Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Langit Berlin sore itu berwarna abu-abu besi, seolah ikut memikul beban berat yang menghimpit pundak Lucky Caleb. Setibanya di bandara setelah penerbangan singkat dari Paris, ia tidak disambut oleh Hans dengan jadwal wawancara, melainkan oleh iring-iringan mobil hitam milik keluarganya.
Suasana terasa sangat formal, hampir mencekam. Ibunya, dengan setelan sutra yang kaku, hanya memberikan kecupan singkat di pipinya sebelum menjatuhkan bom yang menghancurkan sisa-sisa harapannya.
"Rencana berubah, Lucky. Tidak ada pertunangan. Media hanya kami beri umpan kecil," ucap ibunya dingin saat mereka meluncur membelah jalanan Berlin.
"Kau akan menikah malam ini. Pendeta sudah menunggu, dan keluarga Allen sudah menyiapkan segalanya di kediaman mereka."
Lucky tertegun. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena bahagia, melainkan karena rasa sesak yang luar biasa. "Menikah? Bukankah perjanjiannya hanya pertunangan? Aku bahkan baru bertemu Allen dua kali!"
"Kondisi politik ayahmu sedang di ujung tanduk, Lucky. Aliansi dengan keluarga Allen harus dikunci secara hukum, bukan sekadar janji cincin," ayahnya menimpali dari kursi depan tanpa menoleh. "Kau sudah cukup lama bermain-main dengan perasaanmu. Lima tahun meratapi asisten yang hilang adalah waktu yang terlalu lama bagi pria dewasa."
Lucky menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin. Lima tahun. Ya, lima tahun ia hidup sebagai mayat berjalan, hanya bernapas melalui melodi lagu-lagunya. Jika Freya memang sudah benar-benar menghilang, jika Freya bahkan tidak sudi menemuinya di Paris—tempat yang seharusnya menjadi ajang pertemuan mereka, maka apa gunanya ia terus berjuang?
Hatinya sudah patah, hancur berkeping-keping hingga tak ada lagi rasa sakit yang bisa ia rasakan. Ia merasa seperti robot yang sedang digiring menuju perakitan akhir. "Terserah kalian," bisik Lucky pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Lakukan apa pun yang membuat kalian puas."
Kediaman keluarga Allen di kawasan elit Grunewald tampak seperti istana dalam dongeng, namun bagi Lucky, itu adalah penjara dengan dekorasi bunga lili putih yang melimpah. Ribuan lampu kristal digantung di taman belakang yang luas, memantulkan cahaya pada gaun-gaun tamu dari kalangan diplomat dan pengusaha kelas atas Berlin.
Lucky berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia mengenakan tuksedo hitam pekat. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ia teringat malam terakhir di Berlin bersama Freya.
Kehangatan kulit gadis itu, bisikan cintanya yang tulus, dan penyatuan perpisahan yang ia kira akan menjadi akhir dari segalanya. Ternyata, itu hanyalah awal dari penderitaan panjangnya.
Pintu terbuka, dan Allen masuk dengan gaun pengantin couture yang sangat megah. Gadis itu cantik, sangat cantik, dengan rambut pirang yang ditata sempurna. Namun, saat Lucky menatapnya, ia tidak merasakan getaran apa pun. Allen baginya hanyalah sebuah patung porselen yang mahal.
"Kau siap, Lucky?" tanya Allen lembut. Ada ambisi di matanya, sebuah ambisi untuk menjadi istri dari bintang besar sekaligus menantu diplomat berpengaruh.
Lucky hanya mengangguk kaku. Ia tidak memberikan pujian, tidak juga memberikan senyuman.
Prosesi pernikahan itu dilangsungkan di bawah paviliun putih yang dikelilingi kolam air mancur. Suara kuartet gesek memainkan melodi klasik yang seharusnya terasa romantis, namun di telinga Lucky, itu terdengar seperti lonceng kematian.
Pendeta berdiri di sana, memegang kitab suci dengan raut wajah khidmat. Di depan ratusan tamu penting dan lampu kilat kamera yang mulai menyambar dari kejauhan, Lucky berdiri berhadapan dengan Allen.
"Lucky Caleb," suara pendeta itu menggema. "Apakah kau bersedia menerima Allen sebagai istrimu, untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kalian?"
Keheningan menyergap. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Lucky teringat pada Freya. Ia membayangkan jika wanita di depannya adalah Freya. Ia membayangkan mata cokelat jernih itu menatapnya dengan penuh cinta. Namun, bayangan itu buyar saat ia menyadari bahwa Freya Montgomery mungkin sedang berada di belahan dunia lain, tertawa atau bahkan sudah melupakannya.
"Saya bersedia," ucap Lucky dengan suara yang datar dan tanpa emosi.
Lalu, tibalah saatnya pengucapan sumpah pernikahan. Lucky mengambil tangan Allen yang terasa dingin di tangannya, jauh berbeda dengan tangan hangat Freya yang selalu ia genggam dulu.
"Aku, Lucky Caleb, mengambil engkau, Allen, menjadi istriku," Lucky mengucapkan kata-kata itu seolah sedang membaca naskah film yang paling membosankan. "Untuk saling mencintai dan menghargai, mulai hari ini dan seterusnya..."
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti paku yang menancap di peti mati cintanya untuk Freya. Ia mengucapkan sumpah itu dengan lancar, tanpa ragu, karena ia memang sudah tidak peduli lagi pada hidupnya sendiri. Baginya, menyerahkan hidup pada Allen adalah cara tercepat untuk mengakhiri harapan yang menyiksa selama lima tahun ini.
"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri. Silakan cium mempelai wanita," ucap pendeta.
Lucky mendekat, mengecup bibir Allen secara formal. Sorak sorai tamu pecah, lampu kilat kamera semakin menggila. Di depan publik Berlin, ia adalah pengantin baru yang sempurna. Namun di dalam batinnya, Lucky merasa telah melakukan dosa terbesar: mengkhianati perasaan yang ia simpan untuk ibu dari anak yang bahkan belum ia ketahui keberadaannya.
Malam itu, resepsi mewah berlangsung hingga dini hari. Lucky meneguk sampanye demi sampanye, mencoba mematikan syaraf-syaraf di kepalanya. Di tengah keramaian itu, Hans mendekatinya dengan wajah yang tampak aneh.
"Luc, selamat atas pernikahanmu," ucap Hans pelan.
"Terima kasih, Hans. Sekarang biarkan aku mabuk dengan tenang," jawab Lucky sinis.
"Ada pesan masuk ke ponsel pribadimu," Hans menyodorkan ponsel itu. "Tadi dikirim tepat saat kau mengucapkan sumpah. Dari nomor yang tidak dikenal, tapi kodenya dari Inggris... dari Oxford."
Lucky tertegun. Ia mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Hanya ada satu kalimat singkat di sana:
"Selamat menempuh hidup baru, Lucky. Semoga kau menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan padamu. - F.M"
Lucky hampir menjatuhkan gelas sampanyenya. Ia menatap layar itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Freya tahu. Freya melihatnya. Dan Freya merelakannya.
"Bajingan," desis Lucky pelan, entah ditujukan pada dirinya sendiri atau pada takdir.
Ia tidak tahu bahwa saat itu, di sebuah rumah di Oxford, Freya sedang menangis dalam diam sambil memeluk seorang anak laki-laki yang wajahnya adalah duplikat dari pria yang baru saja resmi menjadi milik wanita lain. Freya telah menutup pintu itu selamanya, memberikan restunya yang paling pahit, sementara Lucky kini terjebak dalam pernikahan emas yang akan menjadi penjara baru baginya selama sisa hidupnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt