NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Lia berdiri di dermaga kayu kecil, menatap bayangan mobil hitam yang membawa Regas dan Ghea menghilang di balik deretan pohon kelapa. Lambaian tangan mungil Ghea dari balik kaca jendela masih terbayang jelas, menyisakan lubang besar di ulu hatinya.

"Ibu Lia, kenapa menangis?" tanya Putu, murid kecilnya, yang sudah berdiri di sampingnya membawa buku sajak.

Lia segera mengusap pipinya dengan kasar. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma garam laut yang tajam, mencoba membilas sisa aroma kayu manis yang masih tertinggal di kulitnya.

"Tidak apa-apa, Putu. Hanya kelilipan pasir," bohongnya dengan suara serak.

Begitu sampai di gubuknya, Lia langsung jatuh terduduk di atas tikar pandan. Matanya tertuju pada sudut ruangan tempat pergulatan panas semalam terjadi. Rasa hangat yang menjalar di tubuhnya seketika berubah menjadi rasa dingin yang menusuk.

"Salah. Ini salah," bisiknya pada diri sendiri.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan sentuhan Regas. Baginya, kejadian semalam adalah sebuah kesalahan fatal. Di saat ia berusaha membangun martabatnya kembali sebagai wanita mandiri di pesisir ini, ia justru menyerah pada pria yang statusnya masih milik wanita lain di mata hukum dan Tuhan.

Lia bangkit dan mulai membersihkan gubuknya dengan kalap. Ia mengganti seprai, mencuci gelas bekas teh Regas, dan membuang sisa lilin yang sudah meleleh. Ia ingin menghapus setiap jejak kehadiran pria itu. Ia menyadari bahwa janji Regas tentang "jalan tengah" dan "berbagi waktu" hanyalah sebuah utopia yang akan kembali menghancurkan harga dirinya.

"Aku bukan selir, Regas. Aku bukan simpanan yang bisa kamu kunjungi saat kamu lelah dengan drama Jakarta," batinnya perih.

Lia mengambil tumpukan kertas sajak milik anak-anak nelayan. Ia harus kembali fokus. Sastra adalah satu-satunya hal yang tidak pernah mengkhianatinya. Namun, saat ia membuka salah satu buku catatan Ghea yang tertinggal secara tidak sengaja, sebuah foto jatuh dari sana.

Foto itu memperlihatkan Regas yang sedang tidur di sofa perpustakaan teknik bertahun-tahun lalu, dan di belakangnya ada tulisan tangan Regas yang sangat rapi: "Menunggu Gadis Sastraku kembali dari London."

Tangan Lia gemetar.

Di kursi kelas bisnis pesawat yang meluncur membelah awan menuju Jakarta, Regas menyandarkan punggungnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada saat ia datang. Di sampingnya, Ghea sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar pada lengan kursinya.

Regas menatap ke luar jendela, namun pikirannya tertinggal ratusan kilometer di belakang, di sebuah gubuk bambu sederhana di pesisir Bali. Jemarinya menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih bisa merasakan kehangatan dan rasa manis yang ditinggalkan Azzalia semalam.

Sebuah senyum tipis—senyum yang sudah bertahun-tahun hilang dari wajah tegasnya—muncul begitu saja. Ia teringat bagaimana Lia akhirnya luluh dalam pelukannya, bagaimana rintihan wanita itu bersaing dengan suara badai, dan bagaimana penyatuan mereka terasa begitu "benar" seolah potongan puzzle yang hilang akhirnya kembali ke tempatnya.

"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Lia," gumam Regas pelan.

Baginya, kejadian semalam bukan sebuah kesalahan, melainkan sebuah deklarasi perang terhadap siapa pun yang mencoba memisahkan mereka lagi. Ia merasa memiliki kekuatan baru untuk menghadapi drama di Jakarta. Persetujuan Elena, syarat-syarat ibunya, dan kerumitan perusahaan—semuanya terasa kecil dibandingkan kenyataan bahwa Lia masih mencintainya dengan intensitas yang sama.

Regas membuka ponselnya yang baru saja ia nyalakan kembali. Puluhan panggilan tak terjawab dari Abimana dan ibunya masuk beruntun. Ia mengabaikan semuanya. Ia justru membuka galeri foto, menatap satu-satunya foto yang sempat ia ambil secara diam-diam saat Lia sedang mengajar anak-anak nelayan sore itu.

"Tunggu aku, Gadis Sastraku. Hanya sebentar lagi," batin Regas dengan tekad bulat.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!