Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Laut Tanpa Dasar di Dalam Diriku
Suasana setelah upacara perjanjian perlahan mencair. Percakapan mulai mengalir, meski masih terasa kaku. Beberapa kelompok mulai berbagi makanan sederhana. Aku memilih untuk mundur sedikit, duduk di bangku kayu di teras rumah, mengamati dari kejauhan. Ratri duduk di sampingku, sementara Eveline berdiri seperti patung di dekat pintu, matanya yang biru pucat tetap memindai kerumunan dengan kewaspadaan meski situasinya sudah tenang.
Seorang sosok kemudian memisahkan diri dari kerumunan dan berjalan menuju kami. Dia adalah wanita elf yang lebih muda dari Lirea, mungkin setara usia manusia dua puluhan. Rambut peraknya yang lurus terurai hingga pinggang, matanya berwarna hijau zamrud yang tajam, dan pakaiannya yang compang-camping masih menunjukkan sisa-sisa jahitan halus khas elf. Dia berjalan dengan langkah tenang namun penuh keyakinan.
Dia berhenti di depan kami, memberikan anggukan hormat yang singkat. Tatapannya tidak tertuju padaku, melainkan langsung menuju Eveline, menyisir setiap lekuk wajah pucatnya, lalu turun ke tangannya, seolah mencari sesuatu.
"Aku meminta izin untuk berbicara," ucapnya, suaranya jernih dan berirama, namun ada getaran ketegangan di dalamnya.
"Silakan," jawabku, mengangguk.
Wanita elf itu menunjuk langsung ke arah Eveline. "Dia... dia bukan manusia. Bukan sepenuhnya. Ada sesuatu yang sangat salah dengan arus kehidupannya. Seperti ada kekosongan di mana seharusnya ada jiwa yang bersinar, dan diisi oleh sesuatu yang lain... sesuatu yang dingin dan abadi. Ini bukan penyakit, juga bukan kutukan biasa. Ini seperti... kebangkitan yang sempurna namun hampa. Sebuah Revenant yang tidak diikat oleh kegelapan, tapi oleh sesuatu yang lain."
Pengetahuannya yang langsung dan akurat membuatku sedikit terkejut. Kebanyakan orang hanya merasakan keanehan pada Eveline, tetapi wanita ini langsung menebak hakikatnya.
"Apa maksudmu Revenant?" tanyaku, meski aku tahu jawabannya.
"Mayat hidup yang dibangkitkan kembali, namun dengan kesadaran dan penampilan yang utuh, hampir sempurna. Bukan zombi yang membusuk atau ghoul yang haus daging. Ini adalah seni sihir kematian tingkat tinggi, bahkan legendaris." Matanya yang hijau kini menatapku penuh pertanyaan. "Dan kekuatan untuk menciptakan Revenant seperti ini... itu membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Nyawa, jiwa, atau setidaknya mahkota sihir seseorang. Bagaimana mungkin dia ada di sini, dalam kondisi seperti itu, dan kau... kau tampak biasa-biasa saja?"
Dia tidak bermaksud kasar, tapi nada bertanyanya jelas: dia mengira aku adalah penyihir gelap yang kuat yang menyamar.
Aku menghela napas. "Aku akan jujur. Eveline... memang bangkit. Tapi bukan dengan sihir kematian seperti yang kau bayangkan. Itu adalah... sebuah kecelakaan. Sebuah celetukan bodohku yang tanpa sengaja mengikatnya padaku."
Wanita elf itu mengerutkan keningnya yang halus, tidak percaya. "Celetukan? Tanpa ritual? Tanpa pengorbanan? Itu tidak mungkin. Hukum Pertukaran Setara dalam sihir adalah mutlak. Untuk mendapatkan sesuatu, sesuatu yang setara harus dikorbankan. Untuk membangkitkan seorang Revenant sempurna, harganya sangat mahal."
"Aku tahu kedengarannya mustahil," aku mengakui, mengangkat bahu. "Tapi itu yang terjadi. Aku tidak mengorbankan apa pun. Aku bahkan tidak tahu sihir apa pun saat itu. Itu hanya... terjadi." Ucapanku terdengar lemah bahkan di telingaku sendiri.
Wanita itu memandangiku dengan skeptis yang dalam. "Jika kau tidak menggunakan pengorbanan... maka kekuatan itu harus datang dari sesuatu yang lain. Dari dalam dirimu sendiri. Dan jika itu benar... maka kau bukanlah orang biasa. Kau adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya atau lebih berharga daripada yang terlihat."
Ratri, yang diam memperhatikan, kini sedikit menggerakkan tubuhnya. Ada cahaya peringatan di matanya yang emas. "Hati-hati dengan nada bicaramu, elf. Rian adalah orang yang baik. Dia telah menolong kalian."
Aku meletakkan tangan di lengan Ratri dengan lembut. "Tidak perlu, Ratri. Dia hanya ingin tahu. Dan aku bukan tipe yang suka menutup-nutupi." Aku menatap kembali wanita elf itu. "Kau meragukan kata-kataku. Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa menunjukkan bukti. Tidak ada mayat lain, tidak ada ritual, tidak ada pengorbanan untuk ditunjukkan. Yang ada hanyalah kenyataan bahwa Eveline ada di sini, dan aku yang memanggilnya."
Wanita elf itu mendekat selangkah, matanya kini berbinar dengan cahaya kehijauan yang samar. "Kalau begitu, izinkan aku melakukan satu hal. Aku memiliki anugerah Mata Kebenaran Arcanum. Aku bisa melihat aliran sihir, potensi, dan aura seseorang. Aku ingin melihat... sumber dari 'celetukan bodoh' mu itu. Aku ingin memastikan apa yang sebenarnya ada di dalam dirimu."
"Rian, jangan," bisik Ratri, suaranya tegas. "Membiarkan orang asing mengintip ke dalam inti keberadaanmu itu berisiko."
Tapi rasa penasaranku, dan keinginan untuk menghilangkan keraguan yang bisa menjadi sumber masalah di kemudian hari, mengalahkan kehati-hatian. Selain itu, jika dia benar-benar bisa melihat, mungkin aku juga bisa mendapatkan penjelasan tentang kekuatan "Pembangkit" ini.
"Lakukan," ucapku, suara tenang. "Tapi batasi hanya pada melihat potensi atau sumber sihir. Jangan menyentuh ingatan atau pikiranku."
Wanita elf itu mengangguk, kelihatan agak terkejut dengan persetujuanku. Dia mengangkat kedua tangannya, telapak tangan menghadapku. Dari matanya, cahaya hijau itu semakin terang, membentuk pola rumit seperti daun yang berputar di irisnya.
"Videre veritatem magicae..." gumannya, suaranya bergetar dengan kekuatan sihir kuno.
Aku merasakan sesuatu—bukan sentuhan fisik, tapi seperti tendangan ringan di perut, diikuti oleh sensasi geli yang merambat di seluruh kulitku. Aku berdiri diam, membiarkannya.
Ekspresi wanita elf itu berubah dengan cepat. Awalnya fokus, lalu bingung, kemudian matanya membelalak lebar. Cahaya hijaunya berkedip-kedip tak stabil, seolah-olah sedang mencoba menangkap sesuatu yang terlalu besar untuk dilihatnya. Napasnya menjadi tersengal.
Dia terhuyung mundur selangkah, tangannya jatuh, dan cahaya di matanya padam dengan cepat. Wajahnya yang pucat menjadi semakin pucat bagai lilin. Dia menatapku dengan tatapan yang sama sekali baru—campuran antara ketakutan primordial, keterpukauan, dan ketidakpercayaan total.
"Tidak... tidak mungkin..." bisiknya, suaranya serak. "Itu... seperti melihat ke dalam lautan tanpa dasar. Tapi bukan lautan air... lautan potensi. Energi sihir... tidak terbatas. Aku tidak bisa melihat ujungnya. Hanya samudra yang luas dan dalam yang tak terukur!"
Dia menggigit bibirnya, tampak berjuang untuk menemukan kata-kata. "Dan di tengah samudra itu... ada inti. Sebuah pusaran. Tapi pusaran itu tidak menghisap... justru memancar. Memancarkan sesuatu yang... hitam pekat. Bukan hitam jahat, tapi hitam dari kehampaan total, dari kemungkinan yang tak terbatas sebelum terwujud. Seperti kekosongan primordial yang siap menjadi apapun."
Dia menarik napas dalam-dalam, memaksakan diri untuk melanjutkan. "Gelap... tapi bukan kegelapan sihir kematian atau kejahatan. Lebih seperti... kegelapan sebelum terciptanya bintang. Kegelapan yang mengandung semua cahaya dan semua ketiadaan sekaligus. Aku belum pernah melihat aura seperti ini... bahkan dalam catatan tertua klan kami."
Dia menatapku langsung, dan suaranya berubah menjadi berbisik, penuh rasa takut sekaligus hormat. "Kau... kau bukan penyihir. Kau juga bukan dewa. Kau adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang seharusnya tidak berjalan di dunia fana ini."
Dia berlutut, bukan sebagai penghormatan, tapi seolah kakinya tidak lagi kuat menahannya. "Gelar... gelar untuk kekuatan seperti ini... dalam bahasa elf kuno, kau adalah 'Sa'reth Anar'vel' – yang artinya 'Sumber Kekosongan yang Berpotensi', atau 'Mata Air dari Ketidaktampakan'."
Aku terdiam, mencerna gelar yang aneh dan bombastis itu. "Aku tidak merasa seperti 'sumber' apa pun. Aku hanya Rian."
"Perasaanmu tidak mengubah apa yang ada di dalam dirimu," jawabnya, bangkit perlahan. Matanya masih penuh keheranan. "Sekarang aku mengerti bagaimana kau bisa membangkitkan Revenant tanpa pengorbanan. Kau tidak membayarnya dengan nyawa atau mahkota sihir... kau membayarnya dengan menarik sedikit dari 'samudra' potensi tak terbatas itu sendiri. Hukum Pertukaran Setara masih berlaku, tapi bagi dirimu, 'harga' itu seperti setetes air dari lautan milikmu sendiri."
Penjelasannya masuk akal dalam cara yang aneh. Tapi itu tidak membuatku merasa lebih baik. Justru membuatku merasa semakin... terpisah.
"Gelar itu," ucapku perlahan, "simpan saja untuk dirimu sendiri. Aku tidak menginginkannya. Aku berada di pulau ini bukan karena pilihan, tapi karena terpaksa. Aku sedang menghindari kejaran tentara Kekaisaran Aethelgard yang mungkin menginginkan kekuatan ini, atau mungkin hanya ingin menyingkirkan ancaman yang mereka kira aku ini."
Wanita elf itu mengangguk, seolah banyak hal menjadi jelas. "Kekaisaran... ya, mereka pasti akan menganggapmu sebagai ancaman eksistensial atau alat yang tak ternilai. Mengungsi ke pulau terpencil ini adalah langkah yang bijaksana, walau putus asa."
Diam sejenak. Kemudian, dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat serius dan personal, dia berkata, "Namun, dengarkan. Pengetahuan ini... berat. Jika apa yang kulihat benar, maka kematian fisikmu bukanlah akhir. Kau terlalu... 'berpotensi' untuk padam begitu saja. Jadi, jika suatu hari... jika aku mati di pulau ini, entah karena penyakit, usia, atau pertempuran... maka gunakanlah jasadku."
Aku terkejut. "Apa? Tidak. Aku tidak akan—"
"Dengarkan!" potongnya, matanya bersinar dengan intensitas yang memaksa. "Aku adalah Lyra dari klan Matahari Senja, seorang Arcanum Seer. Jasad dan sisa mahkota sihirku bisa menjadi katalis yang kuat. Jika kau harus bertarung, jika nyawamu atau orang-orang yang kaulindungi terancam, jangan ragu. Bangkitkan aku. Jadikan aku senjata, pelindung, apapun yang kau butuhkan. Biarlah kematianku memiliki makna lebih dari sekadar membusuk di tanah asing."
Permintaannya mengguncangku. Itu begitu pragmatis, begitu suram, dan begitu berat secara moral. "Lyra... itu... itu permintaan yang sangat besar. Itu bukan hanya tentang kekuatan. Itu tentang menghormati orang yang sudah meninggal. Aku... aku takut. Takut kekuatan ini akan mengubahku. Takut jika aku mulai melihat kematian hanya sebagai sumber daya, maka suatu saat aku akan kehilangan kemanusiaanku sendiri. Itu beban emosional dan moral yang tidak ingin kupunyai."
Lyra memandangiku lama. Ekspresi ketakutan dan keterpukauannya di wajahnya perlahan mencair, digantikan oleh sesuatu yang lebih lembut—sebuah pengertian yang dalam, bahkan simpati. Dia melihat bukan lagi monster atau sumber daya, tetapi seorang manusia yang ketakutan dibebani oleh takdir yang terlalu besar untuk dipikulnya.
"Kau... kau benar-benar aneh," ucapnya akhirnya, suara lebih lembut. "Memiliki kekuatan yang bisa membuat dewa-dewa jatuh iri, namun takut akan kehilangan nurani. Itu mungkin hal paling manusiawi yang pernah kulihat." Dia memberikan senyum kecil, sedih. "Lupakan permintaanku tadi. Itu adalah pikiran seorang elf yang terlalu lama hidup di dunia yang kejam. Jagalah nuranimu itu, Rian. Itu mungkin satu-satunya penyeimbang untuk lautan di dalam dirimu."
Dia berbalik untuk pergi, tapi berhenti setelah beberapa langkah. Tanpa menoleh, dia berkata, "Dan jangan khawatir. Rahasia tentang siapa dirimu yang sebenarnya... itu akan tetap bersamaku. Aku berjanji."
Dengan itu, Lyra si Arcanum Seer menghilang kembali ke dalam kerumunan pengungsi, meninggalkanku dengan gelar baru yang tidak kuinginkan, dan sebuah kebenaran tentang diriku sendiri yang terdengar lebih menakutkan daripada ancaman tentara mana pun. Sa'reth Anar'vel. Sumber Kekosongan yang Berpotensi.
Aku menatap tanganku sendiri, yang terlihat biasa saja. Di dalamnya, katanya, ada samudra. Dan aku hanya berharap samudra itu tidak akan pernah harus aku gunakan sepenuhnya.
Suasana setelah pertemuan dengan Lyra perlahan sepi. Sebagian besar pengungsi kembali ke perkemahan mereka, meski beberapa masih duduk di area luar rumahku, bercakap-cakap dengan suara rendah, masih mencerna malam yang penuh makna. Aku membiarkan mereka, memberikan anggukan singkat sebelum aku, Eveline, dan Ratri masuk ke dalam rumah.
Malam itu, sebelum tidur, pikiran tentang apa yang dikatakan Lyra menggelayut di benakku. Bukan ketakutan yang kurasakan, malahan, ada rasa... lucu yang ironis. Aku mengingat kembali momen itu, di rumah kayu berdebu, dengan bodohnya mengucap, "Coba aja gue bisa idupin lagi. Buat jadi pacar, hehe."
Sekarang, gelarnya untukku adalah Sa'reth Anar'vel—Sumber Kekosongan yang Berpotensi. Sungguh nama yang bombastis untuk sesuatu yang bermula dari lelucon iseng.
Aku masih belum sepenuhnya paham. Di dunia asalku, sihir hanyalah mitos, dongeng. Meski ada cerita tentang orang yang memiliki indra keenam atau bisa menyembuh dengan tenaga dalam, namun semuanya samar, tidak konkret, dan tidak memiliki "hukum pertukaran setara" yang sepertinya menjadi dasar sihir di sini. Bagiku, membangkitkan Eveline rasanya seperti... menekan tombol yang tidak sengaja ditemukan. Aku tidak merasakan pengorbanan apa pun. Tidak ada rasa lelah, tidak ada nyawa yang melayang. Hanya sebuah kejadian.
Dengan pikiran yang berputar-putar pada konsep-konsep asing itu, aku akhirnya terlelap.
Fajar datang dengan kabut tipis dan udara segar. Seperti biasa, aku berjalan pagi menyusuri jalur yang sudah familiar, menikmati kesunyian sebelum pulau sepenuhnya bangun. Namun, hari ini kesunyian itu dipecah oleh suara yang berbeda—bukan cekcok, tapi ratapan. Suara tangisan yang dalam, histeris, dan penuh keputusasaan, berasal dari arah perkemahan.
Hati berdebar dipenuhi firasat buruk. Aku mempercepat langkah.
Saat aku sampai di tepi perkemahan, pemandangan yang menyayat hati menyambut. Sekelompok kecil pengungsi berkumpul di sekitar salah satu gubuk daun yang lebih rapi. Di tengah kerumunan itu, seorang pria elf tua berlutut, tubuhnya terguncang oleh isak tangis yang hebat. Di pangkuannya, terbaring seorang wanita dengan rambut perak yang sudah tidak lagi berkilauan. Wajahnya pucat, mulutnya sedikit terbuka, mata tertutup dengan damai.
Itu adalah Lyra.
Dia tidak lagi bernapas.
Jantungku seolah tercekat. Meski baru sekali berbincang dalam, sosoknya yang tajam, cerdas, dan akhirnya memahami, telah meninggalkan kesan. Dan sekarang, dia telah pergi. Penyakit yang disebutnya tadi malam? Atau luka lama dari pengungsian? Aku tidak tahu.
Pria elf tua itu—mungkin ayah atau suaminya—mengelus rambut Lyra sambil terus menangis. "Sudah... sudah lama dia sakit, sejak sebelum kita melarikan diri... dia bertahan hanya karena tekadnya untuk melihat kita aman..."
Seorang wanita manusia yang tampak lebih tua, mungkin tabib atau perawat kamp, berdiri di samping dengan wajah sedih. "Kami sudah berusaha. Tapi kekuatannya habis. Dia pergi dengan tenang, di antara kita."
Lalu, pria elf tua itu mengangkat wajahnya yang basah. Matanya yang merah dan berkaca-kaca menatap kerumunan, lalu, seolah teringat sesuatu, tatapannya mencari-cari hingga akhirnya menemukanku. Ada kilatan harapan yang pahit di dalamnya.
"Dia... dia meninggalkan pesan," ucap pria itu, suaranya pecah. "Untukmu, Tuan. Dia bilang... 'jika ketemu orang yang bisa membangkitkan tanpa pengorbanan, sampaikan wasiatku. Bangkitkan aku. Lakukan apa pun yang diperlukan dengan diriku setelah itu. Biar kematianku tidak sia-sia'."
Kata-kata itu mengguncangku seperti pukulan di ulu hati. Permintaannya yang kemarin, yang aku tolak dengan alasan moral, kini kembali dengan kekuatan yang berlipat ganda melalui air mata keluarganya.
Semua mata tertuju padaku. Ada yang penuh harap, ada yang bingung, ada yang takut.
Air mata mulai mengalir di pipiku tanpa kusadari. Aku lelaki, tapi melihat kepedihan seperti ini, melihat kepergian seseorang yang baru kemarin memberikan pengertian padaku, dan mendengar wasiatnya yang begitu berat... itu menghancurkan. Aku menangis untuk Lyra, untuk pria tua itu, untuk absurdnya situasi ini. Tangisku sunyi, hanya air mata yang terus menetes.
"Apakah... apakah Tuan akan melakukannya?" tanya pria elf tua itu, suaranya penuh keraguan dan kepasrahan. "Aku... aku mengikhlaskan, jika itu memang keinginan terakhir Lyra. Dia selalu tahu apa yang terbaik, bahkan dalam kematian."
Ini bukan keputusan yang bisa diambil dengan mudah. Tapi wasiatnya jelas. Dan air mata keluarganya yang begitu dalam... Aku menarik napas bergetar, menyeka pipiku dengan lengan.
"Aku... akan mencoba," ucapku, suara serak. "Tapi kalian semua harus paham. Apa yang akan bangkit nanti... itu bukan Lyra yang kalian kenal."
Aku mendekati jasad Lyra. Aku berlutut di seberang pria tua itu. Aku meletakkan tangan di atas tangan dingin Lyra.
"Aku belajar dari Eveline," lanjutku, memandang kerumunan yang kini hening. "Saat aku membangkitkan seseorang... yang kembali adalah tubuh dan ingatannya. Tapi rohnya, esensi dirinya yang sebenarnya, perasaan dan jiwanya... itu telah pergi. Yang kembali adalah sebuah... cangkang yang diisi oleh kenangan. Mereka bisa meniru emosi, belajar, bahkan berkembang, tapi awalnya... mereka hampa. Seperti Eveline."
Aku menatap wajah Lyra yang damai. "Jadi, jika dia bangkit, dia akan ingat kalian semua. Dia akan mengenali kalian. Tapi dia mungkin tidak bisa merasakan kesedihan karena kematiannya sendiri, atau kebahagiaan karena melihat kalian lagi. Itu akan membutuhkan waktu. Dan itu... bisa jadi sangat menyakitkan untuk kalian yang mencintainya."
Pria elf tua itu mengangguk perlahan, air matanya masih mengalir. "Aku... aku mengerti. Tapi setidaknya... tubuhnya tidak akan membusuk. Suaranya masih bisa terdengar. Itu... lebih baik daripada kehilangan segalanya."
Permintaannya begitu manusiawi, begitu mengharukan.
"Baiklah," bisikku. Aku memejamkan mata. Aku tidak tahu mantra atau ritual. Yang kulakukan hanyalah fokus pada niat. Niat untuk memenuhi wasiat terakhirnya. Niat untuk membangkitkan tubuh ini, dengan kesadaran yang diberikan oleh ingatannya.