Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Ada banyak cara untuk mengikat seseorang tanpa harus menggunakan rantai besi yang berkarat. Terkadang, selembar janji yang diucapkan di depan ribuan saksi, atau sebuah cincin emas yang melingkar di jari manis, jauh lebih mematikan daripada jeruji penjara mana pun. Di Aethelgard, pernikahan agung bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan sebuah transaksi bisnis raksasa yang dibungkus dengan doa-doa suci dan taburan bunga mawar. Masalahnya, ketika pondasi sebuah janji dibangun di atas kebohongan, maka seluruh kemegahan altar hanyalah panggung sandiwara yang menunggu saat yang tepat untuk runtuh berkeping-keping.
Arlo Valerius menatap pantulan dirinya di cermin besar setinggi plafon. Ia mengenakan setelan pernikahan tradisional Aethelgard yang paling megah—kemeja putih dengan kerah tegak, rompi perak dengan bordiran benang emas berbentuk singa, dan jubah biru tua yang menyapu lantai. Di pundaknya, terpasang emblem kerajaan yang berkilau, namun Arlo merasa benda itu lebih mirip seperti paku yang menancap di dagingnya.
Tangan Arlo bergerak perlahan ke saku jubahnya. Ia memastikan gulungan perkamen kecil yang ia tulis semalam masih ada di sana. Dekrit yang akan mengubah wajah Aethelgard selamanya.
"Yang Mulia, sudah waktunya," suara Lord Cedric terdengar sangat berat.
Pria tua itu berdiri di dekat pintu, mengenakan seragam pelayan paling formalnya. Matanya yang biasanya tenang kini tampak sangat gelisah. Cedric tahu apa yang ada di saku Arlo. Ia tahu bahwa hari ini bukan hanya hari pernikahan, tapi bisa menjadi hari terakhir Arlo memegang gelar Putra Mahkota.
Arlo berbalik, menatap Cedric. Ia melangkah mendekati pria tua itu, lalu meletakkan tangannya di bahu Cedric. "Terima kasih untuk segalanya, Cedric. Jika setelah hari ini aku tidak lagi berada di istana ini, pastikan kau tetap menjaga perpustakaan tua itu."
"Anda bicara seolah-olah Anda tidak akan kembali, Yang Mulia," bisik Cedric dengan suara serak.
"Aku hanya sedang menuju kebenaran, Cedric. Dan kebenaran sering kali menuntut perpisahan," Arlo melepaskan tangannya, lalu ia melangkah keluar menuju koridor utama.
Suara lonceng katedral Aethelgard mulai berdentang, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru kota, memanggil rakyat untuk berkumpul di depan tangga istana. Arlo berjalan dengan langkah yang sangat teratur. Setiap denting sepatu botnya di atas marmer terasa seperti detak jantung yang melambat. Ia melewati barisan pengawal yang memberikan hormat senjata, namun Arlo tidak melirik mereka. Matanya tertuju pada pintu besar aula upacara yang kini terbuka lebar.
Di dalam aula, suasana sudah penuh sesak. Aroma dupa kemenyan dan bunga bakung putih menyerbu indra penciumannya. Ratusan bangsawan dengan pakaian terbaik mereka berdiri serentak saat Arlo masuk. Di ujung aula, di atas podium yang tinggi, Raja Valerius duduk di tahtanya dengan wajah yang penuh kemenangan.
Dan di samping altar, berdiri Helena.
Wanita itu tampak seperti visi dari mimpi yang paling indah sekaligus mengerikan. Ia mengenakan gaun pengantin Vandellia yang terbuat dari sutra putih berlapis-lapis, dengan ekor gaun sepanjang lima meter. Tiara berliannya memantulkan cahaya lilin dengan sangat menyilaukan. Saat Arlo melangkah mendekat, Helena tersenyum—senyum yang sangat tenang, seolah-olah ia sudah melupakan konfrontasi mereka di paviliun semalam.
Arlo sampai di depan altar. Ia berdiri berhadapan dengan Helena. Pendeta agung Aethelgard mulai membacakan naskah doa yang panjang dalam bahasa kuno. Suara pendeta itu naik turun seperti nyanyian, namun di telinga Arlo, itu terdengar seperti suara desis ular.
Jemari Arlo tanpa sadar meraba bekas lecet di telapak tangannya. Rasa perih itu kini sudah hampir hilang, namun ingatannya tentang Kalea justru semakin tajam. Ia membayangkan Kalea sedang berada di tengah laut sekarang, menghirup udara yang tidak berbau kemenyan. Pikiran itu memberinya kekuatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
"Putra Mahkota Arlo Valerius," suara pendeta agung memecah lamunan Arlo. "Apakah Anda bersedia mengambil Putri Helena dari Vandellia sebagai istri sah Anda, untuk memimpin kerajaan ini dalam kesetiaan dan kemegahan selamanya?"
Aula itu seketika menjadi sangat sunyi. Ribuan pasang mata tertuju pada Arlo. Raja Valerius memajukan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah putranya, seolah-olah sedang menodongkan pedang tak kasat mata ke leher Arlo.
Arlo menatap Helena. Ia melihat kemenangan di mata biru wanita itu. Ia melihat keyakinan bahwa ia tidak akan berani melakukan apa pun di depan seluruh dunia.
Arlo menarik napas panjang. Ia tidak menjawab "Saya bersedia".
Sebaliknya, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan gulungan perkamen.
"Sebelum janji itu diucapkan," suara Arlo tenang, namun menggema dengan sangat jelas ke seluruh sudut aula, "ada sebuah tradisi kuno Aethelgard yang ingin saya jalankan. Sebuah hadiah pernikahan dari sang pangeran untuk rakyatnya, sesuai dengan maklumat pendiri kerajaan kita."
Bisik-bisik mulai terdengar di antara tamu undangan. Raja Valerius berdiri dari tahtanya dengan wajah yang mulai memerah. "Arlo, apa yang kau lakukan? Ini bukan waktunya!"
"Ini adalah waktu yang paling tepat, Ayah," Arlo tidak menoleh ke arah ayahnya. Ia membuka gulungan perkamen itu dan mulai membacanya dengan suara lantang. "Mulai hari ini, sesuai dengan Maklumat Tanah Rakyat tahun 402, saya, Arlo Valerius, secara resmi menyerahkan kepemilikan Sayap Utara, area pelabuhan selatan, dan seluruh wilayah pemukiman pekerja kepada Dewan Rakyat Aethelgard. Wilayah-wilayah ini tidak lagi berada di bawah otoritas mutlak mahkota, melainkan menjadi zona bebas yang dilindungi oleh hukum dasar kerajaan."
Seluruh aula seketika gempar. Para menteri berdiri dengan wajah panik. Helena mematung, matanya melebar karena terkejut dan murka yang luar biasa. Dengan satu dekrit itu, Arlo baru saja melucuti kontrol ekonomi dan hukum kerajaan atas wilayah-wilayah yang paling strategis—termasuk jalur pelarian yang digunakan Kalea.
Secara hukum, jika wilayah itu bukan lagi milik kerajaan, maka pengejaran terhadap Kalea atas nama "pelanggaran terhadap kerajaan" menjadi batal secara hukum internasional.
"Arlo! Berhenti!" teriak Raja Valerius, ia melangkah turun dari podium dengan langkah yang menggetarkan lantai. "Kau tidak punya hak untuk melakukan itu!"
"Saya punya hak sebagai wali sah wilayah renovasi, Ayah," Arlo melipat kembali perkamennya, lalu ia menatap Helena yang kini gemetar hebat. "Sekarang, Putri Helena... apakah Anda masih bersedia menikah dengan seorang pangeran yang baru saja memberikan separuh dari kekayaan strategisnya kepada 'tikus-tikus' yang Anda benci?"
Helena menatap Arlo dengan kebencian murni. Tangannya yang memegang buket bunga mawar putih mencengkeram begitu kuat hingga kelopak bunganya berguguran ke lantai. "Kau... kau merusak segalanya, Arlo. Kau menghancurkan aliansi ini hanya demi gadis kotor itu?"
"Aku menghancurkan dinding kebohonganmu, Helena," bisik Arlo, hanya cukup untuk didengar oleh wanita itu.
Raja Valerius sampai di depan Arlo. Ia menampar wajah putranya dengan sangat keras. Suara tamparan itu bergema di aula yang sunyi. Arlo tidak menghindar. Ia membiarkan wajahnya terlempar ke samping, merasakan panas yang menjalar di pipinya. Namun saat ia kembali menatap ayahnya, matanya tetap tegak.
"Kau sudah gila!" Raja berteriak tepat di depan wajah Arlo. "Tangkap dia! Batalkan upacara ini! Dia tidak lagi layak memakai mahkota!"
Para pengawal istana ragu-ragu sejenak, namun Jenderal Marcus segera memberikan isyarat agar mereka maju. Arlo membiarkan dua pengawal memegang lengannya dengan kasar. Ia tidak melawan. Ia justru melepaskan mahkota kecil di kepalanya dan menjatuhkannya ke lantai. Suara denting emas yang beradu dengan marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi masa depan politik Aethelgard.
"Aku lebih suka menjadi rakyat biasa di tanah yang merdeka daripada menjadi raja di istana yang dibangun dari penderitaan," ucap Arlo tenang.
Helena menatap mahkota yang tergeletak di lantai itu, lalu ia berbalik dan berlari keluar dari aula, gaun pengantinnya yang mewah terseret-seret di lantai seperti kain kotor. Aliansi dengan Vandellia hancur dalam hitungan menit.
Arlo diseret keluar dari aula menuju Menara Barat kembali—kali ini bukan sebagai hukuman sementara, tapi sebagai tawanan kerajaan. Namun sepanjang perjalanan, Arlo terus menatap ke luar jendela koridor. Ia melihat rakyat di bawah sana mulai membicarakan dekrit yang baru saja ia bacakan. Ia melihat para pekerja yang tadi pagi membungkuk takut, kini mulai berdiri tegak dengan harapan di mata mereka.
Sesampainya di menara, Arlo dijatuhkan ke lantai batu yang dingin. Pintu besi ditutup dan dikunci dengan gembok yang lebih besar.
Arlo merayap menuju jendela menara. Ia menatap ke arah laut. Ia tahu ayahnya akan mencoba membatalkan dekrit itu, tapi secara hukum Aethelgard, sebuah hadiah pernikahan yang sudah diumumkan di depan altar katedral tidak bisa ditarik kembali tanpa persetujuan dewan penasihat yang kini pasti akan memihak pada rakyat.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan koin perunggu pemberian Kalea yang sempat ia sembunyikan di dalam sepatu botnya. Ia mencium koin itu.
"Aku sudah merobek naskahnya, Kalea," bisik Arlo di tengah isak tangis yang akhirnya pecah.
Malam itu, istana Aethelgard dipenuhi oleh kemarahan raja dan tangisan Helena. Namun di Menara Barat yang gelap, Arlo Valerius tidur dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia tidak lagi memakai sutra. Ia hanya memakai kemeja katun biasa yang sudah robek. Tapi baginya, pakaian itu terasa jauh lebih mulia daripada jubah kebesarannya tadi.
Ia menatap dinding menara, ke arah gambar retakan yang ia buat. Ia mengambil batu kecil, lalu menarik satu garis yang sangat panjang, melintasi seluruh gambar singa yang ia buat kemarin.
Garis itu bukan lagi sebuah retakan. Itu adalah sebuah jalan.
Jalan yang akan membawanya keluar dari istana ini, cepat atau lambat. Karena kini, tanah di luar sana bukan lagi milik raja. Tanah itu milik orang-orang yang berkeringat untuknya. Dan Arlo tahu, di suatu tempat di tanah merdeka itu, ada seorang gadis yang sedang menunggu seorang pria bodoh untuk datang dan sekali lagi mengkritik warna cat di dinding rumahnya yang baru.
Retakan itu kini telah meruntuhkan seluruh dunia lama Arlo. Dan dari puing-puingnya, ia mulai melihat warna yang sesungguhnya dari sebuah kehidupan. Warna yang bukan berasal dari cat mahal, melainkan dari keberanian untuk menjadi nyata.
Arlo memejamkan mata, membiarkan suara ombak di kejauhan menjadi nina bobonya. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bermimpi tentang mahkota. Ia bermimpi tentang debu kapur, aroma semen, dan mata cokelat yang menatapnya dengan kejujuran yang murni.
Hari ini, Arlo Valerius kehilangan kerajaannya. Tapi ia berhasil menemukan jiwanya kembali.