NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suara tepuk tangan riuh pecah di koridor pasar yang sempit itu.

Beberapa ibu-ibu yang memegang kantong belanjaan berdecak kagum, sementara para pedagang lain ikut bersiul melihat kelincahan Liana.

"Wah, luar biasa! Badannya lincah sekali ya!" seru seorang pembeli sambil masih mengarahkan ponselnya ke arah Liana.

Liana terengah-engah, wajahnya merona merah karena perpaduan antara lelah dan rasa bahagia yang membuncah.

Keringat tipis membasahi keningnya, namun matanya berbinar terang—sinar yang hanya muncul saat ia membiarkan tubuhnya bicara lewat gerak.

"Liana! Sudah, sudah konser dadakannya! Ayo, bantu Mama sini, pelanggan sudah antre!" teriak Mama dari balik tumpukan daster.

Meski mengomel, ada nada bangga yang terselip di suara wanita tua itu melihat putrinya menjadi pusat perhatian.

Liana tertawa kecil, menyeka keringat dengan ujung lengannya.

"Iya, Ma! Liana datang!"

Dengan langkah yang masih terasa ringan—seolah kakinya masih ingin melompat—Liana kembali ke dalam lapak. Namun, ia tidak sekadar berjalan; ia bergerak dengan anggun, seolah-olah ia sedang melayang di antara para pembeli.

"Mau cari ukuran apa, Bu? Yang ini bahannya katun jepang, dingin kalau dipakai masak," ucap Liana dengan nada bicara yang kini berirama.

Tangannya dengan cekatan mengambil pakaian, melipatnya dengan gerakan pergelangan tangan yang gemulai, dan menyerahkannya kepada pembeli seolah ia sedang memberikan sebuah persembahan di atas panggung.

Tanpa ia sadari, beberapa orang yang tadi merekamnya kini mulai mengunggah video tersebut dengan wajah Liana yang diblur ke media sosial dengan judul: "Penari Tersembunyi di Pasar Induk".

Di tempat lain, di sebuah kantor megah yang didominasi dinding kaca di pusat kota, suasana terasa dingin dan kaku.

Adrian, sang produser film ambisius, duduk di balik meja kerjanya yang luas.

Ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Di hadapannya, tertumpuk naskah dan draf rencana produksi proyek besarnya yang macet total.

Ia membutuhkan sosok penari utama. Bukan sekadar penari yang pandai menghafal gerakan, tapi seseorang yang memiliki aura kebebasan murni, sesuatu yang otentik dan tidak dibuat-buat. Namun, audisi demi audisi yang ia gelar hanya menghasilkan kekecewaan. Semuanya terasa datar dan membosankan.

"Tidak ada yang memiliki 'nyawa' di tarian mereka," gumam Adrian kecewa, melemparkan pena ke atas meja.

Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar. Rina, asistennya, masuk dengan wajah tegang. Ia memegang sebuah tablet di tangannya.

"Pak, ada sesuatu yang harus Bapak lihat," ujar Rina cemas.

Adrian mendongak, tatapannya dingin. "Apa itu? Kalau bukan kabar baik tentang penari utama, jangan buang waktu saya."

Rina mendekat dan meletakkan tablet di hadapan Adrian.

Di layar, terputar sebuah video singkat yang diambil dari media sosial.

Video itu direkam dengan kualitas seadanya di sebuah pasar yang ramai.

Adrian mengerutkan kening, namun tak lama kemudian, matanya melebar.

Di video itu, seorang wanita bertubuh curvy sedang menari dengan bebas di tengah koridor pasar yang sempit.

Gerakannya tidak terikat pada koreografi tertentu, tapi penuh ekspresi, emosi, dan sukacita yang meledak-ledak.

Wanita itu seolah tidak peduli dengan sekitarnya, ia hanya larut dalam irama musik pengamen yang mengiringinya.

Adrian terpaku. Ia merasa seolah-olah baru saja melihat cahaya di tengah kegelapan.

Inilah aura yang ia cari selama ini. Inilah kebebasan murni yang ia impikan untuk filmnya.

"Siapa dia?" tanya Adrian, suaranya bergetar karena antusias.

"Dia luar biasa. Ini yang aku cari selama ini."

Rina menggelengkan kepalanya dengan ragu. "Maaf, Pak. Saya tidak tahu. Wajah penari itu diblur di video ini."

Adrian menatap video itu sekali lagi. Meskipun wajahnya tidak terlihat jelas, ia bisa merasakan energi yang terpancar dari setiap gerakan wanita itu.

Ia tahu bahwa penari ini adalah satu-satunya orang yang bisa menghidupkan proyek filmnya.

"Cari dia sampai ketemu. Saya tidak peduli seberapa sulitnya. Saya harus bertemu dengannya."

Rina menganggukkan kepalanya dengan cepat, merasakan urgensi yang memancar dari tatapan bosnya.

"Baik, Pak. Saya akan segera melacak lokasi pasar ini dan menghubungi pengunggah videonya. Saya akan pastikan kita mendapatkan identitasnya segera."

Rina melangkah keluar dengan terburu-buru, meninggalkan Adrian yang masih terpaku menatap layar tablet.

Di mata Adrian, gerakan wanita di video itu bukan sekadar tarian; itu adalah sebuah pemberontakan yang indah.

Ia tidak peduli siapa wanita itu atau bagaimana rupa aslinya—ia hanya tahu bahwa ia harus memilikinya untuk panggung besarnya.

Sementara itu, di sudut pasar yang mulai meredup, hiruk-pikuk tawar-menawar mulai berganti dengan suara besi rolling door yang ditarik turun.

Matahari sore yang berwarna jingga kemerahan menyelinap masuk melalui celah-celah atap seng, menciptakan bayangan panjang di lantai pasar yang kini tampak lengang.

Liana dan ibunya sedang sibuk mengemasi sisa-sisa pakaian ke dalam karung besar.

Napas mereka terdengar satu-satu, sisa kelelahan setelah berdiri seharian melayani pelanggan.

"Liana, Sayang..." Mama memulai pembicaraan sambil melipat sebuah daster motif bunga dengan rapi.

Liana mendongak, menyeka peluh di lehernya dengan handuk kecil.

"Iya, Ma?"

Mama terdiam sejenak, menatap putrinya dengan tatapan yang dalam dan penuh kasih.

Ia teringat kembali bagaimana riuhnya orang-orang bertepuk tangan saat Liana menari tadi siang.

Cahaya di mata Liana saat bergerak mengikuti musik pengamen itu tidak bisa dibohongi—itu adalah cahaya kebahagiaan yang paling murni.

"Mama perhatikan tadi, tarian kamu hebat sekali. Orang-orang sampai ternganga melihatmu," ucap Mama lembut.

"Anak Mama ini cantik sekali kalau sedang menari. Kenapa kamu tidak mencoba jadi penari profesional saja? Atau ikut audisi-audisi di televisi? Siapa tahu nasibmu bisa berubah, tidak perlu kepanasan di pasar setiap hari."

Liana tertegun sejenak. Gerakan tangannya yang sedang mengikat karung terhenti.

Bayangan tentang panggung besar, lampu sorot yang menyilaukan, dan ribuan pasang mata yang menghakimi bentuk tubuhnya tiba-tiba melintas di benaknya seperti mimpi buruk.

Liana menggelengkan kepalanya dengan tegas. Sebuah senyum tipis, namun getir, tersungging di bibirnya.

"Tidak, Ma. Liana tidak mau," jawabnya pelan namun mantap.

"Tapi kenapa, Nak? Bakatmu itu luar biasa."

"Bagi Liana, menari itu seperti bernapas, Ma. Liana melakukannya untuk jiwa Liana sendiri," ucap Liana sambil menarik tali karung kuat-kuat.

"Kalau tarian Liana dilihat banyak orang untuk dinilai, dikomentari, atau dijadikan tontonan, rasanya tarian itu tidak akan suci lagi. Liana lebih suka menari di sini, di antara tumpukan baju dan debu pasar, asalkan Liana merasa merdeka."

Mama hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu keras kepalanya Liana jika sudah menyangkut prinsip.

Setelah percakapan yang cukup dalam di pasar, mereka akhirnya mengemasi barang-barang dan pulang ke rumah sederhana mereka.

Motor tua itu melaju menembus kemacetan sore, membawa serta kelelahan dan sisa-sisa melodi yang masih terngiang di kepala Liana.

Sesampainya di rumah, aroma tanah basah dari siraman air di halaman depan menyambut mereka.

Liana segera melangkah menuju kamar mandi, membiarkan air dingin membasuh debu pasar dan keringat yang menempel di kulitnya.

Di bawah kucuran air, ia memejamkan mata, merasakan otot-ototnya yang tadi menegang saat menari kini mulai rileks.

Selesai mandi, Liana tidak langsung makan malam.

Ia masuk ke kamarnya yang kecil, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan helaan napas panjang yang lega.

Kasur itu terasa begitu empuk menyambut punggungnya yang pegal.

Ia menatap langit-langit kamar yang sedikit berjamur, namun di matanya, langit-langit itu berubah menjadi kanvas hitam tempat ia membayangkan gerakan-gerakan tari baru.

Ia menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang masih berdetak dengan ritme yang menyenangkan.

Perkataan Mamanya tentang audisi tadi kembali terngiang, namun Liana segera menepisnya.

Ia memiringkan tubuh, memeluk guling erat-erat, dan perlahan matanya mulai memberat.

Bagi Liana, tidur adalah jeda sebelum ia kembali menciptakan panggung rahasianya sendiri di alam mimpi.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!