ini? Sejak kapan aku kehilangan rasa bersalah?

Semalam aku tidur di ranjang Maya. Bukan untuk bercinta. Hanya berbaring, berpelukan, mendengarkan napasnya. Tapi itu terasa lebih salah dari apapun yang pernah aku lakukan. Karena aku tidak menyesal. Aku tidak merasa bersalah. Aku hanya merasa—hidup. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa hidup.

Apa ini yang disebut jatuh cinta? Atau aku hanya terlalu lama lapar akan kehangatan?

Dia menutup jurnal, menyimpannya. Di luar jendela, langit Jakarta cerah. Tapi di dalam dadanya, ada badai yang tidak mau reda.

 

Malam harinya, Ardi datang ke apartemen Sari.

Sari membukakan pintu dengan celemek merah muda, rambut diikat kuda poni, wajahnya sedikit berkeringat. Di belakangnya, dapur terlihat berantakan: panci bertumpuk, talenan dengan sisa sayuran, bau bawang yang menyengat.

“Masuk, Di. Makanannya hampir jadi.”

Ardi masuk, meletakkan jaket di sofa, berjalan ke dapur. Sari membalik ikan di wajan dengan gerakan canggung, sesekali memekik saat minyak panas memercik.

“Kau yakin tidak perlu bantuan?”

“Tidak. Aku bisa.” Sari mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan. “Duduk saja. Nanti aku sajikan.”

Ardi duduk di meja makan, mengamati Sari yang sibuk di dapur. Dia cantik. Selalu cantik. Dengan rambut yang diikat asal, celemek yang terlalu besar, konsentrasi penuh pada ikan yang mulai gosong di pinggir.

Tapi kenapa hatinya terasa kosong?

Sari menyajikan tiga piring: ikan goreng yang sedikit gosong, tumis kangkung yang terlalu banyak garam, dan tempe orek yang enak—mungkin satu-satunya yang berhasil.

“Selamat makan,” kata Sari, duduk di seberangnya. Matanya berbinar, menunggu penilaian.

Ardi mengambil ikan, mencicipi. Asin. Tapi dia tersenyum. “Enak.”

Sari tertawa. “Kamu bohong. Aku tahu ini gosong.”

“Tidak apa-apa. Yang penting hangat.”

Sari tersenyum, ikut makan. Mereka makan dalam diam yang berbeda dari diam di rumah Menteng. Diam ini canggung, penuh dengan kata-kata yang tidak diucapkan.

“Di,” Sari memecah keheningan.

“Hm?”

“Kamu akhir-akhir ini berbeda.”

Ardi berhenti mengunyah. “Apa maksudmu?”

Sari meletakkan sendok, menatap Ardi dengan mata yang jujur. “Kamu lebih sering di rumah Menteng. Kamu kurang tidur. Kamu bilang rapat terus. Dan—” dia berhenti, menarik napas. “Dan kamu tidak pernah bilang aku sayang kamu lagi tanpa aku yang bilang duluan.”

Ardi tidak bisa menjawab. Karena Sari benar. Semua benar.

“Apa ada yang salah dengan kita?” tanya Sari pelan.

“Tidak. Hanya—” Ardi mengusap wajahnya, mencari kata-kata yang tidak akan melukai. “Banyak tekanan dari perusahaan. Ayah juga sering menelepon, mengawasi.”

Sari menatapnya lama. Matanya mencari kebohongan, tapi Ardi sudah belajar menjadi pembohong yang baik.

“Kamu yakin?”

“Aku yakin.”

Sari menghela napas, lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti selalu—lembut, percaya. Senyum yang membuat Ardi merasa seperti monster.

“Aku percaya kamu, Di. Tapi kalau ada masalah, cerita, ya. Jangan dipendam sendiri.”

Ardi mengangguk. Tangannya bergerak di atas meja, menggenggam tangan Sari. Sari membalas genggamannya, jari-jarinya mengait di antara jari Ardi.

Tangan yang sama yang semalam menggenggam tangan Maya.

Ardi menarik napas, menahan rasa mual yang tiba-tiba muncul di perutnya.

 

Setelah makan, mereka duduk di sofa, menonton film yang tidak diperhatikan siapa pun. Sari bersandar di bahu Ardi, kakinya dilipat di sofa, tubuhnya hangat.

“Di,” bisik Sari.

“Hm?”

“Aku ingin menikah tahun depan.”

Ardi menegang. “Kita sudah bicarakan ini.”

“Aku tahu. Tapi aku ingin memastikan kau masih menginginkan hal yang sama.” Sari mendongak, menatap Ardi. “Kita sudah empat tahun, Di. Aku tidak ingin menunggu selamanya.”

Ardi menatap Sari. Di bawah lampu ruang tamu yang redup, wajahnya lembut, matanya penuh harap. Dia wanita baik. Wanita yang setia. Wanita yang seharusnya membuat Ardi bahagia.

Tapi kenapa yang muncul di kepalanya adalah wajah Maya? Wajah Maya yang basah air mata, Maya yang bersandar di dadanya, Maya yang berbisik aku takut sendirian.

“Kita bicarakan nanti,” kata Ardi. Kata yang sama yang dia ucapkan pada Sari tentang liburan Bali. Tentang semua hal yang ditundanya.

Sari tersenyum, tapi matanya kehilangan cahaya. “Baik. Kita bicarakan nanti.”

Mereka menghabiskan malam dengan film yang berakhir tanpa ada yang ingat judulnya. Ketika Ardi pamit pulang, Sari mencium pipinya lama, lebih lama dari biasanya.

“Jangan lupa, aku sayang kamu,” bisik Sari.

“Aku juga,” jawab Ardi.

Tapi ketika dia masuk ke mobil dan melaju meninggalkan apartemen Sari, yang dia pikirkan bukanlah Sari. Bukan janji pernikahan. Bukan empat tahun hubungan yang mulai retak.

Yang dia pikirkan adalah apakah Maya sudah tidur. Apakah dia menangis lagi. Apakah dia sendiri di rumah besar itu.

Ardi membelokkan mobil, bukan ke apartemennya, tapi ke arah Menteng.

 

Jam menunjukkan pukul sebelas ketika Ardi sampai.

Rumah Menteng gelap, hanya lampu teras yang menyala. Dia memarkir mobil di garasi, masuk lewat pintu dapur seperti biasa.

Yuni sudah pulang. Dapur bersih, tidak ada sisa makanan. Ardi berjalan ke lorong, menaiki tangga dengan langkah pelan.

Di lantai dua, lampu lorong menyala redup. Pintu kamar Maya tertutup. Tidak ada suara dari dalam.

Ardi berdiri di depan pintu, ragu. Dia ingin mengetuk. Ingin memastikan Maya baik-baik saja. Tapi teringat pagi ini—kepanikan Maya, Yuni yang mengamati, Sari yang memeluknya dengan penuh percaya.

Dia tidak bisa terus begini. Tidak bisa terus berpindah antara dua dunia, antara dua wanita, antara dua kebohongan.

Tapi kakinya tidak bergerak.

Ardi mengetuk. Pelan.

Tidak ada jawaban.

Dia mengetuk lagi. “Maya.”

Keheningan. Lalu suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka.

Maya berdiri di ambang, rambutnya basah, tubuhnya membalut handuk besar. Wajahnya segar, seperti baru keluar dari kamar mandi. Matanya sedikit terkejut melihat Ardi.

“Kau pulang?”

“Aku dari apartemen Sari.”

Maya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut. Tapi tangannya di gagang pintu memutih karena tekanan.

“Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja,” kata Ardi.

“Aku baik-baik saja.”

“Maya—”

“Kita tidak bisa terus begini, Ardi.” Suara Maya pelan, tidak menuduh. Hanya lelah. “Kau bilang kau dari apartemen Sari. Aku tidak ingin bertanya apa yang kalian lakukan, karena itu bukan hakku. Tapi kau harus memilih.”

Ardi terdiam. “Memilih?”

“Kau tidak bisa memiliki kami berdua.” Maya menatapnya, matanya basah tapi tegas. “Aku tidak akan jadi simpanan. Aku tidak akan jadi wanita yang kau datangi ketika kau bosan dengan Sari atau ketika kau merasa sendiri. Aku bukan pelarian.”

“Aku tidak pernah menganggapmu pelarian.”

“Tapi itu yang terjadi.” Maya memegang gagang pintu lebih erat. “Setiap kali Sari membuatmu ragu, kau datang ke sini. Setiap kali rumah ini terlalu sunyi, kau datang. Tapi kau tidak pernah memutuskan. Kau hanya—mengambang.”

Ardi merasakan dadanya sesak. “Apa yang kau mau aku putuskan?”

Maya menatapnya lama. Di lorong yang gelap, dengan hanya lampu redup dan suara napas mereka, Ardi melihat sesuatu di mata Maya yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Bukan ketakutan. Bukan kerapuhan. Tapi kemarahan yang tertahan.

“Aku tidak tahu,” bisik Maya akhirnya. Dan kejujuran itu lebih menyakitkan dari apapun.

Ardi melangkah maju, mendekat. Maya tidak mundur, tapi tubuhnya tegang. Ardi mengangkat tangan, menyentuh pipi Maya yang masih basah. Dia tidak menolak.

“Aku tidak bisa memilih,” bisik Ardi. “Karena jika aku memilih Sari, aku akan kehilanganmu. Dan jika aku memilihmu—”

“Kau akan kehilangan segalanya.”

Ardi menatap Maya. Air mata mengalir di pipinya, jatuh ke punggung tangan Ardi. Dia ingin mengatakan bahwa Maya bukan segalanya. Tapi itu bohong. Di rumah yang selalu ditinggalkan ini, Maya adalah satu-satunya yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Ardi mencondongkan tubuh, mencium Maya.

Ciuman ini berbeda dari yang di dapur kemarin. Bukan ciuman yang penuh kesadaran akan risiko. Ini ciuman yang putus asa, ciuman orang yang tidak tahu harus ke mana lagi, ciuman yang memohon agar waktu berhenti.

Maya membalasnya. Tangannya meraih kerah kemeja Ardi, menariknya mendekat. Di lorong yang gelap, dengan pintu kamar yang setengah terbuka, mereka berciuman seperti tidak ada besok.

Tapi Maya melepaskan lebih dulu. Napasnya terengah, pipinya basah, bibirnya bengkak.

“Kau harus pergi,” bisiknya.

Ardi tidak bergerak.

“Sekarang, Ardi. Sebelum kita melakukan sesuatu yang tidak bisa kita perbaiki.”

Ardi menatap Maya, melihat air mata yang terus mengalir, melihat tangannya yang gemetar, melihat pintu yang setengah terbuka di belakangnya.

Dia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.

“Aku tidak akan pergi,” katanya.

Maya terisak. “Ardi—”

“Aku tidak akan pergi, dan aku tidak akan memilih.” Ardi menatap Maya, suaranya lebih tegas dari yang dia rasa. “Karena memilih berarti kehilangan. Dan aku tidak bisa kehilangan satupun dari kalian.”

Maya menutup wajah dengan tangan, bahunya terisak. Ardi ingin memeluknya, tapi kakinya tidak bergerak.

“Kau egois,” bisik Maya dari balik tangannya.

“Aku tahu.”

Maya menurunkan tangan, menatap Ardi dengan mata merah. “Aku benci kau.”

“Aku juga benci diriku.”

Maya tertawa pahit. Tawa yang sama seperti di dapur, tawa orang yang sudah terlalu lelah untuk marah.

“Kau harus pergi sekarang,” katanya, lebih tenang. “Besok kita bicarakan. Tapi sekarang—aku tidak bisa.”

Ardi mengangguk. Dia melangkah mundur lagi, menjaga jarak yang terasa seperti jurang.

“Selamat malam, Maya.”

Maya tidak menjawab. Dia masuk ke kamar, menutup pintu dengan bunyi klik yang lembut.

Ardi berdiri di lorong, mendengarkan keheningan. Di balik pintu itu, Maya mungkin menangis. Mungkin marah. Mungkin sudah memutuskan untuk menjauh.

Dia tidak tahu.

Yang dia tahu, dia telah berbohong pada Sari, menyakiti Maya, dan membenci dirinya sendiri. Tapi ketika dia masuk ke kamarnya dan membuka jurnal, kata-kata yang keluar bukanlah penyesalan.

Aku mencium Maya di lorong. Dan untuk beberapa detik, aku lupa bahwa aku punya Sari, bahwa aku anak Bram, bahwa semua ini salah. Aku hanya tahu bahwa bibirnya lembut, bahwa dia menangis, bahwa aku tidak ingin berhenti.

Aku monster. Tapi monster ini tidak ingin kembali menjadi manusia jika manusia berarti sendirian.

Ardi menutup jurnal, mematikan lampu. Di kamar sebelah, tidak ada suara apa pun.

 

Jika kalian suka dengan ceritanya,jangan lupa disave ya agar ngga ketinggalan updatean terbarunya oke...,aku juga minta dukungan kalian likenya ya

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!