Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RESTU BERSYARAT
Maura tidak lagi berteriak, namun langkah kakinya yang mendekat terasa lebih mengintimidasi daripada pekikannya tadi. Dengan dagu terangkat dan tatapan yang tidak lepas dari Yasmin, ia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar mereka berpindah ke ruang tengah.
Hingga akhirnya, ketiganya duduk di sofa beludru yang melingkar. Maura mengambil posisi di sofa tunggal yang megah, seolah sedang duduk di singgasana pengadilan. Sementara itu, Arya duduk di sofa panjang, dengan protektif menempatkan Yasmin di sampingnya, meski Yasmin sendiri hanya berani duduk di ujung bantal sofa dengan jemari yang saling meremas di pangkuan.
Maura menyandarkan punggungnya, menatap Arya dan Yasmin bergantian dengan senyum tipis yang sarat akan racun.
"Menikah? Rumah sendiri?" ucap Maura dengan nada suara yang mendadak tenang, namun ketenangannya justru membuat bulu kuduk Yasmin berdiri.
Maura menjeda kalimatnya, matanya menyipit menatap Yasmin yang semakin menunduk dalam. "Kamu yakin ingin menikahi wanita yang bahkan tak jelas asal usulnya?!"
Arya menghela napas panjang, mencoba menjaga emosinya agar tidak meledak di depan Yasmin. "Ma." potong Arya dengan suara rendah namun bergetar hebat. "Cukup. Aku gak butuh silsilah bangsawan atau harta melimpah untuk tahu siapa wanita yang berdiri di sampingku saat ini. Aku mencintai Yasmin karena hatinya, bukan karena dari mana ia berasal."
Maura mengangkat sebelah alisnya tajam. "Hati?" ulangnya. "Ya..."
Maura mengangguk pelan, sebuah gerakan yang tampak anggun namun menyimpan racun di setiap incinya. Matanya yang dingin kini mulai memandang Arya, menatap anaknya itu dengan sorot kasihan yang dibuat-buat, seolah sedang melihat seorang prajurit yang baru saja kalah perang secara memalukan.
"...dari awal Mama memang sudah menebak hal ini akan terjadi padamu, Arya," ucap Maura dengan pelan, namun setiap katanya menancap tajam. "Pertemuan singkat yang kau anggap romantis itu... ternyata cukup kuat untuk mengubah pola pikiranmu menjadi serendah ini!"
Arya tertegun, rahangnya mengeras mendengar kata "rendah" keluar dari mulut wanita yang telah membesarkannya.
"Rendah?" ulang Arya dengan suara tertahan. "Menghargai wanita yang aku cintai itu Mama anggap rendah?"
Maura tertawa tipis, sebuah tawa hambar yang menyakitkan telinga. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, melipat kaki dengan angkuh. "Ya, rendah. Wanita seperti apa dulu yang kamu cintai, Arya! Kamu mengabaikan martabat keluarga, kamu melupakan standar yang sudah kita bangun puluhan tahun, hanya demi emosi sesaat. Kamu rela menjadi 'pelayan' bagi seorang pelayan, Arya. Bukankah itu sebuah kemunduran?"
Pandangan Maura kemudian beralih kilat ke arah Yasmin yang masih tertunduk, bahunya sedikit bergetar.
"Hebat sekali kamu, Yasmin," sindir Maura tajam. "Hanya butuh waktu singkat untuk mencuci otak seorang dokter cerdas seperti Arya. Apa yang kamu janjikan padanya? Kesetiaan? Atau hanya wajah memelas agar dia merasa menjadi pahlawan?"
"MA, CUKUP!" Nada Arya meninggi satu oktav.
Yasmin tersentak, ia mengangkat wajahnya menoleh ke arah Arya, dengan mata yang sudah basah oleh air mata yang tak terbendung lagi. "Mas..."
"Kalau Mama menghina Yasmin, itu sama saja menjatuhkan harga diriku!" Ungkap Arya.
Hening
Suasana di ruang tengah itu seketika tersedot hampa. Kalimat Arya menggantung di udara seperti petir yang baru saja menyambar pilar-pilar kokoh rumah tersebut. Untuk beberapa detik, detak jarum jam dinding kuno di sudut ruangan terdengar begitu nyaring, mengisi keheningan yang menyesakkan.
Maura terdiam, matanya menyipit menatap anaknya itu seolah sedang melihat orang asing yang baru saja merasuki tubuh Arya. Lalu, perlahan, bahunya mulai berguncang. Sebuah suara tawa yang kering dan hambar pecah, menggema di ruangan yang luas itu. Bukan tawa kebahagiaan, melainkan tawa penghinaan yang membuat bulu kuduk Yasmin berdiri.
"Harga diri?" ulang Maura dengan nada yang menyeret, seolah kata itu adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar tahun ini.
Ia condong ke depan, menatap Arya dengan tatapan yang tajam bak sembilu. "Kamu bicara soal harga diri, Arya? Setelah kamu membawa wanita yang bahkan tidak tahu siapa ayahnya ke rumah ini? Setelah kamu berencana membuang namamu, posisimu, dan martabat keluarga kita hanya untuk menjadi pelindung bagi seseorang yang... yang bahkan tidak punya kelas?"
Maura lalu berdiri, langkahnya pelan namun setiap ketukan hak sepatunya di lantai marmer terasa seperti intimidasi yang terukur. Ia mendekati Arya hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah.
"Harga diri itu dibangun dengan darah, keringat, dan silsilah yang bersih, Arya. Bukan dengan perasaan murahan yang kamu sebut cinta," bisik Maura tepat di depan wajah Arya, suaranya kini mendesis tajam. "Jika kamu memilih dia, kamu bukan sedang menjaga harga dirimu. Kamu sedang menyeretnya ke tempat yang sangat rendah dan tak berharga sama sekali. Kamu sedang menghancurkan semua yang sudah Mama bangun untukmu!"
Yasmin merasa dunianya runtuh. Ia ingin melepaskan tangan Arya, ingin lari sekencang mungkin agar tidak menjadi penyebab hancurnya hubungan keluarga ini. Namun, genggaman Arya justru semakin menguat, seolah pria itu tahu apa yang sedang berkecamuk di pikiran Yasmin.
"Kalau begitu," sahut Arya, suaranya kini terdengar sangat tenang namun mematikan. "Biarkan aku hidup di tempat yang Mama sebut itu, asal bersamanya. Karena di istana ini, aku justru merasa tidak punya harga diri sama sekali jika harus melihat wanita yang kucintai diinjak-injak seperti ini."
Wajah Maura memucat. Ia tidak menyangka Arya akan sejauh itu.
"Apa?!" Maura tersentak. "Pergi?! Kamu lupa, Arya...? Kamu lupa kalau saya ini Ibu kamu?!"
Arya menghela udara dalam, lalu mengangguk. Di saat itu juga, ia beranjak. Dengan masih menggenggam lengan Yasmin, wanita itupun ikut berdiri.
"Sama sekali ingat, Ma." Arya mengangguk perlahan, namun tatapannya mengunci manik mata Maura dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Aku ini... anak angkat Mama. Hanya anak angkat kan, Ma? Dan, itu nggak lebih."
Kalimat itu meluncur seperti sembilu yang membelah keangkuhan Maura. Sebutan "anak angkat" yang ditekankan Arya seolah-olah menjadi pembatas baja yang memisahkan mereka berdua—mengingatkan Maura bahwa meski ia yang membesarkan Arya, ia tak pernah benar-benar memiliki jiwa pria itu.
Maura menganggukkan kepala perlahan. Ia tetap bertahan, punggungnya tetap tegak meski hatinya sudah terlampau jengkel. Amarahnya kini membeku menjadi kebencian yang dingin dan pekat.
"Nggak lebih?" ulang Maura dengan suara yang rendah, nyaris berbisik namun penuh racun. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, hingga aroma parfum mahalnya yang tajam menabrak indra penciuman Arya.
"Kamu lupa, Arya? Kamu lupa siapa yang memungutmu dari kehampaan saat orang tua kandungmu tidak meninggalkan apa-apa selain nama yang tak berharga?" Maura tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar perih di telinga Yasmin.
"Tanpa tangan Mama dan mendiang Papa yang menarikmu masuk ke rumah ini, kamu mungkin hanya akan menjadi pria biasa yang membusuk di luar sana. Mama memberimu pendidikan terbaik, menjadikannya dokter yang dihormati, dan menyematkan harga diri di pundakmu yang dulu rapuh!"
Maura menunjuk dada Arya dengan jari telunjuknya yang terawat rapi. "Lalu sekarang kamu bilang 'nggak lebih'? Kamu menggunakan status 'anak angkat' itu sebagai tameng untuk membuang semua budi yang sudah Mama tanam hanya demi... demi perempuan ini?!"
Maura melirik Yasmin dengan tatapan jijik yang tak lagi disembunyikan. "Kamu lupa bahwa setiap tetes kemewahan yang kamu nikmati, setiap inci pengaruh yang kamu miliki, itu semua berasal dari restu Mama. Dan sekarang kamu ingin membawa semua itu untuk membangun 'istana' bagi dia?"
Arya membisu.
"Oke." Maura mengangguk pelan, sebuah gerakan yang tampak terlalu tenang untuk badai yang baru saja berkecamuk. Ia merapikan jubah sutranya, lalu kembali duduk di sofa tunggalnya dengan keanggunan yang dipaksakan. "Mama akan menyetujui pernikahan kalian..."
Kalimat Maura menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Kata "menyetujui" yang keluar dari bibir dingin wanita itu bukannya membawa kelegaan, justru terasa seperti sebuah jerat yang perlahan mengencang di leher Arya.
"... Tapi dengan satu syarat. Kalian... tetap tinggal di rumah ini!"
Arya tersentak, pegangannya pada tangan Yasmin mengencang secara spontan. "Ma... ke-kenapa?"
Maura membisu. Ia hanya menyandarkan punggungnya, menatap Arya dengan tatapan yang seolah-olah sedang mengasihani seorang bocah yang tidak tahu apa-apa. Keheningan itu justru lebih menyiksa daripada makian, seolah Maura sedang membiarkan Arya tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Oh..." Arya mengembuskan napas pendek, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. "Aku mengerti sekarang. Mama tidak mau Yasmin menjadi ratu di rumah baru kami karena Mama merasa dia tidak pantas? Mama ingin dia tetap di sini, di bawah pengawasan dan telapak kaki Mama, kan?!" Ia mendesis. "Sama seperti Sheila!" gumamnya
Mendengar tuduhan itu, sorot mata Maura yang tadinya dingin mendadak berkilat tajam, Ia berdiri dengan sentakan pelan, namun auranya memenuhi seluruh ruangan.
"Kamu lupa dengan janji ayah kamu yang dulu terucap sebelum kematiannya?!" suaranya kini bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena kemarahan yang tertahan.
Arya terpaku.
****