Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kemarahan dan Ketakutan
Malam itu, penthouse Kaito Group di London terasa sunyi namun mencekam. Emrys sedang berada di ruang kerjanya yang kedap suara, terlibat dalam rapat virtual lintas benua dengan Tokyo. Gaby tahu ini adalah kesempatan emasnya. Dengan jantung berdebar, ia mengenakan leather jacket pendek di atas silk slip dress hitamnya. Pilihan yang sangat "Melvin" tapi tetap elegan.
Ia segera mengirim pesan singkat pada Emilia: "Emergency! Jemput aku di gang belakang. Aku turun lewat balkon."
Emilia membalas secepat kilat: "OMG, Gaby! You're a rebel now! Aku di sana dalam 5 menit dengan Porsche-ku. Get ready, darling!"
Gaby melangkah ke balkon lantai dua yang menghadap ke arah taman privat. Tingginya tidak seberapa, tapi cukup untuk membuat lututnya lemas. Dengan bantuan tali jemuran dekoratif yang ia ikat kuat pada pagar besi, Gaby merosot turun dengan lincah. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia berlari sekencang mungkin menuju gerbang belakang.
Di Dalam Porsche Emilia
"You look like a criminal, Gaby! I love it!" teriak Emilia sembari menginjak gas, deru mesin mobil sport itu membelah jalanan London menuju studio Melvin di kawasan Shoreditch yang artistik.
"Sst! Kalau Kak Emrys tahu, dia akan memutus koneksi internetku selamanya!" seru Gaby sembari merapikan rambutnya yang berantakan terkena angin.
"Tenang saja, di pesta Melvin nanti, semua orang memakai topeng atau lampu neon. Emrys tidak akan bisa menemukanmu di sana," hibur Emilia. "Lagipula, Sabrina sudah menunggumu. Dia bilang ada kejutan untukmu di studio."
The Blackwood Underground Party
Begitu mereka sampai di sebuah gudang tua yang telah disulap menjadi studio fashion futuristik, Gaby terpukau. Cahaya laser berwarna ungu dan biru menyapu ruangan, musik techno-melodic berdentum lembut namun bertenaga. Mahasiswa elit Oxford dan model-model London berkumpul di sana, menciptakan atmosfer yang sangat berbeda dari makan siang formal tadi siang.
Melvin, yang mengenakan kemeja transparan dengan aksen rantai perak, langsung menghampiri mereka. "The runaway princess has arrived," godanya sembari menyodorkan gelas berisi minuman berwarna biru neon.
"Jangan panggil aku begitu, Melvin," protes Gaby, meski ia tidak bisa menahan senyum.
"Gaby! Sini!" Sabrina menarik Gaby menuju sebuah manekin di sudut ruangan. "Lihat ini. Ini adalah prototipe kain sustainable yang aku bicarakan. Melvin ingin kau mencoba desain pertamanya. Kau akan menjadi 'wajah' rahasia untuk koleksi soft-launch kami malam ini."
Gaby menyentuh kain itu, teksturnya seperti sutra tapi lebih kuat. Saat ia baru saja akan mencoba pakaian itu di balik tirai, ponsel di tasnya bergetar hebat.
Satu pesan masuk dari Kak Emrys:
"Gaby, kenapa lampu balkonmu menyala dan pintunya terbuka? Aku mengetuk kamarmu dan tidak ada jawaban. Count to three, and tell me where you are."
Wajah Gaby pucat pasi. Emilia yang mengintip pesan itu langsung membelalak. "Abort mission, Gaby! The dragon is awake!"
( Batalkan misi, Gaby! Naganya sudah bangun!)
Gaby menatap layar ponselnya yang terus bergetar dengan nama "Kak Emrys" terpampang besar di sana. Jantungnya berdegup kencang, antara rasa takut yang amat sangat dan adrenalin yang memuncak. Namun, saat ia melihat pantulan dirinya di cermin mengenakan busana futuristik karya Melvin yang memadukan keanggunan klasik dan teknologi kain terbaru. Ia merasa inilah saatnya ia menentukan pilihannya sendiri.
Klik. Gaby menekan tombol daya hingga layar itu menghitam pekat.
"Emilia, sembunyikan ponselku. Aku tidak mau mendengarnya sampai acara ini selesai," bisik Gaby tegas.
Emilia ternganga, lalu menyeringai lebar. "That's my girl! Ayo, panggung sudah siap. Jangan biarkan si Naga menghancurkan momen debutmu."
Lampu neon di studio mendadak meredup, menyisakan sorot lampu putih tajam yang membentuk jalur di tengah ruangan. Melvin berdiri di atas podium kecil, memegang mikrofon.
"Ladies and gentlemen, tonight is not just a party. It's a revolution. Meet the face of Jabulani-Blackwood's Sustainable Future... Gab**riella Queensa**."
Musik berdentum keras. Gaby melangkah keluar dari balik tirai. Ia mengenakan gaun asimetris berwarna metallic silver yang seolah berpendar mengikuti gerakan tubuhnya. Rambutnya ditata sedikit messy namun sangat artistik. Setiap langkahnya di atas lantai semen studio itu terasa mantap, meski di dalam hati ia tahu sedang bermain api dengan kemarahan Emrys.
Sabrina bertepuk tangan paling keras di barisan depan. "She's a natural! Lihat bagaimana kamera-kamera itu menangkap auranya!"
Gaby berputar di ujung runway, memberikan tatapan tajam dan dingin, persis seperti cara Emrys menatap lawan bisnisnya yang justru membuat para tamu undangan terpesona. Di detik itu, Gaby merasa benar-benar hidup. Bukan sebagai sepupu kecil yang dilindungi, tapi sebagai calon ikon fashion baru di London.
Namun, kemeriahan itu mendadak terasa membeku di pintu masuk studio. Suara musik yang tadinya memekakkan telinga seolah tenggelam oleh aura dingin yang masuk secara tiba-tiba.
Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang rapi namun auranya sangat mengintimidasi. Emrys Aetherion Kaito tidak datang dengan teriakan. Ia hanya berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dada, memperhatikan Gaby yang masih berdiri di ujung panggung dengan gaun peraknya.
Tatapan mereka bertemu. Gaby terpaku, napasnya tertahan. Emrys tidak tampak marah secara meledak-ledak. Ia tampak jauh lebih menyeramkan dari itu. Tenang, kecewa, dan sangat otoriter.
Melvin yang menyadari kehadiran -tamu tak diundang- itu segera menghampiri. "Mr. Kaito, welcome! Want to join the after-party?"
Emrys bahkan tidak melirik Melvin. Matanya tetap terkunci pada Gaby. Ia mengangkat tangannya, lalu melihat jam tangan Patek Philippe-nya dengan gerakan lambat.
"You have sixty seconds to change your clothes and get in the car, Gaby," suara Emrys terdengar jernih di tengah musik yang mendadak dikecilkan oleh DJ yang ketakutan. "Fifty-nine... Fifty-eight..."
(Kau punya enam puluh detik untuk berganti pakaian dan masuk ke mobil, Gaby. Lima puluh sembilan... Lima puluh delapan... )
Gaby menelan ludah. Ia melirik Sabrina dan Emilia yang hanya bisa terdiam melihat "Naga" London itu sudah menjemput mangsanya.
.
.
.
Di dalam kabin Bentley yang kedap suara, keheningan terasa lebih menyiksa daripada ledakan amarah. Aroma sandalwood dari tubuh Emrys yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan seperti kabut sebelum badai.
Gaby duduk meringkuk di kursi penumpang di samping Emrys, gaun metallic silver yang tadi membuatnya merasa seperti ratu, kini terasa seperti barang bukti kejahatan yang memalukan. Air mata mulai luruh satu per satu, menghapus riasan soft glam di pipinya. Ia menangis tanpa suara, bahunya bergetar hebat karena rasa kecewa yang mendalam. Debut yang ia impikan, momen di mana ia merasa menjadi dirinya sendiri, dihancurkan hanya dalam hitungan detik oleh otoritas pria di sampingnya.
Emrys tidak mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan. Rahangnya mengeras, dan cengkeramannya pada setir begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya tidak meledak, tapi mengendap menjadi energi dingin yang memenuhi ruang sempit itu.
Begitu mobil berhenti di parkir privat penthouse, bunyi klik dari pengunci otomatis terdengar sangat tajam di telinga Gaby. Gaby baru saja akan meraih gagang pintu saat Emrys bergerak lebih cepat.
Pria itu memutar tubuhnya, sebelah lengannya menumpu di sandaran kursi Gaby dan lengan lainnya mengunci di pintu mobil, mengurung Gaby di antara tubuh kokohnya. Emrys mendekat, mengikis jarak hingga Gaby bisa merasakan deru napasnya yang memburu karena menahan geram.
"Mau ke mana, Gaby?" suara Emrys rendah, parau, dan sangat berbahaya.
Gaby tersentak, mencoba mundur sejauh mungkin hingga punggungnya menempel keras pada pintu mobil yang terkunci. Ia mendongak dengan mata sembab yang penuh kilat kekecewaan.
"Kakak jahat! Kakak selalu menghancurkan segalanya!" tangis Gaby pecah, suaranya serak. "Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang aku cintai! Kenapa Kakak harus datang seperti itu? Kau membuatku terlihat seperti anak kecil di depan Melvin dan Sabrina!"
Emrys tidak bergeming. Matanya yang tajam mengunci manik mata Gaby yang berair. "Kau memang bertingkah seperti anak kecil, Gaby. Menyelinap lewat balkon? Mematikan ponsel? Dan berdiri di sana, membiarkan pria seperti Melvin Blackwood memamerkanmu seperti komoditas?"
"Itu seni, Kak! Itu masa depanku!"
"Itu bahaya!" bentak Emrys pelan, namun intensitasnya membuat Gaby terdiam seketika. Emrys semakin mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Kau tidak tahu dunia macam apa yang baru saja kau masuki. Melvin tidak peduli padamu, dia hanya peduli pada hal lain yang tidak kau pahami. Dan kau? Kau malah memberikan dirimu padanya di hari pertama kau di Oxford."
Gaby memalingkan wajah, terisak lebih keras. "Aku benci Kakak... aku benci caramu mengaturku."
Tangan Emrys yang mengunci pintu berpindah, memegang dagu Gaby dengan lembut namun tegas agar gadis itu kembali menatapnya. "Look at me, Gaby."
Gaby terpaksa menatap mata gelap itu. Di sana, ia tidak hanya melihat amarah, tapi juga sebuah proteksi yang sangat posesif dan mendalam.
"Aku tidak mengaturmu untuk menyakitimu," bisik Emrys, suaranya sedikit melunak namun tetap otoriter. "Tapi jika kau ingin bermain di dunia luar, kau harus berada di bawah pengawasanku. Bukan Melvin, bukan Zola. Hanya aku. Mengerti?"
Gaby terisak lebih keras, pertahanannya runtuh sepenuhnya di bawah tatapan tajam Emrys yang mengurungnya. Rasa kecewa karena debutnya dihancurkan masih terasa perih, namun aura dominan dan amarah dingin dari pria di hadapannya menciptakan ketakutan yang jauh lebih besar.
Dengan tangan gemetar, Gaby perlahan memajukan tubuhnya. Ia melepaskan sandaran kursinya dan melingkarkan lengannya di leher Emrys, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu. Ia memeluk Emrys dengan erat, seolah-olah dekapan itu bisa meredam badai kemarahan yang sedang berkecamuk di dada kakaknya.
"Aku minta maaf..." bisik Gaby parau di sela isakannya. Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang belum teratur. "Jangan marah lagi, Kak... kumohon."
Tubuh Emrys sempat menegang seketika. Lengan kokohnya yang tadi mengunci pintu mobil kini mematung. Ia bisa merasakan air mata Gaby yang hangat membasahi kerah kemeja mahalnya, dan getaran ketakutan yang nyata dari tubuh mungil gadis itu.
Keheningan kembali menyelimuti kabin Bentley selama beberapa detik yang terasa selamanya. Aroma parfum Gaby yang manis kini bercampur dengan aroma maskulin Emrys yang pekat.
Perlahan, ketegangan di bahu Emrys mengendur. Amarah yang tadinya meluap kini berganti menjadi rasa protektif yang jauh lebih gelap dan dalam. Salah satu tangannya yang besar naik, mendarat di tengkuk Gaby, sementara tangan lainnya melingkar di pinggang gadis itu, membalas pelukannya dengan kekuatan yang seolah tidak ingin melepaskan.
"Kau membuatku hampir gila, Gaby," gumam Emrys rendah, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. Ia memejamkan mata, menghirup aroma rambut Gaby dalam-dalam. "Jangan pernah... jangan pernah menghilang dariku seperti itu lagi. Kau tidak tahu seberapa besar kekuasaan yang aku gunakan hanya untuk melacak lokasimu dalam waktu sesingkat itu."
Gaby tidak menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya. Ia masih kecewa, hatinya masih terluka karena sayapnya dipatahkan sebelum sempat terbang tinggi di panggung Melvin. Namun, di dalam dekapan Emrys yang posesif ini, ada rasa aman yang anehnya tidak bisa ia temukan di tempat lain.
Emrys melepaskan pelukan itu sedikit, hanya untuk menangkup wajah Gaby dengan kedua tangannya. Ia menghapus sisa air mata di pipi Gaby dengan ibu jarinya, gerakannya kini sangat lembut, kontras dengan suaranya yang tetap otoriter.
"Kita masuk sekarang. Bersihkan wajahmu, dan besok kau akan tetap ke Oxford, tapi dengan pengawalanku yang lebih ketat," ucap Emrys sembari menatap bibir Gaby yang bergetar. "Dan soal pakaian perak itu... aku akan menyuruh pelayan untuk membuangnya besok pagi."