Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan bagi Inspektur Polisi Davino Narendra, itu berarti ketenangan adalah kemewahan yang mahal. Pukul dua dini hari, ketika sebagian besar penduduk kota terlelap di balik selimut, Vino justru sedang berdiri di sudut gang sempit kawasan Jakarta Utara yang pengap. Bau sampah yang membusuk bercampur dengan aroma amis dari pelabuhan di dekat sana menusuk hidung, namun ia tidak bergeming. Tatapannya tajam, terfokus pada sebuah gudang tua dengan pintu besi yang berkarat.
Vino membetulkan letak earpiece di telinga kanannya. "Tim Elang, posisi?" suaranya rendah, nyaris berbisik namun penuh otoritas.
"Posisi aman, Komandan. Pintu belakang sudah terkunci. Menunggu instruksi," sahut sebuah suara di seberang sana.
Pria berusia 28 tahun itu menarik napas panjang. Jaket kulit hitam yang ia kenakan terasa sedikit berat, menutupi rompi anti-peluru yang menjadi pelindung nyawanya setiap malam. Di bawah sorot lampu jalan yang temaram, wajah Vino tampak keras. Rahangnya yang tegas dan garis mata yang tajam memberikan kesan intimidasi yang kuat. Namun, jika seseorang melihat lebih dekat, ada kekosongan di sana. Sebuah luka lama yang ia simpan rapat-rapat di balik seragam dan lencananya.
Tiga tahun lalu, di tempat yang tidak jauh berbeda dari ini, Vino kehilangan segalanya. Sebuah misi yang gagal, sebuah ledakan, dan suara teriakan yang masih sering menghantuinya di setiap mimpi buruk. Sejak hari itu, ia bukan lagi Vino yang hangat. Ia menjadi robot pengejar kriminal yang tidak mengenal lelah, seolah-olah dengan menangkap setiap penjahat di Jakarta, ia bisa menebus kesalahan masa lalunya.
"Masuk sekarang," perintah Vino tegas.
Dalam hitungan detik, kesunyian malam pecah. Suara pintu besi yang didobrak, teriakan peringatan, dan derap langkah sepatu bot memenuhi udara. Vino memimpin di depan, senjatanya terarah presisi. Ia tidak ragu. Setiap gerakannya efisien dan mematikan. Baginya, bahaya adalah kawan lama. Saat ia berhasil melumpuhkan salah satu tersangka dengan kuncian lengan yang kuat, ia tidak merasakan kemenangan. Ia hanya merasakan kepuasan yang hambar.
Di sisi lain kota, tepatnya di sebuah koridor putih yang bersih dan berbau antiseptik di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta, Alisa Widanata baru saja menyelesaikan prosedur penjahitan luka pada seorang pasien korban kecelakaan motor. Peluh membasahi dahinya yang tertutup pelindung kepala medis. Tangannya yang mungil namun stabil baru saja melepaskan sarung tangan lateks dengan bunyi khas.
"Kerja bagus, Alisa. Kamu selalu bisa tenang di bawah tekanan," sebuah suara lembut menyapa dari balik punggungnya.
Alisa menoleh dan tersenyum tipis. Itu adalah dr. Fani, sahabat baiknya sejak masa koas hingga kini mereka menjadi dokter umum di rumah sakit yang sama. Fani adalah kebalikan dari Alisa; jika Alisa lebih banyak diam dan tenang, Fani adalah pusat keramaian.
"Hanya luka robek biasa, Fan. Pasiennya yang hebat karena tidak banyak mengeluh," jawab Alisa sambil berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.
"Biasa kamu bilang? Itu hampir mengenai saraf, Al. Kalau bukan kamu yang pegang, mungkin ceritanya beda," Fani menyandarkan bahunya di pintu ruang tindakan. "Ngomong-ngomong, ini sudah lewat jam shift kita. Mau cari kopi dulu di depan? Aku butuh asupan kafein sebelum pingsan di jalan."
Alisa melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul tiga pagi. "Aku harus pulang, Fan. Bunda pasti belum tidur menungguku."
Fani menghela napas panjang, wajahnya berubah prihatin. "Al, sampai kapan kamu mau terus begini? Kamu sudah 25 tahun, dokter hebat, tapi masih seperti anak SMA yang punya jam malam. Bunda Ratna terlalu protektif sejak... ya, sejak ayahmu meninggal."
Senyum Alisa memudar. Sebutan tentang ayahnya selalu membawa rasa sesak yang familiar di dadanya. Lima tahun lalu, kecelakaan itu merenggut pilar kekuatannya. Ayahnya adalah sosok yang selalu mendukung mimpinya, yang selalu tertawa keras saat Alisa mengeluh tentang sulitnya ujian anatomi. Kini, yang tersisa hanyalah Bunda Ratna yang penuh ketakutan. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa.
"Bunda hanya kesepian, Fan. Sejak Ayah pergi, akulah satu-satunya tumpuan hidupnya," Alisa mengambil tasnya dari loker.
"Dan Raka?" tanya Fani hati-hati. "Apa kabar dengan pria yang seharusnya menjadi pelindungmu itu?"
Alisa terdiam. Nama Raka adalah konflik lain dalam hidupnya. Raka adalah pria yang sabar, yang telah menemaninya selama dua tahun terakhir. Namun, bagi Bunda Ratna, Raka adalah sosok yang "terlarang". Setiap kali Alisa mencoba membawa Raka ke rumah, Bunda selalu punya seribu alasan untuk menolak, bahkan tanpa pernah benar-benar mengenal pria itu.
"Tadi dia mengirim pesan, menanyakan apakah dia perlu menjemputku. Tapi aku melarangnya. Aku tidak mau dia berpapasan dengan Bunda di depan gerbang sepagi ini. Bisa-bisa terjadi perang dunia ketiga," gumam Alisa pahit.
"Aku kasihan pada kalian berdua," Fani menepuk bahu Alisa. "Tapi jujur, Al, kamu tidak bisa terus-menerus hidup dalam bayang-bayang ketakutan Bunda. Kamu berhak bahagia."
Alisa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Bahagia? Konsep itu terasa sangat abstrak baginya saat ini. Baginya, kebahagiaan adalah melihat Bundanya tenang, meskipun itu berarti ia harus mengubur perasaannya sendiri.
Pagi harinya, di sebuah rumah bergaya kolonial di kawasan Jakarta Selatan, suasana terlihat jauh lebih hangat daripada malam yang keras di pelabuhan. Namun, bagi Vino, duduk di meja makan bersama keluarganya terkadang terasa lebih menguras energi daripada mengejar buronan.
"Vino, kamu pulang jam berapa tadi malam? Mama lihat kamarmu masih kosong jam tiga pagi," tanya Mama Sari sambil meletakkan piring berisi nasi goreng di depan putranya.
Vino, yang baru saja selesai mandi dan mengenakan kaos santai, hanya bergumam pendek. "Ada operasi sedikit, Ma. Biasa."
"Sedikit apanya? Beritanya ada di TV pagi ini. 'Penangkapan Bandar Narkoba Terbesar di Pelabuhan'. Abang itu memang suka cari penyakit," celetuk Maura, adik perempuan Vino, yang sedang sibuk dengan buku tebalnya.
Maura Narendra, mahasiswi keperawatan tahun ketiga, adalah satu-satunya orang di rumah itu yang berani menggoda kakaknya yang kaku. Ia menatap Vino dengan pandangan menyelidik. "Bang, kamu itu sudah 28 tahun. Wajah sudah sangar, prestasi oke, tapi kenapa hidupmu cuma isinya borgol dan pistol? Kapan mau bawa calon kakak ipar ke sini? Kasihan loh Mama, tiap malam doanya minta cucu, bukan minta penjahat tertangkap."
"Maura, fokus ke buku keperawatanmu saja. Jangan urus urusan orang tua," potong Vino dingin, meski tidak ada kemarahan di matanya.
Papa Hendra, yang sejak tadi diam membaca koran, akhirnya menurunkan kacamatanya. Pria purnawirawan itu memiliki tatapan yang sama persis dengan Vino—tajam dan tak terbantahkan. "Vino, apa yang dikatakan adikmu itu ada benarnya. Kamu sudah terlalu lama tenggelam dalam masa lalu."
Suasana di meja makan tiba-tiba menjadi hening. Sebutan 'masa lalu' adalah tabu yang paling dihindari di keluarga Narendra.
"Papa tidak minta kamu melupakan," lanjut Papa Hendra dengan suara berat. "Tapi hidup harus terus berjalan. Kamu tidak bisa menghukum dirimu sendiri selamanya atas kejadian tiga tahun lalu. Itu bukan salahmu sepenuhnya."
Vino meletakkan sendoknya. Selera makannya hilang seketika. "Saya berangkat ke kantor sekarang. Ada laporan yang harus diselesaikan."
"Vino!" panggil Mama Sari, tapi Vino sudah menyambar kunci motornya dan melangkah keluar.
Mama Sari menghela napas, menatap suaminya dengan cemas. "Sampai kapan dia mau menutup diri seperti itu, Pa? Setiap kali kita bicara soal masa depan, dia selalu menghindar."
"Dia butuh seseorang, Ma," jawab Papa Hendra tenang. "Seseorang yang bisa menariknya keluar dari lubang gelap itu. Dan kurasa, kita sudah tahu siapa yang bisa melakukannya."
Maura yang mendengar percakapan orang tuanya hanya bisa menghela napas. Sebagai mahasiswi keperawatan, ia tahu bahwa luka batin terkadang jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Ia berharap kakaknya segera menemukan "obat" yang tepat.
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana namun asri di pinggiran Jakarta, Alisa baru saja terbangun setelah tidur yang singkat. Bau harum masakan Bunda Ratna tercium hingga ke kamarnya. Alisa bangkit, merapikan tempat tidurnya, dan menatap foto ayahnya yang terpajang di atas nakas.
"Pagi, Ayah," bisiknya setiap hari. Seolah-olah dengan menyapa foto itu, bebannya sedikit terangkat.
Saat ia keluar ke ruang makan, Bunda Ratna sedang menata meja. Wajah wanita itu tampak lelah, namun senyumnya terkembang lebar saat melihat putrinya.
"Anak Bunda sudah bangun? Ayo sarapan, Bunda buatkan sayur asem kesukaanmu dan Ayah," kata Bunda Ratna.
Alisa duduk dan mulai makan, namun pikirannya melayang pada pesan singkat dari Raka yang belum ia balas sejak tadi malam. Raka memintanya untuk bertemu sore ini di sebuah kafe.
"Bunda," panggil Alisa ragu. "Sore nanti... Alisa mungkin pulang agak terlambat. Mau bertemu teman sebentar."
Gerakan tangan Bunda Ratna terhenti. Matanya menatap Alisa dengan tajam, seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran putrinya. "Teman siapa? Fani? Atau... laki-laki itu lagi?"
Alisa menelan ludah. "Raka, Bunda. Alisa mau bicara sebentar dengan Raka."
Bunda Ratna meletakkan piring dengan denting yang cukup keras di meja. "Berapa kali Bunda bilang, Alisa? Bunda tidak suka kamu berhubungan dengan dia. Dia bukan orang yang tepat untukmu."
"Tapi kenapa, Bun? Bunda bahkan belum pernah memberinya kesempatan bicara. Raka itu orang baik, dia sabar menghadapi Alisa yang sibuk di rumah sakit," suara Alisa mulai bergetar.
"Karena Bunda tahu mana yang terbaik untukmu!" suara Bunda Ratna meninggi, lalu tiba-tiba melunak, hampir terdengar seperti permohonan. "Alisa, setelah Ayahmu pergi, Bunda hanya punya kamu. Bunda tidak mau kamu jatuh ke tangan orang yang salah. Bunda hanya ingin melindungimu."
Alisa terdiam. Kalimat 'melindungimu' selalu menjadi senjata pamungkas Bunda. Itu adalah rantai emas yang mengikatnya, membuatnya tidak bisa bergerak meski ia ingin sekali berlari.
"Sudahlah," kata Bunda Ratna kembali tenang. "Makanlah. Setelah ini ada yang ingin Bunda bicarakan. Sesuatu yang sangat penting bagi masa depanmu."
Alisa merasakan firasat buruk. Sesuatu yang sangat penting biasanya berarti sesuatu yang tidak akan ia sukai. Ia menatap ke luar jendela, menatap langit Jakarta yang mulai mendung. Entah kenapa, hari ini terasa berbeda. Seperti ada badai yang sedang menuju ke arahnya, dan ia tidak tahu apakah ia punya cukup kekuatan untuk bertahan.
Di tempat lain, di kantor kepolisian pusat, Vino sedang menatap tumpukan berkas kasus baru. Namun, pikirannya terganggu oleh bayangan wajah Ibunya yang memohon di meja makan tadi pagi. Dua orang manusia di kota yang sama, di bawah langit yang sama, sedang terjebak dalam perang batin mereka sendiri. Tanpa mereka sadari, benang merah takdir sudah mulai terjalin, siap untuk ditarik kapan saja oleh tangan-tangan yang menginginkan yang terbaik bagi mereka, meski dengan cara yang mungkin akan melukai mereka lebih dulu.
Luka masa lalu Vino dan belenggu cinta Alisa akan segera bertemu di satu titik temu yang tidak terduga di tengah hiruk pikuk kota Jakarta yang kejam.
Bersambung
DAVINO NARENDRA
ALISA WIDANATA