NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:423
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: RENCANA DARI BALIK DEBU

Hujan di Jakarta malam ini tidak lagi terasa seperti simfoni duka, melainkan seperti deru mesin yang dingin. Sasmita berdiri di balkon sebuah apartemen sewaan di kawasan pinggiran yang kumuh. Tempat ini sangat kontras dengan kemegahan mansion Janardana. Dindingnya retak, bau apak lembap menyeruak dari sudut ruangan, dan suara bising knalpot kendaraan dari jalan raya di bawah sana terdengar tanpa henti.

Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang buram. Sasmita yang sekarang tidak lagi mengenakan gaun sutra atau perhiasan mahal. Ia memakai kaos hitam polos dan celana jins yang sudah memudar warnanya. Rambutnya diikat kuda dengan kencang, menonjolkan rahangnya yang tegas dan sorot mata yang kini lebih menyerupai mata elang yang sedang mengintai mangsa.

"Semua rekening pribadimu sudah dibekukan, Sasmita. Mereka menggunakan celah hukum penggelapan dana yang dituduhkan pada Broto untuk mengaitkan namamu sebagai kaki tangan," suara Bramasta terdengar dari dalam ruangan.

Bramasta duduk di sebuah meja kayu tua yang dipenuhi tumpukan kertas dan sebuah laptop dengan layar yang terus berkedip menampilkan kode-kode rumit. Pria itu tampak sangat lelah, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia belum tidur sejak insiden di studio televisi tempo hari.

Sasmita berbalik, ia melangkah masuk dan mengambil selembar peta digital yang baru saja dicetak oleh Bramasta. "Keluarga Waskita... mereka pikir dengan mengambil uangku, mereka bisa menghentikan langkahku. Mereka lupa bahwa aku bertahan hidup di London hanya dengan sepuluh poundsterling di kantong selama berbulan-bulan."

Sasmita menunjuk sebuah gedung perkantoran di kawasan segitiga emas Jakarta yang tidak terlalu mencolok namun memiliki tingkat keamanan tinggi. "Gedung ini. Ini adalah pusat operasi Waskita Group. Secara hukum, mereka tidak punya hubungan dengan Janardana, tapi aliran dana yang dicuri Aris semalam bermuara di sini melalui perusahaan cangkang di Panama."

Bramasta mengangguk pelan. "Aris... dia adalah otak digital mereka. Dia tahu semua pintu belakang sistem keamanan Janardana karena aku sendiri yang mengajarkannya sepuluh tahun lalu. Aku tidak pernah menyangka bahwa adik yang kuselamatkan dari maut justru menjadi pedang yang menusuk jantungku sendiri."

"Jangan salahkan dirimu terus, Bram. Rasa bersalahmu adalah rantai yang akan membuat kita kalah," Sasmita menatap Bramasta dengan tajam. "Sekarang pilihannya hanya dua: kamu membantuku mematahkan rantai itu, atau kamu pergi dari sini sekarang juga."

Bramasta terdiam sejenak, lalu ia menegakkan punggungnya. "Aku tetap di sini. Aku sudah menyiapkan identitas baru untuk kita. Mulai besok, kamu bukan lagi Sasmita Janardana yang malang. Kamu adalah Anita, seorang konsultan risiko keuangan yang akan melamar kerja di firma hukum rekanan Waskita."

Sasmita tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak menyentuh matanya. "Bagus. Kita akan masuk lewat pintu depan mereka, berpura-pura menjadi sekutu, lalu menghancurkan pondasi mereka dari dalam. Sama seperti yang mereka lakukan pada ayahku."

Malam itu, mereka mulai menyusun strategi gerilya. Sasmita mempelajari setiap profil anggota keluarga Waskita. Pemimpin mereka saat ini adalah Hendra Waskita, seorang pria tua yang dikenal filantropis di depan kamera namun merupakan predator bisnis yang tak kenal ampun di balik layar. Hendra adalah orang yang dulu dikalahkan oleh Wirya Janardana dalam perebutan proyek bendungan nasional tiga puluh tahun lalu. Dendam itu ternyata tidak pernah padam; ia hanya berhibernasi, menunggu saat yang tepat untuk menerkam.

"Hendra punya satu titik lemah," ujar Bramasta sambil menunjukkan foto seorang wanita muda yang tampak glamor. "Putri bungsunya, Clara Waskita. Dia adalah pewaris utama yang sangat dimanja, tapi dia juga sangat naif. Dia sedang mencari asisten pribadi sekaligus konsultan gaya hidup untuk membantu citra publiknya menjelang pemilihan dewan direksi."

"Aku akan menjadi orang itu," potong Sasmita. "Aku tahu bagaimana cara menghadapi wanita seperti Clara. Aku akan menjadi bayang-bayangnya, telinganya, dan akhirnya... racunnya."

Sasmita mengambil buku harian ibunya yang kini sudah setengah terbakar namun bagian tengahnya masih bisa dibaca. Ia membaca kembali catatan tentang sistem rahasia Janardana. "Bram, ada satu hal yang Waskita dan Aris tidak tahu. Ayahku memiliki sebuah brankas fisik yang tidak terhubung dengan jaringan internet mana pun. Sebuah brankas mekanik tua di bunker bawah tanah rumah yang terbakar itu."

"Tapi rumah itu dijaga ketat oleh polisi dan orang-orang Waskita sekarang," sahut Bramasta.

"Itu sebabnya kita butuh pengalihan isu. Kita akan membuat mereka berpikir bahwa aku sedang berusaha melarikan diri ke luar negeri melalui jalur laut di pelabuhan Tanjung Priok. Saat mereka fokus mengejarku ke sana, kamu harus masuk ke reruntuhan rumah itu."

Sasmita memberikan sebuah kunci kecil yang ia temukan di dalam kotak besi di taman tempo hari. "Kunci ini bukan untuk pintu, tapi untuk memutar roda gigi mekanik di dasar patung malaikat yang sudah hancur itu. Jika roda itu diputar, sebuah kotak besi akan muncul dari bawah tanah di area ruang bawah tanah."

Bramasta menatap kunci itu dengan ragu. "Ini sangat berisiko, Sasmita. Jika aku tertangkap, mereka akan tahu kita masih hidup dan melawan."

"Kita sudah dianggap mati secara finansial, Bram. Bagi mereka, kita hanyalah serangga yang sedang sekarat. Manfaatkan kesombongan mereka," Sasmita mendekati Bramasta, suaranya merendah. "Bram, aku sudah kehilangan rumahku, ayahku, dan ibuku. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikorbankan selain nyawaku sendiri. Tapi kamu... kamu masih punya masa depan jika ini berakhir."

Bramasta menggelengkan kepala. "Masa depanku sudah mati sepuluh tahun lalu bersama ibumu. Mari kita selesaikan ini bersama."

Keesokan harinya, operasi dimulai. Sasmita merombak total penampilannya. Ia memotong rambutnya menjadi pendek sebahu, mengubah warnanya menjadi cokelat terang, dan mengenakan lensa kontak warna abu-abu. Ia berlatih mengubah dialek bicaranya menjadi lebih lembut dan berkelas, menutupi amarah yang biasanya meledak-ledak di setiap kalimatnya.

Di sisi lain kota, Bramasta mulai menyebarkan informasi palsu melalui jaringan informan bawah tanah bahwa Sasmita Janardana terlihat sedang bernegosiasi dengan penyelundup manusia di pelabuhan.

Saat sore tiba dan langit Jakarta mulai meredup, Sasmita berdiri di depan gedung megah Waskita Group untuk sesi wawancara pertamanya sebagai "Anita". Ia melihat mobil-mobil mewah berderet di lobi, pemandangan yang dulu sangat akrab baginya. Rasa benci itu muncul kembali, namun ia menekannya dalam-dalam. Ia harus menjadi air yang tenang di permukaan, meskipun di bawahnya terdapat arus yang bisa menenggelamkan apa saja.

Di dalam lobi, ia berpapasan dengan seorang pria muda yang mengenakan hoodie hitam dan headphone di lehernya. Pria itu berjalan dengan sangat santai, menatap layar ponselnya tanpa mempedulikan sekeliling. Jantung Sasmita berdegup kencang. Ia mengenali profil itu. Aris.

Aris berhenti sejenak, ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Sasmita. Sasmita menahan napas, ia pura-pura sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya, membiarkan rambut barunya menutupi sebagian wajahnya.

Aris menyipitkan mata, seolah merasa ada yang akrab dengan kehadiran wanita di depannya. Namun, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya.

"Ya, Tuan Hendra. Dana Janardana sudah sepenuhnya bersih. Tidak ada jejak. Sasmita? Dia kabur ke pelabuhan seperti tikus ketakutan. Kami akan membereskannya malam ini," suara Aris terdengar samar saat ia berjalan melewati Sasmita.

Sasmita mengepalkan tinjunya di dalam saku jaket. Tikus? Tikus inilah yang akan menggerogoti istanamu sampai runtuh, Aris.

Wawancara dengan Clara Waskita berjalan lebih mudah dari yang diperkirakan. Clara adalah tipe wanita yang haus akan pujian dan butuh seseorang untuk mengatur detail hidupnya agar ia terlihat sempurna di depan ayahnya. Sasmita—atau Anita—menunjukkan kecerdasan dan selera tinggi yang langsung membuat Clara terkesan.

"Kamu punya selera yang bagus, Anita. Dan kamu tidak terlihat seperti orang-orang yang hanya ingin menjilatku," ujar Clara sambil menyesap sampanyenya di kantor pribadinya yang mewah. "Aku butuh seseorang yang bisa membantuku mengelola yayasan baru yang diberikan ayahku. Yayasan Janardana Peduli. Lucu bukan namanya? Ayahku bilang itu bentuk 'penghormatan' untuk almarhum Wirya."

Sasmita tersenyum manis, meskipun hatinya terasa seperti disayat sembilu. "Nama yang sangat mulia, Nona Clara. Saya akan memastikan yayasan itu menjadi simbol keberhasilan keluarga Waskita."

Di saat yang sama, melalui alat komunikasi kecil di telinganya, Sasmita mendengar suara napas tersengal Bramasta.

"Sasmita... aku sudah di lokasi. Reruntuhan rumah sangat gelap. Aku sudah menemukan patung malaikatnya. Aku mulai memutar rodanya..." bisik Bramasta lewat earpiece tersembunyi.

Sasmita terus mengobrol dengan Clara, mengalihkan perhatian wanita itu dengan memberikan saran-saran tentang gaun yang akan dipakai di pesta kemenangan Waskita Group besok malam.

"Sasmita! Ada sesuatu yang aneh... roda ini tidak mengeluarkan kotak besi. Roda ini justru membuka sebuah layar monitor kecil di dalam tanah... Ini... ini rekaman langsung dari kamar ibumu yang lain! Sasmita, ibumu tidak hanya merokok atau minum teh... Dia sedang menulis sesuatu di dinding di balik wallpaper!" suara Bramasta terdengar panik sekaligus antusias.

Sasmita tertegun. Ia hampir menjatuhkan gelas air putihnya. Ibunya menulis di balik wallpaper?

"Ada apa, Anita? Kamu terlihat pucat," tanya Clara Waskita dengan nada curiga.

"Oh, hanya sedikit pusing karena belum makan siang, Nona. Saya terlalu bersemangat dengan posisi baru ini," jawab Sasmita cepat, kembali ke perannya.

Di telinganya, Bramasta melanjutkan, "Dinding itu... ibumu melukis sebuah kode QR kuno atau semacam matriks manual. Aku akan memotretnya dan segera pergi dari sini. Sasmita, ada mobil mendekat ke rumah! Aku harus lari!"

Suara deru mesin mobil dan teriakan orang terdengar dari earpiece sebelum sambungan terputus secara tiba-tiba.

Sasmita berusaha tetap tenang di depan Clara. Ia tahu, mulai malam ini, ia telah masuk ke dalam rahim musuhnya. Ia telah melintasi garis merah yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Bukan lagi garis di atas marmer rumahnya, tapi garis antara hidup dan mati di wilayah lawan.

"Selamat bergabung di timku, Anita," ujar Clara sambil mengulurkan tangan.

Sasmita menjabat tangan itu dengan erat. "Sebuah kehormatan, Nona Clara. Saya berjanji, mulai besok, hidup Anda tidak akan pernah sama lagi."

Sasmita berjalan keluar dari gedung Waskita dengan perasaan berkecamuk. Ia harus segera menemukan Bramasta. Ia harus tahu apa yang ditulis ibunya di balik dinding itu. Karena di dalam rumah yang kini telah menjadi abu itu, ibunya ternyata telah meninggalkan senjata pamungkas yang bahkan tidak diketahui oleh ayahnya sendiri.

Rumah itu mungkin sudah hancur, tapi suaranya baru saja mulai terdengar kembali.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!