NovelToon NovelToon
Fall In Love With My Lil Sister

Fall In Love With My Lil Sister

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Kehidupan di Kantor / Romantis / Saudara palsu / Rumah Tangga
Popularitas:748
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindar

Pagi itu, meja makan kediaman Sinclair terasa lebih luas dan sunyi dari biasanya. Alessia berkali-kali melirik ke arah pintu depan, berharap mendengar langkah kaki tegas yang biasanya datang menjemputnya tepat waktu. Namun, yang muncul justru William dengan tablet di tangannya.

"Nathaniel tidak bisa menjemputmu pagi ini, Al. Dia langsung menuju gudang pusat untuk mengurusi kedatangan karpet impor yang akan dipasang di Lounge eksekutif. Katanya ada sedikit masalah teknis dengan pengirimannya," ujar William tanpa curiga sedikit pun.

Alessia tertegun sejenak. Ia memaksakan sebuah senyum kecut yang nyaris tak terlihat. "Oh... begitu ya, Yah."

"Rupanya dia benar-benar menghindariku," gumam Alessia sangat pelan, nyaris seperti bisikan angin. Hatinya mencelos. Karpet? Sejak kapan seorang Direktur Utama harus turun tangan langsung ke gudang hanya untuk urusan karpet di saat staf operasional mereka berjumlah ratusan? Itu adalah alasan paling klasik yang pernah ia dengar untuk sebuah pelarian.

Alessia segera meraih tasnya dan berpamitan. Namun, tepat saat ia hendak masuk ke dalam mobil jemputan cadangan, Rosetta yang sejak tadi mengamati dari balik pilar teras, melangkah mendekat. Insting seorang ibu tidak pernah bisa dibohongi oleh jadwal kerja yang padat.

"Kalian sedang bertengkar?" tanya Rosetta tiba-tiba, menahan pintu mobil Alessia. Matanya menatap tajam, mencari kejujuran di balik binar mata putrinya yang tampak lelah.

Alessia tersentak. Ia berusaha mengatur napas dan ekspresi wajahnya agar tetap tenang. "Tidak, Bu. Ibu tenang saja. Semuanya baik-baik saja," jawab Alessia cepat. Ia tertawa kecil yang terdengar hambar. "Kak Nathan memang sedang sangat sibuk mengurusi semua hal. Sekarang saja dia sedang mengurus karpet... iya, karpet yang sangat penting."

Kalimat terakhir Alessia terdengar agak melantur dan dipaksakan. Ia segera masuk ke dalam mobil sebelum ibunya melontarkan pertanyaan yang lebih menyudutkan.

Di dalam mobil, Alessia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Ia tahu Nathaniel sedang membangun tembok yang tinggi di antara mereka. Pria itu memilih untuk tenggelam dalam tumpukan gulungan karpet daripada harus berhadapan dengan pengakuan cinta yang ia lemparkan semalam.

———

Di ujung ruangan, Nathaniel berdiri memunggungi pintu, sedang memberikan instruksi pada dua orang pekerja. Bahunya tampak kaku, seolah ia sedang menanggung beban yang lebih berat daripada gulungan karpet di depannya.

"Kakak menghindari aku?" tanya Alessia to the point. Suaranya jernih, memotong instruksi teknis yang sedang diberikan Nathaniel.

Nathaniel tertegun sejenak. Ia tidak menoleh secara dramatis, melainkan perlahan-lahan memutar tubuhnya. Ekspresinya datar, topeng profesionalnya telah terpasang sempurna kembali.

"Kenapa harus menghindar?" jawab Nathaniel pendek. Ia memberikan isyarat pada para pekerja untuk melanjutkan tugas mereka di sudut lain, memberi mereka ruang privasi yang semu.

Alessia melangkah mendekat, masuk ke dalam zona nyaman Nathaniel yang biasanya tak tersentuh. "Karena aku suka Kakak," ujar Alessia lantang. Ia mengatakannya dengan nada yang begitu lugas, seolah perasaan itu adalah sesuatu yang boleh, dan harus, diterima Nathaniel dengan mudah, seperti menerima laporan bulanan.

Rahang Nathaniel mengeras. Ia menatap Alessia dengan pandangan yang dalam, seolah sedang berperang dengan badai di dalam dirinya sendiri. Ia tahu Alessia tidak akan membiarkan masalah ini menggantung, tapi di sini, di bawah atap gedung Sinclair Group, ia adalah sang pelindung amanah William.

"Kita pisahkan urusan pribadi dan kantor, Alessia," jelas Nathaniel dengan suara rendah yang penuh penekanan. Ia melirik sekilas ke arah para pekerja yang masih berada di dalam ruangan. "Setelah urusan ini selesai, kita bicara. Bukan di sini."

Alessia menatap Nathaniel dengan tajam, mencari celah di balik mata cokelat gelap itu. Ia tahu Nathaniel sedang berusaha menyelamatkan martabat mereka di depan umum, tapi ia juga tahu bahwa "setelah ini" bisa berarti pelarian lainnya.

"Janji?" desak Alessia.

Nathaniel mengangguk sekali, sebuah janji yang terasa seperti beban berat di pundaknya. "Janji. Sekarang kembalilah ke meja kerjamu. Pelajari berkas kontrak vendor yang kuberikan kemarin."

Fokus Alessia benar-benar telah menguap dari tumpukan berkas kontrak di depannya. Di atas kertas laporan yang seharusnya ia pelajari, kini justru penuh dengan coretan pena yang berantakan. Ia menuliskan tiga kalimat yang terus berputar-putar seperti kutukan di kepalanya: Cinta bertepuk sebelah tangan, Dia hanya menganggapku adik, dan Dia sudah punya calon istri sendiri.

Tiga kalimat itu terasa seperti vonis yang menyesakkan dada. Alessia menatap coretan itu dengan mata yang mulai panas, hingga suara pintu ruangan yang terbuka menyentaknya kembali ke kenyataan.

Nathaniel melangkah masuk dengan langkah tegap, membawa aroma kopi dan sedikit debu dari lantai Lounge. Belum sempat pria itu meletakkan tasnya, Alessia sudah berdiri dan menyodorkan kertas penuh coretan itu tepat di depan wajah Nathaniel.

"Mana di antara ketiga ini yang benar, Kak?" tanya Alessia, suaranya bergetar namun penuh tuntutan.

Nathaniel tertegun. Ia mengambil kertas itu, membaca tulisan tangan Alessia yang biasanya rapi kini tampak emosional. Ia bisa merasakan kepedihan yang tersirat dari setiap goresan tinta di sana. Untuk sejenak, wajah datarnya sedikit goyah, namun ia segera menarik napas panjang.

"Yang benar adalah... aku terlalu sibuk untuk merasakan cinta," jawab Nathaniel pelan. Ia meletakkan kembali kertas itu ke meja kerja Alessia tanpa ekspresi yang berarti.

Alessia tertawa kecut, sebuah tawa yang terdengar seperti tangisan tertahan. "Jadi... Kakak memang tidak suka aku? Sebagai wanita?"

Nathaniel tidak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Alessia, masuk ke dalam ruang pribadi gadis itu hingga aroma maskulinnya kembali menguasai indra Alessia. Ia menatap mata Alessia dengan sorot yang dalam, namun penuh dengan dinding pembatas yang kokoh.

"Tentu saja, Kakak suka adik Kakak satu-satunya ini," kata Nathaniel, memberikan jawaban yang paling 'aman' dan diplomatis. Ia mengatakannya dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca. "Sekarang, mari kita fokus. Kita punya banyak jadwal yang tertunda karena drama pagi ini."

Nathaniel segera membalikkan badan, kembali ke mejanya dan mulai membuka laptop seolah tidak terjadi apa-apa. Namun di bawah meja, tangan Nathaniel mengepal sangat kuat. Ia baru saja berbohong dengan sangat sempurna, membunuh perasaannya sendiri demi menjaga kehormatan nama

Sinclair yang tertulis di papan meja tersebut.

Bagi Alessia, jawaban "aman" itu justru terasa lebih menyakitkan daripada penolakan kasar sekalipun.

Di balik punggungnya yang tegap dan ekspresi wajah yang sedingin es, badai hebat sedang berkecamuk di dalam dada Nathaniel. Ia menatap layar laptopnya dengan pandangan kosong, deretan angka dan grafik di sana seolah mengabur, digantikan oleh bayangan wajah Alessia yang kecewa.

Sadar, Nathan. Ingat siapa dirimu, ruginya dalam hati. Kalimat itu ia rapalkan seperti mantra pelindung, berkali-kali, demi menekan debaran jantung yang masih belum mau berkompromi.

Ia merutuki dirinya sendiri karena sempat terbuai saat ciuman itu terjadi. Ia menghujat setiap inci perasaannya yang berani-beraninya tumbuh di tanah yang salah. Baginya, setiap getaran cinta yang ia rasakan untuk Alessia adalah bentuk ketidaktahuan diri, sebuah pengkhianatan terhadap kepercayaan William Sinclair yang telah mengangkatnya dari debu.

Jaga jarak. Mulai detik ini, jangan biarkan dia masuk terlalu dalam lagi, batinnya memerintah dengan kejam.

Nathaniel tahu, semakin ia bersikap lembut, semakin Alessia akan berharap. Dan harapan adalah hal paling berbahaya bagi mereka berdua saat ini. Ia harus kembali menjadi "robot" yang hanya peduli pada efisiensi perusahaan dan keselamatan fisik Alessia, bukan kebahagiaan hatinya.

Diam-diam, Nathaniel melirik Alessia dari sudut matanya. Melihat gadis itu tertunduk lesu di meja kerjanya membuat hati Nathaniel remuk, namun ia memaksakan tangannya untuk tetap diam. Ia tidak boleh mengusap kepala gadis itu lagi. Ia tidak boleh menawarkan cokelat hangat saat gadis itu sedih. Ia harus menjadi dinding beton yang dingin agar Alessia berhenti mencoba bersandar.

"Al, berkas dari vendor Lounge sudah selesai aku periksa. Tolong kamu pelajari lagi detail biayanya," ucap Nathaniel dengan nada bicara yang sangat formal, seolah mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan berbagi ruang kantor.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang mengiris lidahnya sendiri. Namun, bagi Nathaniel, lebih baik ia yang terluka dalam diam daripada membiarkan Alessia hancur karena cinta yang ia anggap terlarang ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!