NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Sisa-sisa badai "Kutukan Naga Air" telah sepenuhnya tersapu bersih dari langit Benua Langit Azure. Pagi itu, udara terasa sangat renyah dan dingin, membawa aroma petrikor—wangi tanah basah yang berpadu dengan keharuman daun pinus spiritual yang baru saja dicuci oleh hujan lebat. Cahaya matahari pagi yang berwarna keemasan menyiram atap-atap bangunan Sekte Awan Mengalir, memantul pada genangan air jernih yang tersisa di halaman bebatuan.

Di Dapur Luar, harmoni pagi sedang berada di titik puncaknya.

Melalui "Jendela Kekosongan" di atap yang sengaja tidak diperbaiki, seberkas sinar matahari yang hangat jatuh tepat menyinari paviliun mini berselimut tirai sutra biru. Di atas Kursi Goyang Energi Qi-nya, Lin Fan sedang menikmati mahakarya kuliner pagi dari Kepala Koki Wang Ta.

Di atas meja kayu kecil di samping kursi goyang, mengepul semangkuk Sup Mi Ayam Benang Emas. Kaldu ayam spiritual itu direbus perlahan selama dua belas jam dengan api kecil, menghasilkan cairan berwarna kuning keemasan yang begitu jernih hingga dasar mangkuk porselennya terlihat jelas. Aroma kaldu yang kaya, dipadukan dengan irisan daun bawang giok dan minyak wijen spiritual, menguar menggelitik hidung siapa pun yang berada dalam radius seratus langkah.

Lin Fan, dengan mata yang masih setengah tertutup karena sisa-sisa kantuk, mengangkat sumpit kayunya. Ia menjepit untaian mi yang sangat kenyal dan lembut, lalu meniupnya dengan ritme lambat sebelum menyuapkannya ke dalam mulut.

*Slruuup...*

Sensasi hangat dan gurih meledak di lidahnya. Kaldu itu meluncur mulus melewati tenggorokannya, menghangatkan Dantian-nya yang kini telah menjadi danau energi cair murni di Alam Pendirian Fondasi. Ia menghela napas panjang, meresapi betapa indahnya kehidupan ketika satu-satunya tugasnya adalah mengunyah makanan yang enak dan kembali tidur.

Di luar tirai, Wang Ta berdiri dengan dada membusung, wajahnya memancarkan kebanggaan layaknya seorang seniman yang karyanya baru saja dibeli oleh kaisar. Zhao Er, yang bertugas memegang lap sutra untuk membersihkan tumpahan kaldu (yang sebenarnya tidak pernah terjadi), menatap Lin Fan dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan.

"Tuan Lin," bisik Wang Ta dengan nada suara yang sangat lembut agar tidak merusak suasana. "Apakah kelembutan mi-nya sudah sesuai dengan ritme pernapasan Dao Anda pagi ini?"

Lin Fan mengunyah perlahan, menelan, lalu mengangguk kecil. "Cukup baik, Koki Wang. Mi ini tidak menuntut rahangku untuk bekerja terlalu keras. Kau semakin memahami esensi dari efisiensi energi."

Senyuman Wang Ta melebar hingga nyaris menyentuh kedua telinganya. Namun, sebelum ia sempat menundukkan kepala untuk mengucapkan terima kasih, udara di luar Dapur Luar mendadak bergetar oleh suara yang sangat tidak efisien.

*TEEEET! TEEEET! DENG! DENG!*

Suara tiupan terompet kerang laut raksasa berpadu dengan pukulan gong perunggu menggema dari arah jalan setapak yang menanjak menuju Puncak Utama. Suaranya begitu keras dan meriah hingga genangan air di halaman Dapur Luar beriak-riak.

Lin Fan berjengit. Sumpit di tangannya terhenti di udara. Sehelai mi yang menjuntai jatuh kembali ke dalam mangkuk dengan bunyi *cepluk* pelan. Alisnya berkerut tajam, sebuah ekspresi ketidaksukaan yang jarang ia tunjukkan.

"Suara apa itu?" gerutu Lin Fan, mengusap telinganya yang berdenging. "Apakah sekte ini sedang diserang oleh pasukan gajah sirkus?"

Zhao Er berlari ke arah jendela kayu yang terbuka, menjulurkan kepalanya ke luar, lalu buru-buru menariknya kembali dengan wajah pucat pasi.

"T-Tuan Lin! Kepala Koki!" seru Zhao Er terbata-bata. "Bukan gajah sirkus! Itu... itu adalah Prosesi Naga Emas dari Puncak Utama! Pemimpin Sekte Linghu, para Tetua Tertinggi, dan ratusan murid elit sedang berbaris turun gunung menuju kemari! Mereka membawa panji-panji kebesaran!"

Wang Ta terkesiap. Prosesi Naga Emas adalah upacara penyambutan atau penganugerahan gelar tertinggi yang hanya dilakukan seratus tahun sekali dalam sejarah Sekte Awan Mengalir. Terakhir kali prosesi ini diadakan adalah saat leluhur sekte berhasil menembus Alam Nascent Soul!

Di atas kursinya, otak Lin Fan yang biasanya berjalan di gigi satu, mendadak dipaksa masuk ke gigi empat. Ia memiliki trauma yang sangat mendalam dengan "upacara penganugerahan" dari kehidupan masa lalunya. Dulu, setiap kali bosnya mengadakan acara besar untuk memanggilnya ke depan panggung, itu selalu berakhir dengan pemberian gelar "Karyawan Teladan Bulan Ini"—sebuah gelar kosong yang hanya memberinya piagam kertas murah dan tambahan beban kerja seratus lembar laporan ekstra tanpa kenaikan gaji.

*Oh, tidak. Tidak, tidak, tidak,* batin Lin Fan, hawa dingin merayap di tengkuknya meski kakinya sedang dihangatkan oleh Batu Giok Yin Yang. *Panji kebesaran? Terompet? Ini adalah jebakan korporat tingkat kultivasi! Mereka pasti ingin memberiku jabatan! Jabatan berarti tanggung jawab, tanggung jawab berarti rapat, rapat berarti aku tidak bisa tidur siang!*

Sebelum Lin Fan sempat memikirkan rute pelarian darurat, pintu ganda Dapur Luar telah terbuka lebar.

Pemimpin Sekte Linghu melangkah masuk. Penampilannya hari ini sangat kontras dengan saat ia dilanda badai. Ia mengenakan jubah kebesaran berwarna ungu tua dengan sulaman naga bercahaya, mahkota giok bertatahkan mutiara malam di kepalanya, dan auranya memancarkan wibawa yang membuat udara di sekitarnya terasa padat. Di belakangnya, enam belas Tetua Tertinggi berjalan beriringan, wajah mereka bersih dan memancarkan cahaya pencerahan (serta sedikit sisa pucat karena kedinginan tiga hari tanpa atap).

Wang Ta dan seluruh pelayan dapur langsung menjatuhkan diri ke lantai, bersujud dengan gemetar.

Linghu tidak mempedulikan mereka. Matanya yang tajam dan penuh semangat langsung tertuju pada paviliun tirai sutra biru di sudut ruangan. Ia melangkah mendekat, berhenti di batas tirai, lalu dengan sangat khusyuk menangkupkan kedua tangannya.

"Master Lin," suara Linghu berat dan bergema di seluruh ruangan dapur. "Badai telah berlalu. Berkat bimbingan Anda melalui Jendela Kekosongan, kami telah mencuci bersih keangkuhan kami di bawah hujan badai. Beberapa Tetua kami bahkan berhasil memecahkan belenggu mental mereka. Anda bukan sekadar ahli tersembunyi; Anda adalah mercusuar bagi masa depan Sekte Awan Mengalir."

Di dalam, Lin Fan meletakkan mangkuk mi-nya ke atas meja dengan gerakan sangat lambat. Ia menatap ke arah bayangan Linghu dari balik tirai tipis. Jantungnya berdebar kencang, bersiap menghadapi serangan "tugas lembur".

Linghu memberi isyarat dengan tangannya. Tetua Bai melangkah maju membawa sebuah nampan kayu gaharu berusia ribuan tahun. Di atas nampan itu, tergeletak sebuah medali raksasa yang terbuat dari Emas Spiritual Bintang Jatuh—logam paling langka di benua ini. Medali itu diukir dengan aksara kuno yang memancarkan aura perlindungan tingkat tinggi.

"Sekte Awan Mengalir tidak bisa lagi membiarkan Anda menyembunyikan cahaya Anda di tempat yang kumuh ini," lanjut Linghu, nada suaranya menaik, dipenuhi oleh emosi yang membara. "Hari ini, di hadapan surga dan bumi, saya sebagai Pemimpin Sekte secara resmi memohon kepada Anda untuk menerima gelar 'Pelindung Agung Dao Kekosongan'! Posisi ini setara dengan Pemimpin Sekte itu sendiri!"

Di luar dapur, ratusan murid elit menahan napas mereka karena terkejut. Setara dengan Pemimpin Sekte?! Itu berarti Lin Fan memiliki kekuasaan mutlak atas nyawa dan sumber daya puluhan ribu orang!

Linghu belum selesai. Matanya berapi-api menguraikan "fasilitas" dari jabatan tersebut.

"Sebagai Pelindung Agung, Anda akan diberikan Istana Puncak Awan yang melayang di atas gunung! Ribuan murid akan berada di bawah bimbingan Anda! Anda akan memiliki akses penuh ke Paviliun Kitab Suci, dan setiap bulan, para Tetua Puncak akan melaporkan kemajuan kultivasi puncak mereka secara langsung kepada Anda untuk dievaluasi!"

Bagi Wang Ta, Zhao Er, dan semua orang yang mendengar, tawaran ini adalah puncak impian tertinggi umat manusia. Harta, tahta, kekuasaan tak terbatas, dan kehormatan abadi. Ini adalah ikan mas yang melompati gerbang naga dan berubah menjadi penguasa langit!

Namun, bagi Lin Fan di atas kursi goyangnya, kata-kata Linghu terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan hukuman mati.

*Mengevaluasi laporan bulanan dari enam belas puncak?! Mengurus ribuan murid?! Tinggal di istana melayang yang artinya aku harus terbang ke mana-mana?!* Mata Lin Fan terbelalak ngeri. Keringat dingin yang nyata, bukan karena badai melainkan karena teror beban kerja, menetes dari pelipisnya. Ini bukan lagi sekadar jebakan korporat; ini adalah perbudakan manajerial seumur hidup!

Suasana menjadi sangat hening, menunggu jawaban dari sang Master. Semua orang bersiap mendengar ucapan terima kasih yang bijaksana, atau mungkin wejangan tentang bagaimana beliau akhirnya bersedia memimpin sekte menuju kejayaan.

*[Ding! Peringatan Kritis! Terdeteksi ancaman jabatan eksekutif yang akan menghancurkan 99% waktu tidur Host!]*

*[Misi Bertahan Hidup: Tolak tawaran Pelindung Agung dengan alasan yang tidak bisa dibantah oleh logika kultivasi mana pun.]*

*[Hadiah: Pengalaman Kultivasi +3000, Benda Spiritual 'Jubah Penolak Gangguan' (Meredam suara dan menyamarkan keberadaan Host saat tidur).]*

Lin Fan menarik napas dalam-dalam. Ia harus tenang. Jika ia terlihat panik atau marah, mereka mungkin akan berpikir bahwa ia sedang "menguji keteguhan hati" mereka dan malah semakin mendesaknya. Ia harus menggunakan senjata utamanya: kemalasan absolut yang dibalut dalam kebingungan filosofis.

Lin Fan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke bantalan kursi rotan, membiarkan tubuhnya merosot hingga ia nyaris berbaring sepenuhnya. Ia tidak membuka tirai. Ia membiarkan wujudnya tetap samar.

"Istana melayang..." gumam Lin Fan, suaranya sangat pelan, diayunkan dalam nada lambat yang dipenuhi oleh kelelahan spiritual yang mendalam. "Laporan bulanan... ribuan murid..."

Linghu tersenyum penuh harap, mengira Lin Fan sedang meresapi keagungan tawarannya.

Namun, Lin Fan tiba-tiba menghela napas yang terdengar seperti embusan angin musim gugur yang merontokkan daun-daun kering. Sebuah desahan yang dipenuhi oleh kekecewaan yang tak berujung.

"Pemimpin Sekte Linghu," ucap Lin Fan, menatap atap yang berlubang di atasnya. "Apakah kau pernah melihat sepotong awan di langit?"

Linghu tertegun. Pertanyaan ini lagi. Metafora dari ketiadaan. Ia segera memasang wajah serius dan mengangguk. "Tentu, Master Lin. Awan bergerak bebas menutupi langit."

"Lalu," lanjut Lin Fan, jari telunjuknya mengetuk pelan sandaran kursi rotan. *Tuk... tuk...* "Apa yang terjadi jika kau menangkap awan itu, memasukkannya ke dalam sangkar emas, dan menyuruhnya untuk mengatur arah angin setiap bulan?"

Seluruh Tetua Tertinggi di ruangan itu menahan napas. Pertanyaan itu menohok langsung ke ulu hati mereka.

"Awan itu..." suara Linghu tiba-tiba bergetar, matanya membelalak menyadari kebodohannya. "Awan itu akan... berhenti menjadi awan. Ia akan kehilangan hakikat kebebasannya."

"Tepat," jawab Lin Fan datar, menutupi mulutnya untuk menyembunyikan uapannya. "Kalian datang kepadaku, mengatakan bahwa kalian terinspirasi oleh Dao Kekosongan. Kalian membongkar atap kalian untuk merasakan alam. Tapi kemudian... kalian datang kemari untuk menawariku sebuah gelar? Sebuah medali berat dari emas? Sebuah meja penuh kertas laporan?"

Lin Fan sedikit mengangkat suaranya, memalsukan nada teguran seorang guru tua. "Kalian mencoba membelenggu kekosongan dengan administrasi duniawi. Kalian ingin aku mengawasi puncak-puncak kalian, yang berarti pikiranku harus terikat pada urusan fana. Jika aku menjadi Pelindung Agung yang sibuk, lalu siapa yang akan menjaga ketenangan di sudut dapur ini?"

Wang Ta, yang masih bersujud, tak kuasa menahan isak tangisnya. *Beliau rela membuang tahta penguasa demi menjaga ketenangan dapur kita yang kotor ini! Pengorbanan yang begitu agung!*

Pemimpin Sekte Linghu mundur dua langkah seolah-olah baru saja tertusuk pedang tak kasat mata. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap medali emas di atas nampan kayu gaharu itu, dan tiba-tiba medali berharga itu terlihat seperti belenggu rantai yang menjijikkan.

"Saya... saya telah berdosa besar!" Linghu tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke salah satu lututnya, sebuah tindakan yang membuat lantai batu dapur retak saking kuatnya emosi yang ia rasakan. "Saya dibutakan oleh struktur organisasi fana! Saya mencoba mengurung naga sejati di dalam kolam ikan! Master Lin... kebodohan saya nyaris menghancurkan pencerahan yang telah Anda bangun!"

Para Tetua Tertinggi lainnya serentak ikut berlutut, wajah mereka dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa. Mereka baru saja mencoba mempekerjakan dewa kemalasan menjadi manajer operasional!

"Ampuni keangkuhan kami, Master!" seru Tetua Puncak Formasi sambil menampar pipinya sendiri. "Kami mencoba memberi bentuk pada ketiadaan!"

Di dalam tirai, Lin Fan membuang napas lega hingga otot bahunya kembali rileks. *Syukurlah. Mereka akhirnya sadar bahwa menyuruhku bekerja adalah sebuah dosa.*

Namun, Linghu bukanlah Pemimpin Sekte tanpa alasan. Otaknya dengan cepat mencari solusi untuk tetap mengikat Master agung ini ke dalam sektenya tanpa melanggar prinsip "Dao Kekosongan".

"Master Lin!" Linghu mengangkat wajahnya, matanya menyala dengan pemahaman baru. "Saya mengerti sekarang! Gelar dan tugas adalah racun bagi kultivasi Anda! Namun, sekte ini tetap membutuhkan jangkar spiritual. Oleh karena itu, izinkan kami memberikan Anda penghormatan tertinggi tanpa satu pun belenggu!"

Linghu berdiri, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru Puncak Awan.

"Mulai hari ini, Master Lin diangkat sebagai 'Eksistensi Kosong' dari Sekte Awan Mengalir! Ini bukan gelar, melainkan pengakuan status! Anda tidak perlu menghadiri rapat apa pun! Anda tidak perlu menerima murid satu pun! Anda tidak perlu mengawasi siapa pun!"

Linghu menarik napas panjang, memastikan seluruh sekte mendengar keputusannya. "Namun, Anda berhak atas tiga puluh persen dari seluruh sumber daya tahunan sekte! Anda berhak mengambil apa pun dari perbendaharaan tanpa perlu izin! Dan tempat ini, sudut barat laut Dapur Luar, secara resmi ditetapkan sebagai Tanah Suci Terlarang. Siapa pun yang berani mengganggu tidur... maksud saya, meditasi Master Lin dengan suara berisik atau urusan administrasi, akan dihukum potong meridian!"

Di balik tirai sutra, mata Lin Fan melebar sempurna.

*Tunggu... tidak ada kerjaan? Tidak ada rapat? Tidak ada bawahan yang cerewet? Tapi aku dapat 30% anggaran sekte dan kebebasan absolut dari gangguan?*

Jantung Lin Fan berdebar bahagia, kali ini bukan karena panik, melainkan karena euforia surgawi. Ini bukan lagi sekadar impian seorang pemalas; ini adalah kontrak pensiun abadi dengan dana pensiun dari perusahaan terbesar di benua ini!

"Pemimpin Sekte Linghu," ucap Lin Fan, suaranya kini jauh lebih ramah dan hangat, tanpa ada nada teguran. Ia sedikit merapikan selimutnya. "Kebijaksanaanmu akhirnya selaras dengan aliran alam. Jika itu adalah wujud dari ketiadaan tugas, maka aku akan dengan senang hati menerima keadaan alamiah tersebut. Biarkan segala sesuatunya mengalir seperti biasa."

Linghu tersenyum lebar, air mata kelegaan menetes dari matanya. Ia berhasil! Ia berhasil menahan Master tingkat dewa di sektenya dengan cara yang paling memahami filosofi sang Master!

"Terima kasih, Eksistensi Kosong!" Linghu membungkuk penuh syukur. "Kami akan segera mundur dan tidak akan pernah membawa kertas laporan ke dapur ini lagi!"

Dalam hitungan menit, Prosesi Naga Emas yang datang dengan kemegahan luar biasa itu, mundur dengan langkah berjingkat-jingkat yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara berisik. Mereka membawa kembali panji-panji dan terompet mereka tanpa meniupnya, berjalan turun gunung dengan kehati-hatian layaknya maling di tengah malam.

Dapur Luar kembali sunyi senyap, disinari oleh pilar cahaya dari Jendela Kekosongan.

*[Ding! Misi Bertahan Hidup Selesai!]*

*[Host berhasil menolak perbudakan eksekutif dan memanipulasi sistem sekte untuk mendapatkan Gaji Buta Abadi Tingkat Dewa.]*

*[Menerima Pengalaman Kultivasi +3000. Menerima 'Jubah Penolak Gangguan'.]*

Lin Fan memejamkan matanya, sebuah senyum kemenangan yang luar biasa damai terukir di wajahnya. Sambil mengusap perutnya yang kenyang oleh mi kaldu emas, ia bergumam pelan sebelum terlelap.

"Dunia kultivasi ternyata adalah tempat yang sangat masuk akal bagi orang yang tahu cara bernegosiasi."

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!