NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa Season 2

Penerus Warisan Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)

Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.

Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.

Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.

Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.

Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 109: Perampokan di Bawah Cahaya Bulan

Matahari baru saja memancarkan semburat ungu di ufuk timur Ibukota Zhao.

Di dalam kamar Pangeran Ketiga yang sunyi, jendela kayu terbuka tanpa suara. Sesosok bayangan hitam melesat masuk ke dalam ruangan dengan kelincahan seekor kucing liar, mendarat di atas karpet beludru tanpa memicu decit lantai sedikit pun.

Zhao Xuan segera melepas topeng besi dan jubah hitamnya. Ia memusatkan sedikit energi di telapak tangannya, meremas topeng besi itu hingga hancur menjadi kepingan tak berbentuk, lalu melemparkannya ke dalam perapian yang masih menyala redup.

Pangeran berusia dua belas tahun itu berjalan cepat ke arah baskom tembaga, mencuci wajah dan tangannya. Saat ia mengeringkan tangannya, pandangannya tertuju pada sebuah cincin abu-abu kusam yang melingkar di jari telunjuk kirinya.

Cincin Jiwa Kuno.

Mata Zhao Xuan menyipit, memori kelam dari kehidupan sebelumnya berkelebat. Saat jarum api tingkat Nirvana milik Leluhur Yao menghancurkan Tulang Emas Asura-nya dan menghapus eksistensinya, cincin inilah yang menyerap tetesan terakhir darah emasnya. Cincin itu melindungi sisa jiwanya, merobek ruang dimensi, dan membawanya bereinkarnasi ke dalam rahim Sang Ratu Kerajaan Zhao di dunia fana ini.

Selama dua belas tahun, cincin ini tertidur seperti batu biasa tanpa setitik pun sihir. Namun malam tadi, saat Zhao Xuan menghancurkan perisai kultivator Yan, cincin ini berdenyut hangat untuk pertama kalinya. Retaknya segel spiritual di Dunia Tianyun membuat artefak dewa ini perlahan mulai terbangun.

Ia membutuhkan energi spiritual dalam jumlah masif untuk memulihkan kekuatannya, batin Zhao Xuan, membelai permukaan cincin itu. Jika cincin ini bangkit, ruang penyimpanannya yang berisi harta karun dari kehidupanku sebelumnya akan terbuka kembali. Aku tidak perlu lagi meracik pil sampah di kuali besi.

Brak!

"Xuan'er! Cepat bangun! Ayahanda dan Kak Tian sudah kembali!"

Pintu kamar didobrak terbuka. Kakak Keduanya, Zhao Ling, melesat masuk dengan penuh semangat. Ia tidak memedulikan etiket putri kerajaan dan langsung menerjang adik bungsunya yang sedang berdiri mematung, memeluknya erat-erat.

"Kak Ling, napasku..." Zhao Xuan memprotes dengan wajah datar yang dipaksakan.

Zhao Ling tertawa, namun tawanya tiba-tiba terhenti. Ia melepaskan pelukannya, memundurkan wajahnya sedikit, dan mengendus udara di sekitar leher dan rambut Zhao Xuan. Alis cantik sang putri berkerut penuh kecurigaan.

Jantung sang mantan pembantai dewa itu berdetak satu ketukan lebih cepat.

"Xuan'er..." gumam Zhao Ling, matanya menyipit tajam menatap adiknya. "Kenapa rambutmu bau... anyir? Seperti bau besi tua yang terbakar dan debu tanah? Apa kau menyelinap keluar kamar malam tadi?!"

Di Benua Tengah, jika ada seseorang yang mencium rahasianya, Zhao Xuan hanya perlu membungkam mereka selamanya. Namun ini adalah Kakak Keduanya. Otak jenius Zhao Xuan berputar mencari alasan fana yang masuk akal dalam waktu kurang dari satu detik.

Zhao Xuan membesarkan matanya sedikit, memberikan tatapan polos khas anak kecil yang tertangkap basah melakukan kenakalan ringan. Ia menunduk sambil menggesekkan ujung kaki telanjangnya ke karpet.

"Aku... aku tidak bisa tidur semalam, Kak," suara Zhao Xuan dibuat sedikit lebih pelan dan ragu. "Aku mencoba mengasah pedang kayu mainanku dengan batu asahan basah di dekat perapian. Tapi pedang kayunya malah jatuh ke dalam api dan membakar serbuk besinya. Maaf, aku belum mandi."

Zhao Ling menatap adiknya lekat-lekat selama tiga detik. Bagi Zhao Xuan, tatapan curiga kakaknya ini terasa jauh lebih mematikan daripada tekanan spiritual Pembentukan Fondasi milik Tetua Mu.

Lalu, wajah tegang Zhao Ling mencair menjadi helaan napas panjang yang penuh kasih sayang. Ia mengacak-acak rambut Zhao Xuan.

"Ya ampun, kau ini! Ayahanda sedang bertaruh nyawa di perbatasan, dan kau malah bermain pandai besi di tengah malam?" Zhao Ling terkikik pelan, menjewer telinga adiknya tanpa tenaga. "Cepat mandi dan ganti bajumu. Ibunda sudah menunggu di ruang makan. Jika dia mencium bau asap ini, dia akan mengira kamarmu terbakar!"

"Baik, Kak Ling," jawab Zhao Xuan patuh, menghela napas lega di dalam hatinya.

Siang harinya, di dalam Aula Militer Istana, laporan mengenai "Dewa Penjaga Berjubah Hitam" yang membantai Tetua Mu telah menyebar. Raja Zhao dan para jenderal dipenuhi rasa syukur bercampur waswas.

Di sudut ruangan, Zhao Xuan sedang duduk pura-pura membaca buku puisi sejarah.

Sekte Awan Angin pasti akan mengirim ahli yang lebih tinggi, mungkin Puncak Pembentukan Fondasi atau bahkan Setengah Langkah Inti Emas, untuk membalas dendam, analisis Zhao Xuan. Cincin Jiwa Kuno-ku kelaparan. Meridian kelima bayanganku juga kelaparan. Aku butuh batu spiritual, dan Kerajaan Zhao tidak memilikinya. Jika kita tidak punya... kita ambil dari mereka yang punya.

Malam harinya, di bawah markas rahasia perkebunan terbengkalai.

Lima remaja berpakaian hitam ketat Jue Ying dan rekan-rekannya berlutut di atas lantai batu. Aura mereka telah stabil di Tahap Pertama Pengumpulan Qi. Mata mereka memancarkan fanatisme absolut saat menatap Tuan mereka.

"Mayat Tetua Mu telah dihancurkan, Tuan," lapor Jue Ying.

Zhao Xuan yang duduk di kursi batu mengangguk pelan. Ia mengangkat tangan kirinya, membiarkan kelima muridnya melihat Cincin Jiwa Kuno yang melingkar di jarinya.

"Sekte Awan Angin dari utara memiliki sebuah paviliun cabang yang berjarak seratus mil dari perbatasan kita. Di sana, mereka menyimpan batu spiritual tingkat rendah, gulungan formasi, dan ramuan obat," ucap Zhao Xuan datar. Ia berdiri dan melangkah mendekati Jue Ying. "Cincin di jariku ini, dan meridian di dalam tubuh kalian, membutuhkan batu spiritual itu untuk bangkit. Mereka berniat merampok tanah air kita. Jadi, kita akan mengosongkan perbendaharaan mereka lebih dulu."

Jue Ying mendongak, matanya berkilat antusias. "Membantai paviliun cabang itu, Tuan?"

"Tidak," Zhao Xuan menggelengkan kepalanya. "Itu hanya akan memancing tetua inti mereka turun gunung terlalu cepat. Misi kalian adalah menyusup. Ambil setiap batu spiritual, salin setiap gulungan, kosongkan ruang pil mereka tanpa jejak."

"Tapi Tuan," salah satu bayangan wanita menyela dengan hormat. "Paviliun kultivator pasti dilindungi oleh Formasi Pendeteksi Qi. Jika kami melangkah masuk, alarm formasi spiritual mereka akan berbunyi."

Di balik bayangan, Zhao Xuan mengukir senyum yang mengerikan.

"Itu berlaku untuk pencuri biasa," ucapnya. Tiba-tiba, secara harfiah, keberadaan Qi, suhu tubuh, dan bahkan suara detak jantung Zhao Xuan menghilang sepenuhnya dari persepsi kelima muridnya. Jika mereka menutup mata, mereka tidak akan tahu ada orang berdiri di depan mereka.

"Ini adalah Seni Penyembunyian Napas Asura," suara Zhao Xuan menggema pelan. "Seni ini tidak memblokir formasi, melainkan membuat meridian kalian beresonansi dengan frekuensi benda mati. Kalian akan menjadi seperti debu di atas meja. Aku akan menanamkan metode ini ke dalam meridian kalian malam ini."

Kelima bayangan itu menelan ludah, kekaguman mereka semakin tak terbendung.

"Misi kalian dimulai lusa," perintah Zhao Xuan, keberadaannya kembali terasa. "Jadikan harta Sekte Awan Angin sebagai makanan bagi Cincin Jiwa Kuno dan fondasi Sekte Langit Asura. Buat para kultivator arogan itu menyadari, bahwa di dalam kegelapan dunia fana ini, ada monster perampok yang jauh lebih ganas daripada mereka."

1
Yanka Raga
😎🤩
Yanka Raga
🤩😎
Yanka Raga
😎🤩
alexander
bagus ceritanya
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiii manggg minnnn
saniscara patriawuha.
sikatttttt sudahhhhh
abyman😊😊😊
Hahahah🤣
saniscara patriawuha.
gassssdddd...
Rinaldi Sigar
lnjut
abyman😊😊😊
Bantaiiiiiiiiiiii 💪💪💪
saniscara patriawuha.
wadohhhhhh wadohhhhh
Rinaldi Sigar
lanjut
Yanka Raga
😎🤩
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
ohh yessss
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
bantaiiii habisssd manggg suannnn
saniscara patriawuha.
apa nggak terkencing kencing itu...
Yanka Raga
😎🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!