Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMPLOP TERAKHIR
Kamis malam. Amplop kedua belas.
Arsa tiba di studio Wren lebih awal dari biasanya. Pak Suryadi sedang menutup toko — ia berhenti sebentar di depan, membantu Pak Suryadi menurunkan papan nama toko yang selalu diangkat-turunkan setiap buka-tutup karena engselnya sudah rusak dan tidak ada yang memperbaikinya.
"Amplop terakhir malam ini," kata Pak Suryadi tanpa ditanya — ia sudah tahu jadwal ini, entah karena Wren cerita atau karena caranya mendengar percakapan yang berlangsung di tokonya.
"Iya."
Pak Suryadi berhenti memegang papan nama. Menatap Arsa dengan cara yang bijak tapi tidak berlebihan. "Sudah siap?"
"Tidak tahu."
"Jawaban yang konsisten." Pak Suryadi melanjutkan menurunkan papan. "Tapi kamu sudah sampai di sini. Itu sudah menjawab sebagian dari pertanyaannya."
Arsa membantu memegangi papan sementara Pak Suryadi mengunci bawahnya. "Pak Suryadi — surat enam halaman yang Bapak bakar itu. Kalau Bapak tidak membakarnya, apa yang akan Bapak tulis di akhirnya?"
Pak Suryadi terdiam sebentar. Lalu tersenyum — senyum yang penuh lapisan waktu di dalamnya. "Saya sudah tua dan saya tidak ingat persis." Ia menepuk bahu Arsa. "Tapi mungkin hal yang sama yang kamu sudah bilang kepada perempuan di atas sana."
Arsa menatapnya.
Pak Suryadi mengangkat bahu dengan cara yang mengatakan saya hanya mendengar, jangan salahkan saya dan masuk ke tokonya.
Di atas, Wren sudah menyeduh teh.
Kotak kayu ada di meja — amplop terakhir di dalamnya, sudah hampir dua bulan mereka membuka satu per satu. Arsa duduk. Wren membawa dua cangkir dan duduk di seberangnya.
Mereka menatap kotak itu.
"Hm," kata Wren.
"Hm," kata Arsa.
Hening sebentar yang terasa seperti dua orang yang sama-sama menghormati momen sebelum momen itu dimulai.
"Mau saya yang buka?" tanya Wren.
"Ya."
Wren mengeluarkan amplop terakhir. Meletakkannya di meja. Membukanya dengan gerakan yang sama seperti sebelas kali sebelumnya — hati-hati, menyusuri tepi, tanpa terburu-buru.
Mengeluarkan surat. Meletakkan di antara mereka.
Arsa membaca.
Langit,
Aku tidak tahu apakah ini surat terakhir atau tidak. Aku harap bukan.
Tapi ada sesuatu yang mau aku ceritakan dulu sebelum apapun yang lain:
Tadi malam aku bermimpi kita berdua di tempat yang sama dengan mimpi yang sudah aku ceritakan sebelumnya — pantai dengan pasir abu-abu, langit yang menjelang sore. Bedanya kali ini aku tidak duduk di belakang. Aku berdiri di sebelahmu.
Dan kamu tidak terkejut. Kamu hanya menoleh dan berkata: "Akhirnya."
Satu kata. Tapi di dalam mimpi itu satu kata itu terasa seperti semua yang pernah ingin aku dengar.
Aku terbangun dan duduk di tepi kasur lama. Matahari belum naik. Dan aku berpikir: mungkin sudah waktunya berhenti menulis surat yang tidak pernah sampai.
Mungkin sudah waktunya berdiri di sebelahmu langsung.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak pernah tahu. Tapi aku sudah belajar — dari kamu, dari semua yang ada di antara kita — bahwa tidak tahu tidak harus berarti tidak bergerak.
Jadi ini yang akan aku lakukan: aku akan bergerak.
Sebelum aku sempat berpikir terlalu panjang. Sebelum kata-kata ini kembali tersimpan di kotak yang tidak ada yang buka.
Langit — terima kasih sudah ada. Terima kasih sudah menjadi tempat di mana aku bisa jujur. Terima kasih sudah menjadi alasan aku belajar cara mendekat.
Apapun yang terjadi setelah ini — aku sudah di sisi yang lebih baik karena pernah mengenalmu.
— Raka
P.S. Ini surat terakhir yang aku tulis tanpa mengirim. Setelah ini, kalau aku punya hal yang ingin kamu tahu — aku akan bilang langsung.
Arsa tidak bergerak setelah selesai membaca.
Surat itu ada di antara mereka — satu lembar. Tulisan tangan adiknya yang terakhir dalam kotak kayu ini. Setelah ini, kalau aku punya hal yang ingin kamu tahu — aku akan bilang langsung.
Raka memutuskan itu.
Raka memutuskan untuk berhenti menyimpan dan mulai bergerak.
Dan kemudian kecelakaan itu terjadi. Satu hari, dua hari, seminggu setelah surat ini ditulis — Arsa tidak tahu persis kapan, tapi ia tahu bahwa setelah ini yang Raka tulis tidak pernah sempat terjadi. Bergerak yang diputuskan adiknya tidak sempat dimulai.
Ia merasakan sesuatu yang naik dari tempat yang sudah cukup lama tidak bersuara — bukan tangisan yang hebat, bukan kesedihan yang akut. Lebih seperti ombak yang sudah lama di laut dalam akhirnya menyentuh pantai. Perlahan, pasti, dan tidak bisa ditahan bukan karena kuat tapi karena sudah sangat lama menuju ke sini.
Wren tidak berkata apa-apa.
Ia berpindah dari kursinya — duduk di sebelah Arsa, bukan di seberang. Tangannya menemukan tangan Arsa di meja dan menggenggamnya. Tidak kencang — cukup. Seperti cara seseorang yang tahu bahwa kehadiran kadang lebih berbicara dari kata-kata.
Arsa menggenggam balik.
Mereka duduk diam dalam studio kecil itu — kotak-kotak surat yang sudah selesai, teh yang mendingin, suara kota di luar yang tidak tahu dan tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi di atas toko buku bekas di Blok M.
Setelah waktu yang tidak bisa diukur dengan akurat, Arsa berkata:
"Ya."
Hening lagi.
"Wren." Suaranya pelan tapi tidak retak. "Saya bergerak. Terlambat dari yang seharusnya, tapi saya bergerak."
Wren mengangkat kepala menatapnya. Matanya tidak menyembunyikan apapun — tidak ada pertahanan, tidak ada jarak yang dijaga. Hanya hadir.
"Saya tahu," katanya.
"Saya tidak mau ada kotak lain yang tidak dibuka."
"Tidak akan ada."
Arsa menatapnya — dan dalam tatapan itu ada semua hal yang sudah dua bulan ini menumpuk di tempat yang tidak ia beri label: cara Wren menutup laci dengan pelan, cara ia membuat teh dengan presisi ritual, cara namanya sekarang terasa seperti kata yang selalu sudah ada di kosakata hariannya, cara tangannya sekarang menggenggam tangannya di meja dengan cara yang terasa seperti sesuatu yang seharusnya sudah terjadi dari jauh sebelum ini.
Dan mungkin memang sudah. Mungkin sudah dari minggu pertama di kafe Blok M dengan kotak kayu di meja di antara mereka. Mungkin sudah dari waktu itu.
"Raka menulis dua belas surat," katanya untuk kedua kalinya — kalimat yang pertama ia ucapkan di teras hotel Bandung minggu lalu.
Wren mengingat. "Dan Anda hanya butuh satu."
"Dan satu tindakan," tambah Arsa.
.Ia memutar tubuhnya sedikit, dan Wren tidak bergerak menjauh — hanya menatapnya dengan cara yang sudah memberi jawaban sebelum ada pertanyaan yang diucapkan.
Arsa menyentuh sisi wajah Wren dengan satu tangan — hati-hati, pasti — dan jarak yang tersisa di antara mereka yang sudah berbulan-bulan menyusut akhirnya tidak ada.
Di atas toko buku bekas Pak Suryadi, di studio dengan foam panel abu-abu dan beanbag ungu dan rak buku yang penuh, dengan surat terakhir Raka masih terbuka di meja — dua orang yang bertemu karena kata-kata yang tidak sempat sampai akhirnya berhenti mengukur jarak.