NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIKET KONSER BERPASANGAN

Jika ada satu hal yang paling dibenci Jingga selain remah roti di meja makan, itu adalah kerumunan orang yang berkeringat dan berisik. Namun, malam ini dia berdiri di tengah Jakarta International Stadium, mengenakan kaos band hitam yang senada dengan Luna. Luna tampak sangat bersemangat, menggandeng lengan Jingga erat-erat sambil sesekali berjingkrak kecil mengikuti dentuman musik pembuka.

"Jingga! Makasih ya udah mau nemenin aku nonton The Midnight Echo! Aku tahu kamu nggak terlalu suka keramaian, tapi ini konser langka banget!" teriak Luna di tengah kebisingan.

Jingga memaksakan senyum, meski matanya terus menyapu area VIP Festival di depan mereka. "Iya, Lun. Apa sih yang enggak buat kamu?"

Namun, di balik senyum itu, jantung Jingga berdegup kencang karena alasan lain. Dua jam yang lalu, di apartemen, dia melihat Sinta dandan habis-habisan. Sinta memakai celana denim pendek, sepatu boots, dan atasan crop top yang menurut Jingga... terlalu terbuka.

"Gue mau nonton konser sama Mas Adrian. Dia beli tiket VIP, bukan tiket ekonomi kayak lu!" ejek Sinta sebelum berangkat tadi.

Jingga mendengus pelan. Dia tidak peduli soal kategori tiketnya. Yang dia pedulikan adalah: di mana si Sinting itu sekarang? Dan apa yang sedang dilakukan Adrian padanya di tengah kegelapan konser ini?

"Jing? Kamu cari siapa sih? Dari tadi nengok kanan-kiri terus," tanya Luna, mulai menyadari kegelisahan pacarnya.

"Eh, enggak. Aku cuma... lagi nyari tukang minum. Haus banget, Lun," dalih Jingga.

"Bukannya tadi baru minum? Ya udah, aku cariin ya di booth belakang. Kamu tunggu sini, jangan ke mana-mana!" Luna melepaskan gandengannya dan menghilang di antara kerumunan.

Begitu Luna pergi, insting detektif Jingga langsung aktif. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka fitur zoom kamera, dan mulai memindai area VIP yang dibatasi pagar besi di depan. Dan di sana, tepat di barisan ketiga dari panggung, dia menemukannya.

Sinta. Dia sedang tertawa lebar, memegang lightstick berwarna biru. Di sampingnya, Adrian berdiri sangat dekat—terlalu dekat menurut standar Jingga. Adrian merangkul bahu Sinta dari belakang untuk melindunginya dari dorongan penonton lain.

"Sialan. Modus banget si Adrian," umpat Jingga pelan. Dia merasa tangannya gatal ingin menarik Sinta menjauh dari sana.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, Sinta menoleh. Matanya yang tajam menyapu kerumunan di area festival bawah. Entah karena ikatan batin musuh bebuyutan atau sekadar kebetulan, mata mereka bertemu. Sinta membelalak. Dia melihat Jingga yang sedang memegang ponsel ke arahnya dengan wajah masam.

Sinta segera membisikkan sesuatu ke telinga Adrian, lalu dia memberikan isyarat tangan "tengah" yang sangat tidak sopan kepada Jingga dari kejauhan.

Jingga membalas dengan tatapan tajam dan isyarat "gue awasin lu" menggunakan dua jarinya.

Konser dimulai. Suara musik menggelegar, lampu laser menyambar-nyambar ke segala arah. Luna sudah kembali membawa dua botol air mineral dan langsung larut dalam nyanyian. Jingga berusaha ikut menikmati, tapi fokusnya terbagi dua. Dia harus menjaga Luna, tapi matanya tidak bisa lepas dari bayangan dua orang di area VIP itu.

Setiap kali lagu melankolis diputar, Jingga melihat Adrian mendekatkan wajahnya ke telinga Sinta. Di mata Jingga, itu terlihat seperti Adrian sedang mencoba mencium Sinta. Di mata penonton lain, itu mungkin romantis. Tapi bagi Jingga, itu adalah ancaman terhadap stabilitas... apartemennya? Atau harga dirinya? Dia sendiri bingung.

"Jingga! Ayo nyanyi! Ini lagu favorit kita!" Luna menarik tangan Jingga, mengajak berdansa kecil.

Jingga mencoba fokus pada Luna. Dia merangkul pinggang Luna, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa inilah tempat yang seharusnya dia nikmati. Tapi saat dia menoleh ke depan lagi, dia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih.

Adrian sedang menggendong Sinta di bahunya agar Sinta bisa melihat panggung lebih jelas. Sinta tertawa riang, tangannya melambai-lambai di udara. Pose itu membuat Sinta menjadi pusat perhatian, dan otomatis, Jingga bisa melihat dengan jelas betapa bahagianya Sinta tanpa dirinya.

"Norak banget sih," gumam Jingga ketus.

"Apa, Sayang?" tanya Luna.

"Itu! Lihat deh di depan, ada yang gendong-gendongan. Mengganggu pemandangan orang di belakangnya tahu nggak? Nggak punya etika konser!" protes Jingga dengan nada tinggi.

Luna menoleh ke arah yang ditunjuk Jingga. "Oh, itu Mas Adrian sama Sinta, kan? Wah, romantis banget ya mereka. Mas Adrian perhatian banget sama Sinta."

"Romantis apaan? Itu namanya pamer! Norak!"

Luna menatap Jingga dengan tatapan aneh. "Kamu kenapa sih jadi emosian gitu sama mereka? Biasanya kan kamu cuek."

Jingga tersentak. Dia sadar reaksinya terlalu berlebihan. "Ya... aku cuma kasihan sama orang di belakangnya, Lun. Kan jadi nggak kelihatan."

Saat jam istirahat antar sesi lagu, Sinta pamit ke toilet pada Adrian. Sebenarnya, itu hanya alasan. Dia melihat Jingga terus-menerus memelototinya dari bawah, dan itu membuatnya tidak nyaman sekaligus ingin membalas dendam.

Sinta berjalan menuju area toilet umum di belakang stadion, area yang juga bisa diakses oleh penonton festival. Dan benar saja, di dekat dispenser air, dia melihat Jingga sedang berdiri sendirian, sepertinya sengaja menunggu.

"Ngapain lu ngikutin gue sampai ke sini, Mata-mata?" semprot Sinta, berkacak pinggang di depan Jingga.

Jingga melipat tangannya di dada, menatap Sinta dari atas ke bawah. "Ngikutin lu? Ge-er banget. Gue lagi nunggu Luna beli camilan. Lagian, lu ngapain pakai baju kayak kurang bahan gitu? Mau konser apa mau audisi jadi cabe-cabean?"

"Heh! Ini namanya concert outfit! Lu-nya aja yang kuno, pakai kaos band buluk gitu!" balas Sinta sengit. "Lagian, lu kenapa sih melototin gue terus dari tadi? Cemburu lihat gue digendong Mas Adrian?"

Jingga tertawa sinis, meski jantungnya berdegup tidak karuan. "Cemburu? Sama lu? Jangan mimpi! Gue cuma ngeri aja lihat si Adrian keberatan beban gendong lu. Kasihan tulang belakangnya bisa geser."

"Iri bilang, Bos! Mas Adrian itu kuat, nggak kayak lu yang disuruh angkat galon di apartemen aja ngeluh encok!"

"Lu bener-bener nggak tahu malu ya, Sin. Lu itu istri orang, tapi pelukan sama cowok lain di depan ribuan orang!" Jingga mendekat, merendahkan suaranya agar tidak terdengar orang lewat.

"Istri kontrak, Jingga! Kontrak! Lu juga pelukan sama Luna, gue diem aja kan?"

"Itu beda! Gue sama Luna itu... itu..."

"Itu apa? Itu cinta? Terus gue sama Adrian nggak boleh cinta?" Sinta menatap mata Jingga dengan tajam. Ada kilatan luka yang tersembunyi di balik kemarahannya.

Jingga terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Argumen "kontrak" selalu menjadi tameng yang tak tertembus, tapi entah kenapa malam ini tameng itu terasa sangat menyakitkan.

Tiba-tiba, suara Luna terdengar memanggil nama Jingga dari kejauhan.

"Sana balik ke pacar lu! Jangan sampai dia curiga kenapa lu lama banget di deket toilet cewek!" Sinta mendorong bahu Jingga, lalu berjalan pergi menuju area VIP kembali.

Jingga menatap punggung Sinta yang menjauh. Dia mengepalkan tangannya. Rasa kesal ini bukan lagi soal rahasia yang terancam bongkar. Ini soal sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak setiap kali melihat Sinta tersenyum pada Adrian.

Sisa konser malam itu menjadi hambar bagi Jingga. Dia tetap berdiri di samping Luna, tapi pikirannya melayang pada percakapannya dengan Sinta di dekat toilet. Saat kembang api meledak di langit menandakan berakhirnya konser, Jingga hanya menatap hampa ke depan.

Di perjalanan pulang (secara terpisah, tentu saja), Jingga menyetir dengan ugal-ugalan. Sesampainya di apartemen, dia menemukan Sinta sudah duduk di ruang tamu, sedang melepas sepatu boots-nya dengan wajah lelah.

"Gimana konsernya? Puas jadi pusat perhatian di bahu Adrian?" tanya Jingga dingin sambil melempar kunci mobilnya ke meja.

Sinta tidak menjawab. Dia hanya menatap Jingga dengan tatapan lesu. "Gue capek, Jing. Jangan cari ribut sekarang."

Jingga mendekat, berdiri di depan Sinta. "Gue serius, Sin. Jangan terlalu kebablasan sama Adrian. Orang kantor mulai ngomongin kalian."

Sinta mendongak, tertawa kecil yang terdengar getir. "Orang kantor ngomongin gue sama Adrian itu wajar, karena kami pacaran. Yang nggak wajar itu kalau mereka ngomongin gue sama lu. Jadi, lu nggak usah sok peduli sama reputasi gue."

Sinta berdiri, berjalan melewati Jingga menuju kamarnya. Namun, sebelum dia membuka pintu, dia berhenti sebentar.

"Oh, satu lagi. Gendongan Mas Adrian tadi... jauh lebih nyaman daripada semua perdebatan kita di rumah ini."

BRAKK!

Sinta membanting pintu kamarnya. Jingga berdiri mematung di ruang tamu yang kini terasa sangat sunyi. Dia meninju bantal sofa dengan frustrasi.

"Sialan. Kenapa gue harus ngerasa sakit hati denger itu?" bisik Jingga pada kegelapan.

Malam itu, di balik dinding yang tipis, ada dua orang yang tidak bisa tidur. Yang satu menangisi daster pemberian pacarnya yang robek (dari kejadian sebelumnya) dan hatinya yang bingung, sementara yang satu lagi merutuki kemeja kuning (yang dipinjam dari saingannya) dan rasa cemburu yang mulai tak terkendali.

Konser The Midnight Echo telah berakhir, tapi gema perasaannya baru saja mulai meraung di dalam kepala mereka masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!