NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Warisan Darah di Lembah Kabut

Angin menderu melewati telinga Li Chen, suara siulan tajam yang seolah merobek gendang telinganya. Tubuhnya jatuh bebas, menembus lapisan awan yang tebal dan dingin. Gravitasi menariknya dengan kekuatan yang menghancurkan, sementara kabut putih di sekelilingnya mulai berubah warna—dari putih bersih menjadi kelabu, lalu akhirnya merah tua yang pekat.

​Apakah ini akhir? pikir Li Chen, matanya terpejam saat tekanan udara mulai meretakkan tulang-tulangnya.

​"Buka matamu, pengecut! Jangan biarkan maut menjemputmu dalam kegelapan!" raung suara Kaisar Pedang di dalam jiwanya.

​Li Chen menyentak matanya terbuka. Di bawahnya, kabut merah itu tersingkap, memperlihatkan pemandangan yang akan membuat nyali kultivator terkuat sekalipun menciut. Dasar lembah itu bukan tanah, melainkan lautan tulang belulang. Tulang-tulang raksasa setinggi bangunan, milik binatang buas purba yang telah punah ribuan tahun lalu, berserakan seperti monumen kegagalan.

​"Seni Penelan Bintang: Sayap Bayangan!"

​Li Chen mengerahkan seluruh Qi hitamnya. Dari punggungnya, asap hitam pekat meledak dan membentuk kepakan sayap yang tidak sempurna. Itu tidak cukup untuk membuatnya terbang, tapi cukup untuk memperlambat laju jatuhnya.

​BUM!

​Li Chen menghantam sebuah kerangka raksasa—tengkorak naga kuno yang sudah membatu. Dampaknya begitu besar hingga tengkorak itu retak dan Li Chen terlempar berguling-guling di atas tumpukan tulang tajam. Ia terhenti dengan tubuh bersimbah darah, tangan kanannya patah, dan dadanya terasa sesak karena paru-parunya yang tertusuk tulang rusuknya sendiri.

​"Uhuk... Uhuk..." Li Chen memuntahkan segumpal darah hitam yang kental.

​Ia mencoba bangkit, tapi rasa sakit yang luar biasa melumpuhkannya. Di tempat ini, energi alam (Qi) terasa sangat berat dan beracun. Udara di sini dipenuhi oleh Miasma Kematian, energi negatif yang dihasilkan dari ribuan tahun pembusukan makhluk-makhluk kuat. Bagi manusia biasa, menghirup udara ini berarti membusuk dari dalam dalam hitungan menit.

​Namun, bagi Li Chen, pemandangan ini berbeda.

​Pusaran hitam di Dantiannya mulai berputar liar tanpa diperintah. Ia merasakan lapar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Miasma merah di sekelilingnya bukan lagi racun, melainkan nutrisi yang paling murni bagi Seni Penelan Bintang.

​"Telan... semuanya..." bisik Li Chen parau.

​Ia membiarkan tubuhnya rileks di atas tumpukan tulang. Kabut merah mulai tersedot ke dalam pori-porinya. Setiap helai Miasma yang masuk membawa serta emosi kemarahan dan keputusasaan dari makhluk-makhluk yang mati di sini. Li Chen merasakan jiwanya digempur oleh ribuan teriakan purba, namun ia mengeraskan hatinya.

​Jika kalian mati karena lemah, maka serahkan sisa kekuatan kalian padaku untuk menjadi yang terkuat!

​Perlahan, luka-lukanya mulai menutup. Tulang lengannya yang patah berderak, menyambung kembali dengan kecepatan yang mengerikan. Darah yang keluar dari tubuhnya tersedot kembali ke dalam kulitnya, namun kini warnanya bukan lagi merah terang, melainkan merah gelap dengan semburat emas—warna darah seorang pejuang sejati.

​Setelah satu jam meditasi paksa, Li Chen berdiri. Tubuhnya terasa lebih berat, namun setiap serat ototnya dipenuhi oleh kepadatan energi yang luar biasa.

​"Di mana tempat itu, Senior?" tanya Li Chen, menatap ke arah kegelapan lembah yang lebih dalam.

​"Teruslah berjalan ke arah jantung lembah. Kau akan melihat sebuah pedang yang tertancap di atas bukit jantung. Itu adalah tempat di mana tubuh fisikku hancur sepuluh ribu tahun yang lalu," jawab Kaisar Pedang, suaranya penuh dengan nostalgia yang menyakitkan.

​Li Chen melangkah maju. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi krak saat ia menginjak tulang-tulang kuno. Tiba-tiba, tanah di bawahnya bergetar. Dari balik tumpukan tulang rusuk raksasa, muncul sepasang mata hijau yang bersinar redup.

​Itu adalah Arwah Tulang (Bone Wraith), manifestasi dari sisa jiwa binatang buas tingkat tiga yang terperangkap di dalam kerangka mereka sendiri. Makhluk itu berbentuk serigala tanpa kulit, hanya tulang yang disatukan oleh kabut hitam.

​Grrr...

​Tidak hanya satu, tapi puluhan Arwah Tulang mulai muncul dari segala penjuru. Mereka mencium bau "kehidupan" yang masuk ke wilayah mereka.

​"Aku tidak punya waktu untuk bermain dengan anjing-anjing mati," desis Li Chen.

​Ia menghunuskan tangan kanannya. Qi hitamnya memadat, membentuk pedang ilusi yang panjangnya hampir dua meter. Ini adalah penerapan dari gulungan Sembilan Gerbang Pembantaian Surga yang baru saja ia pelajari dasarnya.

​"Gerbang Pertama: Tebasan Penghancur Jiwa!"

​Li Chen melesat. Gerakannya bukan lagi gerakan manusia, melainkan kilatan hitam yang membelah kegelapan.

​SRAK! SRAK!

​Setiap kali pedang ilusinya menyentuh Arwah Tulang, makhluk-makhluk itu tidak hanya hancur, tapi kabut hitam yang menyatukan tulang mereka tersedot masuk ke dalam pedang Li Chen dan mengalir ke tubuhnya. Ini adalah pembantaian satu arah. Semakin banyak ia membunuh, semakin kuat auranya.

​Setelah menghancurkan kawanan Arwah Tulang, Li Chen sampai di sebuah tempat terbuka. Di sana, berdiri sebuah bukit yang terbuat sepenuhnya dari kristal darah. Di puncak bukit itu, tertancap sebuah pedang yang patah. Pedang itu tidak memiliki hiasan mewah, hanya logam hitam kusam yang dipenuhi retakan, namun niat pedang (Sword Intent) yang dipancarkannya membuat ruang di sekelilingnya tampak melengkung.

​Di bawah pedang itu, duduk sebuah kerangka manusia setinggi tiga meter yang masih mengenakan sisa-sisa jubah perang berwarna emas gelap.

​"Itu adalah aku," suara Kaisar Pedang terdengar di luar kepala Li Chen, muncul sebagai bayangan transparan di sampingnya. "Atau setidaknya, apa yang tersisa dari keangkuhanku."

​Li Chen mendekat dengan penuh hormat. Ia merasakan tekanan yang begitu besar hingga ia terpaksa berjalan dengan merangkak di beberapa meter terakhir. Kristal darah di bawahnya menyerap energi hidupnya, namun Seni Penelan Bintang terus-menerus menariknya kembali. Itu adalah siklus penghancuran dan regenerasi yang konstan.

​Saat Li Chen menyentuh ujung pedang patah itu, sebuah ledakan informasi dan memori menghantam otaknya.

​Ia melihat peperangan besar di langit. Ribuan dewa jatuh seperti hujan. Ia melihat seorang pria—Kaisar Pedang—berdiri sendirian menghadapi gerbang surga yang terbuka, di mana ribuan rantai emas mencoba mengikatnya.

​"Langit takut pada mereka yang bisa melampaui batasannya. Mereka mengunci meridianmu karena mereka tahu, di dalam darahmu mengalir garis keturunan 'Iblis Bintang' yang sama denganku. Kita adalah anomali yang harus dimusnahkan oleh hukum alam," bayangan Kaisar Pedang berbicara dengan nada dingin.

​"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Li Chen di tengah badai memori itu.

​"Ambil pedangku. Namanya adalah Penelan Surga (Heaven Devourer). Ia telah haus selama sepuluh ribu tahun. Berikan dia darahmu, dan dia akan memberimu kekuatan untuk membelah cakrawala."

​Li Chen menggenggam gagang pedang patah itu dengan kedua tangannya. Begitu ia mencoba menariknya, pedang itu mengeluarkan duri-duri hitam yang langsung menusuk telapak tangan Li Chen, mengisap darahnya secara rakus.

​"ARGHHHH!"

​Li Chen meraung kesakitan. Darah merah keemasannya mengalir menuruni bilah pedang, mengisi retakan-retakannya dengan cahaya merah yang menyala. Seluruh Lembah Kabut Abadi bergetar. Miasma merah di udara mulai berputar membentuk pusaran raksasa dengan Li Chen sebagai pusatnya.

​Di dalam Dantian Li Chen, pusaran hitam itu mulai bertransformasi. Ia menyusut menjadi titik sekecil debu, namun kepadatannya meningkat sejuta kali lipat. Titik itu kemudian meledak, membentuk sebuah Inti Hitam yang dikelilingi oleh sembilan bintang merah.

​Ranah Pembersihan Sumsum Tahap Kelima!

Tahap Keenam!

Tahap Ketujuh!

​Pertumbuhan itu tidak berhenti hingga ia mencapai puncak ranah Pembersihan Sumsum. Seluruh kotoran dalam selnya terbakar habis, digantikan oleh struktur tubuh yang sekeras berlian namun seringan bulu.

​Li Chen menarik pedang itu dengan satu hentakan kuat.

​SHIIIIING!

​Gelombang energi hitam menyapu seluruh lembah, menghancurkan sisa-sisa Arwah Tulang yang ada dalam radius sepuluh mil. Pedang patah itu kini bersinar dengan aura haus darah yang mengerikan. Meskipun masih patah, bagian ujungnya digantikan oleh bilah cahaya hitam yang sangat tajam.

​Li Chen berdiri di puncak bukit kristal darah, memegang pedang Penelan Surga. Auranya sekarang begitu dingin dan tajam hingga kabut di sekitarnya tidak berani mendekat.

​"Sekarang kau memiliki alatnya, Nak," kata Kaisar Pedang, suaranya mulai memudar. "Tapi ketahuilah, dengan mengambil pedang ini, kau telah memicu alarm di telinga para Dewa di Langit Atas. Mereka akan mengirimkan 'Utusan Penegak Hukum' untuk mencarimu."

​"Biarkan mereka datang," jawab Li Chen, matanya kini benar-benar berubah menjadi merah dengan pupil berbentuk bintang. "Aku butuh lebih banyak energi untuk mencapai ranah Pembentukan Pondasi. Utusan Langit terdengar seperti sumber nutrisi yang bagus."

​Li Chen menatap ke arah dinding tebing yang tinggi. Ia tidak lagi perlu merangkak naik. Dengan kekuatan barunya, ia bisa merasakan setiap retakan energi di udara.

​Namun, sebelum ia berangkat, ia melihat sesuatu di balik kerangka Kaisar Pedang. Sebuah peti kecil yang terbuat dari kayu Gaharu Abadi. Di dalamnya terdapat sebuah peta kuno dan sebuah cincin perunggu polos.

​"Itu adalah peta menuju Makam Sembilan Iblis. Dan cincin itu... itu adalah kunci untuk membuka gerbang dunia luar. Sekte Pedang Azure hanyalah sebuah sumur kecil di dunia yang sangat besar ini. Pergilah ke Benua Tengah, temukan saudara-saudaraku yang masih tersisa."

​Li Chen mengambil peta dan cincin itu. Ia merasakan tanggung jawab yang berat, namun juga gairah yang membara.

​"Senior, saya berjanji. Nama Anda akan kembali menggetarkan langit, dan mereka yang mengkhianati Anda akan merangkak di bawah kaki saya."

​Li Chen melompat. Kali ini, ia tidak jatuh. Dengan satu tebasan pedang Penelan Surga, ia membelah udara di depannya, menciptakan ledakan tekanan yang melontarkannya ke atas dengan kecepatan kilat.

​Saat ia keluar dari kabut tebing, matahari sedang terbenam. Di atas tebing, ia melihat beberapa murid patroli Sekte Azure yang masih berjaga. Mereka menatap ke arah jurang dengan bosan, sampai tiba-tiba sesosok bayangan hitam melesat keluar dari kegelapan.

​"Siapa itu?!" teriak salah satu murid.

​Li Chen mendarat dengan tenang di hadapan mereka. Rambut hitamnya berkibar ditiup angin, dan pedang patah di tangannya masih meneteskan energi hitam yang pekat.

​"Katakan pada Penatua Wang," suara Li Chen terdengar seperti bisikan kematian. "Iblis yang ia buang ke jurang... telah kembali untuk menagih hutang."

​Tanpa menunggu jawaban, Li Chen mengayunkan pedangnya secara horizontal. Sebuah garis hitam tipis melintas di udara. Detik berikutnya, ketiga murid itu mematung sebelum tubuh mereka terbelah menjadi dua secara rapi, bahkan tanpa sempat mengeluarkan suara.

​Li Chen tidak berhenti untuk melihat mayat mereka. Ia berjalan menuju gerbang belakang sekte. Malam ini, Sekte Pedang Azure akan menyaksikan pemandangan yang tidak akan pernah mereka lupakan: pembersihan besar-besaran yang dilakukan oleh satu orang.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!