NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 11

Motor itu membelah kemacetan Jakarta seperti peluru perak. Mira memeluk pinggang Romano erat, merasakan ketegangan di punggung pria itu yang keras seperti baja. Di balik kaca helm, matanya terus terpaku pada layar tablet yang menampilkan pergerakan di pasar. Para pria berjaket hitam itu kini mulai mematikan lampu-lampu area belakang. Mereka bergerak dalam bayang-bayang, efisien dan mematikan.

"Dua menit lagi, Romano! Mereka sudah mengeluarkan pemantik!" teriak Mira di tengah deru angin.

Romano tidak menjawab, ia justru menambah kecepatan, menikung tajam masuk ke gang sempit yang menjadi jalan tikus menuju Sektor Tujuh. Saat mereka tiba di gerbang pasar, motor itu berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Romano turun bahkan sebelum mesinnya benar-benar mati.

Di sana, di balik tangki gas komunal, seorang pria bertubuh besar baru saja akan menyalakan korek api zippo.

"Berhenti di sana jika kau masih ingin melihat matahari besok," suara Romano menggelegar, dingin dan berwibawa, sanggup menghentikan gerakan tangan pria itu di udara.

Tiga pria lainnya muncul dari balik pilar, menggenggam batang besi. Salah satu dari mereka tertawa mengejek. "Tuan Romano? Anda seharusnya sedang minum wiski di menara Anda, bukan bermain pahlawan di tempat kumuh ini. Direksi tidak akan suka melihat ini."

"Direksi tidak membayarku untuk menjadi pengecut seperti kalian," balas Romano. Ia melangkah maju, melepaskan sarung tangan motornya dengan tenang. "Siapa yang mengirimmu? Wijaya? Atau anak buah Arkan yang masih tersisa?"

Mira melangkah ke samping Romano, ia memegang ponselnya yang sedang melakukan siaran langsung ke server internal Nusantara Group dan kanal publik Sektor Tujuh. "Wajah kalian sudah terekam. Ribuan warga Sektor Tujuh sedang menonton ini sekarang. Jika satu saja percikan api muncul, kalian tidak akan berurusan dengan polisi, tapi dengan massa yang sudah kalian injak-injak selama puluhan tahun."

Para pria itu bimbang. Mereka melihat ke arah ponsel Mira, lalu ke arah gang-gang di sekitar pasar di mana lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu. Suara teriakan warga yang menyadari adanya ancaman mulai terdengar mendekat.

"Sialan! Kita dikepung!" salah satu dari mereka berbisik panik.

"Letakkan korek itu, atau kau akan menjadi orang pertama yang terbakar oleh kemarahan mereka," ancam Mira, suaranya tidak lagi gemetar. Ia berdiri tegak di samping Romano, membentuk front pertahanan yang tak terpatahkan.

Pria yang memegang korek itu menjatuhkan zippo-nya ke lantai semen. Mereka berbalik untuk lari, namun puluhan warga Sektor Tujuh yang dipimpin oleh ayah Mira sudah menutup jalan keluar. Tidak ada kekerasan fisik, hanya barisan manusia yang diam namun penuh amarah, mengurung para perusak itu dalam lingkaran keadilan rakyat.

Romano menoleh ke arah Mira. Ada kilatan aneh di matanya—bukan lagi obsesi yang gelap, melainkan rasa hormat yang murni. "Kau baru saja memenangkan perang tanpa mengeluarkan satu peluru pun, Mira."

"Ini adalah kekuatanku, Romano. Sesuatu yang tidak pernah dimiliki ayahmu," balas Mira. Ia mematikan siarannya dan menatap para pelaku yang kini sudah diamankan warga.

Malam itu, di tengah pasar yang selamat dari api, Romano dan Mira duduk di tangga semen yang sama tempat mereka berdebat tiga bulan lalu. Keheningan di antara mereka terasa berbeda—tidak lagi penuh duri, melainkan penuh dengan pemahaman yang tak terucapkan.

"Wijaya akan bergerak lebih nekat setelah ini," gumam Romano, menatap tangannya yang sedikit kotor karena debu jalanan. "Dia tahu posisinya terancam."

"Biarkan dia bergerak," Mira menyandarkan kepalanya ke pilar kayu pasar. "Besok pagi, aku akan menggunakan bukti rekaman ini untuk mendepak seluruh sisa loyalis ayahmu dari dewan. Nusantara Group butuh pembersihan total, dan aku tidak akan berhenti sampai hanya ada orang-orang yang bersih di sana."

Romano menatap profil samping Mira. "Termasuk aku?"

Mira menoleh, menatap mata hitam Romano yang dalam. Ia menarik napas panjang, lalu menyentuh kunci kuningan di lehernya yang ia jadikan kalung. "Kau sudah memberikan kuncinya padaku, Romano. Keputusan itu ada di tanganmu. Apakah kau ingin tetap menjadi raja di menara yang busuk, atau mulai membangun pondasi baru bersamaku di sini, di tanah yang jujur?"

Romano tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Mira, menggenggamnya kuat di tengah kegelapan malam Sektor Tujuh. Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta tetap bersinar, namun bagi mereka berdua, pusat gravitasi dunia baru saja berpindah ke tangan yang saling bertautan itu.

Pagi berikutnya, gedung Nusantara Group tidak lagi terasa seperti kantor korporat, melainkan sebuah pengadilan. Mira berjalan melewati pintu kaca otomatis dengan langkah yang menciptakan dentum otoritas di atas lantai marmer. Di belakangnya, dua orang perwakilan warga Sektor Tujuh berjalan dengan kemeja rapi, membawa map berisi pernyataan sikap ribuan penduduk.

Di ruang rapat, Wijaya dan kroninya sudah menunggu dengan wajah merah padam. Mereka siap menyerang Mira dengan isu kerugian denda, namun mereka tidak tahu bahwa senjata mereka semalam telah berbalik arah.

"Berani-beraninya kau membawa orang-orang pasar ini ke ruang suci direksi!" bentak Wijaya sambil menunjuk perwakilan warga.

Mira tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, meletakkan tabletnya yang menampilkan rekaman wajah anak buah Wijaya di tangki gas semalam. "Ruang ini berhenti menjadi suci saat kalian mengirim preman untuk membakar aset perusahaan kalian sendiri hanya demi menjatuhkan saya."

Keheningan yang mematikan jatuh di ruangan itu. Wijaya mencoba membuka mulut, namun Romano masuk dan langsung membanting dokumen hasil investigasi internal ke depan pria tua itu.

"Aku sudah melacak aliran dananya, Wijaya," suara Romano terdengar rendah, seperti geraman pemangsa. "Rekening pribadimu digunakan untuk membayar para pelaku. Ini bukan lagi soal persaingan ideologi bisnis. Ini adalah upaya sabotase dan percobaan pembunuhan."

Romano menatap seluruh anggota dewan. "Hari ini, di bawah wewenang saya sebagai CEO dan atas restu Yayasan Rahayu Berdikari sebagai pemegang saham utama, saya mengumumkan restrukturisasi total. Wijaya, dan tiga orang di sebelah kirinya... kalian diberhentikan dengan tidak hormat. Keamanan akan mengawal kalian keluar dalam lima menit."

"Kau tidak bisa melakukan ini! Aku punya hak suara!" teriak Wijaya panik.

"Suaramu tidak berlaku jika kau berada di balik jeruji besi," balas Mira tenang. "Polisi sudah menunggu di lobi bawah. Pilihannya hanya dua: keluar dengan tenang sekarang, atau keluar dengan borgol di depan seluruh karyawan."

Setelah ruangan itu dibersihkan dari loyalis lama, suasana mendadak sunyi. Hanya tersisa Mira, Romano, dan perwakilan warga. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Nusantara Group, kursi-kursi kulit mewah itu diduduki oleh orang-orang yang tangannya masih kasar karena kerja keras di lapangan.

Mira duduk di kursi yang dulunya milik Wijaya. Ia menoleh ke arah Romano yang berdiri di dekat jendela, memandangi kota yang kini tampak berbeda di matanya.

"Kau baru saja mengosongkan setengah dari dewan direksiku, Mira," ucap Romano tanpa berbalik. "Perusahaan ini akan goyah di bursa saham besok pagi."

"Perusahaan ini akan goyah sejenak untuk berdiri lebih tegak," sahut Mira. "Besok, kita akan mengumumkan kemitraan baru dengan koperasi warga. Pasar saham akan melihat ini sebagai model bisnis masa depan, bukan kerugian. Kepercayaan publik jauh lebih mahal daripada ego para direktur tua itu."

Romano berbalik, menatap Mira dengan tatapan yang kini benar-benar bersih dari rasa merendahkan. Ia berjalan mendekat dan meletakkan tangannya di atas pundak Mira—bukan untuk menekan, tapi sebagai bentuk dukungan yang setara.

"Ibuku pasti bangga melihat ini," bisik Mira, jemarinya menyentuh kunci kuningan di lehernya.

"Dan ibuku pasti akan menganggapku beruntung karena tidak berhasil membunuh api itu saat pertama kali kita bertemu," balas Romano.

Mira berdiri, merapikan dokumennya. "Perang di ruang rapat sudah selesai, Romano. Sekarang, kita punya janji untuk membuka sisa arsip itu. Aku ingin tahu segalanya tentang malam kecelakaan itu. Tidak ada lagi rahasia."

Romano mengangguk pelan. "Segalanya, Mira. Termasuk keterlibatan orang-orang yang mungkin masih ada di sekitar kita."

Mereka melangkah keluar dari ruangan itu bersama-sama. Di koridor, para karyawan berdiri diam, memberikan jalan dengan rasa hormat yang baru. Mira tidak lagi berjalan di belakang Romano; ia berjalan di sampingnya, memimpin transformasi yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.

Saat mereka memasuki lift, Mira melihat bayangan mereka di pintu besi yang mengilat. Seorang wanita yang bangkit dari puing ketidakadilan, dan seorang pria yang memilih untuk menghancurkan warisan kelam demi sebuah masa depan yang jujur.

"Siap untuk menggali lebih dalam?" tanya Romano saat lift mulai bergerak turun menuju gudang bawah tanah.

Mira menggenggam kunci kuningannya erat. "Aku sudah menyiapkan sekopnya, Romano. Mari kita lihat apa lagi yang disembunyikan ayahmu di bawah tanah ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!