Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Suasana di lorong rumah sakit yang dingin seketika berubah menjadi arena pertarungan yang mencekam. Pria berjaket kulit itu, yang belakangan diketahui bernama Rian orang suruhan Clara menerjang maju dengan nekat. Ia tidak ingin rahasia gelapnya terbongkar lebih jauh.
"Clara, lari!" teriak pria itu sambil melayangkan pukulan mentah ke arah satpam yang menahan Clara.
Konflik Fisik yang Menegangkan
Melihat istrinya terancam dan pelaku mencoba kabur, Nathan tidak tinggal diam. Dengan gerakan cepat yang terlatih, ia menarik Zira ke belakang tubuhnya dan menahan serangan Rian.
Bugh! Satu pukulan mendarat di rahang Rian, membuatnya terhuyung ke belakang.
Krak! Nathan memelintir lengan pria itu saat ia mencoba mengeluarkan sesuatu yang tajam dari saku jaketnya.
"Jangan pernah berani menyentuh keluarga saya lagi," desis Nathan dengan suara yang rendah namun mematikan. Sorot matanya kini benar-benar gelap, tak ada lagi kesan dingin yang tenang, yang ada hanyalah amarah seorang suami dan kakak ipar yang terluka.
Clara mencoba memanfaatkan kekacauan itu untuk lari ke arah tangga darurat, namun Aliya dengan sigap menjegal kakinya hingga Clara jatuh tersungkur di lantai. "Mau ke mana, pembunuh?!" maki Aliya.
Keajaiban di Ruang Resusitasi
Di tengah keributan di luar, di dalam ruangan, Zira tidak memedulikan suara gaduh tersebut. Ia menggenggam tangan Aryan begitu erat, seolah-olah nyawanya sendiri sedang mengalir masuk ke tubuh adiknya.
"Aryan, bangun... Kamu janji mau temenin Kakak wisuda, kan? Kamu bilang mau jagain Mama," isak Zira, air matanya jatuh tepat di punggung tangan Aryan. "Mas Nathan juga ada di sini, Dek. Ayo bangun..."
Tiba-tiba, bunyi tit... tit... tit... yang tadinya satu nada panjang dan datar, perlahan kembali berdenyut. Grafik di layar monitor EKG mulai menunjukkan gelombang naik-turun, meski masih sangat lemah.
Dokter segera bertindak. "Dia kembali! Tekanan darahnya mulai naik! Siapkan defibrillator, kita harus menstabilkannya sekarang!"
Zira ditarik keluar oleh perawat agar dokter bisa bekerja maksimal. Begitu ia keluar, ia melihat Nathan sedang menekan tubuh Rian ke lantai dengan lututnya, sementara polisi yang baru tiba langsung memborgol pria itu dan juga Clara.
Penyelesaian yang Pahit namun Adil
Polisi membawa Clara yang terus meronta dan menangis, memohon ampun pada Nathan. Namun Nathan bahkan tidak sudi meliriknya sedikit pun. Ia langsung menghampiri Zira yang gemetar di depan pintu IGD.
"Gimana Aryan?" tanya Nathan dengan napas yang masih memburu.
"Dia... dia kembali, Mas. Detak jantungnya ada lagi," jawab Zira sambil menubruk pelukan Nathan.
Nathan menghela napas panjang, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kelegaan. "Keadilan sudah berjalan di luar, Zira. Sekarang kita tinggal berdoa untuk keajaiban di dalam."
Aliya dan Zita mendekat, mereka berempat berdiri melingkar di depan pintu ruang operasi yang lampu merahnya menyala. Di ujung lorong, Clara dan anteknya diseret pergi menuju mobil polisi, mengakhiri teror mental yang selama ini menghantui rumah tangga Zira dan Nathan.
Beberapa bulan telah berlalu sejak malam kelam di rumah sakit itu. Lorong dingin yang dulu penuh dengan teriakan dan isak tangis, kini berganti menjadi ruang tamu rumah Zira yang hangat dan penuh aroma masakan rumahan.
Di sudut ruangan, Aryan duduk di kursi roda dengan kaki yang masih dibalut penyangga, namun wajahnya sudah kembali cerah. Ia tertawa lebar melihat Aliya dan Zita yang berebut potongan terakhir martabak manis yang mereka bawa.
"Pelan-pelan dong, Kak Aliya! Inget umur!" goda Aryan, suaranya sudah kembali lantang, meski kadang masih sedikit sesak jika tertawa terlalu keras.
Zira keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat, tersenyum tulus melihat adiknya bisa bercanda lagi. Keajaiban medis dan kekuatan doa benar-benar membawa Aryan kembali dari ambang kematian.
*Keadilan yang Menghantam Keras*
"Gimana kabar 'si ular' itu di sana, Mas?" tanya Zita tiba-tiba, merujuk pada Clara.
Nathan yang baru saja menutup laptopnya setelah menyelesaikan pekerjaan kantor, menatap Zita dengan tatapan dingin yang masih tersisa jika membahas wanita itu. "Minggu lalu putusan hakim sudah keluar. Clara dijatuhi hukuman 12 tahun penjara atas dakwaan percobaan pembunuhan berencana dan penghasutan. Rian, eksekutornya, dapet 15 tahun karena terbukti residivis."
Zira menghela napas panjang, meletakkan teh di meja. "Aku sudah nggak benci lagi, Mas. Rasanya energi aku habis kalau harus terus marah. Yang penting sekarang Aryan selamat dan perempuan itu nggak akan bisa mengganggu keluarga kita lagi."
Nathan menarik tangan Zira, mengecup punggung tangannya di depan sahabat-sahabat mereka tanpa rasa canggung. "Dia sudah mendapatkan apa yang dia tanam, Sayang. Sekarang fokus kita cuma kebahagiaan kamu dan Aryan."
*Momen Puncak: Janji yang Terbayar"
Tiba-tiba, Aliya berdeham keras, memecah suasana romantis yang mulai terbangun. "Eh, denger-denger... minggu depan ada yang mau wisuda ya? Aryan, kamu jadi dateng kan?"
Aryan mengangguk mantap. "Pasti! Aku sudah janji sama Kak Zira. Biarpun pakai kursi roda, aku bakal jadi orang pertama yang tepuk tangan paling keras waktu nama 'Nazhwa adzira putri' dipanggil ke atas panggung."
Zira berkaca-kaca mendengar ucapan adiknya. Konflik yang mereka lalui mulai dari gangguan Clara di kantor, kecelakaan tragis, hingga pertarungan fisik di rumah sakit ternyata justru menjadi lem yang merekatkan hubungan mereka semua.
"Makasih ya, Aliya, Zita... kalian benar-benar sahabat terbaik. Kalau nggak ada kalian yang nemenin aku di kampus dan jagain ponsel Clara waktu itu, mungkin ceritanya bakal beda," ujar Zira tulus.
Zita nyengir sambil mencolek sisa cokelat di jarinya. "Santai aja, Zir. Tapi inget ya, kalau nanti Mas Nathan dingin lagi atau ada 'curut' lain yang berani deketin, panggil kami lagi. Tim pengintai siap beraksi!"
Tawa pecah di ruangan itu. Malam itu ditutup dengan kehangatan yang sempurna. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi bayang-bayang Clara. Hanya ada keluarga, persahabatan, dan harapan baru yang cerah.
Hari wisuda yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Gedung serbaguna universitas dipenuhi oleh lautan toga hitam dan senyum bangga para orang tua. Zira berdiri di barisan depan, namun matanya terus melirik ke arah pintu masuk, mencari sosok yang paling ia tunggu.
Tepat saat upacara akan dimulai, Nathan muncul mendorong kursi roda Aryan. Aryan tampak gagah dengan kemeja batik dan rambut yang sudah tertata rapi, meski bekas luka tipis di pelipisnya masih menjadi pengingat bisu akan tragedi itu.
"Tepat waktu," bisik Nathan sambil mengecup kening Zira sebelum bergabung dengan Mama Sarah di barisan kursi tamu.
Puncak Penghormatan
Nama demi nama dipanggil ke atas panggung. Hingga tiba saatnya sang dekan menyebutkan, "Nazhwa adzira putri lulusan terbaik dengan predikat Summa Cum Laude."
Zira melangkah dengan anggun. Di tengah gemuruh tepuk tangan, ia melihat Aryan berusaha berdiri dari kursi rodanya, dibantu oleh Nathan, hanya untuk memberikan hormat yang tulus padanya. Pemandangan itu membuat air mata Zira nyaris jatuh, namun ia menahannya dengan senyum kemenangan.
Setelah prosesi selesai, mereka berkumpul di taman kampus untuk sesi foto. Aliya dan Zita datang membawa buket bunga raksasa sambil berteriak heboh, "Woi, lulusan terbaik kita! Traktirannya mana nih?!"
Bayang-Bayang yang Benar-Benar Hilang
Di tengah kemeriahan itu, ponsel Nathan bergetar. Sebuah notifikasi dari pengacaranya muncul: “Permohonan banding Clara ditolak mentah-mentah oleh Pengadilan Tinggi. Ia tetap menjalani hukuman penuh tanpa potongan.”
Nathan hanya melirik sekilas lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia tidak ingin sampah dari masa lalu mengotori hari bahagia istrinya.
"Mas, ada apa?" tanya Zira menyadari perubahan raut wajah suaminya.
Nathan merangkul pinggang Zira erat. "Bukan apa-apa. Hanya kabar bahwa sampah sudah benar-benar dibuang ke tempatnya. Sekarang, dunia ini hanya milik kita, Aryan, dan para sahabat berisikmu itu."
Zira tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Nathan. "Iya, Mas. Akhirnya kita bisa bernapas lega."
*Sebuah Awal Baru*
Sore itu, matahari terbenam dengan warna jingga yang cantik di langit kampus. Aryan, yang kini sudah bisa melangkah perlahan dengan tongkat, mendekati kakaknya.
"Kak, makasih ya udah nggak menyerah waktu aku kritis kemarin. Aku denger suara Kakak... itu yang bikin aku mau balik lagi," bisik Aryan tulus.
Zira memeluk adiknya erat. "Kakak yang makasih karena kamu kuat, Dek."
Kisah yang dimulai dengan amarah di kantor, berdarah-darah di jalan raya, dan penuh air mata di rumah sakit, kini ditutup dengan lembaran putih yang baru. Zira telah mendapatkan gelarnya, adiknya mendapatkan nyawanya kembali, dan Nathan membuktikan bahwa cintanya setangguh karang yang tak bisa digoyahkan oleh godaan serendah apa pun