ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29—Analisis Tajam sang sultan dan kebenaran
Suasana di gudang tua yang pengap itu mendadak membeku. Udara yang tadinya panas karena terik siang, seketika terasa sedingin es. Alfian, yang baru saja hendak menyalakan sebatang rokok, mematung dengan korek api yang masih menyala di depan wajahnya.
Pria gendut yang terikat di kursi itu mendadak berhenti meronta. Matanya yang ketakutan beralih menatap Rahmat, lalu ke arah Alfian dengan bingung.
Dia datang kesini karena perintah seseorang, dia cuma disuruh datang dan mengupload sebuah foto di depan konser tapi kenapa malah berakhir demikian?
"R-Rahmat...?" Alfian terkekeh canggung, suaranya sedikit bergetar. "Candaan lo nggak lucu, Mat. Pistol itu... mainan, kan? Dan siapa Mr. Black? Nama keren baru gue atau gimana?"
Rahmat tidak menurunkan senjatanya. Wajahnya yang biasanya terlihat santai sebagai sultan yang dermawan, kini menunjukkan ekspresi yang benar-benar asing—datar, tajam, dan penuh otoritas yang mematikan.
"Cukup sandiwaranya, Al," suara Rahmat rendah, namun bergema di dinding gudang. "Pria gendut ini memang penguntit amatir, tapi dia bukan ancaman sebenarnya. Dia cuma umpan yang lo pasang supaya lo bisa terlihat sebagai pahlawan di depan gue, Alya, dan Kanaya."
Alfian perlahan menurunkan tangannya. Api di koreknya padam. Ia melepas kacamata tebalnya, mengusap lensanya dengan ujung seragam yang berantakan, lalu memakainya kembali. Namun, kali ini, sorot mata di balik lensa itu bukan lagi sorot mata sahabat yang konyol.
“Luar biasa,” ucap Alfian. “Jadi sultan kita ini bukan hanya dermawan dan tajir, tapi juga cerdas … sejak kapan?”
Suaranya berubah total—berat, dingin, dan berwibawa. Tidak ada lagi logat selengean yang biasa ia pakai.
“Semua bermula sejak dirimu bisa merespon tendangan bolaku.”
“Menarik coba jelaskan secara detail, apa kaitannya pertandingan bola dengan ini semua.”
Rahmat menghela napas. Pistol masih mengarah tajam, siap menembak kapanpun last bos ini buat macam-macam.
“Semua simpel, tendangan bola waktu itu jelas bukan hal yang bisa direspon oleh orang normal, bukan bermaksud sombong, namun bahkan mata manusia tidak bisa melihat. Itu setara dengan secepat 80 km/jam. Dan kamu bisa merespon dengan nyaris. Sebuah pergerakan yang tidak mungkin murid normal respon.”
“Terus? Itu doang?”
“Kedua. Kamu menerima lemparan botol minuman yang kuberikan padamu, saat itu aku mengurangi sedikit kekuatanku dan kamu bisa menerima dengan sempurna.”
“Jadi intinya kamu mulai mencurigaiku karena kemampuan fisik di atas rata-rata … sungguh pikiran yang simpel.”
“Bukan hanya itu saja … pelaku penguntit ini beda!”
“Berbeda maksudnya?” Kali ini alfian tertarik dan tersenyum.
“Ini adalah kesalahan fatal dan paling bodoh … kemarin malam memang kenyataan bahwa aku diikuti oleh seseorang, namun bukan dari pria gendut seperti ini! Postur tubuhnya lebih muda, dan tidak begini!”
“OW!” Alfian terkejut. “Jadi kamu menyadari dalam waktu singkat.”
Rahmat tidak menjawab dengan jelas. Saat malam itu dia sempat melirik sekilas, dengan kemampuan manusia biasa tentu dia tidak bisa membedakan, namun dengan kemampuan sistem analisis nilai.
Dia melihat data-data dari penguntit tersebut. Dan begitu terkejutnya dia melihat nama Alfian di data penguntitnya. Ia kira hanya semacam kesamaan nama saja, namun dia salah.
“Masih ada lanjutan, malam itu kita keluar bersama. Kamu sudah ada di tempat parkir dengan wajah santaimu, kamu membuat seolah-olah kita baru berpapasan.”
Alfian terdiam, senyum tipis yang meremehkan perlahan memudar dari bibirnya. Ia melipat tangannya di dada, berdiri tegak dengan aura yang sangat berbeda—tenang, namun sangat berbahaya.
"Lalu, gong utamanya," lanjut Rahmat, suaranya tetap stabil tanpa sedikitpun keraguan. "Aku sengaja meminta bantuanmu untuk mengawasi area teknisi dan menangkap si penguntit semalam. Aku awalnya masih percaya padamu, siapa yang akan kamu tangkap sosok pemuda normal atau sosok yang sesuai dekripsiku. Namun hasil yang datang membuktikan bahwa kecurigaanku benar.”
Rahmat melirik pria gendut yang gemetar di kursi. "Dan ternyata, orang yang kamu tangkap adalah pria ini. Orang yang sama sekali berbeda dengan sosok yang mengikutiku di mall. Kamu menangkap 'orang lain' untuk dikorbankan, hanya agar aku berhenti mencurigaimu dan menganggap masalah selesai."
Rahmat melangkah maju satu langkah, memperpendek jarak.
"Hanya orang dengan otoritas besar yang bisa memerintah orang luar untuk masuk ke lingkungan sekolah, melakukan kejahatan, memasang umpan, dan menangkapnya sendiri untuk terlihat seperti pahlawan. Jika kamu punya kekuasaan sekuat itu di balik seragam ... maka kamu bukan murid biasa. Kamu adalah orang yang memegang kendali di sini."
Alfian melepaskan tawa rendah. Tawa yang kering dan hampa. "Analisis yang tajam, Rahmat. Benar-benar tajam. Kamu memanfaatkan permintaanku sebagai jebakan untuk mengonfirmasi teorimu sendiri. Licik... aku suka."
“Kamu bisa sepintar itu apa karena kemampuan terkutukmu itu?”