NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Badai Setelah Hening ​

​Malam di Sektor Tujuh yang tadinya sunyi kini pecah oleh raungan helikopter kepolisian yang membelah angkasa. Cahaya lampu sorot raksasa menyapu puing-puing bengkel tua, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di atas tanah yang menghitam. Alistair Vance berdiri mematung di tengah kepungan debu, tongkat elang emasnya gemetar saat ia menatap layar ponselnya yang kini dipenuhi notifikasi merah—berita tentang kebocoran data aset rahasia keluarganya telah meledak di seluruh kanal berita internasional hanya dalam hitungan detik.

​Hael memacu jipnya melintasi jalanan berbatu, menghancurkan pagar kawat berduri yang tersisa dalam satu hantaman bumper depan. Sora mendekap kotak perunggu The Chronos Weaver di pangkuannya, merasakan denyut kristal perak itu merambat hingga ke jantungnya.

​"Hael, ada dua mobil hitam mengikuti kita dari arah barat!" seru Sora sambil menoleh ke belakang melalui kaca spion yang retak.

​"Bukan polisi," jawab Hael dengan rahang mengeras. Ia mengoper gigi, membuat mesin jip meraung protes. "Itu unit pembersih. Alistair mungkin sudah tamat secara hukum, tapi mereka yang berinvestasi di balik layar dalam konspirasi ini tidak akan membiarkan data itu tetap hidup bersama kita."

​Jip itu melesat masuk ke jalan raya utama, namun dua sedan gelap di belakang mereka tidak menyerah. Mereka bergerak dengan presisi taktis, mencoba menjepit jip Hael di antara pembatas jalan. Salah satu mobil menabrak sisi kiri jip, menimbulkan percikan api dan suara decit logam yang memekakkan telinga.

​"Pegang erat-erat!" teriak Hael.

​Ia membanting setir ke arah jalan tikus yang menuju ke kawasan gudang pelabuhan. Hael tahu, di jalan terbuka, mereka akan menjadi sasaran empuk. Mereka butuh labirin, dan pelabuhan adalah tempat di mana waktu seolah berhenti berputar.

​Mereka melompat turun dari mobil saat mencapai dermaga peti kemas yang gelap. Hael menarik tangan Sora, berlari di antara tumpukan kontainer raksasa yang tersusun seperti benteng baja. Napas Sora tersengal, namun ia tidak berani melambat. Kotak di tangannya terasa semakin berat, seolah memikul beban seluruh rahasia dunia.

​"Di sana!" Hael menunjuk ke sebuah gudang tua milik seorang kenalannya, seorang penyelundup barang antik yang berhutang budi padanya.

​Mereka menyelinap masuk melalui pintu besi kecil yang berkarat. Di dalam, aroma oli dan debu kayu menyambut mereka. Hael segera mengunci pintu dari dalam dan mengganjalnya dengan balok kayu besar.

​Sora terduduk di atas peti kayu, mencoba menenangkan jantungnya. Ia menatap kristal di dalam The Chronos Weaver. Cahayanya kini berubah menjadi biru tua yang tenang, seolah-olah mesin itu tahu bahwa ia telah memenuhi tugas pertamanya.

​"Kita tidak bisa tinggal di sini lama, Sora," ucap Hael sambil memeriksa melalui celah jendela. "Mereka akan menyisir pelabuhan ini dalam hitungan menit."

​"Hael, data itu... aku melihat sesuatu sebelum kita pergi tadi," Sora membuka kembali tutup kotak perunggu itu. "Ada satu berkas yang tidak terkirim. Sebuah berkas terenkripsi dengan nama ibuku."

​Hael mendekat, keningnya berkerut. "Ibumu? Aku pikir dia meninggal saat melahirkanmu."

​"Begitu yang dikatakan ayahku. Tapi di sini..." Sora menunjuk pada proyeksi hologram kecil yang muncul dari kristal. "Ada koordinat sebuah panti asuhan tua di pinggiran kota Paris. Tanggalnya... satu minggu setelah kebakaran bengkel sepuluh tahun lalu."

​Hael terdiam. Sebuah realitas baru yang mengerikan mulai terbentuk. "Sora, jika ayahmu menyembunyikan ibumu, atau jika keluarga Vance menggunakannya sebagai sandera untuk memaksa ayahmu bekerja... itu berarti konspirasi ini jauh lebih pribadi daripada yang kita bayangkan."

​Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari pintu gudang. BRAK!

​"Buka pintunya, Arlo! Berikan mesin itu dan kalian bisa pergi hidup-hidup!" suara seorang pria dari luar terdengar dingin dan tanpa emosi.

​Hael mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—sebuah pengacak sinyal (jammer) yang ia buat sendiri. "Sora, dengarkan aku. Di belakang gudang ini ada jalan menuju gorong-gorong yang terhubung ke kanal air. Kamu harus pergi ke sana. Bawa mesin ini."

​"Apa? Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu, Hael!"

​Hael memegang kedua bahu Sora, menatap matanya dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Mereka menginginkan mesin ini, bukan aku. Aku akan mengulur waktu. Jika kita berdua tertangkap, rahasia ayahmu akan hilang selamanya. Pergi ke koordinat itu, Sora. Cari tahu kebenaran tentang ibumu."

​"Hael, kumohon..." air mata mulai menggenang di mata Sora.

​"Waktunya tidak cukup, Sora! Pergi!"

​Hael mencium kening Sora dengan cepat, lalu mendorongnya menuju pintu rahasia di bawah lantai kayu. Dengan berat hati, Sora merangkak turun, memeluk kotak perunggu itu erat-erat. Saat ia menutup celah lantai, ia mendengar pintu depan gudang jebol. Suara tembakan pecah, diikuti oleh suara perkelahian fisik yang brutal.

​Sora berlari menembus kegelapan gorong-gorong yang bau dan lembap. Air setinggi mata kaki membasahi sepatunya, namun ia tidak peduli. Ia terus berlari, dipandu oleh cahaya redup dari kristal The Chronos Weaver. Di dalam kepalanya, ia hanya bisa berdoa agar Hael selamat.

​Ia akhirnya keluar di sebuah kanal sunyi di ujung pelabuhan. Di sana, sebuah taksi tua sudah menunggu—taksi yang dipesan Hael melalui kode rahasia sebelumnya. Supirnya, seorang pria tua dengan topi yang menutupi wajahnya, hanya mengangguk saat Sora masuk.

​"Ke bandara, Nona?" tanya supir itu dengan suara serak.

​Sora menatap kotak di pangkuannya, lalu menatap bayangan pelabuhan yang semakin menjauh. "Bukan ke bandara. Ke stasiun kereta api internasional. Aku harus ke Paris."

​Sora menyadari bahwa ia tidak lagi hanya sedang memperbaiki jam atau membalas dendam. Ia sedang menelusuri garis waktu hidupnya yang selama ini dipalsukan. Badai memang baru saja dimulai, tapi nakhoda di dalam dirinya kini tidak lagi takut akan ombak. Ia memiliki kompas paling akurat di tangannya, dan ia tidak akan berhenti sampai setiap detik dari masa lalunya terjelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!