Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Retaknya Persaudaraan dan Harga Sebuah Kesetiaan
Aroma aspal panas di parkiran sekolah sore itu mendadak terasa mencekam. Dean baru saja hendak mengenakan helmnya dan menaiki motor besarnya saat sebuah tarikan kasar di bahunya membuat ia terhuyung ke belakang. Belum sempat ia menoleh sepenuhnya, sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahang kirinya.
Bugh!
Dean tersungkur di samping motornya. Rasa anyir darah langsung terasa di sudut bibirnya. Dengan sigap, Dean bangkit, matanya menyalang penuh amarah. Tanpa banyak bicara, ia membalas dengan pukulan yang tak kalah keras ke arah pelipis penyerangnya.
"Bajingan! Ada apa denganmu, Rio?!" bentak Dean saat Raka buru-buru menengahi dan menahan dada keduanya agar tidak kembali baku hantam.
Rio berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena dendam yang tersulut. "Kau yang ada apa, Dean! Kau pengkhianat! Kau lebih sering menghabiskan waktu dengan perempuan liar itu, sementara dengan kami? Kau sudah jarang berkumpul lagi! Kau lupa siapa yang ada di sampingmu selama ini?"
Mendengar kata-kata itu, kemarahan Dean mencapai puncaknya. Ia merangsek maju, mencengkeram kerah baju Rio dengan sangat kuat hingga kancing teratas seragam Rio nyaris terlepas.
"Siapa yang kau sebut perempuan liar, sialan?!" desis Dean dengan suara rendah yang sangat mengancam.
Rio tertawa meremehkan, sama sekali tidak gentar. "Siapa lagi kalau bukan Karline? Adik kelas kesayanganmu itu! Kau ingat tidak, bukankah dulu kita sepakat ingin membalas dendam padanya karena dia membuat kita malu? Dia menghancurkan reputasi kita sebagai penguasa sekolah, dan sekarang kau malah berbaikan dengannya? Di mana Dean yang dulu?Apa kau sudah tidak punya rasa setia kawan lagi, hah?!"
Dean menatap Rio dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara amarah dan rasa iba. "Apa kau begini karena Karline mencoba menyadarkanmu untuk berbaikan dengan adikmu sendiri? Kau merasa terpojok karena dia benar?"
"Jangan bahas gadis bodoh itu, sialan!" teriak Rio sambil berusaha melepaskan cengkeraman Dean.
Raka yang sejak tadi menjadi penonton hanya bisa diam membisu, ia tahu situasi ini sudah terlalu jauh untuk dicampuri. Rio kembali berteriak, "Ini tidak ada hubungannya dengan Sarah! Ini soal harga diri kita yang kau injak-injak demi membela perempuan yang jelas-jelas berniat menghancurkan geng kita!"
Dean perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia mundur selangkah, lalu tertawa meledek yang membuat telinga Rio memanas.
"Luar biasa, Rio. Benar-benar luar biasa," ucap Dean sambil menyeka darah di bibirnya. "Kau menyebut adik kandungmu sendiri, gadis yang lahir dari rahim yang sama denganmu sebagai 'gadis bodoh'. Ternyata benar apa yang dikatakan Karline tempo hari. Kalau aku punya saudara sepertimu, aku lebih baik meracunimu saat kau tidur. Kau benar-benar tidak pantas dianggap sebagai seorang kakak."
Rio hendak memukul lagi, namun Dean menahan tangannya dengan satu tangan yang kuat. Mata Dean menatap lurus ke dalam mata Rio, memberikan intimidasi yang belum pernah Rio rasakan sebelumnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Rio," ucap Dean tegas. "Jika kau tidak suka pada Karline ku, wanitaku, lebih baik kau tutup mulutmu. Jangan pernah melontarkan kata-kata yang tidak pantas padanya, seperti kau sering berkata kasar pada adikmu sendiri. Aku tidak akan mentolerir itu lagi."
Dean berbalik, memungut helmnya yang sempat terjatuh. Ia menaiki motornya dan menghidupkan mesin yang menderu keras, seolah membelah kesunyian di parkiran tersebut. Sebelum menarik gas, ia menoleh sekali lagi ke arah Rio yang masih berdiri mematung.
"Dan satu lagi," tambah Dean dingin. "Jika kau merasa tidak ingin berteman lagi denganku hanya karena aku membela kebenaran dan menghargai perempuan, silahkan. Pergilah. Aku tidak butuh teman yang tidak punya hati nurani dan tidak bisa menghargai perempuan sepertimu. Persahabatan kita tidak ada harganya jika dasarnya adalah kebencian pada orang yang lemah."
Vroom!
Dean langsung memacu motornya keluar dari area sekolah dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang berterbangan. Raka menatap punggung Dean yang menjauh, lalu menoleh ke arah Rio. Raka hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan, menatap Rio dengan pandangan kecewa, seolah ingin mengatakan bahwa kali ini Rio benar-benar berada di pihak yang salah.
Rio berdiri sendirian di tengah parkiran, tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih. Di dalam hatinya, rasa benci pada Karline semakin membesar, namun ucapan Dean tadi tentang "meracuninya saat tidur" terus terngiang, menusuk ego dan nuraninya yang mulai goyah. Ia telah kehilangan sahabat terbaiknya, dan itu semua karena keangkuhannya sendiri.
Setelah perdebatan sengit yang melelahkan tersebut. Dean tidak langsung pulang ke rumah. Pikirannya masih tertuju pada Karline. Ia merasa perlu memastikan gadis itu benar-benar sampai dengan selamat dan ingin menghabiskan sedikit waktu lagi bersamanya sebelum hari berakhir. Dengan jaket kulit hitam dan helm yang masih terpasang, Dean memarkirkan motornya tepat di depan gerbang besar kediaman Dharmawijaya.
Kebetulan, di balik gerbang, Andhika kakak Karline sedang sibuk menyiram mobil kesayangannya. Ia menyadari ada seorang pengendara motor yang berhenti cukup lama di depan rumahnya. Andhika meletakkan selangnya, mengusap tangannya yang basah ke handuk, lalu berjalan menghampiri gerbang.
"Maaf, siapa Anda? Ada keperluan apa ya di depan rumah saya?" tanya Andhika dengan nada bicara yang tegas namun tetap sopan, meski tatapannya tampak menyelidik.
Dean segera mematikan mesin motornya dan sedikit membuka kaca helmnya. "Maaf mengganggu, Kak. Saya Dean, teman sekolahnya Karline. Saya cuma mau memastikan Karline sudah sampai di rumahnya."
Andhika menaikkan sebelah alisnya. "Oh, temannya Karline? Kenapa tidak memanggil atau memencet bel saja dari tadi? Malah berdiam diri di sini. Sebentar, saya panggilkan dia."
Sebelum masuk, Andhika sempat memberikan tatapan intimidasi yang membuat nyali pria mana pun menciut. Ia masuk ke dalam rumah dan menemukan Karline yang baru saja selesai mandi. Karline tampak segar mengenakan kaos rajut lengan pendek berwarna hijau sage yang dipadukan dengan rok mini selutut. Rambutnya masih sedikit lembap.
"Karline, di depan ada cowok yang menunggumu. Teman sekolahmu katanya," ucap Andhika sambil bersedekap.
Karline mengernyitkan dahi. "Siapa, Kak? Dean?"
Andhika menggeleng pelan. "Aku tidak tahu siapa dia, yang pasti kali ini aku mengizinkanmu keluar sebentar dengannya, karena sepertinya anak itu cukup sopan dan baik. Tapi ingat Karline, aku hanya mengizinkan untuk berteman, bukan menjalin hubungan. Kamu masih sekolah, harus giat belajar. Mengerti?"
Karline hanya menunduk diam, ia tahu kakaknya sangat protektif jika menyangkut masa depannya. "Iya, Kak. Mengerti," jawabnya pelan sambil mengangguk.
Karline meraih tas selempang kecilnya. Sebelum melangkah keluar, ia mendekati Andhika dan mencium pipi kakaknya sebagai tanda pamit. "Karline pergi sebentar ya, Kak."
Saat sampai di depan gerbang, Karline terkejut melihat Dean yang masih lengkap dengan perlengkapan motornya. "Dean? Kenapa kamu ke sini tak memberitahuku dulu? Kamu kan tahu kakaku itu sangat protektif."
"Maaf karline, Aku hanya ingin kamu ikut aku sebentar, ada yang mau aku ceritakan. Aku akan menjelaskan nanti ya," jawab Dean sambil memberikan helm cadangan.
Mereka akhirnya sampai di sebuah kafe kecil yang tersembunyi dan tenang. Saat mereka duduk berhadapan dan Dean melepaskan helmnya, Karline langsung terdiam. Matanya tertuju pada sudut bibir Dean yang pecah dan lebam kebiruan di rahangnya yang mulai terlihat jelas.
Tanpa sadar, tangan Karline terulur. Ia menyentuh pinggiran lebam itu dengan ujung jarinya secara sangat perlahan. "Dean... ini kenapa?"
Karline tidak bertanya lebih banyak, namun matanya menyiratkan kecemasan. Dean menghela napas, ia tidak ingin berbohong pada gadis ini. Ia pun menceritakan semuanya, tentang konfrontasinya dengan Rio di parkiran sekolah, tentang pembelaannya terhadap Karline, hingga keputusannya untuk memutuskan pertemanan dengan siapa pun yang merendahkan perempuan.
Mendengar cerita itu, Karline terdiam. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Ia merasa menjadi penyebab hancurnya persahabatan yang sudah dijalani Dean selama bertahun-tahun.
"Maafkan aku, Dean. Gara-gara aku, kamu jadi berkelahi dan kehilangan teman," bisik Karline lirih, matanya mulai berkaca-kaca.
Melihat itu, Dean segera meraih kedua tangan Karline dan menggenggamnya erat. Ia mengusap punggung tangan Karline dengan ibu jarinya, mencoba memberikan ketenangan.
"Jangan pernah merasa bersalah, Karline. Semuanya baik-baik saja. Aku justru bersyukur karena kejadian ini menunjukkan siapa teman sejatiku dan siapa yang bukan. Aku lebih memilih kehilangan mereka daripada kehilangan kehormatanku karena membiarkan mereka menghinamu," ucap Dean dengan nada yang sangat tulus.
Dean kemudian berdiri, ia menarik Karline ke dalam pelukannya di sudut kafe yang sepi itu. Ia mendekap kepala Karline di dadanya, membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang berdegup hanya untuknya. Karline tidak menolak, ia justru menyandarkan wajahnya di dada Dean, merasakan perlindungan yang begitu nyata dari pria yang dulu sangat ia benci tersebut.